Boss Pengganti Di Penginapan

Boss Pengganti Di Penginapan
81. Diasingkan


__ADS_3

Oqtissa tidak merasa tersedak, tapi telah cegukan dan nampak menggelikan. Yang kian berbunyi saat memandang sosok menjulang di depannya. Lelaki itu mengulur gelas minuman cola padanya dan Ossa pun buru-buru menyambar.


Sangat terkejut sekaligus sangat lega dengan datangnya. Rasa pedas nikmat dari sambal ayam, telah membuat lena dan lupa pada pengawasan di pintu keluar kedatangan.


"Ossa, apa aku seperti hantu??" tanya lelaki menjulang yang kini menumpu tangan di meja dengan sedikit membungkuk.


"Tidak,," jawab Ossa gugup lalu meneguk cepat colanya. Merasa sangat lega dengan ceguk yang telah menghilang seketika.


"Kamu marah padaku,,?" tanya lelaki tampan yang datang mengejutkannya.


"Tidak, tapi aku menunggumu hingga sangat kelaparan. Kamu terkadang sangat jahat padaku," sahut Ossa mengeluh. Meletak gelas jumbo berisi cola di meja.


Lelaki yang tak lain adalah Zoan itu telah mendudukkan diri di kursi depan Ossa dengan meja yang sama. Mengamati Ossa yang dari kejauhan pun terlihat sangat lahap saat makan.


"Maaf, Ossa. Lambatku tidak sengaja. Ayunda lupa menyampaikan pesan mas Arzaki padaku." Zoan menerangkan dan kemudian meraup wajahnya sendiri dengan telapak tangan.


"Ponselmu tapi tidak aktif, kenapa tidak bilang atau ngasih kabar jika lambat?" tanya Ossa masih bermaksud memprotes.


Zoan lekat memandangnya.


"Tadi aku meeting dengan rekan hingga selesai. Aku lupa tidak membawa ponsel sebab mati dan charging. Habis dzuhur, Ayunda baru bilang dan mengabariku tentang kamu. Dia benar-benar lupa dengan pesan mas Arzaki padaku."


Zoan menjelaskan sambil meraih gelas cola milik Oqtissa. Meminumnya dengan santai. Lelaki itu memang nampak terengah saat datang tadi. Mungkin Zoan sempat mencari dengan rasa tergesa dan sangat cemas di bandara.


"Boss Zoan ingin kupesankan minuman atau makan?" tanya Oqtissa sungguh-sungguh.


"Tidak, Ossa. Aku hanya ingin mencicipi sedikit minumanmu. Apa kamu keberatan?" tanya Zoan menolak. Ossa tak menjawab, namun sedikit tersenyum.


"Bagaimana bisa tahu jika aku di sini?" tanya Ossa masih dengan sisa senyum. Dongkol dan galaunya telah menguap dan mengudara seketika di angkasa.


"Aku berdiri di pintu kedatangan. Kupandangi sekitar. Kamu sangat mudah terlihat. Kamu itu nampak mencolok," terang Zoan sedikit tersenyum. Meletak gelas dan mengembalikan ke posisi semula dekat Ossa.


"Terimakasih, boss Zoan sudah datang menjemputku," ucap Ossa sambil berpaling.


Suapan nasi ayam terakhir telah selesai beberapa detik berlalu. Kini meraih gelas cola yang kembali diletak Zoan di depannya. Lelaki itu hanya meminumnya sedikit.


"Terimakasih juga kamu sabar menungguku datang, Os. Aku senang kamu mau datang ke Semarang. Ini sungguh kejutan. Aku tidak menyangka, akhirnya kamu datang juga ke sini," sambut Zoan pada ucapan Oqtissa.


"Aku punya hutang, boss Zoan juga sangat baik. Pak Arzaki mengirimku ke sini,,," jawab Oqtissa menjelaskan.


Zoan mengambil nafas panjang dan menghembusnya. Lalu menyandar punggung di kursi. Zoan tidak menanggapi. Sepertinya merasa malas untuk membahas apapun saat ini.


"Apa sudah kenyang? Aku akan membayarnya," ucap Zoan sambil berdiri.

__ADS_1


"Sudah kubayar,,!" seru Ossa juga terus berdiri. Zoan akan pergi ke kasir.


Zoan kembali ke meja, mengambil koper milik Ossa dan mengangkatnya.


"Jika sudah, ayo pergi," ucap Zoan. Lelaki itu hanya menjinjing koper Oqtissa dengan mudah. Ossa segera mengikuti dengan perasaan yang segan.


🕸


Zoan membawa Oqtissa melaju dengan mobil yang dibawanya sendiri. Merasa lebih nyaman tanpa driver jika perjalanan tidak jauh.


"Pak Arzaki memintaku bekerja denganmu. Apa di penginapanmu sedang ada lowongan, boss Zoan?" tanya Oqtissa memecah lengang di mobil.


Zoan tidak merespon. Bahkan terus memandang lurus di jalanan. Seperti sedang ada yang dipikirkan.


Ossa pun terdiam, segan jika harus kembali menanyakan. Risau pertanyaannya justru menjadi beban bagi Zoan.


Mereka tidak pergi ke tempat penginapan Azril. Namun memasuki sebuah hotel besar di pusat kota Semarang. Meski terheran, tapi Ossa menahan diri untuk tidak bersuara sementara. Mengikuti ke manapun Zoan mengajaknya.


Zoan membawa koper Ossa menuju ke lobi. Lelaki itu pergi ke meja penyambut tamu dan meminta Ossa untuk duduk di sofa lobi menunggunya. Ossa hanya mengangguk menyanggupi.


"Ayo kuantar ke kamarmu," ucap Zoan. Kembali menjinjing koper Ossa dengan sangat mudah.


Sebuah pintu kamar dengan angka enam puluh enam tertempel di pintu, menghentikan langkah Zoan di depannya. Ossa pun ikut menghentikan langkah kakinya.


"Kamu tinggallah di sini sementara. Ada buku hotel di dalam. Jika perlu apapun, carilah segala layanan hotel di buku. Jika tidak ada, teleponlah aku. Jika bosan, jalan-jalanlah keluar. Jika bosan juga, teleponlah aku."


"Saya di sini? Saya bekerja apa di sini? Kenapa tidak ke penginapanmu saja, boss Zoan?" tanya Ossa bertubi. Tidak lagi tahan menyimpan berbagai pertanyaan.


"Tidak lama kamu di sini, Ossa. Besok malam pun aku ke sini menjemputmu. Nanti kukabari lagi. Masuklah ke dalam, istirahatlah. Aku akan pulang ke penginapanku. Jika ada apa-apa cobalah telepon aku, jangan pernah segan padaku," ucap Zoan dengan tegas.


Mengulur key card kamar yang baru digunakannya pada Oqtissa. Zoan mengangkat koper dan diletakkan di kamar dekat pintu tanpa masuk ke dalamnya.


"Masuklah. Tenangkan dirimu dengan santai dan nyaman. Gunakan segala fasilitas di buku yang kamu suka. Aku yang akan membayar tagihannya," pesan Zoan mengulang.


Lelaki itu memandang Ossa dengan senyum yan samar. Tiba-tiba mengulur tangan dan mengusap rambut dan kepala Ossa dua kali.


"Assalamu'alaikum," pamit Zoan dengan lirih.


Lelaki itu berbalik dan berlalu. Meninggalkan Ossa yang termangu sambil menyahut salam dengan tak kalah lirihnya. Rasa di dada masih berdebar dengan usapan lembut tangan Zoan yang tiba-tiba padanya.


🕸


Meski tidak yakin jika Zoan benar datang, tapi Ossa telah menyiapkan diri dengan penampilan up to datenya. Terlihat sangat rapi dan cantik.

__ADS_1


Zoan memang datang dan bukanlah janji belaka. Lelaki itu membawa Ossa keluar hotel dan menuju sebuah rumah makan. Telah ada beberapa rekan yang telah duduk menunggunya di sana.


Rupanya adalah pertemuan bisnis seperti biasanya. Hanya tidak lagi di tempat aneh dengan syarat dan fasilitas yang pelik. Namun di tempat umum dan terbuka bersama. Hanya sangat disayangkan, minuman sejenis arak masih tetap melengkapi menu makan di meja.


Pertemuan singkat sambil makan malam itu telah melahirkan kesepakatan baru yang dibuat bersama. Rekan-rekan Zoan juga mengambil beberapa gelas arak dari botol dan meminumnya sangat mudah. Tapi tidak dengan Zoan.


Boss penginapan itu hanya meminum jus asli anggur yang dipesan sendiri dan disamakannya dengan Oqtissa. Zoan dan Ossa sedang berlomba menghabiskan segelas jus anggur yang sangat menyegarkan.


Hingga gelas milik mereka nampak kosong. Zoan kemudian undur diri membawa Oqtissa meninggalkan para rekan yang masih melanjutkan acara minum-minumnya di tempat. Zoan tidak lagi ikut minum.


Malam telah hampir larut. Mendekati pukul sebelas tepat. Zoan melajukan mobilnya cukup kencang. Suasana jalan raya sedang lengang. Begitu juga dalam mobil, tidak ada suara musik yang diputar pemiliknya.


"Kamu ingin ke mana?" tanya Zoan pada Oqtissa. Yang ditanya nampak berpikir sejenak.


"Ini sudah sangat malam,," terang Oqtissa sambil menggeleng.


"Kota ini buka dua puluh empat jam, Ossa. Jika saja ada yang ingin kamu beli atau kamu ingin kunjungi," ucap Zoan menerangkan.


Ossa kembali menggeleng, merasa segan pada Zoan. Tapi, jika saja Zoan mengajak entah ke mana yang tidak perlu bertanya dulu padanya, tentu saja Ossa tidak keberatan. Bahkan merasa sangat suka.


Ingin rasanya terus berada di samping Zoan, ke mana-mana pun dia pergi, Ossa sanggup mengikuti. Selain merasa suka dan nyaman, tapi Ossa juga merasa kesepian tanpa teman. Sangat tidak suka hanya diam di dalam kamar hotel. Gadis polos itu tidak berminat mengambil layanan hotel apapun.


Tapi nyatanya lelaki itu hanya sebentar saja membawanya. Merasa heran, kenapa dirinya justru diasingkan di lain hotel oleh Zoan. Kenapa tidak juga diberikan pekerjaan yang nyata. Ossa merasa jika ini aneh sekali.


"Boss Zoan, jika ada mesin ATM di jalan yang kita lewati, tolong singgah sebentar. Aku ingin menarik tunai," pinta Ossa pada Zoan.


Zoan tidak langsung mengiyakan.


"Kamu perlu berapa?" tanya Zoan dengan menoleh kemudian. Tapi Ossa justru diam dan menunduk. Mudah dimengerti jika Ossa tidak ingin menjawabnya. Zoan sangat paham perasaan gadis polos itu.


Setelah berlalu beberapa ratus meter, Zoan menepikan mobil di kiri. Terlihat sebuah bank nasional dengan mesin tranksaksi keuangan di depannya. Halaman bank sempit, Zoan tidak bisa memasukkan mobil di pelataran. Lelaki itu turun mengantar Ossa di depan pintu ruang mesin.


Ossa yang sedang mengoperasikan layanyan perbankan di layar mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM), nampak terbelalak dengan ekspresi wajah sangat shock.


Betapa tidak tercengang, saldo di akun yang dia yakin tidak lebih dari sekedar jutaan, kini berubah menjadi ratusan juta jumlahnya. Ossa bahkan merasa seperti sedang berkunang-kunang kepalanya.


Lantas siapa orang yang salah kirim uang banyak itu di nomor akunnya. Apakah Zoan,, atau pak Arzaki. Kedua lelaki itu tentu tahu dengan nomor akun banknya. Secara mereka sama-sama atasan yang pernah rutin membayarnya.


Namun, bisa jadi pria mantan atasan dan suami itulah yang memang mengirimkan. Ossa ingat jelas saat Arzaki bilang jika telah memberikan uang ke nomor akun bank miliknya. Tapi sebanyak itukah? Untuk apa..


Andai benar, salahkah jika Ossa merasa itu adalah haknya. Lalu untuk apa uang sebanyak itu..


Lintas gunung hutangnya pada Zoan berkelebat. Apa ini saat tepat untuk melunasi hutang pada lelaki itu? Hingga Ossa bisa bebas untuk lepas dari rasa hutang budi. Lalu pergi dari Zoan dan pekerjaan yang tidak jelas ini..

__ADS_1


Tapi uang itu belum jelas dari siapa hingga untuk dimiliki. Ossa akan menghubung terlebih dahulu Arzaki, agar tidak ada urusan yang memberatkannya di kemudian hari..


🕸🕸


__ADS_2