
Makanan yang selalu on time diantar sempurna oleh para pekerja penginapan Zoan ke dalam kamar, selalu bertukar dan bervariasi. Semuanya terasa lezat meski yang disajikan terkadang adalah makanan jaman dulu.
Ossa selalu merasa haru dan merana jika menu yang diantar adalah getuk singkong, clorot, wingko, tahu gimbal atau klepon hijau. Mengingatkan pada sang ibu di kampung halaman yang tercinta.
Selama pergi dua tahun, belum satu kalipun Ossa pulang ke kampung. Hanya berkabar serta mengirim uang setiap bulanlah yang Ossa tidak pernah lupa untuk melakukannya.
Makanan remeh dan ringan itu diantarkan saat pagi bersama teh hangat, buah pisang dan telur puyuh lima butir untuk menu sarapan. Dan siangnya adalah sajian berat bersama nasinya.
🕸
Merasa benar-benar tidak nyaman sebagai pengangguran berbayar, namun berusaha untuk dinikmati. Ossa merebah santai di ranjang sambil menonton serial drama kolosal romance Princess Agents favoritnya di ponsel.
Berulangkali ditonton hingga end di youtube pun, Ossa masih terbawa perasaan. Rasa emosi, sedih dan berbunga, masih juga berbaur di dada setiap kali diputarnya.
Cerita menonton baper itu berakhir saat seseorang mengetuk pintu kamarnya di luar. Ossa yakin orang itu adalah boss Zoan. Dan memang benarlah sangkanya.
"Boss Zoan,,?" sapa Ossa. Zoan sedang berdiri di depan kamarnya.
"Ossa, ayo turun sebentar denganku." Zoan berbicara tegas dan lalu berbalik. Tidak lagi menunggu jawaban Ossa di belakangnya.
Ossa dibawa si boss penginapan keluar lobi dari pintu pribadi yang terhubung langsung dengan rumahnya. Menuju keluar di pojok samping penginapan yang ternyata adalah sebuah toko baju atau butik kecil yang juga milik penginapan sendiri.
Ada tulisan Butik Azril di sana. Nama penginapan milik Zoan, sama Azrilnya dengan nama penginapan milik pak Arzaki di pulau Seribu. Karena kedua penginapan yang saling jauh itu, adalah sama-sama peninggalan orang tua yang telah tiada.
Ibunya Zoan, asalah wanita asli Semarang yang menikah dengan pak Azril yang seorang keturunan Melayu dari negara Singapura yang kaya. Mereka berkenalan saat ayahnya Zoan, pak Azril berwisata di Semarang.
"Ossa, kamu pilih baju yang cantik dan sesuai selera kamu. Tapi sesuaikan dengan tempat yang akan aku kunjungi nanti. Di privacy room sebuah bar di kota Semarang." Zoan menerangkan sambil membuka pintu butik.
"Eh,, iya, boss Zoan," angguk Ossa meski rasanya kebingungan. Segera melewati Zoan yang masih memegangi pintu butik.
__ADS_1
Seorang pegawai butik wanita segera menyambut dan menemani Ossa memilihkan. Zoan menyuruh pada Pegawai butik agar terus membari rekomendasi beberapa baju pada Ossa. Dan terpilihlah tiga baju indah yang bagi Ossa cukup layak dipakai saat pergi dengan Zoan sebagai harem palsu lelaki itu.
🕸🕸
Zoan membawa Ossa dengan riasan cantik dan salah satu baju baru yang bersih oleh laundry bersama sedan merah menyalanya. Meluncur membelah jalan raya menuju sebuah bar besar di kota akbar Semarang.
"Apa kuliah perhotelan juga diajari merias diri, Ossa?" tanya Zoan. Suaranya lumayan memecah hening di antara mereka. Ossa pun menoleh.
"Tentu saja, boss Zoan. Tapi saya lebih banyak belajar pada mbak Nola," jawab Ossa serius.
Ossa tidak paham jika sebenarnya Zoan bertanya sebab merasa cukup salut dengan riasan Ossa yang nampak anggun dan cantik. Lelaki itu hanya mengangguk dengan terus menyimak arus di jalanan.
🕸
Bangunan megah bertulis Executive Bar itu nampak gemerlap dari luar. Dan semakin terkesan wah saat Zoan membawanya ke dalam. Langkah Ossa yang berat mendadak berhenti sebab tarikan Zoan yang tiba-tiba di tangannya.
Ossa memandang dengan sedikit mendongak. Sambil menahan debar dada sebab rasa tidak nyaman pada tempat yang tidak lazim dia kunjungi.
"Ossa, kamu datang ke sini sebab kubawa. Jadi orang-orang di dalam, hanya tahu jika kamu adalah haremku, kekasihku. Mungkin ada beberapa yang harus kita sandiwarakan. Terutama panggilanmu padaku,"
"Panggil aku dengan sebutan, mas,, mas Zoan. Kamu harus mecoba dan harus bisa, Ossa," dikte Zoan dengan nada sangat serius pada Ossa.
Gadis cantik itu ternganga sebentar dan kemudian mengangguk.
"Cobalah panggil aku, Ossa," arah Zoan pada gadis yang masih dipegang tangannya.
"Iyy,,ya,, mas Zoan. Apa seperti itu?" tanya Ossa dengan gugup di wajahnya. Zoan tersenyum mengangguk.
"Very good, Ossa. Ingat terus akan itu," kata Zoan dengan nada yang puas. Ossa pun mengangguk.
__ADS_1
Di dalam ruang privasi, telah menunggu beberapa lelaki dewasa dan mungkin justru Zoanlah yang paling muda di antara mereka.
Benar yang Zoan jabarkan, rekan lelaki berjumlah lima orang itu telah dikerubuti setidaknya tiga wanita di samping kanan kiri dan belakang. Bahkan nampak satu orang baru turun dari pangkuan.
Ossa yang mulanya duduk merenggang di samping Zoan, terpaksa diam saat Zoan menariknya duduk merapat dan agak berhimpitan. Meski rasanya sangat shock, tapi Ossa berusaha tenang. Berusaha meredam takut bahwa Zoan tidak akan berbuat lebih jauh.
Perbincangan kerja dengan bahasa Inggris fasih dan diselingi bahasa Perancis itu telah berlangsung cukup lama.
Zoan dan seorang rekannya yang juga pemilik hotel di kota Semarang, telah mendapat sepakat bersama. Menerima masing-masing dua perwakilan sebagai tempat menginap dan transit dari rombongan tour negara mereka selama satu minggu di kota Semarang. Dan semua kebutuhan, penginapan lah yang akan memback up seluruhnya.
Itu tidak hanya berlangsung satu kali putaran satu minggu. Tapi berterusan hingga berbulan dan bahkan mencapai tahunan. Semua telah disepakati pada sebuah berkas kontrak persetujuan kerjasama yang juga telah ditandatangani bersama. Dan berakhir dengan saling berjabat tangan bersepakat.
Zoan berusaha menghabiskkan waktu dengan memeriksa kembali berkas tadi. Sedang para lelaki itu mulai bermain dan hanyut dalam kesenangan dunia yang menyesatkan.
"Mas Zoan, kamu tidak minum?" tanya lelaki yang juga memiliki hotel di kota Semarang dengan bahasa inggrisnya yang fasih.
"Oh, tidak mas. Kali ini aku datang sendiri, tidak bersama sopirku," tolak halus Zoan dengan sopan dan tersenyum. Juga dengan englishnya yang sempurna.
"Hei, kalian terlihat tidak mesra. Gadis itu bukan wanitamu?!" seru rekan kerja berkebangsaan Perancis dan tentu dengan bahasa Perancisnya. Ditujukan pada Ossa dan Zoan. Ossa hanya tersenyum tanpa tahu sama sekali maknanya. Ossa hanya bisa menguping jika mereka mengutip dengan english.
"Kami sedang belajar menjaga diri sebelum ada ikatan pernikahan, sir," jawab Zoan tersenyum.
"Wow,,! Bagus sekali,,!!" sahut lelaki Perancis sambil mengangguk paham menghargai. Namun, dia kembali melanjutkan aktivitas mesum-mesum ringan bersama para wanita Indonesia di samping kanan kirinya.
Zoan menggunakan bahasa Perancis yang dia yakin jika Ossa tidak paham. Tapi, Zoan menahan nafas tegang saat menoleh Ossa yang juga nampak sangat tegang di sampingnya. Mungkin, Ossa merasa sangat risih dengan insan-insan mesum yang sedang kalap dan langsung nampak di depan matanya.
Zoan sedang menunggu moment tepat untuk membawa Ossa segera berundur sebentar lagi.
🕸🕸🕸🕸
__ADS_1
🕸🕸🕸🕸