Boss Pengganti Di Penginapan

Boss Pengganti Di Penginapan
87. Sah


__ADS_3

Acara sakral yang tidak terduga dan cukup mendadak bagi semua orang, terutama keluarga Ossa, bahkan bagi kedua mempelai sendiri pun, telah benar-benar selesai.


Orang tua dan seluruh undangan, juga dari pihak kantor urusan agama, telah kembali meninggalkan hotel yang cukup besar di kota kecil Rembang. Tempat yang ditentukan Zoan untuk menggelar acara ijab kabul sakralnya dengan Ossa.


Namun, mereka sempat diinapkan satu malam oleh Zoan di hotel sebelum acara akad nikah diselenggarakan esok hari. Dengan harapan agar meraka merasa santai dengan segala fasilitas di hotel.


Mulai dari kolam renang, taman bermain, klub karaoke, hingga bermacam layanan kamar termasuk pijat relaksasi. Hal itu memang cukup menggembirakan, terutama saudara Ossa yang membawa anak-anak. Juga melipur sedih hati pada kerabat yang menjadi korban abrasi air laut di pantai.


Hanya satu orang yang besar harapan akan datang, ternyata berhalangan. Mita, sahabat terbaik Oqtisaa di pesisir tidak bisa hadir sebab sedang sakit gigi yang parah hingga bengkak. Mita tidak percaya diri untuk hadir di khalayak ramai sebab pipinya yang nampak menonjol dan besar


🕸


Ossa baru saja mandi sore setelah tidur siang yang cukup. Zoan kembali memberinya waktu setelah akad nikah dengan tidur siang di kamarnya sendiri. Kamar yang disewa dan ditinggali masing-masing sebelum saat baru sampai kemarin. Nampaknya lelaki itu sedang merasa lelah yang sangat. Meski Ossa merasa sedikit kecewa, tapi terpaksa juga menuruti kehendak sang suami dengan rela.


Dan ini memang nampak cukup aneh, pengantin baru yang saling sukarela dan tidak saling dipaksa, namun tidur terpisah setelahnya. Ossa hanya bisa bersabar untuk tidak meralat kebijakan sang suami. Cukup menjadi kucing manis yang penurut dan selalu menunggu kedatangan sang tuan untuk datang menyusul dirinya.


🕸


Ketukan dipintu yang selalu ditunggu penuh rasa harap dan cemas akhirnya berbunyi. Ossa menuju pintu dengan cepat setengah berlari. Mukena yang sudah dilipat rapi bersama sajadah, diletak begitu saja di ranjang. Suami yang ditunggu tengah berdiri di depan pintu kamar. Mereka saling senyum kemudian.


"Hei,,, sudah mandi?" tanya Zoan dengan santai dan raut cerahnya.


"Sudah. Baru saja." Ossa menjawab sambil mengangguk.


"Sudah tidur siang?" tanya Zoan sambil menatap lekat wajah Ossa yang segar berbinar.


"Sudah," jawab Ossa agak kikuk. Seperti sedang mendapat wawancara dari Zoan.


"Kamu sudah istirahat cukup dan sudah mandi juga. Sekarang, boleh aku masuk?" tanya Zoan tersenyum. Alisnya digerak-gerakkan sedikit.

__ADS_1


"Tidak,," sahut Ossa cepat dengan tersenyum.


"Tidak,,?" tanya Zoan, senyumnya sedikit menciut.


"Tidak keberatan maksudku,," sahut Ossa buru-bura meski nampak kikuk. Zoan tertegun sejenak dan kemudian tertawa.


"Nakal yaa,,, sini kuterobos masuk saja,," ucap Zoan sambil bergerak maju ke pintu. Ossa bahkan memang benar-benar diterobos dan ditabraknya.


Sambil dibawa langsung ke pembaringan. Zoan langsung menubruk dan memelukinya. Mereka berdua seperti tengah melepas rindu sangat dalam dan lama. Segala luah, tingkah dan ekspresi menggelora sedang mereka ungkap bersama di sana.


Sepuluh menit kemudian....


"Aku duluan ke kamar mandi, sebelum kita keblabasan," ucap Zoan sambil berdiri. Wajahnya begitu merah padam. Mereka telah duduk di ranjang dengan nafas yang terengah.


Ossa hanya mengangguk dengan pias. Merasa segan untuk saling bertatapan mata dengan Zoan. Merasa kikuk, risih tapi juga berbunga-bunga.


🕸


Sepasang pengantin baru sedang duduk berhadapan di resto hotel yang ramai. Mungkin sebab waktu makan malam dan banyak yang tidak ingin mendatangkan makanan di kamar. Lebih suka datang langsung dan memesan makanan sambil diiringi musik syahdu menghanyutkan.


"Mas, apa pak Arzaki sudah pulang?" tanya Ossa di sela kunyah makannya.


"Sudah, pagi tadi. Dia menitip salam dan mendoakan yang terbaik untukmu, untukkku, untuk kita," sahut Zoan. Sepertinya lelaki itu sedang sangat lapar. Makanan dalam piring miliknya begitu cepat disendok dan diletak ke dalam mulut.


"Apa kita akan ke sana?" tanya Ossa setelah meletak gelas minuman yang baru diminum ke meja.


"Iya," jawab Zoan yang juga baru meneguk minuman dari gelasnya.


"Kapan,,?!" seru Ossa bertanya dengan wajah yang cerah berbinar. Tapi tidak dengan Zoan, dahinya berkerut terheran.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu nampak sangat berharap ke sana,, apa kamu ingin bertemu dengan kakak lelakiku?" tanya Zoan terdengar asal bicara. Namun wajahnya nampak serius tanpa senyum.


"Jahat, pertanyaanmu jahat. Aku selalu kangen sama mbak Nola dan mak Murni. Sebab mereka berdualah aku sangat ingin ke sana secepatnya," ucap Ossa agak sengit. Rasanya sakit sekali. Zoan seperti menganggapnya sebagai perempuan plin plan tanpa hati.


Zoan tidak menanggapi. Lelaki itu tetap makan tanpa cepat menimpali. Dan kebisuan Zoan membuat Ossa merasa kian sakit hati.


"Jika mas Zoan tidak sepenuhnya bisa menerimaku, kenapa menikahiku? Aku sangat menyesal telah menangisimu waktu itu. Harusnya orang lain saja yang kamu nikahi. Bukan seorang janda sepertiku,," ucap Ossa terdengar sedih dan kesal. Zoan terkejut dan memandang Ossa dengan bingung.


"Sebenarnya tidak seperti itu, Ossa. Aku hanya bercanda. Kamu sensitif sekali,,," timpal Zoan kemudian. Kini wajah tampan itu telah kembali memunculkan senyumnya. Zoan kembali nampak cerah. Lelah dan letihnya telah dibuang dengan tidur siang yang cukup.


Ucapan Zoan tidak meluluhkan hati Ossa yang sedang tersinggung. Wajahnya tetap kaku dengan bibir rapat dan terkunci. Serta terus saja mengaduk minuman jus anggurnya.


Zoan kini menyadari jika Ossa bisa jadi adalah seorang janda dengan perasaannya yang sensitif. Zoan menghela nafas panjang dengan berusaha menyimpan rasa ibanya di dada.


"Sudah,,? Ayo kita pergi. Lihatlah, mereka sedang kekurangan meja dan kursi," ucap Zoan pada Ossa. Pengunjung memang nampak antri dan panjang. Dan Zoan pun baru saja melakukan pembayaran total tagihannya.


Tapi Ossa nampak acuh pada ajakannya. Zoan tidak bisa lagi menunggu lebih lama.


"Masss!!! Ish, apaan,,?!" seru Ossa dengan mata membelalak terkejut. Zoan akan mengangkatnya dari kursi.


"Aku akan mengangkatmu jika kamu masih manyun seperti itu.." Zoan memberi ultimatum pada Ossa agar bersikap normal dan manis kembali.


"Iyya,, iyyaaa.. Ayo kita pergi," sahut Ossa sambil berdiri cepat dari kursinya. Menjauhi meja dan kemudian berjalan.


Zoan berjalan cepat menyusul Oqtissa. Menyambar tangannya dan menggenggam dengan erat. Tapi Ossa tidak melawan dan menurut. Zoan merasa begitu lega seketika.


🕸


Tolong dong kakak2 readers tersayang... Kasih rate/klik/nilai bintang 5 di novelku ini.. Yang sudah ngasih bintang 5, terimaksih banget... 😘

__ADS_1


__ADS_2