
Kota beserta kabupaten Demak baru saja ditinggalkan. Kini mulai merayap memasuki wilayah kabupaten Semarang. Perjalanan kali ini kategori efisien. Zoan lebih suka menutup matanya daripada berhenti istirahat. Driver pun lebih suka seperti ini. Jalanan sore cukup lengang, kesempatan emas untuknya mengarungi dengan tenang.
Akhirnya tiba juga di Ungaran, Semarang kota. Mereka sampai di penginapan jauh sebelum waktu maghrib. Yang disambut dengan suguhan menyenangkan.
Dari garasi pribadi, Zoan bisa melihat jika di lobi penginapan sangat antri. Sepertinya pengunjung cukup melimpah ruah hari ini. Lelaki itu terlihat bersemangat dengan wajah tampannya yang cerah.
"Ossa, lihatlah. Pengunjung cukup banyak sore ini. Sepertinya kamu datang membawa rezeki di penginapanku," ujar Zoan memandang Ossa yang lekas memandang juga ke lobi. Ossa menoleh dan memandang Zoan dengan tersenyum.
"Alhamdulillah sangat ramai seperti itu, boss Zoan. Tapi minggu-minggu ini memang musim liburan. Wajar jika lebih ramai dari hari biasanya. Semua instansi sedang libur," ucap Ossa masuk akal. Ossa terus saja tersenyum.
Zoan mengacak rambut tebalnya sendiri. Mungkin sedang mengakui kebenaran kata-kata gadis polos itu.
Zoan mendapat sapaan hormat dan santun dari setiap pegawai yang berpapasan dengannya. Meskipun reputasinya cukup buruk tentang wanita, tapi seluruh pegawai di penginapan terlihat sudah sangat mencintainya.
Pak Sholeh menyambut hormat kedatangan sang tuan di rumah pribadinya. Menanyakan keperluan apa yang sekiranya diinginkan sambil melirik Ossa dengan maksud bertanya sekalian.
"Pak Sholeh, tolong panggilkan pak Karjo dan bu Minah. Bilang untuk datang secepatnya," ucap Zoan pada pak Sholeh sambil menyalakan ponselnya.
"Nggih, mas Zoan. Perlu dibawakan makanan, apa tidak?" tanya pak Sholeh memandang Zoan seksama.
"Bawakan saja salad buah dan minuman untuk kami di kamar masing-masing, pak Sholeh," jelas Zoan pada pak Sholeh. Kemudian menoleh pada Ossa yang sedang ikut menyimaknya.
"Ossa, kamu pergilah ke kamarmu yang kemarin. Bu Minah, tukang pijat itu akan datang sebentar lagi. Kamu suka di pijat?" tanya Zoan terus terang. Ossa sedikit menunduk dengan wajah yang memerah.
"Iya. Terimaksih, boss Zoan," ucap Ossa dengan memandang sedikit pada Zoan. Lelaki itu terus saja mengamatinya.
__ADS_1
"Jika kamu merasa tidak lelah, kamu saja yang menemaniku di pertemuan nanti malam. Bagaimana?" tanya Zoan di sela pandangan matanya.
"Eh,, iya. Eh,,sebenarnya saya tidak merasa lelah sama sekali." Ossa mendongak dan memandang meyakinkan. Kesan harap agar Zoan mengajaknya.
Namun Zoan tidak juga memutuskan. Lelaki itu terdiam tanpa mau menjanjikan.
"Ossa, kamu istirahatlah di kamar. Tunggu hingga bu Minah datang," ucap Zoan dan kemudian berbalik.
Boss tampan penginapan melangkah menuju sebuah kamar yang berseberangan dengan kamar Ossa, kamar yang menelan sosok Zoan kemudian ke dalamnya. Meninggalkan Ossa berdiri termangu di tempatnya. Dan lalu berjalan tanpa semangat menuju ke kamar yang berada di balik punggungnya.
Ossa baru saja mandi saat pintu kamar diketuk. Ternyata adalah bu Minah, tukang pijat andalan di penginapan.
"Lho, kamu lagi tho cah ayu?" tanya bu minah tersenyum. Raut gembira tergaris di wajah tuanya yang masih nampak ayu. Ossa juga tersenyum dan mengangguk.
"Nggih, bu. Saya lagi. Kenapa, bu?" tanya Ossa terheran. Bu Minah nampak merenung saksama padanya.
"Apanya yang tidak ganti, bu?" tanya Ossa mendesak.
"Ya,, biasanya boss Zoan itu ganti-ganti yang dibawa. Misalnya sore ini yang dibawa pulang Diana, besoknya Diana tidak akan mungkin dibawa lagi. Tapi ya dibawa juga nanti dilain hari, sehabis membawa yang lain," terang bu Minah menggamblangkan. Sambil terus mengamati wajah Ossa. Dan Ossa tersenyum lebar merasa geli.
"Bu, tapi aku bukan apa-apanya boss Zoan. Hanya pegawainya di penginapan Pulau Seribu. Aku hanya dibawa ke sini, tapi bukan kekasihnya boss Zoan..." Ossa menjelaskan sambil terus tersenyum.
"Heh,,benarkah,,tapi tidak mungkin. Coba sini, ayo kita mulai pijat saja." Bu Minah sambil menepuk punggung cantik Ossa agar segera merebah. Ossa pun gass tengkurap di pembaringan dengan cepatnya.
Bu Minah telah mulai menjarah tubuh Ossa yang padat berisi dan ramping. Pijatannya terasa nano-nano. Kadang nikmat, kadang ngilu, kadang sakit, kadang nyaman, dan bahkan kadang pun juga geli. Ossa nampak sering meringis-ringis wajahnya.
__ADS_1
Namun bukan beban lagi bagi bu Minah. Seperti abai pada derita pasien yang dipijatnya. Bu Minah sambil terus asyik bercerita. Dia sangat suka mendongengkan segalanya, bahkan gosip di televisi sekalipun.
Dan Ossa, justru seperti terhalang untuk menikmati sepenuhnya pijatan tangan bu Minah. Hanya mengangguk dan iya sajalah yang bisa Ossa responkan pada cerita bu Minah.
"Jadi, kamu ini benar-benar tidak diapa-apakan mas Zoan ya, cah ayu?" tanya bu Minah di ujung obrolannya.
"Tidak bu, aku ini hanya pegawainya saja," jawab Ossa dengan geli pada bu Minah.
"Tidak pernah disentuh sedikiiit saja? Tapi aku dipanggil untuk mijetin, kamu ini pegawai yang beruntung sekali,," tanya bu Minah sekaligus memuji dengan nada tak percaya. Pijatannya pun bahkan dia jedakan sebentar.
Ossa akan menggeleng. Namun teringat juga akan kejadian saat Zoan sedang demam. Ossa telah diminta menemani tidur dan memeluk. Tapi merasa jika hal itu karena Zoan memang hanya perlu dirawatnya.
"Tidak, buuu. Dan semoga saja tidak akan diganggu, buu," tegas Ossa dengan mendongak dan tersenyum.
"Ealah, selamet betulan kamu, cah ayu. Dijaga kamu ini sama dia, lhoo. Padahal badan sebagus ini, dia nggak pengen nyoba,,,ck,,ck,,ck.." Bu Minah kembali bergumam terus terang. Ossa mendadak mendongak menolehnya.
"Bu, apa boss Zoan tidak pernah akan menikah? Apa dia tidak ingin menikah dengan salah satu wanita yang bersamanya, bu?" tanya Ossa ingin tahu tiba-tiba. Bu Minah menggeleng.
"Tidak pernah, dia tidak pernah terdengar akan menikah. Kata suami ibu yang selalu mijetin, mass Zoan itu nggak ingin menikah. Nggak ada pandangan ingin punya anak. Tapi entahlah, ibu juga tidak pernah berbicara tentang hal ini dengan orangnya langsung," sambung bu Minah dan tangannya kembali memijat.
"Jika tidak menikah, terus tidak punya anak, pada siapa nanti penginapan ini diberikan, bu?" tanya Ossa menanggapi.
"Katanya, keponakanya sudah banyak. Itu, anak-anak mas Arzaki, bossmu di Pulau Seribu, para keponakannya yang akan meneruskan," jelas Bu Minah dengan sangat royal bercerita.
"Kasihan ya, bu,," gumam Ossa sambil meniarapkan kembali kepalanya. Terasa ngilu, terlalu lama mendongak dan menoleh ke arah bu Minah.
__ADS_1
"Ya kasihan.. Tapi ya siapa tahu niat hidupnya itu nanti berubah. Nanti siapa tahu ketemu perempuan yang sangaaat disukai, lalu minta dinikahi. Soalnya banyak lho yang menawarkan diri untuk dinikahi. Entah wanitanya sendiri, atau orang tua yang membawa anak gadisnya, tapi boss Zoan tidak ingin menikahi. Hanya minat merayu mereka saja kemudian," terang bu Minah dengan sangat gamblang sekali.
🕸🕸🕸🕸🕸🕸