
Setelah mengambil uang yang dirasa cukup untuk keperluan sementara, Ossa keluar dari ruang pelayanan publik dengan rasa kepala yang terus berkunang. Agak terkejut saat membuka pintu ternyata ada Zoan menunggu di luar.
Yang memang hanya menunggunya, sebab lelaki itu tidak berminat untuk mencairkan cash uang di mesin. Ossa bergegas menuju mobil merah di tepi jalan mengikuti Zoan di belakangnya.
"Kenapa tidak memakai em banking atau layanan digital lainnya saja, Os?" sahut Zoan setelah mereka bersiap meluncur kembali ke jalanan.
"Aku sudah tidak memiliki layanan em banking lagi, boss Zoan. Nomor ponsel sekaligus pnselku sudah tukar beberapa bulan lalu. Habis itu lupa bikin lagi, dan akhirnya keterusan." sahut Ossa menjelaskan.
"Lagipula aku ingin uang fisik," kata Ossa menambahkan.
"Jika perlu uang, kenapa tidak bilang padaku? Lain kali, mintalah padaku," ucap Zoan dengan tegas, menoleh Oqtissa sekilas.
"Terimakasih, boss Zoan. Tapi meminta uang darimu, tentu saja tidak boleh,,!" seru Ossa terdengar membantah.
"Kenapa tidak boleh? Kamu di sini ikut denganku," tanya Zoan menanggapi. Merasa seperti sedang berbicara dengan seorang gadis kecil. Zoan tersenyum.
"Aku memang bekerja denganmu, tapi bukan jadi tanggunganmu," jawab Ossa menjelaskan.
Zoan tidak lagi tersenyum. Bibirnya erat merapat. Ucapan Ossa yang mengejutkan dan tidak menentu maksudnya itu seperti mempermainkan hatinya.
Suasana di hotel juga sangat lengang malam ini. Jauh beda dengan waktu singgah check in semalam. Zoan mengantar gadis itu hingga di depan kamar nomor enam puluh enam meski Ossa telah memintanya pergi saat baru sampai di latar hotel.
"Masuklah. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Mimpi yang indah, Ossa," ucap Zoan. Bergelagat ingin segara berbalik dan pergi. Ossa merasa berat untuk kembali ditinggal sendiri.
"Sebenarnya, kenapa boss Zoan meletakku di sini? Apa pekerjaanku?" tanya Ossa sebelum Zoan sempat berbalik.
Zoan menatap Ossa dengan pandangan yang iba. Sangat mengerti kegundahan yang dirasakannya.
"Ossa, bukankah kamu baru saja bekerja? Menemaniku barusan seperti tadi, bukankah kerja yang sudah pernah kamu lakukan?" tanya Zoan memandang. Wajah berkulit cerah dengan rambut hitam lebat itu terlihat makin tampan. Ossa menyimak diam terpaku.
"Kamu ingin bekerja yang bagaimana lagi, Ossa? Asal kamu tahu, job cuci piring atau tukang sapu di penginapanku tidak bisa menerima gadis secantik kamu," ucap Zoan menegaskan. Sedikit tersenyum dengan kedua alis terangkat naik ke atas. Zoan sedang sengaja menggoda Oqtissa.
"Kerja serabutan,," sahut Ossa asbun, asal bunyi saja. Merasa salah tingkah dengan sikap dan pandangan Zoan yang meresahkan padanya.
"Kerja Serabutan? Serabutan untuk siapa? Bukankah selama ini kamu sudah cukup serabutan? Apa kamu tidak merasa jika kerjamu serabutan, Ossa?" tanya Zoan sangat lembut.
Ossa mengerti apa maksud Zoan dengan ucapannya. Ossa memang bekerja serabutan di penginapan Arzaki. Berstatus dinikahi, tapi berada merata-rata tempat dan waktu. Bahkan juga harus melayani Zoan di kamarnya malam-malam. Ah, sedikit geram rasanya.
__ADS_1
"Baiklah jika kamu menganggapku sudah melakukan kerja. Terimakasih, kerja serabutan ini sangat mudah dan menyenangkan bagiku. Tapi,, aku tidak suka di sini. Kenapa aku harus diletak di sini? Rumah boss Zoan kan ada banyak kamar?" tanya Oqtissa menyelidik.
Zoan kembali kian merapatkan bibirnya. Wajah yang barusaja nampak senyum, telah berubah serius dan kembali sungguh-sungguh.
"Ossa, anggap saja ini kebijakanku. Bisakah kamu bersabar dengan kebijakanku?" tanya Zoan dengan serius. Ossa merasa jadi segan.
"Iya, maaf. Aku bisa, boss Zoan."
Ossa mengangguk sambil menjawab. Tidak ingin jika Zoan merasa terbebani dengan keinginannya. Ossa memaksa diri tersenyum.
"Terimakasih, Os. Masuklah,," ucap Zoan menghimbau. Ossa mengangguk dan berbalik. Lelaki tegap itu tidak pergi hingga Ossa masuk ke dalam kamarnya dengan diam.
πΈ
Arzaki yang berusaha dihubunginya melalui sambungan telepon di ponsel, baru lepas ashar menerima. Pria itu mengiyakan bahwa uang ratusan juta dalam rekening Ossa adalah transferan masuk darinya.
Arzaki meminta agar Ossa menerima saja uang darinya. Arzaki juga sempat mendoakan agar hidup Ossa bahagia. Arzaki mengakui jika uang itu bukan murni dari jerih keringatnya. Namun, laba penginapan yang diserahkan Rama dari Zoan untuk keluarga Arzaki sebagai pemilik penginapan.
Dan sekarang, Arzaki dengan rela menyerahkan pada Ossa yang di mata agama adalah jandanya.
Hal itu membuat Ossa terkejut sekali lagi hingga tidak mampu berkata-kata untuk Arzaki. Tidak ingat untuk bertanya kabar Arzaki serta kabar anak bungsu lelakinya. Dan tidak ingat juga untuk menanyakan pada Arzaki kapan lelaki itu akan pulang ke Indonesia kembali.
Merasa jika uang sebanyak itu hak siapa sebenarnya. Sudah menjadi miliknya dari Arzaki, mantan atasan sekaligus mantan suaminya yang baik. Namun, Ossa akan menggunakan uangnya untuk membayar hutang pada Zoan.
Boss pengganti di penginapan Arzaki, telah berhasil mengumpulkan pundi-pundi rupiah yang seluruhnya telah diserahkan pada keluarga Arzaki. Dan oleh Arzaki diberikan kepada Oqtissa, istri yang dicerai. Sedang oleh Oqtissa akan dikembalikan kembali pada Reizoan Azril untuk membayar hutang melalui akun rekeningnya.
Oqtisa merasa jika uang hasil laba di penginapan yang berhasil Zoan pulihkan itu sangat berkah dan begitu besar bermanfaat. Dilempar berputar tanpa berkurang nilainya, namun membawa manfaat besar untuk tangan yang pernah dilewati.
Dan Ossa merasa menjadi tangan paling beruntung yang pernah disinggahi. Menjadi sangat bersyukur pernah dinikahi oleh Arzaki. Merasa itu adalah pembawa rezeki yang luar biasa besar dan berkah dariNya.
Ossa akan melunasi gunungan hutangnya pada boss pengganti di penginapan. Rasanya sungguh luar biasa lega bahagia.
πΈ
Setelah berkali kali meneliti ulang dan yakin dengan ketepatan nomor rekening milik Zoan pribadi, Ossa menekan enter pengiriman. Sistem itu meminta mengulangi proses hingga dua kali, dan Ossa pun sukses melakukan transaksi.
Ossa merasa jika saldo uang di akunnya masih tersisa cukup banyak. Tidak ada salahnya jika berjalan jalan sebentar sambil membeli makanan yang disukainya.
__ADS_1
Memilih sebuah rumah makan elite yang berada di dalam Paragon City Mall Semarang. Tempat pilihan Ossa untuk melakukan transaksi pembayaran hutangnya pada Zoan barusan.
Hanya makanan khas dari Semarang yang sedang Ossa sangat inginkan. Soto semarang dan tahu gimbal pun rupanya juga ada. Pada kedua menu original pribumi inilah Ossa menjatuhkan pesanan.
Dan segelas jus anggur segar kembali dipesan sebagai minuman penawar dahaganya. Ossa merasa jika jus anggur kesukaan Zoan itu telah juga menjadi favoritnya tiba-tiba.
Ossa menikmati soto semarang yang super sedap itu dengan perasaan sangat puas. Setelah sekian lama tidak lagi berjalan-jalan bahagia di Mall, kini sedang dilakukannya dengan bebas dan gembira. Meski hanyalah sendiri, tapi rasanya bahagia.
πΈ
Kepergian setelah ashar itu berakhir malam hari. Ossa tiba di pelataran hotel sekitar pukul sembilan malam dengan diantar mobil taksi. Sang sopir menghentikannya tepat di depan teras lobi. Yang berlalu pergi setelah Ossa membayar tarif sewa tanpa meminta uang kembalian. Gadis itu merasa sedang mendapat limpahan lebih rizqi.
Ossa melewati pintu lobi dengan rasa yang lega. Akhirnya kembali ke hotel untuk istirahat dengan selamat. Meski hanya pergi ke satu mall saja, tapi Ossa hampir mengelilingi seluruh bangunan besar, luas dan megah itu sepuas hati hingga malam. Tak terasa, pegal dan capek telah meraja di raganya.
Degh,,!! Kaget sekali Oqtissa. Seorang pria badan besar sedang berdiri di tengah lobi memandangnya. Dan pria itu adalah Reizoan Azril.
Zoan berjalan mendekat, begitu juga dengan Ossa. Mereka telah berdiri berhadapan dan saling memandang. Tatapan Zoan nampak tajam padanya. Ada apa lagi ini,,, Ossa merasa gentar dalam hati.
"Aku ingin berbicara denganmu, Ossa," ucap Zoan sedikit menunduk. Meski Ossa bukan gadis pendek, tapi jauh lebih pendek dari Zoan.
"Aku juga ingin berbicara penting denganmu, boss Zoan," ucap Ossa pada Zoan setelah kepalanya mengangguk.
"Ayolah, Ossa!" seru Zoan. Bergegas menuju lift untuk naik ke lantai dua, di mana kamar Ossa berada.
Ossa terus mengikuti hingga masuk ke dalam lift dengan bungkam. Mereka berdiri saling berhadapan, dan Zoan terus sambil menatapnya.
"Boss Zoan, kamu dari mana?" tanya Ossa memecah hening sejenak.
"Jangan panggil aku bos, Ossa," tegur Zoan dengan tegas.
Ossa tidak sempat menyahut, sebab lift dengan jarak tempuh hanya satu lantai itu telah sampai dengan pintu yang mulai membelah.
Zoan segera keluar dan berjalan cepat menuju ke kamar enam puluh enam milik Ossa. Mungkin Zoan tidak ingin kemalaman saat keluar dari hotel.
Tapi ini,, akan ke mana lelaki itu? Apakah Zoan akan ikut masuk ke dalam kamar agar mereka berdua bisa berbicara bebas di dalam? Dada Ossa berdebar kencang menduganya.
πΈπΈ
__ADS_1
πΈπΈ
Selamat Berpuasa, Selamat BerRamadhan.. π