Boss Pengganti Di Penginapan

Boss Pengganti Di Penginapan
18. Nola Sakit


__ADS_3

Pegawai penyambut tamu masih juga dibiarkan berdiri dan merasa segan untuk meminta diri berlalu. Berharap cepat ada tambahan yang disampaikan atau dirinya disuruh pergi keluar dari ruang kerja. Tapi boss Zoan masih tenggelam dalam lamun pikirannya. Lelaki itu tengah menunduk dan mengetuk-ngetukkan pencil di iphone smartnya.


Beberapa detik kemudian, barulah Zoan mengangkat wajah memandang.


"Kamu tidak keberatan ikut ke Semarang denganku?" tanya si boss pada Ossa. Yang ditanya menggeleng dengan cepat.


"Berapa hari saya harus belajar banding di penginapanmu, boss?" Ossa jujur dengan rasa ingin tahunya.


"Tergantung kamu, seberapa cukup waktu kamu untuk sedikit paham dengan penginapanku," ucap Zoan. Memandang Ossa sekilas.


"Jika sehari saja saya sudah paham,,?" tanya Ossa pada kemungkinan tercepatnya. Zoan memandangnya lagi.


"Apa kamu yakin, jika kamu ternyata sepandai itu?" tanya Zoan. Ada sedikit senyum di bibirnya.


Ossa tercekat. Merasa jika senyum Zoan adalah hadiah untuknya. Rasa panas dua kaki jadi sedikit melayang.


"Kan andai saja, boss... Apa saya juga harus kembali ke sini dalam hari yang sama?" tanya Ossa berandai-andai. Zoan mengangkat wajah tampannya memandang.


"Apa kamu tidak suka ikut ke Semarang? Atau kamu justru khawatir jika di sana tidak lama?" tanya Zoan yang terdengar membingungkan.


"Tidak. Saya sangat berminat ikut ke Semarang. Saya hanya merasa perlu refreshing, boss. Tapi, saya juga tidak berani untuk lama-lama di sana. Sebab tujuan saya ke sana, anda menyuruhku belajar," jawab Ossa tahu diri.


"Bagus. Kamu harus ingat, tujuan kamu kubawa ke Semarang bukan untuk berplesiran," ucap Zoan cukup pedas terdengar. Tentu saja Ossa tidak masalah, sumua paham jika sikap Zoan memang hangat-hangat tai ayam.


"Iya, boss. Saya paham." Ossa mengangguk.


"Ossa, mulai malam ini, kamu bisa membantu membuat lembar lowongan pencarian pekerja baru. Syarat dan ketentuan sesuai posisi, sudah kukirim di email kamu," ucap Zoan.


"Apa anda juga sudah membuatnya, boss?" tanya Ossa.

__ADS_1


"Habis ini," ucap Zoan sambil memandang lurus pada Ossa.


"Bagaimana jika salinan lembar lowongan yang sudah jadi saja yang boss kirim padaku?" tanya Ossa coba menawar. Tahu jika membuat lembar lowongan juga akan menyita waktu. Untuk apa susah jika ada yang mudah..


"Baiklah, akan kubuatkan dulu. Nanti kamu tinggal menyebarkan saja, Ossa." Zoan merasa iba pada Ossa. Wajah cantik berseragam itu nampak letih. Merasa bersalah jika dirinya telah memeras tenaga mereka yang mungkin saja berlebihan.


"Terimakasih, boss," sambut Ossa merasa lega.


"Kamu boleh istirahat," ucap Zoan menyuruh pergi Ossa dengan halus.


"Iya, boss. Permisi," pamit Ossa seraya mengangguk. Lalu berbalik dan keluar dari ruang kerja si boss dengan lega. Tidak ada tegur kesalahan dari segala laporan yang telah dibuat dalam kerja. Itu adalah kepuasan dan ketenangan tersendiri baginya.


🕸


Niat untuk cepat masuk ke dalam kamar diurungkan. Bunyi hoek muntah dari kamar mandi luar di samping kamar, sangat jelas dan mencemaskan. Ossa tahu suara wanita muntah itu adalah Nola.


Ossa cukup lama menunggu. Sebab, Nola tidak membuka pintu saat Ossa mengetuknya. Dan akhirnya terbuka disusul Nola yang keluar dari dalam perlahan.


"Perutku sakit, Oss. Mual dan kepalaku pusing," keluh Nola. Menurut saat Ossa menuntun untuk kembali ke kamar.


"Mbak, jangan-jangan ada pengaruh pada kehamilanmu? Mungkin kamu kecapekan, mbak,," simpul Ossa khawatir.


"Nggak, Ossa. Aku nggak ingin kehamilanku kenapa-kenapa. Kurasa hanya kecapekan saja," jawab Nola dengan meringis. Kini telah direbahkan Ossa di ranjang.


"Mbak Nola sudah makan?" tanya Ossa.


"Sudah, Oss. Sebetulnya tidak selera, tapi demi kandunganku, kujejal saja asal masuk. Tapi justru keluar lagi saat muntah," ucap Nola naampak lemah.


"Mbak, punggungnya kugosok minyak sambil kupijat sebisaku ya,," tawar Ossa. Seraya membuka tas kerja dan mengambil minyak kayu putih.

__ADS_1


Nola yang memang suka dipijat, tanpa menjawab segera memiringkan badan. Melepas kemeja di sisi sebelah dengan cepat.


Ossa segera mengoles rata punggung mulus Nola dengan lembut dan merata. Kemudian dipijat dengan sisa tenaganya yang lelah. Ossa melakukan dengan pelan hingga datang kantuk menyerang.


"Sudah enakan, mbak?" tanya Ossa berharap.


"Iya, Oss. Sudah mending, nggak pusing lagi." Nola menarik selimut lebih tinggi. Kemejanya sudah dipasang kembali.


"Ossa,," panggil Nola. Kini sudah merebah terlentang ke atas.


"Ada apa, mbak?" Ossa menoleh. Telah duduk di tepi ranjang dan berniat akan pergi ke kamarnya.


"Pesenku buat kamu, Oss. Secinta apapun sama pacar kamu. Senafsu apapun dengan pacarmu. Satu saja prinsipmu, jangan mau ditiduri sebelum dinikahi ya, Oss. Nanti kamu nyesel setengah mati kayak aku."


"Serba salah. Yang bikin, sudah kuanggap mati. Tapi nggak tega bikin mati anaknya. Juga terasa terhukum dengan membawa anaknya tetap hidup. Kamu jangan sampai sebodoh aku ya, Oss. Carilah lelaki baik-baik. jangan yang brengsek atau pun yang tidak jelas." Nola berbicara memandang Ossa dengan air menumpah dari kedua matanya.


"Mbak Nola, sabar ya. Semangat. Di ambil hikmahnya saja. Tidak semua wanita sanggup sepertimu. Nggak semua wanita bisa sekuatmu. Mbak Nola hebat kok. Mbak Nola adalah wanita yang dipilihNya untuk menjalani hidup sehebat ini. Sekarang kan udah dapat pengalaman dan ilmunya. Harus kuat dan semangat. Dan cukup sekali mendapat pelajaran seperti ini. Sabar ya, mbak,,," ucap Ossa berusaha memberi spirit untuk Nola.


"Terimakasih, Oss. Kamu tidak pernah menyudutkanku. Itu sangat menghiburku. Aku sudah enakan kok, Oss. Kamu istirahatlah sana," kata Nola seraya menepuk pelan paha Ossa.


"Iya, mbak. Mbak Nola istirahat ya. Kalo perlu apa-apa, panggil aku. Atau telpon saja ya, mbak." Ossa berdiri dari duduknya. Berjalan mundur ke pintu.


Nola mengangguk. " Iya, Oss. Jangan khawatir," ucap Nola tersenyum. Memandang Ossa yang kemudian berbalik badan. Membuka pintu kamar dan keluar.


Perut dan kepalanya masih terasa agak sakit. Tapi berbicara dengan Ossa, ada sedikit semangat dan ketenangan yang dirasa.


Tidak munafik, meski terlihat diam, Nola sebenarnya sedang merasa ketakutan dan keresahan akan hidup yang sedang menanggung aib dan beban.


Sedang oran tua yang sebenarnya cukup kaya raya, telah mencoret dirinya sebagai ahli waris keluarga. Mengingat betapa kecewa dan marahnya orang tua. Menganggap Nola sebagai anak perempuan durhaka. Sebab lebih memilih lelaki tidak jelas daripada aturan orang tua.

__ADS_1


🕸🕸🕸


__ADS_2