Boss Pengganti Di Penginapan

Boss Pengganti Di Penginapan
29. Teman Karib


__ADS_3

Tiga jam kemudian..


Taksi dengan cara laju yang nyaman itu membawa Ossa maju ke depan menuju kota kecil Rembang di kampung halamannya. Kurang lebih tiga jam lamanya, Ossa menikmati perjalanan dengan bertabur mentari pagi melalui jalur darat pantura yang indah sekali lagi.


Kesedihan sepanjang jalan dan tangisan sesekali adalah teman perjalanan yang setia kali ini. Sangat berlawanan dengan perasaan senang saat mengarungi jalanan bersama Zoan beberapa hari lalu.


Kesedihan yang sangat namun Ossa sendiri tidak yakin apa penyebab yang paling menggayuti hatinya. Entah panggilan pulang untuk menikah demi melunasi hutang yang ternyata kian menggunung. Ataukah kesedihan harus meninggalkan sang tuan yang ternyata terus memintanya untuk sudi kembali.


Bagi Ossa, lebih baik Zoan tidak usah peduli atau menginginkannya datang kembali. Yang pinta Zoan itu justru membuat hati Ossa terasa lemah sekali. Kepatuhan dan kepasrahan Ossa untuk berbakti kepada orang tua sebagai anak, justru seperti sedang sangat diuji.


Namun, siapakah Zoan...? Hanyalah seorang lelaki kaya yang memperkerjakan dirinya dan tiap bulan memberinya upah tepat waktu. Dan parah lagi, Zoan adalah seorang bad men yang tampan. Hanya seperti itu kelebihannya.


Sedang ayah dan ibunya, tentu saja adalah orang yang paling berjasa sepanjang masa denga rasa cinta yang tidak terluah oleh segala kata-kata untuknya.


Berfikir seperti ini, membuat Ossa mendapatkan gunung semangatnya kembali.


"Pak, singgah di rumah temanku sebentar boleh? Nanti kenaikan argonya saya tambahin, yaa. Bapak buru-buru nggak?" tanya Ossa sopan pada sopir taksi.


"Oke, neng. Nggak masalah. Mas Zoan sudah ngasih cukup-cukup. Bahkan jika mau balik dari Rembang ke Semarang pun, kamu nggak usah bayar lagi, neng,," sambut kang taksi dengan raut yang senang. Memandang Ossa dari kaca gantung di atasnya.


"Terimakasih banget ya, pak," ucap Ossa justru tidak bersemangat. Sahutan kang taksi tentang Zoan, justru membuatnya jadi sebak.


"Sama-sama, neng," sahut kang taksi mengangguk.


Kang taksi itu sangat tanggap saat Ossa mengucap arah gang dan belokan untuk menuju rumah sahabatnya. Mita, sahabat terbaik semenjak kecil yang dimiliki di kampung halaman.


Ossa dan Mita bertetangga jauh namun berkawan sangat dekat. Mereka tinggal di pesisir pantai Jahe karang. Di daerah kecamatan Rembang yang terletak kurang lebih dua kilo meter dari bibir pantai. Orang tua Ossa dan Mita sama-sama memiliki tambak udang, kepiting dan gamat meski kolam tambaknya tidak luas.


Mita adalah keponakan Murniati, anggota geng pembantu di penginapan bersama Ossa. Dan Murniatilah yang membawa Ossa ke penginapan pak Arzaki dua tahun yang lalu.


🕸


Gadis manis berkulit eksotis yang sedang asyik memilah udang, nampak terkejut ternganga memandang siapa yang datang. Tidak menyangka jika pagi ini sang karib telah berada di depannya.


"Ossa,,?!!" seru gadis manis yang tak lain adalah Mita. Mereka saling tersenyum.

__ADS_1


"Eits,,, basuh dulu tangan kamu, Mit. Amis,,!" sergah Ossa. Mita bergelagat akan memeluk, sedang bajunya basah-basah dan baunya sungguh amis.


"Ish,, Ossa! Sudah ke Jakarta pun tetap saja sombong!" gerutu Mita.


Namun, gadis itu cepat berbalik dan pergi ke belakang. Rumahnya nampak lengang. Pintu depan senantiasa ditutup. Hanya pintu belakang tempat Mita menghilang tadilah akses pintu yabg dibuka.


Pagi seperti ini, pasti kedua orang tua Mita sedang beraktivitas di tambak. Sama juga dengan kegiatan rutin orang tua Oqtissa. Tambak adalah rumah kedua bagi mereka.


Mita bukan hanya mencuci tangan. Tapi juga menyempatkan diri untuk mandi pagi dan berganti baju. Kini sangat wangi dan mereka tengah saling berpelukan.


"Kamu bilang akan pulang, kupikir tidak hari ini, Ossa," ucap Mita sambil membawa sang karib ke dalam rumahnya.


"Iya. Aku harus pulang hari ini. Tenggang waktu yang terakhir itu malam ini," sahut Ossa gontai. Mita duduk bersebelahan dengannya.


"Aku benar-benar tidak tahu jika ayahmu masih memiliki tanggungan pada keluarga pak Imam. Setahuku sudah lunas. Kupikir keluargaku saja yang memiliki hutang pada pak Imam," Ucap Mita dengan pandangan yang iba.


"Kupikir begitu. Ternyata makin banyak hutangnya ayah. Sebanyak itu, Mit..." Ossa mengeluh putus asa.


"Lalu bagaimana. Uangmu kan sudah selalu kamu kirim tiap bulan, Ossa.." Mita bergumam ikut bingung.


"Solusi terakhir? Apa,,?" tanya Ossa penasaran. Memandang Ossa yang nampak sayu dengan mata sembabnya.


"Menikah dengan anaknya,," sahut Ossa lirih. Dan Mita sedikit bisa mendengar.


"Menikah dengan anaknya?! Tidak salah, Oss?! Anak lelaki satu-satunya pak Imam itu sudah menikah. Bahkan istrinya sedang hamil sekarang. Nggak salah, Oss?!" seru Mita terkejut. Ossa pun juga nampak kebingungan.


"Lalu siapa yang dimaksud ibuku sebagai lintah darat, Mit,,?" tanya Ossa bingung. Mita berkerut merut di dahi eksotisnya. Kulit wajah gadis itu menggelap, sebab terlalu sering pergi ke tambak membantu orang tua. Mita asalah gadis pesisir yang tomboy.


"Dan pak Imam,, meski suka ngutangin dan ada bunganya juga, orangnya jinak, Oss. Nggak mungkin maksa-maksa," ucap Mita menganalisa.


"Itulah, Mit. Aku jadi rela saat terpaksa menerima permintaan ibuku untuk pulang dan menikah. Kupikir menikah dengan mas Indra, anak pak Imam yang kiyut dan cool itu."


Ossa berbicara sambil tersenyum. Kontras dengan matanya yang masih jelas sembabnya. Lupa sejenak pada sesak di dadanya. Bukan Ossa saja yang sekarang tersenyum. Bahkan Mita pun juga terang-terangan tertawa.


"Jadi diam-diam kamu jadi suka sama mas Indra? Kamu nyesel lebih milih Gandy waktu itu? Ha,,ha,,," pungkas Mita sambil menggemakan tawanya.

__ADS_1


"Hush, Mit, jangan kobarkan aib doong,,!" tegur Ossa khawatir. Di samping rumah Mita adalah jalan kampung tempat para warga berlalu lalang.


"Aku bukannya jadi suka sama mas Indra. Tapi... Jika aku dipaksa menikah sama dia, kan nggak nolak-nolak banget. Dia lelaki yang baik,," timpal Ossa. Mita pun mengangguk dan masih tersenyum.


"Bukan baik saja. Tapi juga kaya! Tapi lagi,, mas Indra sudah menikah hampir setahun yang lalu. Kamu sih kelamaan berkelana. Dan salah kamu sendiri, milihnya Gandy..! Ternyata,,,," gerutu Mita menyayangkan.


Ossa kali ini menyimak ucapan Mita dengan cermat. Wajahnya serius dengan dahi berkerut. Ada yang sedang dipikirnya.


"Mit,, jangan-jangan orang yang meminjamkan uang pada ayahku satu tahun yang lalu itu,,," pungkas Ossa menggantung. Mata sembabnya melebar nampak lucu memandang Mita yang juga ternganga seketika.


"Keluarga Gandy,,,?!!" seru mereka serempak. Ossa menggeleng-gelengkan kepala beberapa kali.


"Tidak, Mit. Tidak mungkin,," sanggah Ossa. Tidak ingin jika prasangka itu jadi benar.


"Iya, Ossa. Itu sangat mungkin. Beberapa tetangga juga pinjam ke bapaknya Gandy. Bapaknya Gandy, ratusan juta pun cair. Sedang pak Imam, hanya meminjami di bawah seratus juta. Tidak bisa lebih. Sedang ayahmu hampir tiga ratus juta, Ossa,,!" seru Mita menguatkan analisa mereka.


Ossa merasa jika raganya kian lunglai tak bertulang. Secercah harap jika menerima perjodohan dengan Indra, bisa jadi dirinya akan bahagia kemudian, terasa melayang musnah tanpa sisa.


Bayang nama Gandy, wajah dan sosoknya, membuat tubuh Ossa terasa demam tiba-tiba. Mencoba menampik sendiri bahwa bukanlah Gandy lelaki yang akan menikahi segera dirinya.


"Mit, aku pulang dulu. Nggak rugi aku mampir ke tempat kamu. Jika aku langsung pulang, bisa-bisa aku shock hebat atau malah koma," ucap Ossa. Menyodor bungkusan berisi oleh-oleh pada Mita.


"Eh,, Terimaksih ya, Oss. Sorry, gassku habis. Lagi langka. Jadi, kamu nggak kukasih minuman. Warung sebelah pun tutup,"


"Besok datanglah lagi. Aku ada durian di kebun. Nanti sore kupetik," ucap Mita nampak merasa bersalah.


"Nggak apa-apa, Mit. Aku nggak haus. Minumanku masih ada di taksi." Ossa berkata sambil berdiri. Bersiap untuk segera lanjut pulang. Bagaimanapun, selain merasa penasaran, tapi rindu pada orang tua dan kedua adik kembarnya juga sangatlah menggebu.


"Oss, jika nggak sempat ke sini, besok pagi kuantar duriannya ke rumahmu. Kamu doyan kan?!" seru Mita dari teras rumah. Ossa telah hampir membuka pintu taksi dan kini menoleh padanya.


"Iyaaa..! Doyan banget..!! Kutunggu!! Jangan Pehape in aku, Mit,!!" seru Ossa tersenyum. Yang kemudian sempat melambaikan tangan pada Mita sebelum membuka pintu taksi dan masuk ke dalamnya.


Driver meluncur membawa pergi taksi bersama Ossa menuju ke rumah si penumpang yang kini sedang semakin berdebar. Tidak sabar lagi untuk sampai di rumah dan bertemu dengan keluarga tercintanya.


🕸🕸🕸🕸

__ADS_1


🕸🕸🕸🕸


__ADS_2