Boss Pengganti Di Penginapan

Boss Pengganti Di Penginapan
17. Dua Puluh Empat Jam


__ADS_3

Rumah penginapan telah resmi dibuka beberapa hari lalu....


Rumah penginapan yang memiliki total dua puluh dua kamar yang disewakan, telah sebagian memiliki penghuninya. Tiga geng pembantu beserta satu orang tambahan yang sudah cukup berumur, nampak sibuk hilir mudik.


Tidak disangka, boss pengganti di rumah penginapan mempunyai kejutan untuk mereka berempat. Boss Zoan telah menyiapkan seragam khusus yang cantik dan sangat nyaman dikenakan. Dilengkapi dengan tag name masing-masing yang dikalungkan di leher. Rumah penginapan kecil namun megah dan cantik itu, terkesan lebih professional dan meyakinkan.


Bahkan, boss Zoan pun juga mengenakan seragam model lelaki dengan warna yang sama. Sebab, Zoan juga ikut terjun langsung melayani para tamu. Boss pengganti itu telah berfungsi juga sebagai pekerja pengganti yang serba bisa, sekaligus serba ada.


Zoan selalu siaga berkeliling penginapan dan jarang kembali ke kamarnya. Bersiap siaga menggantikan. Mengganti sebagai resepsionis dan penyambut para tamu. Mengganti sebagai pelayan kamar. Mengganti sebagai penunggu dapur,,, atau pun mengganti apa saja. Zoan siap mengganti jika di antara kempat pekerja penginapan itu sedang istirahat, dan menunaikan sholat wajib.


Lebih surprise lagi, sedan merah menyala kesayangan juga sangat siap sebagai kendaraan pengganti. Mengganti sebagai taksi, siap mengantar dan siap menjemput kapan saja. Dengan syarat, jarak tempuh tidak jauh dan jika Zoan tidak menggunakan untuk bepergian ke kota. Sang sopir bertugas siaga mengangkut.


Bahkan, jika sang sopir sedang ada keperluan pribadi, Zoan pun siap mengganti jadi driver. Boss pengganti benar-benar ingin memberi kenyamanan dan kepuasan kepada para pengunjung di rumah penginapan. Sangat konsisten dan rela jungkir balik demi menghidupkan dan memajukan penginapan kembali. Demi membuat sang kakak lelaki tergoda untuk pulang ke Indonesia dan tinggal di penginapan, serta bersedia mengelolanya lagi seperti dulu.


🕸


Zoan menginginkan pertemuan dengan setiap pembantu sekaligus pekerja hotel secara bergantian di ruang kerja, setiap tiga hari sekali. Semua dituntut untuk mampu saling menggantikan di segala posisi yang sedang kosong kapan saja. Dan tak luput juga pada Murni, harus siap mengganti di manapun. Bahkan sebagai penyambut tamu di lobi sekali pun.


Terkecuali pada petugas laundry dan kebersihan. Sebab sudah cukup berumur dengan pendidikan yang minim, petugas laundry bebas dari tugas menggantikan. Dia akan aman di posisinya hingga kapan saja dan bisa jadi hingga renta. Sebab, bi Nikmah adalah seorang janda tanpa anak dan hanya sebatang kara di Jakarta. Boss Zoan memilihnya dari agency sebab iba.


🕸

__ADS_1


Malam ini, pukul tujuh tepat, Ossa akan menemui Zoan di ruang kerjanya. Membicarakan masalah penginapan di tiga hari yang terakhir.


Zoan sedang menulis saat Ossa membuka pintu dan masuk. Si boss telah berpesan agar mengetuk pintu dan langsung masuk saja tanpa perlu menunggu dibukakan.


Pensil dan iphone canggih miliknya baru diletak di meja beberapa menit kemudian. Ossa merasa lega setelah hampir putus asa sebab berdiri menunggu.


"Ossa, bagaimana perkembangan penginapan menurut kamu?" tanya Zoan dengan pandangan lurus pada Ossa.


"Sangat bagus, kurva pengunjung semakin ke atas, boss," sahut Ossa terdengar memuaskan.


"Jika kutambah lagi lima pekerja, apa keuangan sudah mampu?" tanya Zoan setengah bergumam.


Menyadari jika Ossa tentu saja tidak tahu dengan detail. Ossa hanya menghitung pemasukan tanpa mendapat laporan pengeluaran. Sementara ini hanya Zoan sajalah yang membukukan.


"Betul, boss Zoan. Saya pun juga seringkali menolak pengunjung saat malam di link saya," Ossa memperkuat ucapan Zoan. Lelaki itu mengangguk.


"Aku juga ingin mencari pegawai yang kompeten dan professional. Sebagai managerial atau sebagai supervisor. Kurasa penginapan sudah mampu untuk memiliki pegawai dengan level seperti itu. Bagaimana menurut kamu?" tanya Zoan dengan suara yang jelas.


Zoan hampir tidak pernah lagi berbicara lirih pada Ossa. Atau juga pada siapapun. Sikap Zoan telah banyak berubah. Lebih ptofessional dan bersikap menghargai.


Sangat sadar jika dirinya tidak mungkin bisa melakukan segala hal sendirian. Sadar jika di antara pegawai penginapan harus saling mendukung dan saling membutuhkan. Rumah penginapan ini jauh beda dengan keadaan rumah penginapan miliknya di Semarang.

__ADS_1


"Saya juga menaksir jika rumah penginapan ini akan kian maju pesat. Dan perlu memiliki sejumlah pekerja baru, terutama untuk jaga malam, boss," timpal Ossa. Memandang Zoan yang sedang mengangguk sambil menulis di iphone. Zoan sangat jarang memandangnya.


Sejak kejadian ghibah waktu itu, Zoan dan Ossa hampir tidak pernah lagi berbicara secara pribadi. Hanya ketika bertemu tiga hari sekali saja mereka berbincang, itu pun pure sebab masalah penginapan. Jika Ossa mendatangi kamar Zoan pagi subuh, lelaki itu belum kembali dari mushola. Atau pergi masuk ke ruang kerja di sebelah kamarnya.


Ossa beranggapan jika Zoan diam-diam sangat marah dan kecewa pada ghibahan mereka waktu itu. Tapi bagaimana lagi,,, memang begitulah faktanya.


"Jika penginapan sudah stabil dengan operasi dua puluh empat jam, juga beberapa pegawai baru, aku ingin pulang sebentar ke Semarang," ucap Zoan. Masih dengan menulis di iphone. Ossa hanya terdiam menyimak. Kakinya sudah terasa cukup pegal.


" Ossa, kamu ikutlah denganku ke Semarang," ucap Zoan tiba-tiba. Ossa begitu terkejut mendengarnya. Tapi bicara Zoan sangat jelas.


"Untuk apa saya ikut, boss,,??!" heran Ossa berseru.


"Mengammati bagaimana penginapanku. Itu tugas kamu," ucap tegas Zoan. Masih juga menulis.


"Mengamati?" ulang Ossa tak mengerti.


"Setelah kamu belajar di Semarang. Aku ingin meminta boss kamu kembali. Dan kamu terus bantulah memajukan penginapan ini," ucap Zoan dengan tegas.


"Boss Zoan, anda akan meninggalkan rumah penginapan ini?" tanya Ossa dengan menahan nafas di dadanya. Ada rasa sebak mengingat akan ada moment seperti itu suatu saat.


"Tentu saja. Tempatku di Semarang. Penginapan ini tetap milik mas Arzaki," jelas Zoan.

__ADS_1


Ossa terbungkam, tak ada lagi ajuan tanya dari bibir dan hatinya. Memandang Zoan yang nampak tenggelam pada beban dan kerja berlipatnya, terasa hati iba sekali..


__ADS_2