Boss Pengganti Di Penginapan

Boss Pengganti Di Penginapan
31. Bapak dan Anak


__ADS_3

Ossa sedang duduk di ranjang sambil memandangi isi kamar dengan sejuta perasaan.


Kamar tercinta, dua tahun lalu yang sempat banyak berjajar pigura berisi foto lelaki yang sangat disuka sepenuh hati. Sekarang bahkan tidak ingin mendengar namanya sekali pun. Namun, justru sekarang lelaki itulah yang kembali datang untuk mengancam masa lajangnya dengan penuh paksaan.


Pesan yang dikirim pada Mita telah mendapat sambutan. Teman sejati telah sedia untuk menemani nanti malam menjumpai lelaki yang dibenci, Gandy.


🕸🕸


Dengan berbekal doa dan pesan hati-hati dari ibu dan ayahnya, Ossa bersama Mita meluncur menuju rumah megah keluarga pak Karman. Mita membonceng Ossa dengan motor scoopy kesayangannya. Hadiah dari ayah Mita berkat sangat rajin turun membantu ke tambak. Mita sangat gembira, meskipun tahu jika ayahnya membelikan motor baru itu secara kredit untuknya.


"Mit, dadaku debug-debug nih rasanya." Ossa berkata sambil menepuk-nepuk pelan dadanya. Sambil memgambil nafas dalam-dalam banyak kali.


"Tenang, Ossa. Aku di sampingmu. Kita hadapi bersama. Kamu kan ingin mencoba penawaran. Yakin saja berhasil," ucap Mita membujuk.


"Iya, Mit. Terimakasih supportmu, ya," sambut Ossa mengangguk.


Mereka telah berhenti di pintu gerbang rumah keluarga pak Karman. Dan sedang merapati pos jaga dan security. Rupanya penjaga itu telah paham dan siaga. Mengatakan jika kedatangan Ossa dan keluarganya telah ditunggu.


Ossa dan Mita telah berada di ruang luas yang bersih rumah pak Karman. Menunggu mereka keluar menemui dan entah mereka sedang di mana. Keduanya berpandangan saat terdengar dehem dari arah ruang yang tidak nampak dari pandangan.


Sesaat pak Karman nampak beriring bersama Gandy keluar menuju ruang tamu. Memandang Ossa dan Mita dengan tatapan yang sama sekali tidak ramah. Namun, Gandy nampak terus tersenyum kepada Ossa. Jauh berbeda dengan sikap pak Karman pada mereka.


Gandy duduk bersama pak karman berseberangan dengan kedua tamu perempuannya. Mereka saling bertukar pandang sejenak.


"Kenapa kamu datang sendiri. Mana keluarga kamu?" tanya pak Karman menggema. Memandang Ossa dengan angkuhnya.


"Ayahku sakit, ibuku harus selalu menjaga ayahku, pak," jawab Ossa berusaha untuk tenang.

__ADS_1


"Kalian tidak menghargaiku. Aku sangat tidak suka kamu datang sendiri. Ini adalah perbincangan penting. Apa bagi kalian sangat sepele?" tanya pak Karman dengan nada yang sengit pada Ossa.


"Maaf, pak. Kurasa cukup aku sendiri yang datang mememui bapak. Sebab, ayahku juga sangat penting untuk selalu dijaga oleh ibuku, maaf jika bapak merasa kurang berkenan." Ossa menjawab tegas dengan menahan rasa yang kesal. Kesal pada pak Karman, juga kesal pada Gandy yang terus memandanginya penuh minat.


"Baiklah, kumaklumi. Kamu sudah paham, kenapa kamu datang ke sini?" tanya pak Karman kembali. Memandang tajam pada Ossa.


"Tolong dijelaskan sekali lagi, kenapa aku dan keluargaku diminta datang malam ini, pak,," ucap Ossa bertanya.


"Kamu menerima pernikahan antara kamu dan Gandy. Kamu tidak keberatan bukan? Kalian pernah berpacaran, pernah sangat dekat," ucap pak Karman penuh penekanan. Wajah Ossa nampak tegang mendengarnya.


"Bapak sangat tidak bijak. Membuat peraturan sepihak sesukanya." Ossa menyambut dikte pak Karman.


"Pak, boleh dijelaskan. Kenapa hutang ibu yang bertempo tiga tahun, tiba-tiba sudah jatuh tempo? Sedang ibuku sangat rajin mengangsurnya tiap bulan. Apa masalahnya, pak?" tanya Ossa mulai bernada sengit.


Pak Karman tersenyum sangat tidak sedap pada Ossa.


"Mungkin waktu bertanda tangan itu, ayah dan ibu kamu tidak teliti. Atau juga lupa jika ada tambah ketentuan, peraturan bisa kami rubah sewaktu-waktu," ucap pak Karman dengan angkuh.


"Hutang ibuku awalnya dua ratus tujuh puluh lima juta. Diangsur untuk tiga tahun bersama bunga. Dan sudah satu tahun penuh ibu mengangsur empat juta tiap bulan. Harusnya sangat jelas, tinggal berapa hutang ibuku. Anda serakah sekali. Seperti lintah darat saja!" sahut Ossa dengan sangat geram.


Tapi pak Karman justru tiba-tiba tersenyum sangat lebar.


"Sekali lagi kutegaskan, bunga pinjamanku sangat besar. Tapi orang tuamu waktu itu seperti mengabaikan peraturanku. Paham?" tanya pak Karman dengan angkuh.


"Anda sangat keterlaluan. Tidak jelas mencantumkan berapa jumlah bunga, tiba-tiba seperti ini. Banyak sekali,," keluh Ossa mulai lunglai. Pak Karman ibarat renteiner jaman jahiliah yang penuh muslihat.


"Sudahlah, Ossa. Setuju saja. Lagipula kamu sudah datang. Kita akan menikah dalam waktu yang dekat. Segera saja tanda tangan di sini," tegur Gandy yang tiba-tiba ikut berbicara. Menyodor pada Ossa sebuah map yang berisi lembaran kertas. Ossa sama sekali tidak berminat membacanya.

__ADS_1


"Aku tidak ingin menikah dengan anak bapak. Kumohon, berilah tambahan waktu satu tahun lagi untuk mengangsurnya, pak,," Ossa berusaha membujuk pak Karman.


Pak Karman kali ini tidak tersenyum lebar. Tapi telah tertawa meski tidak keras dan lirih.


"Kamu pikir kami plin plan? Jangankan satu tahun. Sehari saja tidak ada kesempatan lagi untuk keluargamu. Aku sudah berbicara dengan ayahmu tentang ini," jawab pak Karman dengan angkuhnya.


"Bapak sangat serakah. Telah membuat ayahku banyak pikiran, tertekan dan sakit. Jahat sekali," hardik Ossa kembali sengit pada pak Karman.


"Sudahlah, gadis cantik. Aku malas berdebat denganmu. Bagaimanapun, anak lelakiku sangat menyukai kamu. Dan aku pun juga menerimamu sebagai menantuku. Sekarang, kamu tanda tangan sajalah," pungkas pak Karman tidak sabar.


"Aku tidak akan tanda tangan," sahut Ossa menegaskan.


"Kamu tidak tanda tangan? Artinya, kamu menyerahkan rumah dan tambak orang tuamu pada kami, Ossa. Apa kamu akan memperparah sakit ayahmu?" tanya Gandy menyela. Ossa meliriknya sebentar.


"Tidak. Ayahku juga paham jika kalian sangat licik. Akan kutebus hutang ayahku secepatnya," putus Ossa memandang pak Karman.


"Sudah tidak ada waktu, Ossa. Kamu pergi dari rumah ini tanpa tanda tangan persetujuan kita menikah. Sertifikat-sertifikat itu menjadi milik keluarga kami, Ossa." Gandy berbicara sungguh-sungguh.


"Sebenarnya apa rugimu? Menikahlah denganku. Aku bisa menafkahimu dengan cukup. Rumah dan tambak juga tetap jadi milik keluargamu," ucap Gandy menyambung bicaranya.


Ossa hanya diam. Menahan diri untuk tidak terpancing dengan apapun ucapan Gandy.


"Jika tetap seperti itu, aku juga berhak merasa tidak setuju dengan perubahan sepihak yang pabak buat. Itu sangat keterlaluan. Aku tidak mau tanda tangan. Aku akan memikirkan cara untuk mendapatkan kembali sertifikat itu. Aku akan berusaha menebusnya." Ossa berbicara tegas sambil kemudian berdiri. Begitu juga dengan Mita. Ikut berdiri, Ossa nampaknya akan segera berpamitan.


"Kami permisi dulu ya, pak," pamit Ossa pada pak Karman. Tetap tidak melirik Gandy sedikit pun. Ossa dan Mita telah bergerak menuju pintu dan keluar.


"Ossa! Tanda tanganlah. Atau besok malam, angkat kakilah dari rumah kalian!" seru Gandy dengan keras.

__ADS_1


Ossa bersikap seolah bisu dan tuli yang tidak memiliki hati. Ossa menunjuk sikap tidak peduli. Padahal, tidak ada satu orang pun yang paham. Bahwa hatinya sedang terguncang hebat sebab ancaman bapak dan anak yang Ossa yakini bukanlah gertak sambal.


🕸🕸🕸🕸🕸🕸🕸🕸


__ADS_2