Boss Pengganti Di Penginapan

Boss Pengganti Di Penginapan
70. Luka


__ADS_3

Demi menjaga agar Murni tetap lena dalam tidur, tidak ingin skandal hubungan dengan Zoan terendus sang juru masak, Ossa bangun perlahan. Berdiri dan menjauh dari posisi tidurnya.


"Ikut aku, Ossa," bisik Zoan lirih pada Ossa. Lelaki tampan itu berdiri menjulang di depannya.


Zoan berbalik dan melangkah mendahului Ossa menuju ruang utama keluarga. Ossa mengikuti di belakangnya dengan terpaksa. Perasaan cemas dan tidak ingin menjadi bahan ghibah di penginapan, justru membuat gadis cantik itu menurut mudah saja.


Zoan telah berdiri di kamar dengan daun pintu dipegang tangannya. Menunggu Ossa untuk ikut masuk ke dalam bersama.


Zoan menutup pintu dengan cepat saat Ossa telah melewati pintu beberapa detik sebelumnya. Mereka berdiri berhadapan saling memandang dengan diam.


"Ada apa?" tanya Ossa pada Zoan yang masih bersandar di pintu.


Zoan hanya diam dengan mata mengamati wajah Ossa yang nampak jelas sedang geram padanya. Tapi Zoan seperti sudah tidak peduli. Hasrat ingin memeluk Ossa, harem terakhir yang masih dimiliki dan menggoda di pelupuk mata, begitu sulit ditepis lagi. Lupa sejenak dengan siapa status Ossa sekarang ini.


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin dipeluk," ucap Zoan lirih dengan tegas. Seperti pantang mundur dengan inginnya yang belum terpenuhi.


Ossa seketika lebih kencang berdebar. Memang benar apa yang dikhawatirkan, Zoan masih menginginkannya sebagai harem. Dan lebih merisaukan lagi, jika Zoan menuntut lebih dari sekadar memeluk. Ossa takut sekali.


"Jika boss Zoan tidak ada apa-apa, aku ingin keluar. Aku tidak mau memelukmu lagi. Kita bukan siapa-siapa. Aku,, aku memang berhutang budi denganmu. Tapi aku sangat ingin membayarnya," jawab Ossa mengelak.


Tidak ingin tenggelam sendiri dalam perasaan dalamnya pada Zoan. Lelaki itu hanya akan suka mempermainkan. Lagipula kini statusnya benar-benar tidak jelas. Meskipun Arzaki tidak pernah memberatkannya dengan pernikahan mereka, tapi Ossa seperti memiliki beban moral dan mental tersendiri. Tidak bisa berbuat apapun sesuka hatinya.


"Kamu tidak mau memelukku?" tanya Zoan mengulangi. Ossa menggeleng dengan cepat.


"Tidak," jawab Ossa tegas.


"Jika begitu, biar aku yang memelukmu. Aku sangat ingin memelukmu," ucap Zoan. Sambil melangkah maju mendekati Ossa dengan langkahnya yang pelan.


Tapi Ossa justru tidak menjauh dan mundur. Gerakan Zoan yang pelan, mampu membuatnya luluh seketika. Ossa tidak bisa lagi mengingkari hati dan perasaannya.


Membiarkan Zoan kian mendekat dan merapat. Lelaki itu telah memeluk dengan kedua tangannya. Ossa tidak membalas, dan merasa jika Zoan tidaklah erat memeluk. Tangan besarnya, hanya melingkar di bahu dan punggung Ossa dengan renggang. Rasanya seperti hambar, Zoan tidak pernah seperti ini. Pelukan Zoan selalu hangat selama ini. Tapi...


"Emmh.. Aku tidak mau,," rengek Ossa dengan panik dan terkejut. Zoan telah memegang dan menahan kepalanya. Lelaki itu akan menyentuhkan bibirnya di bibir Ossa.


"Sedikit saja, Ossa,,," ucap Zoan membujuk lirih pada Ossa.


"Tidak,," sahut Ossa. Sambil mengelak saat Zoan berusaha mendekati bibirnya kembali.


Kedua tangan Ossa yang masih menggantung kaku, sambil mendorong mundur perut Zoan dengan kuat seketika. Berusaha menjauhkan diri dari Zoan.

__ADS_1


"Aarrrghhhh..!!!" Zoan melengking keras sambil cepat melepas pelukan dan memegangi perutnya.


"Boss Zoan.. Kenapa??!" Ossa begitu panik dan bingung. Tidak tahu ada apa dengan Zoan.


Zoan nampak sangat kesakitan saat menggeser diri menuju pembaringan. Lalu merebah pelan sambil terus meringis dengan mata yang memejam. Rasanya kasihan sekali. Ossa menahan nafasnya sangat tegang.


"Boss Zoan,,??? Apa sakitmu,,??!" Ossa berseru kian panik. Tshirt Zoan yang tipis dan lembut, serta berwarna putih, nampak merembes merah di bagian perut. Ossa yakin jika itu adalah merah darah. Dan tentu saja sangat mencemaskannya.


"Boss Zoan, maaf. Apa kamu memiliki luka? Apa tanganku mengenainya? Aku tidak sengaja.." Ossa kebingungan dan merasa menyesal.


"Ossa,,,ambilkan,, ranselku.." Zoan berkata sambil menunjuk ke arah sofa di kamar. Ada ransel miliknya di sana. Ossa bergegas mengambil.


"Ini, ranselnya," ucap Ossa sambil meletak ransel di ranjang.


Zoan meminta pada Ossa untuk mengambil botol spray dari dalam ransel dan satu pak tisu khusus pembersih luka. Ossa pun menurutinya.


Meski terkejut, tapi Ossa sudah seringkali menduga. Perut datar berpetak-petak menakjubkan itu sedang ternoda. Sebuah perban tempel sedang melekat tepat di bawah pusar.


Perban putih itu merembes darah dan sebagian ada sedikit mengalir keluar. Ossa merasa mual dan agak pening di kepalanya. Membayangkan betapa sakit rasanya. Ossa telah menekan kuat dengan sepenuh tenaga.


"Boss Zoan,,, luka apa di perutmu ini,,?" tanya Ossa dengan suara bergetar. Rasanya begitu lemas melihat darah yang merembes. Apalagi itu sebab dirinya barusan.


Zoan menerangkan sambil menekan botol spray itu ke arah perban berdarahnya. Membersihkan menggunakan tisu luka dengan begitu hati-hati. Lelaki itu melakukannya sendiri dengan tepat meski tanpa melihatnya. Zoan nampak sudah biasa merawat sendiri luka itu. Ossa merasa kian haru.


"Kenapa bisa salah tembak?" tanya Ossa dengan nada lembut dan pelan. Zoan menolehnya.


"Sebenarnya seorang yang sedang dicari polisi, Haru Masako, sudah hampir tertangkap. Saat tragedi pengejaran, aku kebetulan mengikuti. Karena aku geram, aku ikut mengejarnya. Dan saat itulah salah satu polisi melepas tembakan. Dalam matanya, aku adalah Haru Masako," terang Zoan.


"Jadi selama ini,,," ucap Ossa menggantung. Disambut anggukan kepala oleh Zoan.


Ossa seketika jadi paham, ke mana sebenarnya Zoan selama ini. Ah, rasanya sangat kasihan sekali padanya. Ossa memandang sebak pada lelaki yang terbaring lemas di pembaringan.


"Boss Zoan, apakah polisi yang salah tembak itu dipenjara?" tanya Ossa dengan nada iba dan tidak terima.


"Tidak, Ossa. Aku telah mengambil peluang dari mereka. Aku tutup mulut dengan salah tembak ini. Asalkan,,,, penginapan harus tetap diizinkan beroperasi. Meski pemilik sabu itu belum juga dapat ditangkap. Aku yakin, pelaku penyimpan sabu itu adalah Haru Masako. Tapi lari ke mana, dia?" ucap Zoan pada dirinya sendiri.


"Jadi, pengunjung penginapan yang masih dicari itu sudah pernah akan ditangkap?" tanya Ossa pada Zoan. Boss pengganti di penginapan yang tampan itu sudah membuka mata dan sedang menyimak menatapnya.


"Iya, Ossa. Fakta itu disembunyikan. Publik hanya tahu jika Haru Masako belum dijumpai hingga sekarang. Tapi, yang jelas Haru Masako tidak di luar negara. Bisa jadi masih bersembunyi di sekitar kepulauan Seribu. Hanya terasa buntu untuk mendeteksi, di mana Haru Masako bersembunyi,," terang Zoan terdengar mengeluh.

__ADS_1


"Jadi, boss Zoan menganggap jika salah tembak ini adalah berkah di balik musibah?" tanya Ossa. Rasa pening dan mual di kepalanya mereda. Perban dan perut Zoan sudah nampak lebih bersih.


"Hemmhh... Seperti itulah, Ossa. Aku bisa sedikit menebus kesalahanku pada penginapan. Surat ijin operasi usaha, otomatis akan dibantu terbit oleh mereka." Zoan menerangkan sambil meletak botol spray dan tisu yang sudah kotor di samping perutnya.


"Boss Zoan, apakah ingin tukar baju?" tanya Ossa sambil memandang baju Zoan yang bernoda.


Zoan mengangguk. Meminta pada Ossa untuk mengambilkan sembarang baju dari almari. Ossa bergegas menuju almari yang tidak dikunci. Baju Zoan tidak banyak, tapi sangat rapi dan wangi. Boss pengganti itu mengurus isi di almarinya sendiri.


Zoan sedang duduk dan meminum obat dengan air mineral dalam botol, saat Ossa kembali ke ranjang membawakan baju ganti.


Baju tshirtnya sudah dilepas dan dicampakkan ke lantai. Ossa merasa kikuk saat Zoan menangkapnya sedang memandang tubuh sempurna tanpa baju itu tak sengaja. Segera diulurkannya baju kemeja pada Zoan dan berpaling mencari kesibukan.


Mengemasi botol spray, tisu dan baju yang tercampak di lantai. Semua diletakkan semula di sofa. Ossa berniat akan mencucikan tshirt bernoda darah itu nantinya.


"Ossa,,!" panggil Zoan dari tempat tidur. Ossa menolehnya dengan segan. Zoan sudah mengenakan baju dengan rapi. Sudah tidak terlihat lagi jika lelaki itu menyimpan luka cukup dalam di balik kemeja brandednya.


"Ada apa, boss Zoan?" tanya Ossa dengan dada berdebar. Sepertinya Zoan masih tidak puas dengan adegan awal tadi. Pandangan mata itu bukan lagi kesakitan, tapi minta perhatian.


"Ossa, selama aku dirawat, aku pun tidak ada yang menemani. Aku hanya sendiri. Sehabis operasi, aku juga mengalami tidak bisa bergerak sama sekali. Semua tergantung pada perawat. Jika saja waktu itu yang merawatku adalah kamu, aku pasti lebih bersemangat," terang Zoan dengan pelan. Seperti berbicara tanpa arah dan tujuan. Tapi Ossa paham dengan apa yang sedang Zoan maksudkan.


"Maaf, aku tidak pernah merawatmu. Tapi malah menyakiti lukamu. Kenapa tidak mau bilang padaku?" ucap Ossa dengan tanya protesnya. Lalu duduk dekat Zoan di ranjang.


"Ossa, apa kamu kasihan padaku?" tanya Zoan. Lelaki itu merebah perlahan kembali.


"Aku sangat kasihan denganmu," sahut Ossa lirih dengan menganggukkan kepala.


"Kemarilah, Ossa. Peluklah aku. Hanya memeluk. Yang tadi itu, maaf, aku lupa diri," ucap Zoan terus terang. Dan inilah yang meresahkan bagi Ossa. Zoan masih ingin dipeluknya. Bagaimana ini..


"Tapi, aku.." Ossa menunduk dan bingung. Antara ingin memeluk, tapi juga takut dengan statusnya.


"Sebentar saja, Ossa,," rengek Zoan. Sambil menggapai tangan Ossa yang duduk dekat di sampingnya. Menarik hingga Ossa rebah bersama dan memeluk erat dadanya.


Ossa tidak menolak. Membiarkan Zoan membantu menghempas ragunya. Mengabaikan ketakutan akan dosanya pada Arzaki. Ossa hanya ingin menikmati perasaan hangat saat berdekatan dengan lelaki pengisi mimpi dan hatinya.


Seperti biasa, Zoan telah memejam mata. Tidak ingin Ossa merasa kikuk jika dipandangnya. Zoan merasa puas dan senang. Menikmati hal yang sangat diinginkan belakangan ini, meski susah payah menenangkan dirinya. Mengabaikan sejenak rasa bersalah pada Arzaki.


πŸ•ΈπŸ•Έ


Vote ya, kakak-kakak tersayang.. 😘

__ADS_1


__ADS_2