
Ossa meninggalkan lobi dengan hati kacau berserabut. Nola pun juga tidak melihat kelebat Arzaki yang menuju mushola pagi ini. Biasanya lelaki itu akan terlihat berjalan pelan di depan lobi menuju musholla. Nola pikir mungkin Arzaki lambat bangun subuh ini.
Nola gelisah tidak tahu harus bagaimana. Ingin membantu Ossa mencari keberadaan Arzaki. Tapi lawan shift yang menjaga lobi saat malam, baru saja mengisi absensi dan pulang. Resah tanpa bisa melakukan apapun, rasanya teramat tidak enak. Nola hanya bisa berdoa penuh harap agar Ossa segera bisa menemukan Arzaki.
Ossa duduk terengah di kursi ruang makan sambil meneguk gelas berisi air putih yang disodorkan oleh Murni padanya. Sangat menyegarkan kerongkongan yang terasa kerontang. Ditolehnya Murni yang juga sedang memandang menunggu.
"Bagaimana, Ossa,,?" tanya Murni dengan cepat.
"Nggak nampak. Di taman, di depan, di jalan, di mushola, di kebun belakang, semua nggak ada pak Arzaki, mak...." Ossa meraup wajah cemas setelah puas mengabarkan.
"Mak,,, jangan-jangan...." Ossa seketika berdiri dan mengundurkan kursinya.
"Apa, Ossa??" tanya Murni penasaran. Ossa lalu mendekat padanya.
"Kurasa,,, pak Arzaki ada di kamar lamanya, mak," terang Ossa. Wajah kusutnya nampak cerah sebab ada harapan tempat baru. Yang kemungkinan besar lelaki itu sedang menepikan dirinya di sana.
"Iya, Os! Cepat kamu lihat di sana. Aku dan Nola belum sempat mengemas kamar-kamar di sana bebarapa hari ini." Murni menyemangati Ossa penuh harap.
"Lah, masak aku sendiri,," keluh Ossa nampak bimbang. Memandang Murni ingin ditemani.
"Nggak papa, Os. Wong cuma ngelihat saja. Kamu kan nggak ada tugas ngapa-ngapain. Tugas kamu ya jagain pak Arzaki. Ini, goreng-gorengku, ditinggal ya gosong. Buruan lihat sana,,!" seru Murni. Lalu melesat menuju kompor yang tengah menyala dan ada panci lempeng untuk kegiatan menggorengnya.
Ossa bergegas meluncur menuju ruang utama keluarga. Di mana ada beberapa kamar yang berderet di sana. Dan dilangkahkan kaki menuju ke salah satunya.
Kamar besar di depannya ini adalah kamar yang dulu ditempati pak Arzaki dan istri. Namun sekarang sedang kosong. Tidak munafik, rasa gentar dan berdebar terasa meneror. Lengang dan sunyi cukup menciutkan nyalinya. Tapi ditepis dengan khawatir akan keberadaan Arzaki di mana.
Ossa telah menyeret kakinya masuk kedalam kamar besar yang tidak dikunci. Namun kamar itu kosong begitu juga dengan ranjang lebar dan kamar mandi, lengang. Gadis itu bergegas keluar lagi dan berdiri tegang sejenak di depan pintu.
Ossa bergeser di kamar sebelahnya. Kamar besar yang dulu ditempati anak-anak keluarga Arzaki. Dada Ossa berdebar kencang saat memegang handle pintu. Membuka dengan menahan nafas, yang kemudian di masukinya.
Degh..!! Seperti bergeser jauh saja rasa jantung di dada. Kedua telinganya, mendengar rintih erang sayup di ruangan. Tapi tidak ada Arzaki di ranjang anak-anaknya. Jantung Ossa bukan hanya terasa bergeser, tapi juga sambil jumpalitan.
Ossa yakin jika di ruang kecil tempat permainan anak itulah asal suara erang terdengar. Sebab kamar mandi yang sudah dilihatnya pun kosong. Ossa sangat yakin, bahwa erang kesakitan itu adalah suara Arzaki. Lelaki yang sangat dicarinya.
"Pak,,pak Arzaki,,!!" seru Ossa sebelum masuk ke dalam. Ingin sedikit mengurangi tegang debar di dadanya.
Benar dugaan Ossa, pria dewasa berbadan besar itu tengan merebah dilantai. Pria itu kembali mengerang memyedihkan. Tapi kenapa,,, benarkah itu Arzaki,, lalu siapa jika bukan Arzaki,,??
"Pak Arzaki...!"
Ossa mendekati pria yang merebah di lantai. Untung sekali lampu di kamar anak-anak ini otomatis. Lampu akan menyala terang sendiri jika ada seseorang yang memasuki dan akan mati sendiri juga jika lampu tidur yang dinyalakan. Pak Arzaki memang sangat mencintai anak-anak dan juga istrinya.
__ADS_1
"Oss,,saa,, tolong,,," ucap Arzaki memandang sayup pada Ossa. Lelaki itu seperti tengah menahan sakit yang sangat.
"Pak,,! Bapak kenapa,,??!" Ossa begitu panik.
"Aku,, tak bisa,,bergerak. Ossa,, carilah,, bantuan," ucap Arzaki terengah dan tersendat. Lelaki itu juga nampak menangis.
"Tunggu, pak! Saya panggil pak Rama sama mas Aldi. Bapak tunggu sebentar,,!!" seru Ossa sambil cepat berbalik.
Setengah berlari menuju kantor penginapan. Rasanya sangat cemas sekaligus sangat lega. Meski Arzaki mungkin sedang kristis, entah sebab luka bagaimana, yang penting Arzaki ditemukan dan harus diselamatkan.
πΈ
Pria yang terbaring lemah di ranjang nya sendiri, baru saja mendapat perawatan serius dari dokter yang dipanggil Rama untuk datang ke penginapan. Adalah dokter umum langganan untuk panel di penginapan, yang terbiasa datang dan juga mengontrol kondisi luka Arzaki selama ini.
Arzaki di sah nyatakan menderita kelumpuhan setelah tragedi tersandung dan jatuh di kamar bermain anak-anaknya. Bagian tubuh dari bawah rusuk hingga ujung kaki, mengalami kelumpuhan. Meski kedua tangan tidak lumpuh, tapi senantiasa gemetar dan kadang juga bergetar.
"Sudah, jangan seperti Nola, Ossa. Cengeng sekali. Kamu sudah menangis cukup lama. Apa tidak capek? Lebih baik berdoa terus dan kita rawat pak Arzaki sungguh-sungguh. Semoga tuan kita itu cepat sembuh," ucap Murni mengomel.
Padahal kedua matanya begitu jelas sembab dan merah. Wanita satu itu memang sangat pintar menyembunyikan tangis sedihnya. Mereka berdua sedang berada di dapur saat sore.
Murni sedang mengoperasikan perkakas tungku arang favoritnya. Membuat bubur lembut dengan beras, brokoli cacah kecil dan sari ayam untuk Arzaki.
Ossa mengangguk-angguk dan mengusap mata untuk yang terakhir kali. Tangisannya telah terhenti. Nampak terdiam sambil mengikuti segala gerak dan aktivitas Murni di dapur. Pandangannya jauh entah ke mana.
"Mak,, nanti kalo pak Arzaki pipis, berak, bagaimana,,?" tanya Ossa bersuara. Hal ini sangat menganggu kepalanya. Murni menoleh dan memandang. sepertinya, untuk hal ini pun wanita itu juga bingung.
"Aduh, aku pun juga galau jika jadi kamu. Ya sudah, anggap saja tuan itu seperti bapak kamu, pak Alip. Anggap saja kamu sedang merawat bapakmu sendiri. Kan kemarin kamu bilang sedih, nggak sempat ngerawat bapakmu,," saran Murni begitu saja. Wajah Ossa berkerut.
"Duh, apa bisa seperti itu, mak? Ah entahlah, jalani saja. Iyalah, anggapan seperti itu akan lebih memudahkan. Mudah-mudahan pak Arzaki cepat sembuh. Semoga shock strokenya itu cepat pergi,," ucap Ossa pasrah.
Teringat akan pesan boss pengganti padanya. Pesan saat lelaki itu akan meninggalkan penginapan. Meminta agar Ossa benar-benar tulus menjaga Arzaki. Meminta agar Ossa memposisikan dirinya seperti Zoan.
Apa dalam hal ini juga salah satu maksudnya. Melayani dan merawat Arzaki totalitas? Ossa gundah gulana hatinya.
Ah, boss Zoan,, apa kabar denganmu?? Ossa merasa sedih yang sangat.
πΈπΈ
Semangkuk kecil bubur sayur dan ayam super lembut buatan koki penginapan itu telah habis dan bersih. Ossa telah menyuapkan pada Arzaki dengan pelan. Sepertinya Arzaki sangat bersemangat untuk cepat kembali sehat dan pulih. Dengan mudah menerima setiap suapan yang Ossa ulurkan.
"Os,,sa, tolong,,tukar,, bajuku,,," ucap Arzaki terengah dan tersendat. Memandang Ossa sebentar.
__ADS_1
Ossa mengambil nafas dalam dan menghempasnya pelan. Inilah salah satu beban yang sudah dipertimbangkannya.
"Iya, pak. Anda tunggu sebentar." Ossa beranjak ke dapur membawa mangkuk kosong untuk dicucinya. Sambil mencoba menenang diri untuk kembali ke kamar Arzaki.
Ossa telah menebalkan dan menawar hatinya untuk merawat Arzaki dengan tulus. Arzaki hanya meminta ditukarkan baju atasan. Justru tidak bersedia ditukar celana saat Ossa menawar menggantinya. Arzaki menolak, lelaki itu ternyata masih menyadari dan berusaha tahu diri. Tapi Ossa bertanya-tanya, sampai kapan akan begitu, rasanya jadi iba pada Arzaki.
πΈπΈ πΈ
Setelah subuh di dapur penginapan...
Bell yang dibelikan Rama dan dipasang di dinding dapur, tiba-tiba berbunyi. Ossa yang baru datang ingin membantu murni setelah lunas subuhnya, sadar akan makna bunyi itu.
Sedang tombol bell, telah diletak tempel oleh Rama di ranjang, berdekatan dengan tangan Arzaki yang terkulai. Bahkan, semalam Ossa dan Rama sempat melatih Arzaki agar mampu menekan tombol itu. Ossa segera meluncur ke dalam kamar dan mendekati Aezaki di ranjangnya.
"Pak,, anda lapar? Ingin sarapan? Sebentar ya,, masih dimasak sama mbak Murni, sebentar lagi matang," ucap Ossa.
Sejak kejadian, Ossa jadi sering dan banyak berbicara dengan Arzaki. Risau jika Arzaki memiliki keinginan, namun susah mengatakan. Ossa akan merasa kasihan dan bersalah.
"Tidak? Lalu? Bapak ingin tukar baju?" tanya Ossa sebab Arzaki menggeleng.
Arzaki menatapnya. Bibir dan mulut lelaki itu bergerak-gerak seperti sedang sangan kesusahan untuk memulai berbicara. Tapi Ossa memandang dan terus menyimak menunggu. Dan Arzaki nampak sedang membuka bibir juga akhirnya.
"Oss,,sa. Aku,, ingin,, kamu,, merawatku. Tapi,, aku,,ingin,, menikahimu,, dulu," ucap Arzaki. Dan Ossa seperti sedang mendengar gelegar halilintar.
Pandangan Arzaki tajam pada Ossa. Pandangan yang menegaskan jika situasi sedang mendesak untuk Arzaki melakukannya.
"Hanya,, selama,, aku, lumpuh. Paling,, lama,, tiga,, bulan," imbuh Arzaki akan niatnya. Dokter memang mengatakan jika shock lumpuhnya hanyalah sementara dan tidak lama. Arzaki diharuskan untuk memiliki tekad kesembuhan cepat yang kuat.
Ossa yang sangat terkejut dan membelalakkan mata lebar-lebar itu kemudian berkedip. Mulutnya bungkam tidak kuasa berkata sepatah pun.
"Kamu,, tahu,, aku,, tidak,, dipakaikan,, kateter. Popokku,,sudah,,penuh.. Aku,,tidak,,merasakan,, Tapi,,sejak,,pagi,, kemarin,, ini,,belum,,ditukar,," ucap Arzaki terbata.
"Maafkan,,aku,,Ossa... Kuharap,,ikhlaslah.. Teleponlah,,Rama,, untuk,,datang,,pagi,,ini,," sambung Arzaki terengah. Memandang lekat dan tajam pada Ossa. Dengan maksud penuh harap dan maaf.
Hati Ossa semakin kacau balau rasanya. Apalagi mata itu telah basah air sekarang. Arzaki telah menangis di kedua matanya. Mengalir deras air mata dari ujung kedua mata menuju ke pelipis dan telinganya.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Beloved readers... Panggang Vote mu..
Terimakasih π
__ADS_1