Boss Pengganti Di Penginapan

Boss Pengganti Di Penginapan
79. Berpisah


__ADS_3

Perbincangan mereka telah tamat saat Ossa kembali dengan dua cangkir teh serta camilan ringan di nampan. Menyuguhkan beserta nampan tanpa menurunkan cangkir dan camilan. Arzaki terbiasa memintanya begitu. Berharap agar Ossa bisa sedikit terbantu. Kecuali jika memperlakukan para tamu.


Setelah mereka bertiga kembali berbincang ringan sambil menghabiskan teh serta camilan, Ayunda kembali ke lobi. Wanita cantik yang masih berperang dengan sang suami itu ingin mendapat sebuah kamar untuk semalam pada Nola. Menolak arahan Arzaki untuk menginap saja di rumah utamanya.


Sebenarnya bukan tidak mau, tapi Ayunda tidak ingin sebak jika memori bersama almarhum istri dan anak-anak Arzaki diingatnya. Merasa salut pada Arzaki yang baginya sangat kuat menghadapi musibah dan cobaan.


Bahkan pria tampan itu sudah nampak cerah dan juga sangat fokus. Bukan termenung tidak nyambung dengan pikiran yang kosong. Tapi Arzaki nampak sigap dengan radar penuh di kepalanya saat berbincang apapun.


Ayunda kembali ke teras yang hanya ada Arzaki menunggu. Ossa entah ke mana, mungkin sudah undur diri ke dapur.


"Mana Ossa, mas,,?!" tanya Ayunda pada Arzaki. Nampak membawa sesuatu di tangannya.


"Ke dapur," sahut Arzaki dan ikut berdiri.


"Ngapain sih ke dapur terus. Dia itu istri apa pembokat sih,," sahut Ayunda menggerutu. Arzaki sedikit tersenyum sambil mengacak rambutnya sendiri.


"itulah, dia keras kepala. Maunya begitu, ya biar saja. Asal merasa senang," sahut Arzaki pasrah.


Ayunda melangkah cepat menuju dapur. Membawa bungkusan tebal itu untuk diberikannya pada Oqtissa. Merasa jika gadis pesisir itu pasti akan suka.


"Apa ini, mbak?" tanya Ossa saat Ayunda menyerahkan bungkusan serupa kado itu padanya.


"Dari mass Zoan. Dia belikan ini untuk kamu pas umroh kemarin," jelas Ayunda dengan tersenyum.


Ossa menerima dengan ragu dan terkejut. Tapi Ayunda mengangguk meyakinkan dan semakin menyodor bungkusan itu padanya.


"Eh, iya. Terimakasih ya mbak," Ossa menerima dengan perasaan yang masih terkejut. Merasa bersyukur, Ayunda datang saat pawang dapur tidak berkuasa di tempatnya. Wanita itu sedang mencuci banyak sayuran di belakang. Tidak akan ada wawancara untuknya.


"Ossa, simpan dan pakai ya.. Eh, aku sekalian pamit, mau ke pulau Kelapa Dua, lihat penyu. Kamu ikut?" tanya Ayunda ramah pada Oqtissa.


"Iya, mbak... Aku nggak bisa ikut. Hati-hati ya. Selamat berlibur. Kapan kembali ke sini?" tanya Oqtissa.


"Petang nanti juga pulang ke sini. Tapi besok pergi lagi ke pulau lain,,," jelas Ayunda.


Ossa hanya mengangguk tersenyum. Menilai jika kehidupan Ayunda masih bahagia meski sedang dalam prahara pernikahan. Mungkin sebab tidak kurang dalam segi keuangan. Dan akan lain cerita jika Ayunda tidak dalam serba cukup-cukup.


🕸🕸


Satu minggu kemudian..

__ADS_1


Oqtissa telah mengemasi sebagian baju dari almari untuk diletaknya dalam koper. Bersiap pergi ke bandara pagi ini. Melakukan penerbangan menuju ke Bandar Seri Begawan bersama Arzaki.


Meski rasanya sedih, sekali lagi dengan masa depan yang jadi tanda tanya, Ossa selalu menuruti Arzaki apapun katanya. Sebab merasa berhutang terutama kepada adik lelakinya. Yang entah di mana sekarang dia berada. Zoan sama sekali tak ada terdengar kabarnya. Hanya cerita yang sempat dibawa Ayunda itu sajalah yang Ossa tahu.


Mobil yang membawa Oqtissa dan Arzaki, berlalu dengan diiringi lambaian tangan Nola dan Murni. Mereka kembali berpisah setelah sempat saling menangisi. Meski tahu kepergian Ossa tidak lama dan mungkin cepat kembali, tapi mereka bertiga tetap merasa sangat sedih sekali.


Namun selip lega ada di kepala Ossa. Murni telah mendapat seorang teman dapur yang nampaknya cukup baik. Koki lelaki yang terlihat gesit dan tangkas. Cocok sekali berpartner dengan Murni.


Untuk Nola, Arzaki telah menaikkan sedikit salarynya. Demi memberi tunjangan kehamilan serta memberi lebih semangat. Juga seorang pegawai baru lelaki yang menemani berjaga di lobi.


"Apa semua bajumu kamu bawa?" tanya Arzaki pada Ossa yang duduk bersamanya.


"Tidak, pak, hanya sebagian. Koper saya agak kecil, hanya muat sedikit. Lagipula seperti saya tidak kembali ke penginapan saja.." Ossa menjawab dan kemudian menunduk. Galau sangat hatinya.


"Bagaimana perasaanmu, Ossa. Kenapa kamu tidak pernah bercerita apapun padaku?" tanya Arzaki dengan menyandar santai di kursi.


"Saya,,, sebenarnya,,, ingin menanyakan ini agak lama, tapi segan. Maaf sebelumnya, ya pak. Anda sudah nampak sehat, tapi kenapa tidak menalak saya? Kapan itu, pak?" tanya Ossa dengan menatap Arzaki berani.


Arzaki nampak terkejut. Meski ini sudah sangat dipikirnya, tapi jika Ossa tiba-tiba berani bertanya, rasa hati serasa terhentak. Lelaki itu terdiam tak menjawab.


Semakin mendekati bandara, perasaan yang mulai tenang dan nyaman, terasa kian mengganjal. Seperti merasa enggan tiba-tiba untuk merealisasikan keputusannya. Tapi semua adalah demi orang-orang yang disayang dan masih ada di dunia.


"Kapan bapak akan menceraikan saya?" tanya Ossa dengan cepat. Mata jernih itu nampak berbinar memandang.


Arzaki menatap Ossa agak lama, kemudian berpaling muka dan terdiam. Pandangannya kepada sang sopir di depan. Arzaki beberapa kali nampak menciduk matanya di kaca pemantau penumpang. Sopir berulang kali memandang ke arahnya di belakang. Sopir yang mengantar kali ini adalah Aldi, mantan sopir kesayangan adiknya.


Memandang Aldi, kian mengingatkan pada Arzaki betapa baik dan sayang sang adik kepadanya. Juga telah mempertebal rasa malu, sesal, dan bersalahnya pada Reizoan Azril, adiknya yang telah merelakan segalanya untuk Arzaki.


🕸🕸


Mereka telah sampai di bandar udara Soekarno Hatta saat sebuah pengumuman menyambut, jelas terdengar. Arzaki berdiri dekat di samping Oqtissa.


"Ossa, ini tiketmu. Untuk tujuan Semarang sudah diminta chek in." Arzaki berkata dengan suara dalam dan lirih. Namun ketajaman telinga Ossa tidak pernah berkurang sidikit pun.


"Tiketku? Ke Semarang?" tanya Ossa terkedu tak berkedip.


Arzaki memandang Ossa lekat dan mengangguk. Tidak munafik jika merasa sangat berat melepaskan Oqtissa. Mengingat bagaimana interaksi dan sumbangsih gadis itu dalam mengurusinya selama ini. Jujur, entah devinisi rasa yang bagaimana lagi, Arzaki terlanjur merasa tenang jika ada Ossa bersamanya.


"Saya terbang ke Semarang dengan Anda?" tanya Ossa dengan mimik yang heran.

__ADS_1


"Kamu ke Semarang sendiri, Ossa. Sedang aku ke Brunei Darussalam juga sendiri. Kita berpisah di sini,," ucap Arzaki. Suaranya terdengar mulai kaku.


"Maksud pak Arzaki, apa??" Ossa sedikit menyangka, namun serasa takut jika sangkaannya tidak benar.


"Ossa,," ucap Arzaki.


Tangan Arzaki menyentuh pundak Ossa, lalu meraih bahu dan menariknya mendekat. Arzaki memeluk Oqtissa dengan cepat.


"Kuharap, kamu bahagia setelah ini. Maaf jika selama ini kamu merasa tersiksa, terpaksa dan tidak bahagia." Suara Arzaki terdengar sendu saat berbicara. Ossa terdiam kaku kebingungan.


"Terimakasih kamu telah sungguh-sungguh merawatku, Ossa. Maaf jika aku ingkar janji, tidak segera melepaskanmu saat aku sudah pulih. Maafkan aku, Ossa,"


"Aku telah mengisi akun bankmu dengan jumlah yang cukup. Semoga kamu tidak merasa kurugikan, Ossa. Anggap saja itu adalah kompensasi dariku,"


"Kita selesai di sini, Ossa. Jaga dirimu. Aku lepaskan kamu dengan ikhlas. Terimakasih," ucap Arzaki sambil melepaskan Ossa dari pelukan.


"Maksud Anda, kita sudah..." Oqtissa tak kuasa meneruskan bicara. Merasa dadanya jadi sebak tiba-tiba. Tapi sekaligus merasa lega luar biasa.


"Iya, Ossa. Kita tidak lagi menikah, kita sudah berpisah. Aku bukan suami kamu dan kamu juga bukan lagi istriku. Kita bercerai, aku menceraikan kamu, Ossa.. Dan Rama akan menguruskan hal kita ini dengan jelas,," ucap Arzaki menerangkan.


"Pak, saya sangat terkejut. Tidak menyangka,, tapi Anda baik-baik saja kan??" tanya Ossa dengan risaunya.


"Tentu saja aku akan baik-baik saja," ucap Arzaki nampak tersenyum.


"Pak, maafkan saya. Maaf jika bapak sering merasa tidak suka dengan cara saya dalam merawat." Ossa berkata dengan suara yang sedih.


"Sama-sama, Ossa. Akupun minta maaf jika sering membuatmu kesal. Tapi kamu merawatku sangat baik," ucap Arzaki lirih.


"Tidak, pak. Saya tidak pernah merasa kesal. Saya juga minta maaf dan justru sangat berterima Ä·asih pada Anda, pak Arzaki..." Ossa berkata lirih. Menunduk merasa haru dan sedih.


"Baiklah, Ossa. Kamu segeralah check in. Sebentar lagi pesawatmu lepas landas,," ucap Arzaki. Tangannya menunjuk ke satu antrian yang tidak jauh dari mereka berdiri.


"Pak, tapi untuk apa saya ke Semarang?" tanya Ossa nampak bingung.


"Zoan akan menjemput. Kamu bekerjalah pada adikku,," ucap Arzaki. Sambil berjalan membawakan koper Oqtisa di antrian.


Ossa terkesiap, tidak lagi bertanya. Jika menyebut Zoan, rasanya segan sendiri pada Arzaki. Ossa segera berdiri menyambung di Antrian bersama koper kecilnya.


Arzaki menjauh namun masih mengawasi. Mungkin lelaki itu akan terbang dengan pesawat yang jauh lebih lambat dari pesawat yang akan membawa Ossa ke Semarang.

__ADS_1


🕸🕸


__ADS_2