Boss Pengganti Di Penginapan

Boss Pengganti Di Penginapan
85. Melamar


__ADS_3

Ossa terus merasa tidak rela dan sedih. Merasa Zoan mempermainkan hatinya, meski lelaki itu tidak sengaja. Merasa diberikan harapan palsu olehnya. Segala kebaikan yang di lakukan Zoan selama ini seperti hilang dan hanya rasa kecewa saja yang tersisa. Tapi Ossa terus saja tidak rela dan tidak ingin dicampakkan Zoan begitu saja.


Ossa ikut berdiri dan bergeser mendekati Zoan dengan cepat. Merasa harus bertindak segera sebelum wanita anggun itu tiba dan hilang kesempatan.


"Boss Zoan..Mas Zoan..Hik,,hik,,hik.." Gadis polos yang sedang kalut itu telah menubruk Zoan dan memeluk dengat erat. Merengek dan menangis tersedu mengejutkan. Tidak peduli dengan harga diri dan rasa malunya.


"Ossa, kamu kenapa? Kenapa seperti ini, dan kenapa kamu menangis?" tanya Zoan kebingungan. Tidak menyangka jika Ossa berani bersikap seperti itu padanya. Namun dibalas peluk juga Ossa dengan menepuk lembut punggungnya.


"Boss Zoan, jangan menikah. Jangan menikah,,!" seru Ossa dengan terus memeluk erat punggung Zoan. Masih menangis tersedu dengan membenam wajah di dada wanginya.


"Ossa, Eh,, Ossa, kenapa kamu ini,,??" bujuk Zoan pada Ossa dengan terus menepuk punggungnya.


"Jangan menikah,,! Jangan menikah dengan orang,,!" seru Ossa berkali-kali. Semakin tenggelam wajahnya di dada Zoan.


"Jika tidak menikah dengan orang, lalu aku akan menikah dengan siapa, Os?" tanya Zoan. Lelaki itu telah paham dan tersenyum sekarang. Tanpa diduga, Ossa sudah meluahkan perasaannya. Merasa geli dengan cara Ossa mengungkap isi hatinya.


"Aku tidak mungkin menikahi ayam, sapi, atau hewan lainnya. Oranglah yang akan kunikahi." Zoan berbicara sambil tersenyum lebar-lebar.


"Maksudku jangan menikah dengan orang lain. Jangan menikah dengan wanita itu,,!" seru Ossa merengek. Rasa malu sudah jauh dihempas demi rasa ego hatinya.


Tok..! Tok..! Tok..!


"Masuklah!" sahut Zoan berseru.Tanpa gelagat menjauhkan Ossa yang masih mendekapnya.

__ADS_1


Justru Ossa yang kini sedang panik mendengarnya. Usaha untuk menjauhkan dan melepaskan diri dari Zoan sia-sia. Lelaki itu tidak mau melonggarkan dirinya.


Ceklerk..!


"Permisi, mas Zoan.. Selamat malam,," sapa dari seorang wanita dengan suara merdu mendayunya.


Ossa merasa jika sapaan itu adalah kelimat resmi dan bukan dari mulut seorang wanita idaman hati yang istimewa. Merasa tidak mungkin ucapan itu keluar dari mulut seorang wanita yang dianggap spesial. Segera di hentak dirinya menjauh dari Zoan.


"Iya, selamat malam, silahkan,," sahut Zoan dengan ramah. Wanita itu menatap Ossa dan mengangguk sambil tersenyum dengan hangat.


Ossa membalas mengangguk dan tersenyum pada wanita anggun itu. Menoleh Zoan yang ternyata juga memandangnya. Lelaki itu sedang tersenyum padanya. Ossa semakin merasa bingung pada mereka.


"Silakan ditanda tangani tanda terima pesanan.Di sini ya, mas,," ucap wanita itu sambil meletak sebuak kotak kecil di meja. Lalu mengulur sebuah lembaran kertas pada Reizoan Azril.


"Apa perlu kami bantu untuk memakaikannya?" tanya wanita itu pada Zoan. Memandang Ossa lagi dengan senyuman yang manis.


"Tidak perlu. Terimakasih," sambut Zoan menolak.


Wanita itupun mengangguk sekali lagi dan kemudian berpamit undur diri. Sempat mengucap terimakasih sebelum berbalik badan dan pergi.


"Ossa duduklah," ucap Zoan. Mengambil bahu Oqtissa dan sedikit mendorongnya ke kursi.


"Kenapa dia pergi? Sebenarnya kamu ini bagaimana, mas Zoan?" tanya Ossa terheran. Bingung pada apa yang baru saja dilihatnya. Sekaligus merasa malu dengan apa yang baru dilakukannya pada Zoan. Gadis itu menunduk menanggung malu.

__ADS_1


"Ossa, jelaskan padaku? Apa maksudmu tadi??" tanya Zoan pada Ossa sambil tersenyum.


"Kamu bilang, aku tidak boleh menikah dengan orang? Lalu menurutmu, siapa yang boleh kunikahi?" tanya Zoan kian tersenyum. Sangat suka melihat Ossa yang sedang menunduk dengan wajah merah padam.


"Apa kamu ingin aku menikahimu saja? Bagaimana jika kamu saja yang kunikahi? Boleh?" Zoan bertanya dengan hati berdebar. Meski merasa ingin tertawa dan terus tersenyum, tapi merasakan gugup juga.


"Mas Zoan menipuku? Tadi katanya mau melamar orang,," kata Ossa memprotes. Wajah piasnya terpaksa diangkat juga.


"Kan kamu larang, tadi kamu bilang tidak boleh?" tanya Zoan tersenyum lebar.


"Aku,,, aku khilaf,," sahut Ossa terdengar menyesal dan malu.


"Ya sudah, aku nurut kamu. Sebagai ganti, kamu sajalah yang kulamar," ucap Zoan. Tangannya mengambil kotak di meja dan dibuka. Lalu berdiri dan mendekat pada Ossa yang nampak ternganga kebingungan.


"Ossa, ayo kita menikah. Jadilah istriku," ucap Zoan dengan lirih dan serak. Jari kiri Ossa telah disambar dan dilingkarinya sebuah cincin dengan gerakan yang cepat. Untung saja cincin yang dipesan sangat pas dengan perkiraannya untuk jari Ossa.


Zoan melakukan dengan tegang dan buru-buru. Mungkin jauh dari kata mesra dan romantis yang nampak.


"Sebenarnya, siapa yang ingin mas Zoan lamar?" tanya Ossa dengan ekspresi teruja tak percaya. Juga melirik cincin di jari manis yang nampak indah berkilauan. Wanita anggun tadi, rupanya pengantar cincin yang dipesan oleh Zoan. Dan memang didampingi seorang bodyguard.


"Kamu. Hanya kamu," sahut Zoan sambil duduk kembali dikursinya. Ossa sedang termenung memandangnya dengan rasa campur baur. Zoan bahkan sedang menaik turunkan alisnya berulang kali. Seperti sedang meledek Ossa dengan sengaja.


Ossa berpaling muka dengan rasa geramnya. Geram yang bercampur aduk. Antara terkejut, tidak percaya, kesal, merasa dipermainkan, sekaligus sangat bahagia. Seperti sebuah mimpi cemas di malam gulita, namun berakhir bahagia.

__ADS_1


🕸🕸


__ADS_2