Boss Pengganti Di Penginapan

Boss Pengganti Di Penginapan
33. Zoan Sakit ?


__ADS_3

Sebuah penginapan kecil, namun nampak indah dan megah di kota Semarang...


Lelaki gagah dengan perawakan besar dan kelewat tampan itu berusaha menjauhkan wanita cantik yang tengah bergayut di dadanya. Namun si wanita terus berusaha memeluk dan merapatinya.


"Menjauhlah, Luna. Jangan berusaha melekatiku seperti ini. Lagipula aku sedang sakit." Lelaki yang kusut namun sangat cute itu berusaha mendorong lagi tubuh wanita yang bernama Luna.


"Mas Zoan sudah rutin minum obat dari semalam, bahkan dokter bilang kondisimu sudah baik. Apanya yang sakit sih, mas,,?" tanya Luna dengan lembut. Tangannya sambil berusaha meraba-raba leher Zoan.


"Lemes rasanya, Luna. Aku ingin istirahat. Kamu pergilah," ucap Zoan kembali mendorong pelan bahu Luna. Zoan sedang berbaring dan Luna membungkuk memeluk.


"Kenapa sih, jadi aneh. Biasanya kan nggak masalah. Apalagi kalo sakit, mas Zoan selalu ingin ditemani dan dipeluk. Sekarang kenapa enggak?" keluh Luna, kini telah duduk di kursi sebelah ranjang.


Zoan menarik selimut sebatas leher dan mengusap wajahnya. Memandang Luna jengah.


"Luna, maafkan aku. Sebaiknya kita tidak usah saling bertemu jika untuk hal urusan pribadi. Aku tidak ingin lagi berbuat dosa besar."


"Sayangilah dirimu. Kamu wanita, suatu saat menikah. Apa kamu tidak merasa bersalah dengan suamimu kelak? Lagipula ayahmu seorang haji. Kasihani ayahmu, Luna," ucap Zoan dengan lembut.


Luna nanar memandangnya.


"Mas Zoan, kamu tidak ingin menikah denganku?" tanya Luna terus terang. Gurat kejut dan kecewa tersirat jelas di matanya.


"Sorry Luna, aku tidak bisa menikahimu. Kita sudah sepakat, it's just happy fun. Aku bukan lelaki pertamamu," jelas Zoan tanpa ragu.


"Tapi bagiku, mas Zoan adalah lelaki terakhirku,," sahut Luna mengeluh.


"Jangan seperti itu. Aku tidak ingin, Luna," tegas Zoan sekali lagi.


"Hik,,hik,,,mas Zoan jahat!!" seru Luna sambil berdiri. Melempar guling pada Zoan dengan keras dan asal, sebelum berbalik pergi sambil terus terdengar menangis. Tapi Zoan bahkan tidak melirik punggung Luna bersama kepergiannya sedikit pun.


πŸ•Έ


Tengah hari saat dzuhur..


Zoan yang merebah lunglai tak bersemangat, mendadak melenting dan duduk. Bunyi ponsel di meja sebelah ranjang, membuatnya bugar seketika. Ada nama mas Zaki di layar ponsel. Segera disambar dan diacceptednya.


"Assalamu'alaikum, mas,," salam Zoan pada kakak lelakinya.


"Wa'alaikumsalam," sahut pak Arzaki dari seberang.

__ADS_1


"Bagaimana, mas? Kapan kamu terbang?" tanya Zoan dengan cepat.


"Iya, Zoan. Aku dan keluargaku akan segera kembali. Terimakasih atas jerih payahmu. Maaf, telah lama merepotkanmu." Pak Arzaki berbicara dengan nada terdengar segan.


"Itu tidak masalah jika mas Zaki cepat kembali. Teruskan operasional penginapanmu. Aku merasa sangat repot jika harus mengurusi keduanya," sambut Zoan dengan tegas.


"Apa mereka bertiga masih bertahan di sana?" tanya pak Arzaki.


"Maksudmu,,?" tanya Zoan tidak yakin. Tapi juga menduga siapa mereka bertiga yang diulik sang kakak.


"Ossa, Nola dan Murni. Semua masih ada?" ulang tanya pak Arzaki.


Zoan terdiam, rahang wajahnya mengeras dengan ekspresi yang tegang. Wajah tampan Zoan terlihat sangat suram.


"Ada,, kecuali Oqtissa. Dia tidak ada,," jawab Zoan dengan suara seperti tercekat tiba-tiba.


"Ossa?! Dia tidak ada? Ke mana gadis itu, Zoan?!" pak Arzaki terdengar seperti panik di seberang.


Zoan terheran. Kakak lelakinya terkesan sangat peduli pada Ossa.


"Dia pulang ke Rembang. Menikah, mas,," jawab Zoan agak lirih.


"Apa,,?? Menikah?? Tidak mungkin! Menikah dengan siapa dia itu, Zoan?!" tanya seru pak Arzaki.


"Ossa itu kerja padaku dibawa Murni. Menghindar dari pacar yang mengejarnya. Ossa tidak mau, ternyata pacarnya itu banyak main di belakangnya. Bahkan saat Ossa tahu, Ossa justru akan diperkosa dan dipaksa untuk dinikahi." Pak Arzaki terdiam. Zoan pun bungkam menyimak dengan menahan nafas panjangnya.


"Ossa juga tidak mau pulang kampung, sebab hutang ayahnya pada bank banyak. Untuk biaya kuliahnya dulu. Dengan siapa tiba-tiba Ossa menikah, Zoan? Gadis itu juga tidak punya pacar selama kerja di penginapan. Aku pergi ke Brunei juga seperti baru kemarin. Tidak mungkin cepat punya pacar lalu menikah,,," ucap pak Arzaki terheran-heran sendiri di telepon.


"Benarkah? Kenapa, mas Zaki begitu perhatian dan sangat peduli?" tanya Zoan bergumam. Pandangan matanya seperti kosong menerawang. Entah apa yang sedang ada di dalam kepalanya.


"Tentu saja, Zoan.. Ossa,,,dan mereka sudah seperti keluargaku sendiri. Lagipula dari awal datang, Ossa bekerja dangan sangat bagus. Dia belum pernah melakukan kesalahan fatal sekali pun,,," terang pak Arzaki di seberang.


Zoan hanya diam membungkam. Panggilan itu terasa hening sejenak.


"Baiklah, Zoan. Sebenarnya tidak masalah. Itu memang urusan pribadi Ossa. Aku hanya sangat terkejut. Zoan, kau masih mendengarku??" tanya pak Arzaki. Zoan sangat lengang di seberang.


"Iya, mas.Masih," sahut zoan singkat.


"Baiklah. Aku sudahi dulu panggilan ini. Jika aku, kakak iparmu dan tiga keponakanmu akan berangkat, aku kabari, Zoan," ujar pak Arzaki.

__ADS_1


"Iya, mas. Hati-hati. Salam buat mereka," sambut Zoan.


" Kamu pun juga hati-hati. Assalamu'alaikum, Zoan." Pak Arzaki bersalam sebelum menutup panggilannya.


"Wa'alaikumsalam. Cepat kembali, mas!" sahut Zoan berseru, sebelum panggilan diakhiri oleh pak Arzaki.


Gerakan Zoan sangat cepat saat merebah kembali di ranjang. Namun dengan menyingkirkan selimut dan guling jauh-jauh darinya. Zoan mengamati langit-langit plavon di kamar dengan pandangan menerawang.


Mendadak bergerak cepat dan menyambar lagi ponselnya. Zoan menghubungi seseorang dan berbicara serius agak lama. Kemudian ditutupnya panggilan itu dengan ekspresi yang tegang.


Zoan kembali bangun dengan cepat. Menyambar handuk dan berjalan lesat menuju kamar mandi. Badan tegap itu lenyap bersama pintu yang dibanting menutup sangat cepat. Begitu gesit seperti tidak sedang sakit saja sebelumnya.


πŸ•ΈπŸ•Έ


Di pesisir Rembang, di pantai Jahe Karang lepas Ashar..


Cermin besar yang melekat di pintu almari memang memiliki fungsi ganda. Selain sebagai penghias pintu almari, juga sebagai sarana berkaca.


Begitu juga dengan si gadis pemiliknya. Ossa sedang bediri di depan cermin almari nampak anggun dan cantik. Berbaju gamis dengan kerudung indah yang membungkus rambut dan kepala mungilnya.


Ossa akan pergi ke Masjid bersama Mita sore ini. Selain untuk mewakili keluarganya datang ke masjid sambil membawa nasi berkah, juga akan nekad mengajukan pinjaman kepada bendahara Masjid di kampung Rembang. Hari ini adalah peringatan peristiwa Isra Mi'raj nabi di bulan Rajab tanggal tua.


Sebenarnya sangat malu, tapi bagaimana lagi. Tidak ada apapun lagi yang dimiliki. Sedang meminjam kepada lembaga keuangan yang resmi, Ossa tidak memiliki bukti kepemilikan apapun sebagai jaminannya. Segala sertifikat sudah berada di tangan keluarga pak Karman. Hanya bekal koneksi sajalah yang sedang Ossa coba lakukan.


Mita telah datang menjemput. Mereka berdua pun berpamit salam pada sang ibu di rumah. Mita kembali membawa Ossa untuk meluncur menuju masjid kampung di boncengannya. Dua karib itu tidak menyadari jika si kembar, adik Ossa merengek untuk ikut sang kakak ke masjid.


"Mudah-mudahan kali ini berhasil ya, Os!" seru Mita dari depan. Gadis tomboy eksotis itu berubah laksana bidadari surga saat bergamis dan berkerudung. Sangat manis sekali.


"Iya, Mit. Thanks. Jika gagal, aku tak tahu lagi dah, Mit!" keluh Ossa berseru penuh harap di belakang.


"Iya, Os! Aku pun sebenarnya juga ingin bantu kamu, tapi gimana juga. Sertifikat ayah juga sudah ada pada pak Imam!" seru Mita menyesal.


"Dah ah, Mita! Mudah-mudahan keluarga kita lekas lepas dari putaran riba ini ya, Mit. Aamiin!" ucap Ossa dan diaminkannya sendiri dengan lantang di belakang.


"Aamiin!!!" sambut Mita berseru dan mendukung mengaminkan.


Setelah menelusur jalur sekian menit, mereka telah mulai memasuki latar masjid...


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ•ΈπŸ•Έ

__ADS_1


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ•ΈπŸ•Έ


Jangan lupa Vote, yaaa... 😘


__ADS_2