Boss Pengganti Di Penginapan

Boss Pengganti Di Penginapan
15. Victoria's Secret


__ADS_3

Zoan dan Ossa berusaha menghabiskan isi makanan dalam piring. Rendang sapi empuk dengan tumis tiram jamur kancing super pedas pilihan Zoan, terasa sangat lezat di lidah. Seperti tidak ingin membiarkan mulut mereka dalam keadaan kosong sebentar pun. Mengabaikan wanita cantik yang nampak kian kesal pada mereka.


"Diana, aku sudah selesai dan akan pergi. Apa kamu masih ingin duduk di sini? Kamu ingin kopi?" tanya Zoan dengan hangat. Tissu pengelap mulut baru saja dicampak di piring kosongnya.


Diana memandang Zoan dengan ekspresi yang pedas.


"Aku tidak ingin makan, juga tidak ingin minum kopi. Aku hanya ingin mengambil milikku saja di rumah inapmu. Sekarang,, please,, beb!" tegas Diana membujuk. Mencoba mencuil ketegasan Zoan sekali lagi.


"Diana, sudah kubilang, aku tidak ingin kamu datang ke penginapan saat-saat ini. Aku sedang tidak ingin mendapat tamu dari wanitaku satu orang pun. Datanglah empat hari lagi. Atau beri saja alamatmu. Besok, sopirku yang akan mengatar milikmu itu ke alamatmu," usul Zoan pada Diana. Memberi tawaran yang diharap akan cepat diiyakan olehnya.


"Pagi-pagi sekali, beb... Besok aku akan kembali ke Solo bersama papaku. Kapan kamu pulang ke Semarang?" tanya Diana. Sedang mengeluarkan ponsel dan mengetik sesuatu di sana. Sepertinya menerima tawaran Zoan barusan.


"Aku tidak tahu. Bisa jadi dua minggu lagi. Nanti kukabari," ucap Zoan. Mengeluarkan ponsel dan melihatnya. Diana sudah mengirimkan alamat hotelnya via whatsApp.


"Ossa, cepat habiskan minumanmu. Sepertinya akan hujan." Zoan menoleh Ossa yang sedang mengelap bibir dengan tisu lembut di meja. Piring Ossa sudah licin.


"Iya, boss," jawab Ossa. Menyambar segelas air putih yang Zoan pilihkan untuknya.


Diana melayangkan mata dengan cepat pada Ossa. Memahami jika Ossa sekadar salah satu pekerja Zoan di penginapan. Gadis itu nampak tenang dan bukanlah penggoda. Diana tersenyum dengan kesimpulan di kepalanya.


"Bye, Diana. Besok pagi, tunggu hingga sopirku datang mengantar," ucap Zoan. Sempat mengulur tangan dan menepuk lembut lengan Diana yang putih.


"Beb,,," sebut Diana lirih. Bersama gerak cepatnya merangkul Zoan dan mencium bibir seksi kekasih playboynya. Namun Zoan juga tak kalah gesit memiringkan wajah. Hanya pipi saja yang berhasil Diana singgahi dengan bibir meronanya.

__ADS_1


"Jaga sikap kamu, Diana. Sudah berapa kali kubilang, jangan mencium di tempat umum. Apa kamu tidak malu? Lihat, mereka sedang memandang." Zoan menegur setengah berbisik. Meski wajah dan rahangnya mengeras, tapi Zoan berusaha mengendalikan bicaranya. Tidak suka mengasari perempuan yang sempat berguna untuknya.


Zoan menghampiri pelayan yang berdiri di meja sebelah. Mengulurkan beberapa lembar ratus ribu rupiah padanya. Dan menolehkan kepala ke Ossa.


"Ossa,,!" panggil Zoan, dengan tangan menyambar ponsel di meja. Melangkah pergi meninggalkan Diana yang mencebikkan bibirnya.


Ossa bergegas menyusul Zoan menuju taksi yang selalu menunggu setia di parkiran. Dan masuk ke dalamnya bersebelahan dengan Zoan.


🕸🕸


Perjalanan bisu di sepanjang jalan dalam taksi itu berakhir. Mereka berpisah di ruang televisi dengan diam. Ossa tidak lagi menyapa, sebab Zoan telah meluncur masuk ke ruang keluarga utama dan menuju ke arah kamarnya.


Kini di ruang laundry dan meniti tangga menuju lantai ataslah dirinya. Memburu deret jemuran yang hanya berisi baju milik Zoan di sampiran.


Sangat lega rasanya. Bra cantik warna merah menyala dengan renda yang berkilat-kilat kena sinar lampu itu masih ada di sampiran. Renda aneh yang ternyata adalah emas beruntaian. Ossa tersenyum mengambilnya. Heran dengan selera orang beruang yang baginya justru norak dan tidak realistis.


Duh...


Dua pintu kamar yang semula menutup rapat dan disangkanya aman, terbuka serentak bersamaan. Menyusul sembulan sosok Nola dan Murni di pintu kamarnya masing-masing.


"Heih, Ossa! Sini..!!" seru Murni sambil menyambar tangan Ossa dan menarik ke dalam kamarnya.


Nola juga gass menyusul ke dalam dalam kamar Murni. Pintu telah ditutup dan dikunci rapat kembali. Mereka sibuk menginterogasi Ossa. Kian bertambah gencar lagi penyelidikan. Sebab, ada bra Victoria's Secret di tangan Ossa.

__ADS_1


"Jadi bra mahal itu punya haremnya boss Zoan?" tanya Nola terkikik. Berpandangan dengan Murni yang juga tertawa.


"Untung aku nggak ke atas, Oss. Jika tau bra itu, pasti sudah aku sembunyikan. Ha..Ha.." tawa Nola menggema. Sebab lelah berplesir ke Jakarta kota hampir satu harian, Nola langsung tepar. Namun rasa penasaran akan perginya Ossa, tentu saja lebih besar. Maka itulah, ditahan matanya agar tak tidur.


"Makanya, mbak. Aku takut jika benda ini kamu apa-apain. Bisa dipanggang aku oleh pak boss," timpal Ossa. Nola memang sangat usil padanya. Jika Ossa membeli barang dalam, cellana dallam dan bra yang unik, atau terkadang berhias karakter lucu, Nola selalu meledeknya.


"Dipanggang? Lama-lama kamu pun akan diopen, Oss. Ha,,ha,,ha,," goda Nola dengan tertawa. Tidak peduli dengan wajah Ossa yang bingung.


"Hush, Nola..! Ossa ini masih putih isi di kepalanya. Jangan kamu cemari. Beda sama kamu. Seumuran dia,, kamu sudah kepincut sama tentara,," Murni menepuk paha Nola agak keras. Nola meringis namun nampak tidak peduli.


"Ossa, kamu harus hati-hati. Boss kita itu punya duit banyak, sangat memikat, dan playboy. Jika kamu sampai diopen sama dia, kamu bisa mateng saat itu juga. Bahkan gosong,, hi,,hi,,hi,," ucap Nola kembali mengikik. Memandang Ossa yang salah tingkah dengan wajah piasnya. Ossa sudah mulai paham penjelasannya.


"Iya, Nol..! Gosong kayak kamu itu. Hamidun,," gerutu Murni yang akhirnya tertawa.


"Eh, Ossa.. Kamu kan pernah punya pacar, masak pacaran sudah kuliah, tapi kalian nggak pernah ngapa-ngapain?" tanya Nola dengan masih tertawa. Ossa memonyongkan bibirnya. Ingat pada masa percintaannya yang konyol.


"Ya itu sebab aku putus, mbak. Masak aku mau digerayangi. Ya ogah dong. Lagian aku nggak cinta-cinta banget. Hanya ingin saja punya pacar. Ternyata nggak ada enak-enaknya,," terang Ossa dengan tertawa.


"Hi,,,hi,,, sebab kamu belum ngerti enaknya, Oss,," Nola semakin terkikik. Ossa merasa tengah jadi objek kelakar dan gurauan. Segera berdiri dengan tidak lupa mencengkeram bra mahal milik Diana. Ingin segera ke kamar. Sejak pulang, belum memasuki kamar tercintanya.


"Eh, Ossa! Kamu tidak berniat menjual bra itu kan?" tanya Nola tersenyum. Menunjuk bra itu dengan dagu dan matanya. Merasa begitu suka menggoda Ossa. Gadis lurus yang sudah seperti adik yang disayangnya.


"Rugi, mbak..! Ini hanya sebab renda berlapis emas. Jika ada peluang, mending yang bertabur berlian saja. Sekalian tidak rugi dipenjara.. Ha,,ha,,!" seru Ossa tak terduga. Nola dan Murni berpandangan, mereka kemudian tertawa. Benar juga kata Ossa.

__ADS_1


🕸🕸🕸


🕸🕸🕸


__ADS_2