Boss Pengganti Di Penginapan

Boss Pengganti Di Penginapan
47. Bersepeda di Kota Lama


__ADS_3

Ossa terus merangkul leher Zoan dengan posisi kedua kaki di samping. Juga kepala yang terus menyandar di dada leher Zoan. Sudah seperti sedang bermimpi saja perasaannya sekarang.


Gemuruh dalam dada semakin tak beraturan dengan nafas yang terasa kian sendat dan susah. Zoan terus meletak tangan di pinggang dan di punggung. Tidak ingin jika Ossa merubah posisi menjauh dan mendongak


"Tahan sebentar, Ossa. Sebentar lagi selesai. Apa badanku bau?" tanya Zoan dengan suara berbisik. Ossa terasa menggeleng dan masih terus memeluk. Mungkin justru merasa tidak enak hati dengan pertanyaan Zoan barusan. Sedang aroma Zoan sangat harum dan melenakan baginya.


"Kenapa kali ini sangat lama, boss Zoan? Biasanya kita cepat pergi setelah ada mufakat. Mintalah agar lebih cepat," protes Ossa lirih sambil terus menyandar. Dan susah payah Zoan menahan rasa geli di kulit lehernya. Nafas dan bicara Ossa sangat terasa hangat menerpanya.


"Sebentar dulu, Ossa,," bujuk Zoan sekali lagi. Ditepuknya punggung Ossa sekali.


Kemudian Ossa merasa jika Zoan tengah memegang sesuatu dengan sebelah tangan saja. Tangan sebelahnya terus menyandar di pinggang.


Kertas yang berisi ragam ketentuan itu telah selesai disimak dan kemudian ditanda tangani oleh Zoan dengan sebelah tangannya. Mengabaikan polah Jonas yang sudah tidak terkendali bersama wanitanya di sana. Juga pak Hari yang memangku wanita itu sambil berbincang sebentar dengan Zoan. Kemudian bersalaman sebab urusan sudah final. Zoan pun berpamitan singkat kepada pak Hari.


"Ossa, sudah selesai. Ayo kita pulang. Jangan pandang ke depan, kamu menunduklah saat berjalan dan keluar." Zoan membisik di kepala Ossa yang terus menurut untuk menyandar manis di lehernya.


Zoan berdiri sambil menurunkan Ossa yang juga cepat melepas rangkulannya. Ossa dan Zoan saling merenggang diri kembali. Namun Zoan kembali menyambar tangan Ossa untuk dipegang dan dibawanya keluar.


Ossa paham kenapa Zoan meminta untuk tidak memandang ke depan. Ossa menebak yakin sedang apa pak Hari dan pak Jonas bersama wanita di pangkuan mereka. Ossa pun sangat enggan menyaksikan.


Meski sudah keluar dari ruang privasi bar dan sedang turun ke lobi, Zoan tidak melepas genggaman tangannya pada Ossa. Dan gadis itu pun membiarkan dengan gemuruh debar di dada.


"Ossa, nego kita sudah goal untuk penginapan di Pulau Seribu. Apa hadiah yang kamu ingin? Aku sudah menanyakan padamu tadi," ucap Zoan menagih jawaban Ossa. Mereka telah melewati lobi dan keluar ke terasnya.


"Saya akan pikirkan sebentar, boss Zoan," ucap Ossa sambil menarik tangannya. Merasa segan, apalagi saat Zoan menatapnya, rasanya jadi malu. Entah apa maksud Zoan terus menggenggamnya. Kini mereka telah berada di area parkir hotel.


Zoan membiarkan Ossa menarik tangan dari genggamannya. Segera diposisikan diri di kursi kemudi. Ossa menyusul masuk dan duduk di sebelahnya. Zoan pun pergi meluncur meninggalkan zona hotel.


Ossa tidak sengaja melihat serombongan orang bersepeda di sebuah persimpangan Kota Lama. Sepeda yang dihias cantik dan unik itu sangatlah menarik. Sekelebat ide hadir di benaknya.


"Boss Zoan, boleh kuminta hadiahnya?" tanya Ossa memandang lelaki di sampingnya.

__ADS_1


Zoan menoleh berkerut dahi memandang. Juga juga melirik gerombol orang bersepeda di simpang seberang. Zoan sedikit tersenyum. Dan Ossa merasa jika akhir-akhir ini Zoan telah sering tersenyum di depannya.


"Hadiah apa yang kamu ingin, Ossa?" tanya Zoan kembali menoleh.


"Ingin naik sepeda hias," jawab Ossa tersenyum. Kembali memandang gerombol pesepeda yang mulai menjauh dari simpang.


"Yang tunggal apa dobel?" tanya Zoan memandang pada Ossa.


"Emm, yang dobel,," jawab Ossa membuang mukanya ke samping. Wajah Ossa pias dengan jawabannya sendiri. Zoan kembali tersenyum.


"Kita boncengan?" tanya Zoan tanpa berusaha menutupi senyum menawannya.


"Iya,, apa boss Zoan keberatan?" tanya Ossa nampak segan.


"Tidak. Tapi apa kamu yang membonceng?" tanya Zoan ingin bercanda.


"Apa tidak malu? Aku jauh lebih kecil darimu. Lalu apa gunanya badan besarmu itu?" sahut Ossa menimpali candaan boss tampan di penginapan.


Zoan telah menepikan mobil di salah satu bahu jalan. Ada berderet kendaraan yang terparkir di sana. Seorang pawang parkir laju mendekatinya.


"Ingin ke mana, mas?" tanya kang parkir sambil mengulur sebuah kartu parkir pada Zoan.


"Ingin menyewa sepeda hias, mas," jawab Zoan pada kang parkir.


"Oooo,,, tunggu sini saja, mas. Kubilang temanku." Kang parkir berkata sambil memasang ponsel di telinganya.


"Sebentar lagi, mas. Sabar," ucap kang parkir setelah mengoneksi seorang teman pemilik sewa sepeda hias. Zoan hanya diam sambil mengajak Ossa untuk lebih menepi sebentar.


Tidak berapa lama, seorang pria nampak datang dengan menaiki sebuah sepeda hias yang unik dan menarik. Dihias dari ujung roda depan hingga pucuk roda di belakang. Dengan berbagai untaian bunga dan kertas-kertas warna yang mengkilat.


Zoan mendekati dan segera menyambutnya. Nampak bertranksaksi dengan mudah dan cepat tanpa perlu menego sepatah pun. Zoan lekas menaiki sepeda yang telah disewanya.

__ADS_1


Triiiiing...!! Triiiiing...!! Triiiiing..!! Triiiing...!!


Zoan bersepeda memutar sambil membunyikan bell sepeda berulangkali. Memberi kode pada Ossa untuk menghampiri di boncengan. Zoan telah menghentikan sepedanya.


"Boss Zoan, kamu kuat?!" tanya Ossa merasa ragu. Ingat jika Zoan baru saja sembuh dari sakit.


"Lekaslah, Ossa. Aku sedang semangat, rasanya sangat sehat. Ayolah,,! Habis ini kita ada pertemuan lagi!" seru Zoan memerintah. Merasa tidak sabar dengan ekspresi Ossa yang ragu.


"Iya, saya naik,,!" sambut Ossa dan duduk di boncengan dengan pelan.


""Pegangan Ossa!" seru Zoan. Merasa kurang aman jika orang yang dibonceng tidak berpegangan. Dan terasa samar saat Ossa sudah memegang kemeja di punggungnya.


Zoan membawa sepedanya meluncur mengitari kawasan Kota Lama Semarang. Sangat mengasyikkan rasanya. Hal menyenangkan yang sudah terlalu lama tidak dirasakan dan bahkan tidak pernah terpikir untuk kembali dilakukan.


Yang diingat, Zoan menyewa sepeda hias terakhir kali bersama teman-teman saat masih duduk di bangku SMP. Saat belum dituntut untuk peduli pada penginapan oleh almarhum orang tuanya.


Tidak terasa, sepeda itu telah memasuki taman indah Srigunting. Rasanya sangat lelah, bahkan bernafaspun sudah susah.


"Ossa kita istirahat sebentar,,!" seru Zoan sambil berhenti di pinggir. Ossa pun turun dan berdiri menepi.


"Boss Zoan, tunggulah! Kubelikan minuman di sana,,!" kata Ossa sambil menunjuk sebuah gerobak yang menjual banyak minuman botol dan kaleng. Zoan nampak banjir keringat tiba-tiba. Wajahnya hingga menetes air keringat, bahkan baju di punggung Zoan telah basah.


"Iya,,,Ossa. Aku sangat,, haus,,," sahut Zoan tersendat.


Ossa bergegas meninggalkan Zoan dan tidak lagi menolehnya. Namun masih sempat didengarnya bunyi dering panggilan dari ponsel Zoan. Selebihnya tidak tahu lagi dari siapa panggilan itu. Ossa telah sangat menjauh dan kini hampir tiba di gerobak minuman.


Dua botol minuman sudah dibawa berjalan tergesa di tentengan. Merasa iba mengingat Zoan yang nampak sangat kehausan dengan banjir keringat di wajah tampannya yang pucat.


Namun, apa yang sedang nampak itu membuatnya was-was dan cemas. Ada apa dengan lelaki itu..


Zoan duduk menggelosor dengan sepeda hias yang sudah terpelanting tidak jauh darinya. Zoan sedang menunduk dalam-dalam dan nampak gerak guncang di kepala dan bahunya. Sepertinya lelaki itu sedang menahan tangisan. Ossa berjalan cepat menghampiri. Ingin segera menyelidik dengan apa yang sedang terjadi pada Zoan. Boss penginapan itu terlihat begitu menyedihkan..

__ADS_1


🕸🕸🕸🕸🕸🕸


__ADS_2