
Nafas sengal sebab terkejut telah terkendali susah payah. Memandang Zoan yang juga sedang memandang dengan senyum cerahnya. Raut lelaki itu nampak tenang dan gembira tanpa beban. Seperti tidak peduli dengan nelangsa hati yang tengah Ossa rasa sebab kabar yang diwacanakannya barusan.
"Kenapa, kamu terkejut?" tanya Zoan pada Ossa. Senyum cerahnya kembali terbenam.
"Jujur saja, aku sempat terkejut. Tapi memang mas Zoan sudah saatnya menikah. Kamu adalah pria dewasa. Wajib menikah, biar kamu tidak buat dosa terus," sahut Ossa menimpali.
Menyimpan sedih sesak di dada. Berusaha berbicara sedatar mungkin. Zoan sebentar tersenyum, lalu bibir itu merapat kembali.
"Kamu tidak ingin tahu, siapa yang ingin aku nikahi?" tanya Zoan pada Ossa dan masih tanpa senyum.
"Apa dengan putri pemilik hotel, rekanmu?" tanya Oqtissa menebak.
"Besok aku akan melamar gadis itu. Besok, temanilah aku untuk menemui dan melamarnya. Apa kamu tidak keberatan?" tanya Zoan sambil berdiri.
"Aku?? Menemani?? Tapi,,," ucap Ossa dengan rasa yang kian merana saja rasanya. Ingin menolak, tapi penasaran.
"Besok habis isya kujemput. Jangan lupa, temani aku," ucap zoan serius pada Oqtissa.
"Tapi, aku tidak mau jadi obat nyamuk,,," ucap Ossa bermaksud menolak.
Zoan tersenyum dan mendekat lagi beberapa langkah.
"Kamu tidak akan jadi obat nyamuk. Tapi akan dihinggapi nyamuk," ucap Zoan tersenyum.
Tapi Ossa tidak tersenyum. Wajah cantiknya masih nampak tegang dan kaku. Merasa terkejut pada Zoan yang tiba-tiba berkata akan menikah dalam waktu yang dekat.
"Ossa, aku akan kembali ke penginapan sekarang. Kuncilah pintumu," ucap Zoan pada Ossa. Lelaki itu telah berbalik dan berjalan ke pintu. Memandang Ossa sekilas dan benar-benar keluar dari kamar kemudian.
__ADS_1
Ossa merasa begitu lemas tak bertulang. Meski tahu jika Zoan bukan apa-apanya, tidak pernah memberikan janji indah satu kali pun untuknya, tapi mendengar fakta jika Zoan akan menikah, rasanya sangat kecewa. Begitu sakit jika akhirnya Zoan akan mencampakkan dirinya juga.
Jika boleh memilih, lebih baik Zoan tidak usah menikah. Ossa rela menjadi haremnya hingga kapan pun. Tapi,, itu dilarang dan berdosa. Atau, lebih baik, Ossa saja yang seharusnya dinikahi.
Ossa kian menggelosor di atas pembaringan. Tangisnya pecah tak bisa ditahannya lagi. Merasa hatinya hancur berpuing-puing.
🕸🕸
Panggilan tak terjawab dan ketukan di pintu, sudah tak terhitung lagi berapa kali terdengar. Rasanya tidak ingin membuka jika tidak ingat bahwa Zoan sama sekali tak bersalah. Sadar jika dirinya saja yang hanyut terbawa perasaan mengharap sendiri.
Ceklek,,!
"Lama sekali, kamu belum siap? Kenapa matamu?" tanya lelaki yang berdiri menjulang di depan kamar. Ossa nampak sangat sembab matanya.
"Aku bangun tidur. Agak pusing, aku tidak ingin ikut," sahut Ossa agak gugup.
"Eh, jangan. Aku ikut, tunggu sebentar!" seru Ossa khawatir. Ketenangan batin sebab sudah membayar semua hutang pada Reizoan, tidak ingin terusik.
Ossa segera menutup pintu dan berganti baju dengan cepat. Tidak ingin membuat Zoan menunggunya lebih lama. Sambil tak habis pikir, seguna apa dirinya hingga moment melamar calon istri harus ditemani olehnya? Ossa terheran sendiri. Zoan memang sering bersikap sesukanya dan tak mudah dimengerti.
🕸🕸
Ossa acapkali melirik Zoan yang nampak selalu tenang mengemudi. Jauh beda dengan gemuruh dada Ossa yang seperti melolong tak terhenti.
Zoan membawa Ossa memasuki sebuah rumah makan nampak mewah. Berlantai tiga dengan private room yang bertebaran di dalamnya. Dan salah satunya telah Zoan sewa, yang sedang ditujunya bersama Ossa sekarang.
Semakin jauh melangkah dan mendekati tempat yang Ossa tidak tahu di mana berada, rasanya kian gundah. Seperti tidak terima dan tidak rela jika Zoan akan menikah cepat, tapi bukan dengan dirinya.
__ADS_1
Privacy room yang disewa Zoan telah berada di hadapan. Meski bersifat pribadi dan personality, ruangan itu tembus pandang sebab terbuat dari kaca. Tidak akan ada kesempatan untuk bermasyuk mesum di dalamnya.
"Mana wanita yang akan kamu lamar, mas Zoan?" tanya Ossa lirih. Menahan getar sesak di dadanya.
Mereka telah berada di dalam ruang full kaca itu. Zoan menoleh, menaikkan sedikit kedua alisnya.
"Sabar, Ossa. Kamu sangat penasaran? Sebentar lagi pasti akan kamu tahu," jawab Zoan tanpa senyum.
Zoan terlihat tegang dan pias. Mungkin lelaki itu merasa sedang gugup ketika akan melamar calon incarannya. Sebak sekali rasanya. Ossa berkali-kali memgambil nafas menguatkan hatinya.
Namun, tetap kian sakit dan tidak rela saat dipandanginya lelaki yang sudah mengajaknya duduk berhadapan. Lelaki tampan yang baik, rela berkorban, tidak memiliki sifat kikir ataupun serakah. Zoan sangat bijak dan dewasa. Masa lalunya yang hitam hanyalah kaca spion sebagai penyadar laju langkahnya.
"Ossa, jika kamu merasa haus, minumlah,," ucap Zoan menunjuk poci besar dari kaca di meja. Serta beberapa gelas yang menyertai poci berisi jus anggur kesukaan boss pengganti.
Meski heran apa fungsi dirinya berada dalam ruangan. Tidakkah wanita yang akan Zoan lamar merasa tidak suka dengan kesertaannya, tapi Ossa merasa enggan untuk meminta dirinya keluar.
Zoan tiba-tiba berdiri dan memandang tembus di luar.
"Ossa, itu yang sedang kutunggu telah datang," ucap Zoan pada Ossa. Menunjuk ke arah luar dengan dagunya.
Ossa mengikuti ke mana arah pandangan Zoan berlari. Nampak seorang wanita cantik dan anggun berjalan melenggang dengan diikuti seorang pria berbadan besar, berbaju serba hitam. Ossa menyangka jika wanita itu diiringi bodyguardnya. Itu adalah wanita yang sedang sangat Zoan tunggu dan bahkan akan dilamarnya.
Ossa merasa kian lunglai saja rasa raganya. Calon istri pilihan Zoan, bukanlah wanita sembarangan. Yang jelas, wanita itu pastilah kaya raya hingga diiringi seorang bodyguard. Dikawal aman hanya untuk bertemu kencan dengan Zoan.
Merasa jika mereka memang calon pasangan yang terlihat sangat serasi. Hati Ossa sedih sekali..
🕸🕸
__ADS_1