Boss Pengganti Di Penginapan

Boss Pengganti Di Penginapan
65. Mogok


__ADS_3

Selepas isya, setelah tugas berat serta tugas lainnya selesai untuk hari itu, mereka bertiga berkumpul di base camp sejenak. Alias ketiga geng pembantu senior mengeram bersama di kamar Murni yang sempit. Sekedar saling bercerita atau juga berghibah, demi melepas lelah di jiwa dan raga mereka.


"Lelah sekali, sini Ossa, kamu kupijat. Nanti gantian, kamu mijet aku," pinta Murni pada Ossa. Wanita itu langsung menggeser diri di belakang Ossa. Dan langsung memijat sebelum diiyakan oleh pemilik punggung itu.


"Ah, sudah,,sudah,, sakit.. Kamu saja yang kupijat, mak. Aku nggak capek-capek banget,,!" seru Ossa sambil meliuk-liuk. Berusaha lari dari kejaran jari Murni.


Murni tersenyum cengengesan. Tahu jika Ossa sangat tidak betah dipijatnya. Murni akan sengaja mengerahkan seluruh tenaga, baik tenaga luar, tenaga dalam, bahkan tenaga tengah sekali pun. Jadi Ossa tidak akan nyaman dan minta dihentikan pijatannya.


Namun, Murni tidak meminta Ossa ganti memijatnya. Wanita itu meminta pada gadis itu untuk memijak saja punggungnya. Ossa pun melakukannya sambil asyik bermain ponsel. Tidak terasa jika sudah memijat Murni dengan sebelah kakinya bergantian sangat lama. Sebab, Ossa akan cepat bosan dan tertidur jika memijat dengan tangannya.


Nola, wanita hamil ini akan merebah dan tertidur sambil berbicara sebelumnya. Nola sangat tidak suka dipijat. Dia bilang, memiliki trauma masa kecil saat pijat. Pernah dilecehkan oleh tukang pijat lelaki tua, langganan keluarga saat dirinya masih SMP. Dan menjadi trauma tersendiri baginya hingga sekarang.


🕸🕸


Gadis berambut sebahu berponi serasi dengan bentuk wajah dan matanya, baru keluar dari sebuah apotik di pinggiran ibu kota. Masuk ke dalam mobil yang memang sedang menunggunya.


Yang tak lain adalah mobil di penginapan yang dikendarai oleh sang sopir, Aldi. Mengantar Ossa ke kota Jakarta pinggiran untuk membeli obatnya Arzaki yang ternyata sudah habis.


"Setelah ini, kita ke mana lagi, Ossa?!" seru Aldi pada Ossa yang duduk di sebelahnya.

__ADS_1


"Nggak ke mana-mana, mas. Kita kembali ke penginapan saja. Obat ini harus diminum pak Arzaki sebentar lagi," sahut Ossa sambil menoleh pada Aldi. Meski Aldi masih bujang, tapi berusia lebih tua beberapa tahun dari Ossa.


"Kamu manggilnya, pak saja?" tanya Aldi tersenyum. Ossa menoleh.


"Kenapa?? Jangan ngeledek lagi, mas. Menikah pun, aku ini kerja. Kalao pak Arzaki sudah sehat, kita ini cerai juga,," sahut Ossa sambil tersenyum.


"Kamu kasih mesralah dikit-dikit, Ossa. Biar beliau cepat pulih dan jalan,," ucap Aldi nampak setengah. Setengah serius, juga setengah kelakar. Lelaki itu memang suka sekali bercanda. Itulah, dulu Zoan sayang sekali padanya.


"Ish,,, takut mas. Belum empat puluh harinya nyonya. Aku ini masih dipantau,," Ossa tersenyum, merasa tidak masalah jika bercanda sedikit. Melepas tegang selama ini. Keluar dengan sopir Aldi, lumayan menghibur. Aldi pintar melawak.


"Jadi kalo habis empat puluh hari,,,,??" aldi menggantung tanyanya. Menoleh Ossa dengan ekspresi meledek.


"Eh, iya jugalah, Ossa. Bahas yang lain saja, ya. Sorry,, sorry,, sorry,," ucap Aldi menyesali.


Mereka saling terdiam. Mobil terasa lengang, deru halus mesin adalah pengisi telinga mereka satu-satunya. Ossa menoleh Aldi yang juga sedang menolehnya. Mereka tersenyum bersamaan.


"Mas, kalo boss satunya, boss Zoan, kenapa lama tak nampak ya,,?" tanya Ossa kemudian.


"Kenapa? Kangen? Jangan selingkuh, Ossa. Kamu istri orang," ujar Aldi yang justru kembali meledek.

__ADS_1


"Hanya nanya. Su'udzonan banget jadi cowok,,!" seru Ossa. Namun bibirnya tersenyum merasa geli dengan pertanyaan Aldi seperti itu. Ossa merasa senang dan terhibur.


"Bukan su'udzon, cantiik.. Tapi suara hati lelaki,," sanggah Aldi setengah menggombal. Ossa menahan tawa menoleh.


"Lebih tak ada akhlak, ngegombalin istri orang,,!" sahut Ossa membalas.


"Ngerasa jadi istri orang,,?!" seru Aldi dengan cepat. Namun, tiba-tiba wajah kocaknya diam terkatup. Ekspresinya sangat tegang. Ossa yang bersiap membalas, terlihat tegang juga tiba-tiba.


"Mas,,,mobil ini kenapa????" tanya Ossa panik. Mesin mobil tiba-tiba terasa mati dan mereka telah berhenti.


"Ossa, aku akan turun dan melihatnya. kamu di dalam saja. Sudah hampir maghrib,,!" seru Aldi sambil melompat turun dari mobil.


Bukan ban mobil yang bocor, melainkan mesin mobil yang mogok. Setelah beberapa kali keluar dan beberapa kali masuk kembali, namun selalu gagal menyalakan. Aldi cukup lama tidak mencobanya kembali.


Sudah sangat lama Aldi di luar. Membuka kap mobil depan dan tenggelam di baliknya. Ada kerusakan di bagian sistem mesin. Aldi sedang membenarkannya cukup lama.


Lelaki itu tidak terlihat, dan itu membuat Ossa tidak tenang. Merasa tidak nyaman untuk terus duduk diam saja di dalam. Bahkan dari kejauhan, sayup terdengar alunan adzan maghrib. Mereka sedang berada di tengah hutan perbatasan. Ossa merasa sangat cemas sekali sekarang.


Perlahan dibukanya pintu mobil dengan ragu. Ingin keluar dan berdiri menemani Aldi memperbaiki sistem mesin. Semakin ciut nyalinya, gerimis menyambut saat Ossa mulai menurunkan kaki dan keluar.

__ADS_1


🕸🕸🕸


__ADS_2