
Zoan menepi saat sampai di depan kamar enam puluh enam. Memandang Ossa dengan maksud agar membuka pintu. Lelaki itu memang benar-benar ingin masuk ke dalam kamar.
Ossa menggesek kartu kunci di pintu dengan gugup, antara berdebar resah, takut, juga rasa debar senang. Bagaimanapun, merasa gentar jika saja Zoan berbuat hal yang berlebihan padanya. Ossa menenangkan diri dan yakin bahwa Zoan telah tobat.
"Kamu tadi dari mana, Os?" tanya Zoan sambil memdekati ranjang dan duduk santai di sana. Lelaki itu melepas sandal kulitnya. Zoan lebih suka bersandal daripada mengenakan sepatunya.
"Jalan-jalan di Paragon Mall City," sahut Ossa berdebar. Ossa telah melepas sepatu dan meletakkan tas di meja. Berdiri kaku jauh dari ranjang memandang Zoan.
"Kamu tidak capek?" tanya Zoan menelisik Ossa dengan matanya. Ossa merasa kian gugup.
"Eh,, iya. Aku sangat capek," sahut Ossa tanpa mengingkari.
"Sini,, Os. Duduklah di sini," ucap Zoan mengarahkan. Ditunjuk nya ranjang di sebelahnya duduk dengan jari telunjuk yang panjang.
Ossa terhipnotis oleh rasa kikuknya sendiri. Menurut dan duduk di sebelah Zoan agak jauh.
"Apa yang ingin kamu katakan, Ossa?" tanya Zoan memancing percakapan.
Ossa sedang menoleh dan memandang Zoan. Menjulurkan kedua kaki di bawah mengayun. Ranjang kamar ini memang cukup tinggi.
Sedang Zoan, duduk santai dengan menaikkan sebelah kaki ke ranjang dan sebelah kaki lagi juga menjuntai berayun.
"Boss Zoan, kamu dari mana?" tanya Ossa menoleh.
Zoan menegakkan punggung dan menghela nafas.
"Jangan panggil boss padaku, Ossaaaaaaaa,,," ucap Zoan dengan panjang mengeluh. Tapi Ossa justru tersenyum dengan kekesalan Zoan yang seperti itu. Sepertinya telah susah payah menahan selama ini dan sekarang terluahkan.
"Baiklah, mas Zoaaaaaannn,,," timpal Ossa memanggil panjang sambil tersenyum. Berniat menggoda Zoan.
Sama juga dengan respon Ossa. Zoan yang tampan itu tersenyum, bahkan lebar sekali.
"Apaa?? Kamu ingin bicara apa??" tanya Zoan disela senyumnya.
__ADS_1
"Tadi, aku sudah mengirim uang ke akunmu. Aku sudah membayar hutangku hingga lunas. Jadi aku tidak memiliki hutang lagi denganmu." Ossa menjelaskan dengan wajah yang nampak kembali tegang.
"Itu alasanku ke sini. Darimana kamu mendapat uang?" tanya Zoan memicing mata menyelidik wajah Ossa.
"Pak Arzaki yang memberi. Tapi aku tidak meminta. Apa salah jika aku telah menggunakannya?" jelas Ossa bertanya.
"Kenapa kamu tidak mengatakan dulu padaku?" tanya Zoan menyelidiknya kembali.
"Aku khawatir kamu akan menolak. Jadi kukirim langsung cepat-cepat," jelas Ossa.
"Apa kamu sudah merasa lega?" tanya Zoan.
"Iya, sudah sangat lega. Dan,,," Ossa menggantung ucapannya.
"Dan apa, Os??" tanya Zoan tidak sabar.
"Dan,, jika aku sebenarnya tidak berguna, tidak ada pekerjaan yang bisa kulakukann, bahkan sebagai tukang cuci piring pun, aku akan pergi dan pulang. Aku ini siapa, sampai diinapkan di tempat mahal seperti ini. Rasanya sangat tidak enak, seperti jadi bebanmu. Kenapa aku harus dilletak di sini?" tanya Ossa meluahkan beban dan perasaannya lagi tentang ini.
"Kamu sangat ingin tahu alasanku?" tanya Zoan dengan suara selirih biasanya. Ossa sedang mengangguk mengiyakan.
Ossa merasa kembali sangat berdebar. Menduga apa yang akan dilakukan Zoan jika sudah merambat dekat dengannya. Tapi, Ossa sama sekali tidak ingin menjauh atau juga menghindari lelaki itu. Menunggu hingga Zoan berdiri sangat dekat dengan dada yang kian bergemuruh.
Mata Zoan yang hitam berkilat itu telah menatap dalam dengan wajah dan kepala yang sejajar wajah Ossa. Jantung Ossa kian laju berdegub, Zoan tengah mendesak maju dan kian mengikis jarak diantara mereka berdua.
Zoan terus mendesak pelan hingga Ossa jatuh merebah di ranjang dengan kaki menjuntai. Zoan berdiri membungkuk dan mengurung Ossa dengan badan besarnya. Bahkan Ossa tidak nampak lagi sosoknya.
Zoan menatap lekat sambil tersenyum memandang wajah cantik dengan mata membelalak di bawahnya. Merasa yakin jika Ossa tidak akan berdaya apapun untuk menolak. Dan ini justru yang sedang dihindari Zoan dengan susah payah sekarang.
"Ossa, apa kamu tahu apa yang akan aku lakukan?" tanya Zoan.
Nafas Zoan terasa hangat menerpa wajahnya. Ossa merasa lebih baik menggeleng.
"Aku sudah berbuat seperti ini denganmu, tapi kamu tidak paham? Kamu tidak tahu??" tanya Zoan tersenyum.
__ADS_1
Paham jika Ossa enggan jujur pada isi hatinya dengan hal seperti itu. Wajah indah berhidung mancung mungil itu sedang pias merona. Ossa pasti merasa malu dengannya.
Zoan pun lupa sesaat dengan niatan untuk menggertak sambal dan berbincang saja. Betapa ingin menghentak diri lebih rapat lagi dengan tubuh indah di bawahnya.
Meski merasa suka dan berdebar indah, namun juga was-was jika Zoan khilaf dan memaksa. Zoan terlalu merapatinya.
"Kata mbak Ayunda, kamu sudah tobat. Bahkan sudah pergi umroh ke Saudi. Apa kamu tidak sungguh-sungguh. Apa umrohmu hanya ingin jalan-jalan?" tanya Ossa dengan berusaha tenang.
Tangannya telah terangkat untuk menahan dada Zoan agar berhenti turun mendekat. Rasanya sungguh sangat berdebar jantungnya. Tidak kalah kencang dengan detak dada Zoan yang kini sedang disentuhya. Zoan pun tersenyum dengan wajah berkabut yang sangat jelas terlihat.
"Jadi kamu sebenarnya paham kan, apa yang yang sedang sangat kuingin darimu sekarang?" tanya Zoan begitu dekat di depan wajah Ossa.
"Iy,,yya,, aku paham,," sahut Ossa dengan susah. Himpitan Zoan telah terasa menyesakkan.
"Kamu paham tidak, kenapa kamu kuletak di sini? Kenapa tidak di penginapanku sendiri?" tanya Zoan pada Ossa yang nampak kian tegang.
"Untuk menjaga dirimu dari diriku sendiri, Ossa. Kamu paham?" tanya Zoan sekaligus menjelaskan.
Ossa terus memandang tak berkedip tanpa sepatah katapun mampu terucap. Rasanya begitu gemetar, entah sebab gejolak hasrat diri sendiri atau juga sebab alasan Zoan yang mengharukan baginya.
"Aku tak ingin menodai kamu, tidak ingin merusakmu. Aku tahu, kamu tidak akan mampu menolak jika aku melakukannya saat menginginkanmu. Kamu paham kan? Bahkan saat inipun, kamu tidak ada daya. Kamupun tidak mampu menolakku, Ossa," ucap Zoan lirih dengan suaranya yang dalam. Zoan sedang melawan keinginannya sendiri.
"Ossa, apa semua yang kukatakan itu betul?" tanya Zoan. Ossa nampak ragu sejenak, kemudian mengangguk dengan wajah kian merah.
"Jadi, kamu sudah paham, kenapa kamu kusimpan di sini, dan bukan dekat denganku di penginapan?" tanya Zoan kembali.
"Iya, aku paham. Kamu sedang menjaga tobatmu," sahut Ossa dengan maksud memberi pujian dan dukungan.
Ossa mendorong dada Zoan perlahan. Lelaki itu dengan pengertian menepi pelan ke samping.
Mereka sama-sama sudah duduk yang kini saling berhadapan di ranjang.
"Ossa, aku ingin menikah dalam waktu dekat ini," ucap Zoan tiba-tiba. Tapi wajah itu tanpa senyum, Zoan tidak ada niat bercanda.
__ADS_1
Ossa terkejut mendengar ucapan Zoan. Menikah... Zoan akan menikah,,? Ah, rasa dadanya sesak sekali. Ossa merasa hatinya begitu sakit,,kecewa,,kesal.. Tapi itu hak Zoan, tapi dengan siapa kelaki itu akan menikah?
🕸🕸