
Ossa merasa lega saat memasuki ruang gate pesawat, masih terlihat antrian yang panjang. Risau tertinggal pesawat menguap habis seketika. Bahkan, bukan dirinya yang menjadi ekor antrian. Masih banyak lagi calon penumpang yang antri panjang di belakangnya. Mereka akan diperiksa manual oleh petugas yang berdiri di pintu keluar gate, yang teruhubung ke badan pesawat.
Ossa telah melewati pemeriksaan identitas di pintu jaga dan bersiap memasuki pesawat. Tidak perlu naik tangga. Sebab gate di lantai dua itu, sejajar tinggi dengan pintu badan pesawat. Dan itu sangat memudahkan para penumpang.
Tiketnya kembali diminta dan diperiksa sekilas oleh seorang pramugari pesawat. Lalu mengarahkan Ossa untuk mengambil kabin di sebelah kiri. Diikutinya arahan sang pramugari sambil melihat nomor kursi.
Gadis yang baru pertama kali akan mengudara bersama pesawat itu duduk di kursi dengan angka sama seperti yang tertera jelas di lembar tiketnya. Paper bag yang dibawa telah diletak aman dalam bagasi di langit-langit kabin. Di sisi kanan kiri, di bagian atasnya kepala penumpang.
Seorang lelaki muda berbadan besar, nampak baru datang dan duduk di kursi seberang dekat jendela. Ossa memandang lelaki tampan itu sejenak diam-diam. Rasa sedih tiba-tiba menyapa hatinya kembali. Ingatannya akan Zoan datang lagi.
Ossa betanya-tanya, sedang apa Zoan sekarang? Sudah check in,,, atau masih duduk dengan menahan duka dan tangisnya..? Ossa merasa pilu dan sakit sekali. Ingin rasanya berlari keluar pesawat, memaksa untuk menemani Zoan pergi ke Brunei Darussalam. Tapi jika ternyata ditolak, tentu jadi nelangsa hatinya.
Perhatian para penumpang yang mulai tenang di kabin, terpecah oleh sosok jelita yang bukan lain adalah pramugari. Nampak memandang Ossa sambil melihat selembar kertas di tangannya. Pramugari berhenti jalan dan berdiri tepat di depan samping kursinya. Memandang Ossa dan kemudian tersenyum sangat hangat.
"Mbak Oqtissa Alifah?" sapa pramugari cantik itu pada Ossa. Yang ditanya mengangguk membenarkan.
"Benar, mbak," sahut Ossa yakin.
"Bisa melihat tiketnya sebentar,,?" tanya pramugari dengan lembut.
__ADS_1
"Tunggu,," jawab Ossa sambil membuka tas kecilnya.
Mengeluarkan tiket dan menyerahkan pada pramugari untuk ke sekian kalinya. Tiket yang sudah dilihat sekilas itu dikembalikan pada Ossa.
"Mbak Oqtissa, seorang lelaki yang bernama Reizoan Azril yang mengaku sebagai atasanmu, sedang menunggumu di dalam ruangan gate. Apakah mbak Oqtissa akan nenemuinya?" tanya sang pramugari dengan sopan.
Ossa yang terkejut terdiam bingung tak menyangka. Kenapa Zoan memanggilnya? Apa Zoan berubah pikiran? Ossa berdebar tak karuan.
"Iya, akan kutemui,," jawab Ossa bimbang.
"Jika mbak Oqtissa keluar dari pesawat, maknanya akan di dish dari penerbangan ini. Sebab, pesawat akan take off tiga menit lagi. Dan tidak mungkin kami menunggumu. Bagaimana,,,?" tanya pramugari dengan sopan dan tegas.
"Iya saya akan keluar dari pesawat," jawab Ossa cepat, meski rasanya tetap bimbang.
"Mbak Oqtissa, silakan diambil bagasi anda jika adaa,,," kata pramugari dengan suara semilirnya.
Ossa yang sudah berdiri segera menarik paper bag dari laci kabin. Kemudian bergegas menuju pintu keluar yang langsung disambut dengan senyum ramah oleh pramugari lain di pintu pesawat.
" Terimakasih dan sampai jumpaa,,,!" seru lembut pramugari itu. Ossa tidak menoleh lagi. Mungkin pintu pesawat akan segera ditutup.
__ADS_1
Seorang pegawai sobek tiket yang tadi berjaga di pintu keluar gate, masih bersiaga di sana. Sedang membuka pintu yang mungkin sedang menunggu Ossa melewatinya.
"Monggo mbak,,, sudah ditunggu bossnya di dalam." Petugas lelaki itu berkata dengan tersenyum saat Ossa melewatinya di pintu.
"Terimakasih, nggih mass,,," sahut Ossa membalas.
Namun mulut dan rahang yang terus terasa kaku itu tidak mampu lagi tersenyum. Hati dan jiwa serasa terikat kuat akan kesedihan sebab kabar duka tentang keluarga Arzaki yang terus terngiang. Ossa berjalan agak melambat dengan melarikan ekor matanya ke segala penjuru di ruang gate. Mencari orang dengan nama Reizoan Azril.
"Oqtissa,,,!" seru suara yang Ossa telah hafal dari samping belakang. Zoan sedang berdiri dari duduknya di balik palem hias yang rumpun dan rimbun. Ossa segera berjalan cepat mendekat.
Mereka berdiri berhadapan dan saling memandang tak berkata. Ossa melihat Zoan seperti sedang bermimpi indah saja baginya.
"Ossa, kamu pindah pesawat. Aku sudah membelikanmu tiket baru. Lekaslah, Ossa. Kita bisa terlambat..!"
Seru Zoan pada Ossa. Bergerak menyambar bag dari tangan Ossa dan berjalan meninggalkannya. Ossa segera menyusul Zoan yang berjalan cepat melewati pintu gate. Menduga jika Zoan berubah pikiran dan akan membawanya terbang ke Bandar Seri Begawan.
Ossa terus mengikuti langkah panjang Zoan hingga tiba di ruang gate yang ujung. Terus dibelakang Zoan, hingga mereka melewati petugas sobek tiket.
"Boss Zoan, kenapa berubah pikiran? Aku anda bawa menjenguk pak arzaki?" tanya Ossa tak mampu menutup rasa senangnya.
__ADS_1
"Iya, Ossa,,,!" jawab Zoan dengan pendek. Tidak menoleh pada wajah yang penuh bingung di sampingnya.
🕸🕸🕸🕸🕸🕸