Boss Pengganti Di Penginapan

Boss Pengganti Di Penginapan
76. Selingkuh


__ADS_3

Meski bibir pernah menolak dan berkata itu salah, tapi dalam hati mengharap diam-diam. Ossa melewatinya di pintu dengan hati berdebar.


Zoan menutup pintu dengan pelan dan mengikuti Ossa di belakangnya. Mengawasi gadis yang nampak gugup saat meletak baki berisi gelas jahe di meja. Zoan merasa serba salah bagaimana harus bersikap padanya.


Ossa telah berbalik dan memandang Zoan dengan segan. Zoan pun memandangnya dengan tatapan yang dalam. Mereka saling mengunci pandangan cukup lama.


Menuruti hati, ingin sangat rasanya menubruk lelaki itu. Tapi Ossa tidak diminta memeluk seperti biasanya. Zoan seperti magnet yang begitu kuat menariknya meski lelaki itu hanya diam saja di tempat.


Ossa berkedip, serasa terpaku kakinya di lantai. Kemudian menunduk, merasa tidak sanggup lagi menatap.


"Boss Zoan, aku akan keluar. Permisi,," pamit Ossa kemudian. Merasa segan untuk berdiam lama tanpa ada apapun yang perlu dibicarakan, apalagi dilakukan.


Ossa berjalan menuju pintu dengan pelan. Merasa kecewa pada Zoan yang terus saja diam tanpa berkata sepatah pun. Begitu sedih rasanya dan seperti ingin menangis tak tertahan.


"Ossa,,!" seru Zoan tiba-tiba dengan lirih. Kaki Ossa yang berjalan gontai seketika berhenti. Ossa berdebar kencang kembali seketika. Sangat yakin bahwa Zoan bermaksud menahannya barang sejenak di kamar. Adalah ingin Ossa yang terpendam saat itu..


"Jangan keluar. Tunggulah, bawa sekalian cangkir ini," ucap Zoan menahan. Ada tatap harap di matanya. Lelaki itu kemudian duduk di sofa dan mengambil gelas bertutup dari baki.


Zoan menyeruput sedikit. Tidak langsung dihabiskan. Memandang Ossa kemudian, gelas itu masih dipegangnya.


"Bagaimana rumah tanggamu?" tanya Zoan dengan sedikit keras, tidak selirih biasanya. Ossa terlihat bingung dengan pertanyaan itu.


"Rumah tangga? Maksudmu, aku dan pak Arzaki?" tanya Ossa tak begitu mengerti. Bagamana bisa Zoan bertanya hal seperti itu padanya.


Zoan menatap dengan lama, lelaki itu tidak terus menjawab. Kemudian meneguk lagi isi gelasnya sedikit.


"Apa mas Arzaki ingin melanjutkan pernikahan kalian?" Zoan bertanya dengan berusaha biasa saja. Padahal hatinya sangatlah ingin tahu hal itu.


Ossa nampak sedang menggeleng.


"Tidak mungkin pak Arzaki ingin melanjutkan pernikahan ini. Dia sangat mencintai keluarganya. Aku hanya berguna sebagai perawatnya saja," sahut Ossa lirih dan terlihat sedih. Tapi Zoan mengartikan lain jawaban dan ekspresi sedih Oqtissa.


"Ossa, apa kamu ingin menjadi istri mas Arzaki yang sesungguhnya??" tanya Zoan tanpa segan.


"Apa,???" pekik Ossa bertanya. Tidak mengerti apa yang dimau Zoan dari pertanyaannya.


"Apa diam-diam kamu berharap menjadi nyonya Arzaki hingga kapan pun? Itulah maksudku," tanya Zoan yang bagi Ossa terdengar sangat sengit.


"Aku,, jadi boss Zoan pikir aku seperti itu? Kamu tahu? Bahkan jika pak Arzaki menceraikan aku sekarang pun. Aku akan pergi dari penginapan malam ini juga!" Ossa berkata denga cepat dan membalas sengit juga pada Zoan.


"Kenapa kamu tidak meminta bercerai?" tanya Zoan dengan nada berubah lembut tiba-tiba. Entah apa sebab begitu, Ossa tidak tahu.


"Apa akan tega? Pak Arzaki nampak sangat bersemangat untuk sehat sempurna sedia kala. Aku takut jika suasana hatinya akan terganggu. Aku tidak lupa dengan sedih jiwanya saat ini," ucap Ossa tersendat dan lirih. Merasa hatinya begitu sedih. Antara memikirkan Arzaki dan juga dirinya sendiri.


"Kenapa kamu seperti mendesakku untuk cepat bercerai?" tanya Ossa dengan pandangan nanar pada Zoan.


Mata indah bening itu berkaca-kaca. Begitu berharap jika saja Zoan mengatakan sesuatu yang membuatnya bahagia dan bersemangat. Akankah,,, adakah,,, mungkinkah Zoan memiliki sedikit rasa saja untuknya? Tapi bukan rasa memiliki terhadap seorang harem..


Zoan tidak bisa menjelaskan pertanyaan Ossa padanya. Zoan pun tidak mengerti. Hanya sedang merasa menjadi lelaki yang lemah dan egois.


Disatu sisi, ingin mengikuti apapun keinginan Arzaki. Ingin kakak lelakinya merasa nyaman dan tenang pada apapun yang dipilih serta dilakukan. Termasuk juga, jika ternyata Arzaki menginginkan bersama Ossa selamanya.

__ADS_1


Disisi lain, Zoan pun juga berharap Ossa bisa cepat terbebas. Merasa kasihan dengan gadis polos yang baik itu. Seperti iba dan tidak rela jika hidup Ossa sampai berakhir dengan tidak bahagia. Zoan ingin Oqtissa bahagia.


Tapi Zoan juga tidak bisa melakukan apapun demi Ossa. Zoan tidak yakin tindakan tepat bagaimana yang patut dilakukannya untuk Ossa. Jalan yang dipilihnya adalah sama dengan Ossa, pasrah pada keputusan Arzaki. Satu-satunya saudara yang dimiliki dan sangat disayangi.


Sebab itulah, Zoan pun berusaha abai serta mengacuhkan Ossa demi menghempas angan dan hasratnya pada gadis itu. Menjaga jika Arzaki ternyata tidak jadi melepaskan Oqtissa yang sudah dinikahinya.


Tapi,,, saat ini Oqtissa sudah berada di dalam kamarnya. Berdiri di depan matanya sekali lagi. Ah,, sesak jiwa raga yang Zoan sedang rasa dan tahankan.


"Ossa, kenapa kamu sangat suka berdiri? Duduklah saja,," ucap Zoan amat lembut kali ini.


Ossa nampak ragu dan kemudian mengangguk. Duduk di sofa seberang Zoan yang tersekat dengan meja.


"Kamu sudah makan?" tanya Zoan. Gelas yang tadi masih dipegang, kini telah kosong dan diletak lagi di meja.


"Sudah, tadi kita bareng makan," sahut Ossa mengingatkan. Zoan nampak sedikit tersenyum.


"Iya, aku lupa, Ossa," ucap Zoan membenarkan. Zoan masih samar tersenyum. Senyum di wajah tampan itu serasa guyuran es segar bagi Ossa.


"Kamu bukan lupa, tapi tidak tahu. Kamu tidak mau melihatku," ucap Ossa meralatnya. Gadis itu kemudian menunduk.


Zoan tidak lagi tersenyum. Merasa tersentil dan sedih. Hanya dirinya yang tahu, betapa susah untuk menjaga mata dan hatinya saat bertemu kembali dengan Oqtissa. Biarlah Zoan simpan dalam-dalam di hatinya sendirian.


Tapi sekarang, setelah lama tidak bertemu, dan kini hanya berdua saja di kamarnya. Ah,, susah sekali memadam rasanya..


"Ossa, kemarilah," ucap Zoan setengah. Setengah meminta, setengah mengharap.


Mendengar ini, jantung Ossa berdetak tak karuan. Sudah paham sekali, jika sudah berkata-kata begitu, mungkin Zoan akan merayunya. Dipeluk?? Bisa jadi..


"Iyyaa,," Ossa tidak ingat lagi bagaimana menolak dengan ucapan. Hanya merasa suka dan teruja saat Zoan memintanya mendekat.


"Ahh,,!" jerit Ossa terkejut. Zoan telah menariknya untuk duduk di pangkuannya dengan cepat.


"Kenapa menjerit? Kamu takut atau terkejut?" tanya Zoan. Tangan besarnya sudah melingkar di pinggang dan perutnya.


"Aku sangat terkejut. Apa luka di perutmu sudah tidak sakit?" tanya Ossa dengan mimik khawatir.


"Sama sekali tidak sakit jika yang duduk ini kamu," jawab Zoan dengan senyum.


Nampak sekali raut cerah di wajah tampannya. Namun tidak dengan Ossa, gadis itu membuang muka dengan wajah pias dan merona.


"Gomball," timpal Ossa kemudian.


"Aku sungguh-sungguh," ucap Zoan meyakinkan.


"Apa kita sedang selingkuh?" tanya Ossa di luar topik tiba-tiba. Wajahnya nampak tegang menoleh pada Zoan.


"Hapuskan pertanyaan itu dari kepalamu jika sedang bersamaku, Ossa. Aku tahu ini dosa, biar aku yang menanggung," tegur Zoan. Kali ini nampak serius dan sungguh-sungguh.


"Apa seperti ini yang selalu kamu katakan pada tiap haremmu jika sedang bersama?" tanya Ossa. Kembali mengejutkan bagi Zoan.


"Tidak Ossa, tidak pernah. Sebab mereka seperti tidak merasa bersalah sepertimu," sahut Zoan apa adanya.

__ADS_1


"Dan kamupun tidak merasa bersalah seperti mereka?" tanya Ossa mengejar.


"Sudah, jangan meroastingku, Ossa. Biar yang diatas saja yang menilai perasaanku," sahut Zoan. Tangannya perlahan merambat ke punggung. Mengusapi punggung Ossa dengan lembut.


"Sudah hentikan. Tanganmu jangan begitu. Geli,," protes Ossa sambil berkelit. Tangan Zoan jadi terdiam dengan menempel di punggung.


"Auwh,,!" Ossa kembali menjerit.


Sangat terkejut sekali. Zoan telah berdiri dan mengangkatnya. Membopong Ossa dengan langkah cepat ke ranjang. Menghempas lembut gadis itu di sana. Zoan cepat menyusul dengan membanting diri juga di ranjang empuknya. Entah apa niat Zoan pada Ossa selanjutnya.


"Jangan kejauhan... Aku takut,," rengek Ossa.


Zoan telah membelit dengan kepala Ossa yang terbenam di dada luasnya. Merasa jika seluruh tubuh sedang tenggelam di pelukan Zoan yang hangat dan nyaman. Mengabaikan sejenak resah jiwa sebab rasa bersalah dan berdosa.


"Sedikit saja Ossa, hanya diam seperti ini," bisik Zoan merayu.


Ossa hanya diam berdebar kencang dengan tangan berpeluk pada Zoan. Mereka saling memeluk menghangatkan.


"Tidak, aku tidak mau..!" Ossa kembali memekik kecil. Zoan yang merasa puas menciumi kening dan kepala, berusaha mencium di pipi sekaligus di bibirnya.


Ossa berontak kuat, namun jauh tak sebanding dengan tenaga Zoan yang hebat . Dalam hitungan detik saja, Ossa telah dikaramkan oleh Zoan. Terseret kalap dalam ciuman yang panas bersama.


Gadis polos itu telah rela melepas original kissnya pada lelaki yang disuka..


Tok,,!! Tok,,!! Tok,,!!


"Boss Zoanhh.. Ada oranghh,," ucap Ossa terengah setelah susah payah melepas diri dari paguttann Zoan.


Boss pengganti begitu santai tak peduli. Seolah telinganya sangat tuli dari ketukan keras di pintu. Bahkan kini masih menenggelamkan Oqtissa di pelukan hangatnya.


"Mas Zoan, aku takut sekali. Bagaimana jika itu pak Arzaki?!" tanya Ossa panik. Kembali mendorong Zoan dan gagal sekali lagi.


"Kamu takut?" tanya Zoan. Ossa mendongak mengangguk.


"Jika kamu takut, jangan pernah datang lagi ke kamarku. Mungkin lain kali, aku tidak akan melepaskanmu." Zoan berbicara lirih di rambut kepala Ossa. Lalu menciumi rambut dan kepala wangi itu beberapa kali.


Zoan tiba-tiba melepas Ossa dan bangun, melompat turun berdiri di lantai.


"Auwh.." Ossa kembali memekik lirih saat Zoan kembali mengangkatnya dengan cepat.


Membawanya ke pintu dan menurunkan perlahan. Memandang Oqtissa sejenak.


"Rapikan baju dan rambutmu," bisik Zoan.


Ossa sedang melakukan ucapannya saat Zoan berjalan ke meja, mengambil nampan dan gelas.


"Sudah rapi," bisik Zoan. Mengulurkan nampan pada Ossa.


Tok..! Tok...! Tok...!!


Ceklerk..

__ADS_1


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ˜‚πŸ˜πŸ˜ƒπŸ•ΈπŸ•Έ


__ADS_2