
Ossa tidak bernafsu makan sama sekali, bahkan rasanya justru seperti mual. Hidangan mahal di meja bar sama sekali tidak menggoda lidahnya. Dan moment makan itulah saat tepat bagi Zoan untuk berpamit undur diri.
Zoan membawa laju mobil menuju sebuah resto besar, namun cukup familiar dan nyaman bagi tiap pengunjungnya. Di Lakers' Resto yang super luas itulah Zoan membawa Ossa makan malam. Ingin agar Ossa mengisi perutnya dengan perasaan aman dan lapang.
Cuaca cukup cerah dengan tata lampu yang melimpah di segala pelosok area resto, kian memperjelas suasana resto saat malam. Zoan memilih bangku kursi di pelataran luar, berhadapan langsung dengan telaga bening dan rumput hijau yang menghampar di hadapan mereka. Banyak juga pengunjung yang memilih membawa makanan dengan duduk-duduk bersila dan berselonjor di tepinya.
Juga nampak kolam renang lebar dan panjang, sebagai fasilitas penunjang dan daya tarik rumah makan Lakers resto. Dan terlihat masih ada beberapa orang berenang di sana meski hari sudah malam.
"Kamu ingin makan apa, Ossa?" tanya Zoan. Gadis yang sedang muram di depannya itu sudah mengabaikan buku menu. Seorang pelayan perempuan nampak berdiri menunggu.
"Nasi Goreng Keraton," jawab Ossa. Zoan memandang pramusaji yang mencatat. Lalu memandang Ossa kembali.
"Minuman?" tanya Zoan lagi.
"Avocado Juice, gelas kecil,," jawab Ossa lagi.
"Nasi goreng keraton, dua. Minuman tadi, sama es kopi susu lakers, mbak,,!" ucap Zoan menyebut semua pesanannya.
"Terimakasih. Mohon ditunggu," pamit pramusaji setelah selesai mencatat. Kemudian melangkah mundur dan berbalik.
Juru pramusaji resto itu nampak jauh berjalan. Mungkin jarak dapur resto dengan posisi Zoan dan Ossa duduk, kurang lebih dua ratus meteran jauhnya.
"Ossa,,!" panggil Zoan lirih pada gadis di depannya.
"Iyaa,," sahut Ossa cepat dengan ekspresi bertanya.
"Apa kamu merasa trauma kuajak ke tempat yang orang bebas melakukan hal-hal seperti itu? Kamu muak padaku?" tanya Zoan terdengar lembut bicaranya.
"Tidak. Sebenarnya itu hal biasa. Saya juga sering berpapasan dengan orang yang sedang keterlaluan di penginapan. Mereka tidak sabar untuk menunggu hingga masuk ke dalam kamar. Atau, kadang kami juga tidak dianggap sebagai manusia saat masuk dan melayan ke kamar," terang Ossa dengan jelas.
"Jadi, kamu tidak masalah jika lain kali kubawa lagi?" tanya Zoan dengan memajukan punggung dan wajahnya. Ossa nampak terkejut dengan pertanyaan Zoan padanya.
"Eh,,bukan begitu maksudku. Itu beda sekali. Tidak sama, boss Zoan." Ossa menyanggah cepat-cepat. Zoan menyimpan senyuman.
"Apa bedanya, Ossa?" Zoan usil bertanya. Padahal juga sangat paham bahwa keadaan memanglah tak sama.
"Jika kulihat seperti itu di penginapan, saya cepat menepi dan berpaling. Tapi saat denganmu di bar, seperti dipaksa untuk melihatnya," terang Ossa dan memandang Zoan sekilas.
__ADS_1
"Siapa yang maksa kamu?" pancing Zoan dengan menyimpan senyumnya.
"Boss Zoan sendiri," ucap Ossa cepat sambil terus berdiri. Zoan tertegun mendengarnya. Dan Ossa tidak lagi menyebut mas, tapi kembali menyebut boss padanya. Zoan merasa tidak suka.
"Saya ingin ke toilet sebentar," pamit Ossa sambil berbalik dan pergi terburu. Berjalan cepat menuju bangunan yang pasti ada berderet pintu toilet di dalaamnya.
Zoan hanya mengikuti langkah Ossa dengan menaikkan kedua alis sambil termangu memandang. Hingga Ossa lenyap ke dalam bangunan bertuliskan toilet umum di depannya.
πΈ
Meski Zoan tahu jika Ossa masih merasa terpaksa dan tidak nyaman saat dibawanya, tapi sudah beberapa kali juga Ossa mengikuti dan menemani. Gadis itu tidak pernah menolak. Hanya menunjuk wajah mendung saat berangkat, tapi berubah cukup cerah saat pulang kembali ke penginapan.
Dan berakhir sama di tiap kali pertemuannya. Undur diri meninggalkan mereka yang tengah berasyik masyuk di tempat. Bergeser mencari tempat lain yang tenang untuk makan.
Zoan selalu membawa Ossa di tempat yang berbeda setelahnya. Hanya rumah makan terbuka lah pilihan Zoan yang baginya paling tepat didatangi. Selain sebenarnya Zoan juga merasa bersalah, tapi juga bertujuan Ingin membersihkan memori Ossa agar tidak tercemar berlebihan.
πΈ
Dalam perjalanan pulang dari sebuah pertemuan biru setelah makan malam di tempat yang berbeda...
Zoan merasa jika hari ini, sikap dan tingkah Ossa terasa lain dengan ekspresi yang aneh. Banyak melamun dan sangat tidak fokus. Meski hari sebelumnya juga sempat terpergok melamun olehnya.
"Boss Zoan," panggil Ossa. Memecah fokus Zoan di jalanan. Ditolehnya wajah Ossa yang nampak mendung pekat belakangan ini.
"Ada apa, Ossa?" tanya Zoan yang kembali lurus menatap jalanan.
"Maafkan saya. Saya akan berhenti kerja di penginapanmu." Tiba-tiba Ossa mengatakan hal yang tidak diduganya. Tentu saja Zoan terkejut. Hingga mengemudinya sempat oleng sekian detik. Nasib baik keadaan jalanan agak sepi.
"Kenapa tiba-tiba kamu ingin berbenti kerja dariku?" tanya Zoan serasa tidak percaya. Berbagai kemungkinan penyebabnya, berkelebat di kepala. Terlebih pada tugas Ossa yang menjadi harem palsunya akhir-akhir ini. Tapi bukankah Ossa tidak pernah mengeluh akan tugasnya sama sekali..? Zoan terheran.
"Ossa,, kenapa?" desak Zoan. Gadis itu menunduk diam tanpa kunjung menyahut. Dan mengangkat kepalanya pelan memandang pada Zoan.
"Ada urusan keluarga. Kata ibuku, ayahku sakit keras. Aku harus segera pulang besok pagi." Ossa menerangkan dengan wajah kian mendung.
"Benarkah?" tanya Zoan tak percaya. Ossa pun mengangguk.
"Apa ayahmu sudah dibawa ke rumah sakit?" tanya Zoan menoleh. Ossa kembali mengangguk.
__ADS_1
"Sudah di rumah sakit. Tapi keadaannya tidak membaik. Ayahku ingin melihatku secepatnya. Jadi aku harus pulang," tegas Ossa pada Zoan dengan kepala sedikit menunduk.
Zoan terdiam dengan wajah mengeras yang menatap lurus pada jalanan di depan.
"Sebenarnya aku sudah berencana mengajakmu ke Surabaya, Ossa. Besok pagi juga berangkatnya. Tapi, apa boleh buat. Ayah kamu sakit." Zoan mengeluh dan menggumam. Dan ditolehnya kembali Ossa yang tengah memandangnya.
"Tapi, kenapa kamu berhenti kerja? Kamu tidak ingin kembali ke penginapan setelah ayahmu sembuh?" tanya Zoan terheran.
"Keluargaku ingin saya tidak pergi jauh lagi, boss zoan. Maafkan saya," terang Ossa dengan gayut mendung di wajahnya.
Zoan membungkam beberapa saat. Mencengkeram kemudi dengan erat.
"Kamu ingin berangkat pukul berapa?" tanya Zoan sangat lirih.
"Sehabis subuh," sahut Ossa cepat dan juga sangat lirih.
"Benar kamu tidak ingin bekerja kembali di rumah penginapan Pulau Seribu, Ossa?" tanya Zoan tetap dengan lirih. Ossa menggeleng.
"Bagaimana jika lebih dekat? Tidak sejauh di sana?" Zoan menoleh. Menyimak wajah Ossa yang kemudian juga menoleh dan lekat menyimaknya. Tapi Ossa hanya terus membungkam.
"Bekerja di penginapanku. Bukankah jauh lebih dekat? Bahkan, jika kamu ingin pulang satu bulan satu kali pun bisa, Ossa. Akan kuberikan kamu tunjangan taksi pulang pergi tiap bulan. Bagaimana?" Zoan kembali menoleh dan menatap Ossa lekat-lekat. Seolah sangat berharap agar Ossa bersetuju. Tapi gadis itu ternyata menggeleng.
"Baiklah, kamu akan kuberi posisi sebagai penyambut tamu kembali. Bekerja di penginapanku. Bekerja padaku. Tidak perlu pura-pura menjadi haremku. Bagaimana?" Zoan kembali memberikan penawaran.
Menyimak Ossa yang menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tiba-tiba bahu Ossa terguncang-guncang dan terdengar isaknya. Ossa telah menangis sesenggukan.
"Hei, Ossa,,! Kamu ini kenapa?!" seru Zoan terheran. Merasa tidak ada perkataannya yang sengaja menyinggung atau menyakiti, tapi Ossa justru memangis. Zoan merasa serba salah.
"Oke, Ossa. Aku tidak akan lagi membujuk dan menawari pekerjaan ke kamu. Tolong, sudahilah menangismu." Zoan menoleh. Bahu Ossa tidak lagi sesering tadi berguncang. Tapi telah jarang. Isak tangisnya pun mereda.
"Akan kuorderkan taksi untuk mengantarmu pulang, Ossa. Besok pagi selepas subuh. Begitukah?" tanya Zoan dengan lembut. Tidak ingin meledakkan tangis gadis itu sekali lagi.
"Iya, boss Zoan. Terimakasih," Sahut Ossa tersendat di sela sisa sedu sedannya.
Zoan merasa lega. Tangis Ossa benar-benar sudah berhenti. Tidak terdengar lagi isakan di bibirnya. Meski rasanya begitu kecewa dengan keinginan besar Ossa untuk tidak bekerja kembali lagi padanya. Ternyata gadis itu benar-benar sangat mencintai keluarganya.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈ
__ADS_1
πΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Tonton iklanku ya.. ingin beli es lilin dari relamu,,πππ€