Boss Pengganti Di Penginapan

Boss Pengganti Di Penginapan
88. Bermesra


__ADS_3

Zoan telah mengusung Ossa ke kamar sewanya di sebelah. Check out dan mengosongkan kamar Ossa dengan resmi secara online. Zoan tidak ingin membuang waktu untuk turun dan mengurusnya sendiri di lobi. Baginya itu cukup merepotkan sekali.


"Apa ini,,?" tanya Ossa merasa heran dengan banyak amplop putih yang menumpuk dan telah tersegel di meja.


Saat baru masuk, Zoan keburu mengajaknya membersihkan diri untuk shalat isya' berjamaah dikamar. Sehingga tidak sempat memperhatikan detail kamar Zoan.


"Itu sedikit sisa dana pernikahan. Amplop coklat itu untuk mertuaku. Sedang amplop putih kecil-kecil, akan kuserahkan pada ayah agar diberikan pada siapa saja korban abrasi yang dirasanya pantas menerima," jelas Zoan pada Ossa. Lelaki itu sedang meraup wajahnya dengan handuk lembut di sampiran.


"Kenapa tidak diserahkan saja pada pihak penggalang dana, mas,,?" tanya Ossa dengan lembut. Merasa sangat salut pada Zoan yang berjiwa sosial cukup tinggi. Rasa kesalnya pada lelaki itu telah terbang melayang seketika.


"Itu akan lama, Ossa. Dan kadang tidak tepat sasaran. Lagipula, aku ingin mengambil hati ayahmu," ucap Zoan sambil tersenyum. Lelaki itu duduk di ranjang memperhatikan sang istri.


"Mas Zoan, pamrih,??" tanya Ossa tersenyum. Lalu duduk di samping Zoan sangat dekat.


"Apa salahnya pamrih dengan mertua? Toh, mereka tidak tahu jika aku yang memberi. Tahunya kan ayah yang ngasih,,"


"Besok kita antar sebelum berangkat ke Semarang. Sekalian pamit. Sambil mengunjungi Mita, sahabatmu yang sedang sakit itu," jelas Zoan sambil tangannya memeluk Ossa dengan cepat. Tidak ingin membuang kesempatan.


"Kenapa kita tidak saling mengenal dari dulu, Ossa?" tanya Zoan dengan membelai lembut rambut Ossa.


"Kenapa juga dulu mas Zoan tidak pernah sekali saja nampak di penginapan? Aku di sana dua tahun pun, tidak pernah melihatmu," balas Ossa dengan heran. Menyandarkan kepalanya di bahu Zoan.


"Iya.. Dulu aku tidak berminat untuk datang ke penginapan. Jika ingin bertemu keluarga mas Zaki pun, kuundang mereka untuk datang ke kota Jakarta. Aku ke sana setelah penginapan itu ditinggal olehnya. Aku khawatir jika dia tidak akan pernah kembali ke penginapan," sahut Zoan sambil tersenyum.


"Sombong sekali kamu, mas... Kenapa saat penginapan sudah gulung tikar dan kamu yang membiayai, masih juga tidak datang? Kenapa datang lambat?" tanya Ossa dengan terus terheran.


"Bukan sombong,, tapi enggan, segan. Aku selalu membawa wanita. Mas Arzaki tidak bosan menasihatiku, rasanya jadi tidak nyaman," terang Zoan sambil kian lebar tersenyum.

__ADS_1


"Ahh,, mas Zoan, kamu bekas banyak orang,," keluh Ossa sambil menjauhkan diri dari Zoan. Hanya bermaksud menggodanya.


Zoan cepat menangkap Ossa dan meletak kepala kecil dengan rambut panjang dan tebal itu di bahunya kembali.


"Maafkan aku, Ossa. Aku lambat menemukanmu. Apa kamu jijik denganku,,?" tanya Zoan menyesal dan merasa tahu diri.


Ossa jadi merasa bersalah. Yang sebenarnya sudah tidak peduli dengan apapun dan bagaimanapun Zoan di masa lampau. Hanya kebaikan Zoan saja yang diingat.


"Jika aku jijik, aku tidak akan memalukan diriku waktu itu. Nyatanya aku tidak rela jika kamu menikah dengan orang lain."


Ossa nampak tersenyum. Merasa geli sekali lagi dengan dirinya sendiri waktu itu. Zoan kian memeluk erat dirinya.


"Ossa, kurasa aku sangat suka denganmu. Apa kamu juga sangat suka denganku??" tanya Zoan dengan bisik lirihnya. Ossa merasa terbang mengawang di langit-langit kamar.


"Iya, aku sangat suka denganmu. Kurasa aku juga jatuh cinta sangat dalam padamu, boss Zoan. Ah, boss Zoan, I love yuuuu,," jawab Ossa yang berakhir dengan rengekan. Juga pelukan eratnya pada Zoan.


"Aku juga mencintaimu, Ossa. Sangat,,sangat mencintaimu. Tolong, jangan ungkit lagi masa laluku ya.." Zoan berkata membujuk pada Ossa sambil memeluk.


"Iya, Ossa. Aku janji, maafkan yang barusan tadi,," ucap Zoan. Bibirnya mengecupi ubun Ossa berulangkali. Ossa membalas pelukan Zoan sangat erat.


"Kapan kita akan mengunjungi penginapan Azril milik pak Arzaki?" tanya Ossa kembali berharap. Membayangkan wajah shock antara Vinola dan Murni saat mereka tahu pernikahannya. Ossa tersenyum geli merasa bahagia.


"Kita akan ke sana setelah memiliki anak," ucap Zoan dengan tegas. Ossa nampak mendongak terkejut.


"Lama sekali, apa kamu tidak rindu dan ingin tahu dengan keadaan kakak lelakimu?" tanya Ossa terheran.


"Aku kan bisa ke sana sendiri tanpa mengajakmu,," jawab Zoan tersenyum.

__ADS_1


"Jahat, kenapa tidak mengajakku?!" seru Ossa memprotes.


"Oke, oke,, setidaknya hingga aku berhasil membesarkan perutmu,," ralat Zoan cepat dengan tersenyum kian lebar. Ossa tidak lagi menyahut. Zoan yakin jika wajah yang menunduk itu sedang merona dan pias.


"Aku akan merilisnya sekarang juga, Ossa. Kamu siap??" tanya Zoan dengan suara dan ekspresi yang santai. Meski dadanya terasa bising bergemuruh.


"Merilis??" tanya Ossa tersenyum. Paham dengan maksud ucapan sang suami.


"Iya, merilis prodak Reizoan Azril di sini." Zoan berkata lirih sambil merabakan tangannya di perut Oqtissa. Sang istri sudah tidak bisa lagi berkata-kata. Hanya wajah tegang pias yang jelas terbaca pada apa yang sedang dirasakannya.


"Os, kamu bisa doa sebelum melakukannya?" tanya Zoan dengan wajah mulai nampak tegang. Ossa memandang dengan raut sangat pias dan kikuk.


"Akuu,,, aku lupa,, aku lupa tidak menghapalkannya," jawab Ossa tercekat merasa malu. Zoan tersenyum dengan makhlum.


"Aku paham. Kamu belum pernah melakukannya. Jadi tentu saja tidak hafal." Zoan mengusap rambut Ossa dengan sayang yang sangat.


"Apa mas Zoan dulu juga membaca doa itu saat akan melakukan dengan haremmu?" tanya Ossa tiba-tiba. Benar-benar ingin tahu tentang ini.


"Ah, Ossaaa,,, kamu sudah janji apa tadi?" keluh Zoan sambil mengacak rambut lebatnya sendiri. Ossa tersenyum, merasa ingat dan makhlum. Dirangkulnya Zoan sangat rapat.


"Maaf... Ayolah, ajari aku mengucapkannya, mas Zoan. Aku tidak sabar," rengek Ossa dengan manja. Berusaha mengikis rasa tidak enak yang mungkin sedang Zoan rasakan.


"Ayolah, Ossaa,,," sahut Zoan menggebu.


Zoan menyambut cepat dan sangat bersemangat, menyeret Ossa untuk merebah bersama di ranjang. Kenginan yang dalam di pendam akan dibebas hamparkan secepatnya. Merasa diri telah bersiap dengan cukup istirahat demi kelancaran tugas malam ini. Menuntaskan hasrat menggeloranya kepada Oqtissa yang sangat dicinta selama hayat di jagad raya. Berharap sambung abadi hingga kekal kelak di surgaNya.


🕸

__ADS_1


(**Tidak ada ninuninu lagi,... Bulan suci, otor tobat dah.. Yang novel2 terdahulu itu, jika kubaca sendiri di bab 21+, duh... Rasanya sangat malu sendiri setengah mati.. Juga takut jika tiba-tiba aku mati .. Ingin kurevisi, tapi mager sekali..**)


🕸🕸🕸🕸🕸🕸


__ADS_2