
Meski cahaya lampu terang benderang, rasanya sungguh sunyi. Zoan tidak juga kunjung keluar dari ruang kerja di sebelah kamarnya. Ossa meneguhkan hati untuk terus menunggu hingga boss Zoan keluar dari ruang kerjanya.
Ceklerk,,!
Kesabaran yang lulus uji, tentu membuahkan hasil. Ossa merasa lega saat Zoan nampak keluar dan memandangnya dengan heran. Tapi hanya sebentar lega yang dirasa. Mendadak hatinya berdebar resah saat Zoan berjalan kian mendekat. Ditenangkan hatinya sesantai mungkin.
"Boss Zoan, saya menunggumu. Ingin mengambil paketan-paketanku. Ini sudah sangat malam," ucap Ossa dengan nada sesopan mungkin. Berharap Zoan segera mengambilkan barangnya.
Zoan tertegun sejenak. Tidak menyangka jika Ossa ternyata benar-benar tinggal sendiri menunggunya. Merasa heran dengan perempuan. Hampir semuanya sangat menyukai berbelanja hal yang remeh. Merasa penasaran dengan apa saja yang telah dibeli oleh pekerjanya yang nampak polos itu.
"Sebenarnya, apa yang sudah kamu beli?" tanya Zoan berhenti melangkah.
"Saya membeli barang yang kuperlukan,," jawab Ossa sekenanya.
"Ambillah di kamarku," ucap Zoan kembali mengulang kalimat yang sama.
Ossa merasa sudah kebal mendengarnya. Mungkin juga fakta yang baru didengar tentang lelaki itu barusan, mengusir rasa cemasnya yang besar pada Reizoan. Ossa merasa tidak begitu was-was lagi seperti awal-awal menemui Zoan di tempat yang sama sore tadi.
"Ambillah, Ossa," ulang Zoan meyakinkan. Mendapati keraguan pada mata bening yang polos gadis itu.
"Boss Zoan, maaf. Sebetulnya,, kenapa anda mengambil barangku dari pak satpam?" tanya Ossa. Terus terang jika dirinya heran dengan kelakuan Zoan yang cukup mengherankan hari ini.
Zoan acuh tidak menjawab. Mengambil langkah neninggalkkan Ossa dan menuju ke dalam kamarnya.
Ossa ragu sesaat. Tapi pintu kamar tidak ditutup oleh Zoan. Bagaimana ini..
"Ossa,,!!" suru Zoan terdengar dari dalam kamar tiba-tiba. Membuat keraguan Ossa menguap sebagian. Dan bergegas menyusul pemilik kamar ke dalam.
Ossa seperti sedang senam jantung saja rasanya. Kamar Zoan sangat remang-remang. Namun hanya sebentar. Kamar telah berubah terang benderang seketika. Zoan baru saja menyalakan lampu di kamarnya.
__ADS_1
"Maaf, boss Zoan. Di mana barangku?" tanya Ossa buru-buru. Rasanya begitu segan, merasa sangat lancang telah memasuki kamar bossnya. Meski si boss sendirilah yang menyuruh.
"Lihatlah kamarku dengan saksama, Ossa," ucap Zoan tanpa disangka.
Ossa mendengarnya dengan jelas. Meski merasa sedang nervous, diikuti apa yang Zoan baru katakan padanya.
Degh,,! Ossa terkejut, sekaligus rasa miris menyumpal di dadanya. Kamar Zoan sangatlah berantakan. Banyak buku-buku bertabur di meja ranjangnya. Tempat tidur dengan selimut dan cover berserak dan acak-acakan. Beberapa baju berhamburan di lantai dan ranjang.
Ossa benar-benar tidak paham, kenapa bisa kamar lelaki yang begitu tampan sempurna itu sangat parah acakadul..? Apa ini maksud Zoan yang terus menginginkan dirinya masuk ke dalam kamar?
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Zoan. Lelaki itu memandang Ossa dengan tetap berdiri di tempatnya. Mungkin khawatir sendiri jika Ossa akan merasa tidak nyaman dan takut.
"Boss Zoan, kenapa kamar tidurmu sejorok ini?" tanya Ossa terus terang. Namun tidak munafik jika kamar ini sangat wangi dan segar. Zoan pasti memasang beberapa pengharum ruangan di kamarnya.
"Apa kalian pernah mengemaskan dan membersihkan kamarku?" tanya Zoan melempar kembali pertanyaan.
Ossa tidak menjawab. Merasa ragu. Sebab setahunnya memang tidak pernah. Bahkan tidak terfikir untuk menjamah. Selama ini, bu Arzaki lah yang membersihkannya sendiri. Dan sekarang,, meski Zoan sudah kelewat dewasa dan mampu mengurus dirinya, tapi Ossa merasa bersalah.
"Tapi aku lelaki yang sangat sibuk. Atau anggap saja aku adalah lelaki yang sangat malas,"
"Aku hanya tidak terbiasa, Ossa. Di Semarang, para pekerjaku sangat memperhatikan diriku dan kamarku. Rumahku juga berhimpit dengan penginapan. Ya seperti ini, hanya milikku lebih besar lagi dari yang ini."
Zoan menjelaskan dengan nada penuh maksud. Ossa paham dan tanggap. Ada iba pada Zoan, boss pengganti yang diabaikan. Atau,, bisa jadi boss pengganti itu adalah boss mereka yang sesungguhnya,,? Ossa merasa kian bersalah.
"Kenapa boss Zoan, diam saja? Kenapa tidak menyuruh kami?" tanya Ossa bertubi.
Gadis itu bergerak begitu saja. Mendekati meja dekat ranjang. Merapikan buku-buku dengan cepat dan menumpuknya sangat rapi. Membenarkan cover busa dan melipat selimut dengan luar biasa cepatnya.
Zoan memandang penuh takjub. Pengakuan Ossa bahwa dirinya lulus perhotelan waktu itu, sangat rekomendasi dan bisa dipercaya.
__ADS_1
Dari ranjang, turun dengan menyambar baju-baju berserakan. Yang dilantai juga diambil dan di bawa ke kamar mandi. Yang ternyata, sudah ada baju kotor milik Zoan lainnya yang menumpuk di pojokan. Ossa tidak ragu untuk menambah tinggi tumpukannya. Dan bergegas keluar dari kamar mandi.
"Boss Zoan, baju kotormu menumpuk sangat tinggi. Besok saja kucucikan. Atau juga mbak Nola yang akan membeesihkan kamar ini. Anda tidak keberatan, kan?" tanya Ossa dengan senantiasa nada segan.
"Sebenarnya, untuk baju kotor, akan kubawa ke Laundry di kota. Tapi aku selalu lupa saja membawanya." Zoan memandang Ossa dengan tatapan yang sejuk.
"Untuk apa dibawa ke kota? Bukankah anda tahu, jika itu adalah pekerjaan kami? Boss Zoan jangan boros-boros. Nanti keuanganmu bisa devisit," ucap Ossa lirih mengingatkan.
Zoan hanya diam tanpa kata. Terus mengikuti gerak Ossa di kamarnya. Gadis itu sedang merapikan bantal-bantal sofa yang juga tidak berada tepat di tempatnya.
Ossa begitu heran dengan kenyataan, bahwa begitu berantakannya kamar Zoan. Sangat tidak sesuai dengan sikapnya saat awal datang pagi-pagi. Datang-datang marah dan menegur keras keadaan rumah yang berantakan saat itu. Ossa tersenyum diam- diam dengan terus menggumam dalam hati.
Oh, boss,,, memang seperti itukah sikap boss di mana-mana? Arrogant dan semena-mena pada pekerja rendahannya? Tidak dulu berkaca bagaimana yang benar dirinya. Iya,,,tapi tentu saja tidak semua seperti itu kan....
"Boss, mulai besok pagi, kamar ini akan kami rapikan sungguh-sungguh. Untuk sementara, biar seperti ini saja dulu ya. Sebab sudah sangat malam." Ossa menunjuk gelagat berpamitan.
"Ossa, terimakasih," ucap boss Zoan nampak segan.
Ossa merasa jika saat itu adalah peluang sangat bagus untuknya.
"Sama-sama, boss Zoan. Jangan pernah segan pada kami."
"Tapi, bisakah anda kasihkan barang onlineku sekarang juga?" tanya Ossa penuh harap dan cemas. Khawatir jika Zoan berniat mempermainkan. Tidak ada nampak paket satupun di kamar. Ossa terus mencarinya sambil berbenah dan berkemas. Tapi nihil saja dilihatnya.
Zoan tidak juga menyahut. Tapi bergerak maju menuju almari besarnya.
"Ini, Ossa. Maaf, telah membuat kamu bingung. Aku mengambil paketmu, sebab ingin berbincang hal tadi itu hanya dengan kamu saja. Tapi kamu tidak mau," Zoan kembali dari almari dan membawa beberapa bungkusan warna hitam. Diserahkan semua paket dari kurir kepada yang berhak membukanya.
"Tidak apa-apa, boss Zoan. Hari ini kami sangat merasa senang. Telah tahu dengan hal sepenting itu dari anda sendiri. Terimakasih, sudah bercerita semuanya pada kami," ucap Ossa dengan lembut.
__ADS_1
Zoan membungkam. Memandang Ossa yang sedang bersiap undur diri. Mereka saling pandang sejenak. Lelaki tampan itu perlahan tersenyum. Ossa terkejut sekali.
"Permisi, boss Zoan. Saya akan kembali ke kamar belakang. Sudah sangat malam. Assalamu'alaikum," pamit Ossa buru-buru. Dengan cepat berbalik dan laju mencapai pintu. Tidak lagi sempat mendengar sahut jawab salam dari Zoan. Ossa risau jika senyum Zoan yang mahal itu tiba-tiba menyihirnya. Membuatnya kaku berdiri di tempat. Tentu Ossa menghindari, tidak ingin hal konyol yang memalukan terjadi padanya.