
Ossa sempat membuat teh jahe dan madu hangat dalam cangkir besar, lalu ditutup rapatnya. Menunggu sopir yang belum datang sambil meminum teh manis di cangkir yang lain.
Bunyi samar derum mobil dari luar rumah, membuat Ossa lekas berdiri dan menyambar cangkir dalam bag yang tadi disiapkan. Sang ibu yang baru keluar dari kamar mandi, mengangguk paham saat Ossa menolehnya.
"Hati-hati, Oqtissa. Jaga dirimu,," pesan sang ibu perhatian. Bagaimanapun, anak gadisnya akan mendatangi seorang laki-laki sendirian.
"Iya bu, jangan khawatir. Assalamu'alaikum,," pamit Ossa berbalik dan cepat berlalu.
"Wa'alaikumsalam," sahut bu Endah perlahan.
Siapapun lelaki yang akan dijumpai Ossa, tentu saja sang ibu merasa cemas jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Apalagi Ossa akan menjumpai seorang Zoan saat malam dini hari. Bu Endah pun tahu, bagaimana playboynya lelaki itu dari cerita anak gadisnya sendiri. Tidak ingin ibarat lepas dari jerat renteiner, tukar jatuh ke jerat tangan si player. Apalagi hanya sebab rayuan dan gombalan. Bu Endah berdoa agar Zoan tidak melakukan hal buruk apapun pada anak gadisnya.
πΈ
Ossa berjalan setengah berlari dari latar parkir menuju area penginapan. Dan bergeges masuk saat tahu jika pintunya tak dikunci.
Cottage yang hanya berisi satu kamar itu memudahkan Ossa untuk segera mengetuk pintu dengan pelan. Takut jadi mengejutkan jika ternyata Zoan telah tertidur.
Sahutan agar segera masuk ke dalam oleh Zoan, dituruti dengan cepat oleh Ossa. Dibukanya pintu kamar dengan cepat sebab merasa khawatir dan cemas.
Namun, pemandangan yang dilihatnya sangatlah mengejutkan. Zoan sedang terlentang di ranjang dengan tidak berpakaian sehelai pun. Dan bukan Ossa saja yang terkejut, Zoan bahkan berjingkat dan bergerak cepat berusaha menutupi dirinya dengan selimut. Untung saja lampu tidur itu hanya remang. Ossa merasa bersyukur dengan pandangan yang jadi lumayan terhalang.
"Ossa,,! Kenapa kamu yang datang,,?!" hardik Zoan agak keras. Menghempas rasa terkejutnya. Ossa kian terkejut dengan teguran Zoan yang sedikit kasar padanya.
"Saya,, saya khawatir dengan keadaanmu. Maaf jika boss Zoan keberatan," jawab Ossa dengan suara terdengar gugup dan cemas.
Zoan menyadari keterkejutan Ossa pada ucapannya. Dihirupnya nafas yang panjang di dada.
"Mana obatnya, Ossa,,?" tanya Zoan dengan pelan kemudian.
Ossa memandangnya sebentar. Mengulurkan sebuah bag kecil dan meletaknya di meja.
__ADS_1
"Ada di sini. Juga ada teh jahe madu hangat. Tapi aku tidak membawakan bubur," jawab Ossa dengan sisa rasa gugup. Zoan diam sejenak memandangnya.
"Mana,, aku ingin minum," ucap Zoan lirih sambil bergerak duduk perlahan. Menunggu Ossa mengulurkan padanya.
Ossa segera mengambil obat dan cangkir teh dari bag. Lalu diulurkan keduanya pada Zoan.
Lelaki itu menerima dan langsung diminum hingga puas. Cangkir yang dipakai Ossa cukup jumbo, masih sisa banyak di dalamnya.
Zoan menyimak sebentar obat yang diberikan Ossa. Mengoyak salah satu dan dimasukkan ke mulut, lalu ditelannya bersama air sangat cepat ke perut.
"Terimakasih, Ossa," ucap Zoan memandang Ossa lekat-lekat. Penampilan Ossa nampak lain dari sebelumnya. Tangan Zoan mengulurkan sisa obat itu pada Ossa. Dan diterima yang diletakkan di meja.
"Boss Zoan, kamu baik-baik saja? Maaf, aku hanya cemas dengan keadaanmu. Bagaimanapun, anda datang ke sini sebab berniat membantuku," ucap Ossa menjelaskan.
Wajahnya sedikit menunduk. Segan memandang Zoan dengan dada lebar yang menghampar tak ditutup. Selimut terbiar jatuh di pinggang dan perut. Zoan bungkam dengan terus mengamati lekat di wajahnya. Ossa menjadi salah tingkah.
"Boss Zoan. Jika anda baik-baik saja, aku akan pulang," pamit Ossa pelan dan berniat mundur berbalik.
"Kamu sudah terlanjur datang ke sini. Periksalah aku dan rawatlah aku, Ossa,," ucap Zoan pelan. Kali ini berbicara seperti sedang mengiba pada Ossa.
"Boss Zoan ingin kurawat bagaimana?" tanya Ossa kebingungan. Didekatinya Zoan di ranjang perlahan.
"Anggap saja aku ini adik kembarmu yang sedang sakit, Ossa," jawab Zoan kembali melemah. Memandang Ossa mengiba.
Meski kamar tetap juga remang, posisi yang dekat mampu memperjelas pandangan. Pantul lampu tidur itu cukup jelas menerangi wajah mereka berdua saat berdekatan.
"Boss Zoan, tidurlah," kata Ossa mulai mengarahkan Zoan. Lelaki itu dengan cepat merebahkan dirinya perlahan. Seperti puas dengan sikap Ossa yang perhatian padanya.
Ossa tidak ragu lagi mengulur punggung tangan di dahi dan leher Zoan. Mungkin telah menganggap jika Zoan hanyalah si kembar yang sakit.
"Boss Zoan, padanmu panas sekali,,!" seru Ossa nampak terkejut. Dahi dan leher itu terasa sangat panas kulitnya. Ossa tidak menyangka sebegitu demamnya.
__ADS_1
"Kamu pikir aku main-main, Ossa? Aku benar-benar tidak tahan merasa sakit. Itulah aku meminta obat padamu. Tapi tidak berniat memintamu datang, Ossa," Zoan menjelaskan dengan pelan seperti menggumam. Ossa kembali cemas dan merasa iba sekali.
"Lalu bagaimana ini,,,??" keluh Ossa yang juga menggumam.
"Rawatlah aku, Ossaa,,," keluh Zoan seperti merengek. Suaranya berubah gemetar. Ossa kian khawatir dan was-was. Ragu dengan bagaimana merawat yang diinginkan Zoan darinya.
"Boss Zoan, ingin dikompres,,?" tanya Ossa sangat cemas. Zoan memandang sayu dan redup. Kepalanya menggeleng.
"Dipijat,,?" tanya Ossa memberi tawaran. Meski rasanya berdebar, resah juga jika Zoan menginginkan dipijat. Namun Zoan kembali menggeleng, lega rasanya.
"Minum?" tawar Ossa mencoba. Zoan menggeleng sekali lagi. Ossa pun terdiam. Dan melintas sesuatu di pikiran, namun Ossa justru risau jika itu yang diinginkan Zoan padanya.
Sangat terkejut sekali, di tengah gundah gulana, Zoan menarik tangannya tiba-tiba. Lelaki yang nampak lemah itu menyimpan tenaga yang masih kuat dan mengejutkan.
"Boss Zoan,,?!" pekik Ossa merasa panik. Meski ada selimut, dirinya telah tersungkur mengenai lengan dan bahu Zoan yang kulitnya terasa sangat panas.
"Peluklah, Ossa. Peluklah,," rintih Zoan mengiba tiba-tiba. Tangan panas itu menarik lengan Ossa yang masih dipegang eratnya.
Ossa kian kaget, terlihat diam dan tegang. Rasanya sangat bimbang. Was-was jika Zoan memiliki niat sesat terselubung. Namun, Zoan yang ternyata sedang demam tinggi itu meluluhkan hatinya. Rasa cemas dan iba menepikan segala gundahnya.
Ossa bergerak lebih mendekat. Selimut dirapatkan sempurna hingga ke leher. Zoan telah terbungkus selimut dengan rapat dan aman.
"Ossaaa,," rintih Zoan kembali merengek.
Ossa tidak ingin lagi berfikir. Merebah pelan di samping Zoan dan dipeluknya dada berselimut itu perlahan. Ossa melakukannya dengan kepala yang seperti sedang tidak berisi. Merasa seperti tengah terhipnotis oleh Zoan kali ini.
Namun sempat berdoa dalam hati. Agar keadaan Zoan bisa membaik dan tidak memiliki niat jahat atau merayu sedikit pun padanya.
πΈπΈπΈπΈ
Vote yaaa... Beloved readers.. Otor padamu..πππ
__ADS_1