
Orang tua yang nampak bijak itu memandang Ossa dengan penuh penyesalan di depan pintu. Merasa iba tapi tidak mampu memberi bantuan yang berarti apapun.
"Maaf ya, Ossa. Bapak hanya memiliki dana segitu. Jika sewaktu-waktu perlu. Kamu datang saja. Barangkali pak Karman bersedia diangsur dengan jumlah itu," ucap pak Imam sekali lagi sebelum dua tamu muda itu benar-benar berlalu.
"Iya, pak. Saya sangat berterimakasih. Jika pak Karman membolehkan, saya akan datang lagi ya, pak," sambut Ossa dengan sopan.
"Assalamu'alaikum. Mari, pak," pamit Ossa dan Mita pada pak Imam.
"Wa'alaikumsalam!" sambut pak Imam sambil terus berdiri di pintu rumah besarnya. Memandang punggung Ossa dengan sangat iba. Tidak menyangka jika keluarga pak Alip, ayahnya Ossa telah masuk ke dalam perangkap keji pak Karman.
Pak Imam sangat paham bagaimana sifat pak Karman. Terlebih lagi sebab anak lelakinya, Gandy masih juga memiliki minat untuk ingin memiliki Ossa sebagai istrinya.
Masih membekas segar dalam ingatan pak Imam, bagaimana dulu betapa suka anak lelakinya, Indra pada Ossa. Namun, sebab tahu jika Gandy pun juga sedang mengincar gadis itu, pak Imam memohon dengan iba pada Indra untuk mengalah dan mundur saja perlahan. Pak Imam tidak ingin memiliki urusan dengan keluarga pak Karman yang pasti jadi buntut yang panjang.
🕸
Ossa mengajak Mita untuk singgah sebentar di angkringan kampung yang tutup tengah malam. Muda mudi di sana sebagian mengenali Ossa. Mereka bernostalgia gembira sambil bercengkerama sejenak.
Mita mengundurkan diri perlahan sambil membawa Ossa ke meja pojok di luar. Merasa tidak nyaman, sebab Mita tahu jika mereka sambil membawa minuman beralkohol.
"Bagaimana ini, Mit?" keluh Ossa setelah Mita benar-benar duduk di kursi. Mita baru kembali dari membuat pesanan kepada kang angkring yang sudah cukup dikenal nya.
"Ya,, menurutku sih pak Karman mana mau nerima cicilan enam puluh lima juta saja, Oss," sahut Mita mengeluh. Ossa sedang meraup-raup wajah berulangkali.
"Iya,,," ucap Ossa lirih dengan kepala yang terasa sakit dan nyut-nyutan.
Pak Imam hanya memiliki kas saldo lima puluh juta. Ossa sendiri memiliki tabungan tiga belas juta. Dan Mita sanggup menambahkan sebanyak dua juta rupiah dari tabungan yang penuh perjuangan.
Gabungan dana itu masih jauh dari total hutang pada pak Karman yang diklaimnya sebanyak dua ratus delapan puluh tujuh juta rupiah. Ossa yakin jika pak Karman tidak mungkin berbaik hati untuk menerima cicilan yang jauh dari total jumlah hutang.
"Oss," panggil Mita sambil mengguncang pundak Ossa yang meletak kepalanya di meja. Ossa mengangkat wajah dan memandang Mita dengan redup.
"Cepat habisin, habis itu kita ke pantai saja, yuk.. Kamu mau nggak, Os?" tanya Mita. Ingin sedikit menghibur sang sahabat. Ossa hanya pasrah mengangguk.
__ADS_1
"Tapi rame nggak, Mit? Aku takut lho... Banyak kriminal sekarang," keluh Ossa dengan wajah yang ragu.
"Memang iya. Tapi masak paranoid begitu. Di pantai Karang Jahe Beach, sekarang rame dua puluh empat jam. Banyak pelancong yang menyewa cottage di sana. Yang jualan semalam suntuk juga banyak. Tenang saja, Os," ucap Mita menenangkan.
"Banyak kemajuan ya, Mit," sahut Ossa menanggapi. Mita mengangguk.
"Ho oh, Os. Sebenarnya kayak gitu juga andilnya si Gandy. Dia kan salah satu pemegang urusan pariwisata daerah pesisir dan pantura Jateng. Bulan lalu dia naik jabatan." Mita mengumumkan pada Ossa sambil meneguk teh hangat hingga tetes terakhir.
"Moncer juga karier dia, Mit. Siapa sangka kalo akhlak dia burik banget. Bisa jadi dibalik itu korupsinya pun dahsyat. Makanya dia pun semangat," sahut Ossa menanggapi dengan sinis. Meletak tusuk kornet yang baru dipindah ke mulutnya.
"Iya. Kayak nggak bakal mati aja,," timpal Mita dengan mimik yang geli. Ossa pun bergidik.
Mita meminta kantong makanan pada kang angkring untuk mengemas tusuk-tusuk yang isinya belum termakan. Ingin membawanya saja ke pantai. Ossa menambah beberapa jenis tusuk, kemudian dilunasinya semua tagihan kepada kang angkring.
Mita tidak langsung melarikan motor menuju arah pantai. Tapi singgah sebentar ke rumahnya, mengambil buah durian satu butir untuk tambah bekal di pantai.
Ossa merasa sangat senang. Meski kepalanya sedang ruwet berserabut, masih adalah suplai hiburan yang didapatnya dari Mita. Makan durian di pinggir pantai, memang sudah lebih dari dua tahun belum pernah lagi dilakukan oleh mereka berdua.
Pantai Karang Jahe adalah wisata bahari yang sangat diminati pengunjung. Selain memang indah dengan sarana yang layak, pantai Karang Jahe lumayan mudah dijangkau. Sangat dekat dengan pusat kota. Bahkan jarak dari alun-alun kota Rembang, hanya perlu waktu dua puluh menit saja untuk mencapainya.
Ossa dan Mita telah duduk di sebuah gazebo sisa yang sudah mereka sewa dari seorang pawang pantai yang berjaga malam di sana. Meski Mita juga mengenalnya, tapi segan jika semuanya serba gratis. Sebab, mereka berdua sudah gratis tiket saat masuk, serta gratis juga parkir motor. Para petugas itu, Mita dan Ossa sudah kenal.
"Ahh, sedap banget, Mit..Ini durian terbaru yang kamu tanam dulu?" tanya Ossa. Sangat asyik memisahkan daging buah durian dari biji tipis dengan gigi dan mulutnya.
"Ho oh, Os. Durian montong. Ini pertama kali muncul buahnya. Beruntung kamu Os, bisa ikut merasakannya." Mulut Mita juga sama sibuknya dengan Ossa.
"Kamu nggak menjualnya, Mit? Mahal kan?" tanya Ossa. Mengamati sejenak karakteristik kulit buahnya.
"Lumayan mahal memang, Os. Kecil segini, bisa seratus ribu lebih. Tapi ini panen pertamaku, jadi kita makan saja. Lagian cuma keluar tiga buah saja sepohon," terang Mita.
"Mudah-mudahan di musim mendatang, kamu bisa panen puluhan buah durian montong, Mit. Bisa jadi jutawan mendadak," Ossa berkata sambil menerawang. Membayangkan Mita sedang mandi durian panenannya.
"Ha..ha..ha.." Ossa tertawa sendiri tiba-tiba.
__ADS_1
"Aamiin. Eh, kamu ini kenapa, Os?" tanya Mita terheran.
"Aku mbayangin kamu ketimbun buah durian, Mit," jawab Ossa sambil berusaha mengemas sisa tawanya.
"Teman durhaka,," sambut Mita sambil tersenyum.
"Sudah, jangan banyak berangan. Nih habiskan kalo sanggup," tantang Mita sambil menyodor sisa buah durian pada Ossa.
"Dah habis lima biji aku. Nggak sanggup, Mit,," tolak Ossa.
"Sama," sahut Mita mengangguk.
Mita memahami. Dia pun merasakan hal yang sama. Perutnya sudah terasa penuh dan hangat. Mereka berdua baru saja bersendawa hampir bersamaan. Durian montong memang memiliki daging buah sangat tebal dengan bijinya yang tipis.
Merasa diri telah aman, keduanya berjalan mendekati bibir pantai. Berjalan menyisir pasir dalam remang adalah keasyikan tersendiri. Sapuan ombak yang besar juga sesekali menghampiri kaki-kaki mereka yang telanjang. Ossa dan Mita tidak terlalu dekat dengan garis air. Meski mereka juga anak pantai di pesisir, rasanya was-was juga dengan ombak pasang di waktu malam hari.
🕸🕸
Pagi-pagi sekali, Ossa telah meluncur membelah jalan raya menuju pusat kota Rembang bersama sang karib, Mita. Hanya bedanya, kali ini Ossa yang membonceng dengan Mita yang di belakang. Sebab, Mita belum punya Surat Izin Mengemudi SIM C motornya. Sedang Ossa justru sudah memilikinya.
Ossa sempat memiliki motor sendiri saat masih belajar dan kuliah. Sebagai akomodasi tercinta yang ke mana-mana bersamanya. Dan ternyata, telah dijual terpaksa oleh sang ibu sebab kepepet kebutuhan ekonomi di saat yang sangat terdesak. Meski rasanya sedih dan kecewa, tentu saja Ossa merasa tidak tega untuk marah dan merajuk. Sebab sang orang tua jugalah yang telah membeli untuknya.
Kini, di rumah sang sepupu yang hijrah ke kotalah Ossa dan Mita berada. Sepupu yang sukses sebagai seorang pedagang kelontong di pasar besar kota Rembang. Besar harapan Ossa untuk mendapat pinjaman uang dari sang sepupu. Yang mana telah dianggap sukses oleh seluruh anggota keluarga besar mereka. Namun....
"Maaf sekali lagi ya, Os. Mbakmu sama masmu ini baru saja beli rumah di sini. Mau pindahan. Jadi hanya ada uang sisa tiga jutaan saja di tabungan. Bagaimana? Kamu mau nggak, Os?"
Itulah jawaban dari kakak sepupu perempuannya. Anak pakdhe dari pihak ayah. Satu-satunya keluarga yang dilabeli telah sukses. Sedang saudara yang lain, baik dari pihak ayah dan juga pihak ibu, semuanya masih setara dengan keluarganya Ossa. Dan terutama, ibu dan ayah pun sudah berusaha mencari pinjaman ke mereka dan ke mana-mana, namun hasilnya selalu sama. Nihil!
Ossa kembali membonceng Mita dengan rasa hampa yang resah. Mengingat jika malam ini Gandy dan ayahnya pasti akan datang ke rumah.
Ossa kian merasa frustasi. Memikirkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi pada keluarga dan dirinya malam ini. Mulai coba sedikit membayangkan, bagaimana kehidupan yang akan dijalani nantinya. Andai Ossa harus menikah terpaksa dengan Gandy akhirnya...
🕸🕸.🕸🕸
__ADS_1