
Mukena yang telah dilipat rapi bersama sajadah, disampirkan pada hanger untuk digantung di dekat jendela yang sudah dikunci rapat-rapat. Dan menyambar barang yang sudah sangat ditunggu dan lalu dibukanya.
Tiga buah baju dari tiga toko berbeda, hanya satu yang ternyata tidak sesuai ekspektasi. Bermodel sangat panjang dan jauh menjuntai melebihi panjang kaki. Ossa hanya tersenyum dan menyingkirkan baju itu sementara di ujung ranjang. Kapan-kapan, bisa saja dipermaknya. Ossa tidak pernah merasa kapok, tapi selalu ingin mencoba lain kali di toko yang berbeda.
Tiga paket lain, berisi buku perhotelan terbitan paling baru yang sesuai dengan keinginan. Alat make up komplet seperti milik Nola dengan brand sederhana. Namun, nampak apik saat dipakai dan diaplikasikan di wajah. Paket terakhir adalah, sepatu cantik warna krem yang pas dipakai dan tidak mengecewakannya.
Dengan wajah cerah nampak lega, Ossa pun merebah di kasur untuk tidur. Malam sudah larut, bahkan hampir tengah malam. Tidak butuh menit yang banyak. Mata indah itu telah merapat dan lelap.
🕸🕸
Ossa telah mengabarkan perihal keadaan kamar Zoan semalam kepada kedua anggota geng yang lain pagi itu. Nola dan Murni sangat terkejut dan seperti tak percaya. Juga menyesal sebab tidak juga memikirkannya. Namun, Nola menolak dan tidak bersedia untuk mengambil tugas merapikan kamar Zoan, sama halnya dengan Murni.
Kedua senior geng itu sangat kompak keberatan. Nola dan Murni beralasan, boss tidak menyuruh, serta tugas mereka sudah banyak dan menumpuk.
Padahal alasan mereka sebenarnya, khawatir membuat sedikit saja kesalahan saat bekerja langsung di kamar boss Zoan. Merasa gentar dan khawatir yang berlebihan jika akan mendapat makian. Itu sungguh mencemaskan bagi mereka.
Ossa pasrah dengan tuding telunjuk mereka yang mengarah agar dirinya saja yang menjamah kamar Zoan. Pembantu bungsu itu tidak berdaya menolak keinginan seniornya.
🕸
Zoan menyeru pada geng pembantu untuk berkumpul di ruang makan. Dan mereka telah berdiri di hadapan si boss untuk mendengar segala arahan.
"Setelah ini siapa yang ingin pergi ke kota? Marni, Nola dan Ossa, segala hal yang kalian perlukan sudah ada?" tanya Zoan sambil terus makan. Hanya memandang sebentar pada ketiga pekerjanya yang lalu menunduk di piring kembali. Masakan Murni sangat dahsyat enaknya.
"Pukul delapan berangkat. Kalian tunggu saja di teras," sambung Zoan.
"Murni dan Nola, apa dana yang kusediakan masih ada? Jangan lupa, buatkan aku laporannya," ucap Zoan. Kali ini memandang benar-benar pada Murni.
"Masih sangat cukup, boss." Murni menjelaskan dengan yakin.
"Jika ada pengeluaran mendadak dan lebih dari dana, katakan saja padaku," ucap Zoan menegaskan.
Murniati pun mengangguk. "Iya, boss," sahutnya.
"Ya sudah, kalian pergilah,," ucap Zoan tanpa memandang mereka kembali.
"Iya, boss. Terimakasih."
__ADS_1
Mereka bertiga berlalu. Murni dan Nola nampak sangat bersemangat, wajah mereka sangat cerah dan gembira. Namun tidak dengan Ossa.
🕸
"Ossa, kami berangkat ya..!" Murni melongok di pintu kamar Ossa. Nola tidak nampak batang hidungnya, mungkin sudah meluncur duluan ke teras.
"Iya, mak. Selamat shopping dan hati-hati!" seru Ossa dari wastafel kamar mandi. Sedang menggosok gigi setelah bersarapan, sebelum pergi beraktifitas di rumah induk kembali.
"Kamu hanya nitip transfer sama anggur sajakah, Oss?!" tanya Murni berseru. Rupanya masih ada di pintu.
"Iya,,itu saja, mak! Jika ada yang kuinginkan tiba-tiba, nanti aku calling,,!" seru Ossa.
"Yo, wess!!" seru Murni dari luar. Dan keadaan kembali sunyi dalam waktu yang lama. Murni benar-benar telah pergi.
Ossa tidak ikut pergi ke kota bersama Zoan. Nola dan Murni pun juga tidak memaksanya untuk ikut. Selain sebab tidak perlu dan tidak mood, tapi sedang merasa memiliki beban. Sudah memberi janji pada si boss untuk membersihkan kamar dan mencucikan bajunya pagi ini. Merasa iba jika diabaikan lagi lebih lama.
Sebab pagi-pagi yang dimulai selepas subuh tiga geng pembantu sudah beraktifitas, segala pintu di rumah penginapan sudah dibuka, terutama oleh Nola. Hanya pintu-pintu dan jendela di ruang utama keluarga sajalah yang belum dibuka satu pun. Nola enggan menyentuh. Dan di sanalah Ossa sedang melakukannya sekarang.
Sadar sedang sendiri dan hanya bersama pak satpam nun jauh di gerbang depan, Ossa ingin bergegas menunaikan tanggungannya.
Kamar si boss yang telah dirapikan ala kadarnya semalam, masih sama dan tidak ada perubahan. Hanya tempat tidur nampak kembali berantakan. Ossa memahaminya. Segera dirapikan semula, belum berniat untuk menukar sprei dan selimut pembaringan. Kain-kain pelapis itu dirasanya masih bersih dan wangi. Hanya dikemasnya kembali dengan rapi.
Ossa mengelapi kaca almari besar di pojok kamar sambil bercermin. Dirinya sedang berpenampilan acakadul. Seperti biasa, rambut digelung namun berserabut. Baju rumah agak pendek sedikit di atas lutut tanpa lengan.
Ossa tersenyum pada cermin, mengingat jika Zoan sangat tidak menyukai penampilan tidak rapi. Tapi,,, Zoan sedang bepergian ke kota!
Ossa sedang menikmati kebebasan. Bekerja tanpa pengawasan. Bahkan oleh ketua gengnya sekalipun. Murni,,, yang kadang juga suka cerewet dan bising. Atau dulu,, selalu ada bu Arzaki yang standby di rumah. Meski jarang sekali menegur, aura seorang bos, pasti tetap saja menyala!
Cermin itu telah berkilat jernih dan bersih. Ossa menyapa diri untuk terakhir kali dengan tersenyum manis di cermin. Merasa diri sangat mempesona meski sedang nampak berserabut. Menganggap jika Zoan sedang memiliki gangguan pada matanya. Tidak mengerti akan indah wanita yang hakiki. Seleranya sekadar pada wanita yang pandai menghias diri. Uh..
Mengelap, menyapu, mengepel, namun tidak memvacuum, semua telah selesai dilakukan.
Kamar mandi yang dipandang kasar nampak bersih dan kesat, tetap tak luput dari kerajinan tangannya. Ossa tidak ingin tanggung-tanggung membersihkan. Semua dibantai sikat dengan guyuran karbol yang wangi. Dan akhirnya, selesai dengan rasa yang puas sekali.
Tinggal bukit baju busuk di pojok sajalah yang harus diusung ke belakang, di tempat mencuci dan menjemur. Atau area laundry milik rumah penginapan.
Baju-baju kotor itu sebenarnya tidak berbau, justru ada sisa parfum wangi yang menguap dari sana. Ossa meraupnya dan membawa di depan dada bahkan hampir menutupi wajahnya. Merasa tanggung jika harus bolak balik hanya untuk mengambil keranjang baju kotor. Ossa berniat langsung membawanya ke ruang pencucian di belakang.
__ADS_1
"Aaarrgghh!!" lengkingan Ossa bersamaan dengan baju kotor yang lepas dari raupannya dan berjatuhan di lantai.
"Maak!!" seru Ossa sekali lagi.
Sangat terkejut sebab bertabrakan dengan sesuatu belum mereda, harus bertambah shock dengan sosok tinggi besar yang begitu dekat di depannya. Dan ternyata adalah si pemilik kamar, si boss lah orangnya.
Hingga lelah terengah sebab jantung yang sempat tergeser, Ossa berusaha menenangkan dirinya. Zoan bergeser mundur dan berjongkok rendah di lantai. Ternyata mengambil ponsel yang jatuh, sebab bertabrakan dengan seseorang di kamarnya sendiri yang ternyata adalah Ossa.
Zoan berdiri dan memandang Ossa yang nampak masih shock dan juga sedang memandangnya. Gadis berserabut namun nampak sangat seksi dengan baju yang asal saja dipakaikan di badannya.
"Ossa,, kenapa kamu di kamarku?" tanya Zoan terheran. Wajah Ossa berkerut merut dengan wajah yang bingung.
"Boss Zoan, kenapa anda di rumah? Kenapa tidak pergi ke Jakarta kota?" Ossa justru bertanya keheranan.
"Bukan aku yang mengantar kalian ke kota, tapi sopirku. Aku sangat sibuk di ruang kerja. Kenapa kamu tidak ikut berbelanja? Apa sebab membersihkan kamarku?" jelas Zoan sekaligus bertanya. Memandang Ossa yang tiba-tiba terlihat menggemaskan dengan dress kecil tanpa lengan yang manis.
"Saya memang tidak berminat untuk ikut. Lebih suka berbelanja online saja akhir-akhir ini. Dan kebetulan kamar boss Zoan adalah tugasku mengemas. Nola dan mbak Murni merasa segan jika anda tidak menyuruhnya," jelas Ossa.
Merasa perasaannya sudah sedikit bertenang, kembali dikumpulkannya baju kotor di lantai dangan jongkok yang rendah.
"Apa kamu keberatan? Kamu ingin aku sendiri yang menyuruh mereka?" tanya Zoan dengan menunduk pada Ossa.
Degh,,! Zoan agak terkejut. Tidak perlu diceritakan lagi, apa yang sedang dilihatnya pada Ossa dengan bajunya yang kecil itu. Tapi sebab Ossa tidak menyadarinya. Zoan justru merasa iba.
Dilewatinya gadis cantik yang masih berjongkok itu, dan mendudukkan pantat di sofa. Mengamati keadaan kamar yang sangat rapi, bersih dan wangi. Zoan tidak mampu lagi menahan senyum senangnya.
"Ossa, kamu tidak membawa keranjang baju? Apa kamu tidak merasa jijik dengan baju kotorku?" tanya Zoan menoleh. Ossa sudah berdiri dengan meraup kembali semua baju kotor tadi. Telah bersiap menuju pintu kamar untuk bergegas keluar. Ossa menoleh pada Zoan dengan susah. Wajahnya terbentur baju di rengkuhan. Zoan menahan tawa sekuatnya.
"Boss Zoan, saya sangat menyukai uang gaji darimu, jadi saya tidak boleh merasa jijik dengan baju kotormu yang banyak ini," jawab Ossa dengan cepat. Sambil berjalan mendekati pintu.
Zoan berdiri cepat mendekati Ossa dan membukakan pintu lebar-lebar.
"Ossa, apa sebenarnya kamu merasa jijik dengan baju kotorku?" tanya Zoan ingin tahu. Ossa sedang berjalan melewati pintu kamar dan dirinya. Tapi tidak sambil bersuara menjawab.
"Permisi, boss Zoan. Saya ingin segera mencuci ini," ucap Ossa berpamitan kemudian. Pura-pura tidak mendengar tanya Zoan.
"Ossa! Sebenarnya pekerja Laundry penginapan akan tiba hari ini !" seru Zoan dari pintu. Tapi Ossa kembali pura-pura sedang tuli. Bahkan semakin berjalan laju dengan terus meraup baju kotor menuju ke belakang.
__ADS_1