Boss Pengganti Di Penginapan

Boss Pengganti Di Penginapan
30. Pulang


__ADS_3

Rumah keluarga Ossa lumayan besar. Keadaannya tidak jauh berubah seperti waktu ditinggal dua tahun yang lalu. Hanya ada set bangku kayu berukir yang masih baru dan Ossa menduga didatangkan dari Demak. Ayahnya sangat menyukai perabotan asli dari Demak.


Telah beberapa kali pintu diketuknya. Tapi tak kunjung juga dibukakan. Berfikir jika orang tua pergi ke tambak, rasanya tidak mungkin. Sebab sang ayah sedang sakit di rumah.


Dan sekarang musim liburan, adik-adiknya kebetulan tidak bersekolah. Bisa jadi mereka sedang asyik menonton film kartun. Ossa mendengar sayup suara bising televisi di ruang tengah sana.


Pintu itu terbuka tepat saat Ossa akan menelepon ponsel ibunya. Dan sang ibu sendirilah yang sedang membuka pintu rumah dengan wajah penuh tanya.


Wajah berkerut penuh tanya itu berubah kejut penuh senyum, saat sadar jika anak perempuan yang sedang ditunggu-tunggu itu telah datang.


"Ossaa,,!!" pekik ibunya.


"Bu, Assaluma'alaikum,," sapa Ossa pada sang ibu yang telah meraup memeluknya. Ossa pun memeluk punggung ibunya yang tipis.


"Ossa, akhirnya kamu benar-benar mau pulang,," ucap ibunya dengan sebak.


"Ya, iya, bu. Lagipula aku pergi sudah lama, kan aku juga kangen,,, hik,,hik,,hik,," jawab Ossa dengan tak mampu lagi menahan tangisnya.


Sama juga dengan sang ibu. Perempuan yang mendekati paruh baya itu juga mengalirkan banyak air dari kedua matanya. Namun tanpa ada suara tangisan sedikit pun. Sambil tangan ibunya meraba hampir seluruh punggung, rambut dan kepala Ossa. Meluahkan rindu yang ditahan selama ini. Mereka masih saling berangkulan.


"Ayah tidur, bu?" tanya Ossa. Mereka telah berjalan masuk ke dalam rumah.


"Iya, Os. Habis sarapan dan minum obat. Baru saja tertidur. Ingin dibangunkan? Atau kamu bangunkan sendiri saja, sana,," ucap ibunya sambil menunjuk sebuah pintu kamar. Letaknya paling dekat dengan ruang tamu.


"Nanti saja kalau sudah bangun sendiri, bu." Ossa meletak bengkusan oleh-oleh super besar itu sofa.


"Bu, itu.. Sedikit oleh-oleh dari Semarang. Entah bagaiman ibu bagi dengan tetangga." Ossa berkata sambil menunjuk oleh-olehnya di sofa.


"Banyak sekali kamu beli oleh-oleh,," gumam sang ibu sambil tipis tersenyum.


"Bukan aku yang beli, bu. Dibelikan boss baruku yang di Semarang ," ucap Ossa menjelaskan.


"Boss yang di Jakarta sudah tidak pulang lagi?" tanya sang ibu. Ossa memang terkadang bercerita. Sebab ibunya sangat suka bertanya-tanya. Demi mengobati rindu agar sang anak mau bersuara dan bercerita dengan lama.


"Pulang, bu. Menunggu rumah inapnya lebih stabil lagi," jawab Ossa. Nampak sibuk menggerayang isi dalam tasnya.

__ADS_1


"Bu, ini ada titipan dari boss baruku. Katanya buat keluargaku," ucap Ossa. Mengulurkan sebuah amplop warna coklat kepada sang ibu.


"Apa ini, Ossa?" tanya ibu keheranan.


"Sepertinya uang. Ibu buka saja."


Ossa berbicara sambil berjalan menuju ruang tengah. Yakin jika si kembar ada di sana. Merasa rindu yang sangat. Mereka berdua hadir juga atas andil Ossa yang besar. Ossa selalu merayu pada ibunya untuk diberikan seorang adik. Dan hadirlah dua adik kembar perempuan sekaligus, saat Ossa duduk di bangku akhir SMA. Kini si kembar sudah duduk di bangku taman kanak-kanak tingkat B.


"Hei, bocil,,!!" tegur Ossa mengejutkan. Tapi dua adiknya tidak terkejut. Hanya termangu memandangnya. Seperti tidak yakin untuk mengenali siapa Ossa.


"Kalian lupa padaku?" Ossa bertanya kecewa. Dua adiknya saling pandang dengan ekspresi yang ragu.


"Mbak Ossa,,,," Gumam keduanya dengan ragu. Ossa mengangguk dengan cepat. Segera dipeluk keduanya bersamaan. Diciumi puas-puas adik kembar kesayangannya.


Ossa mengajak kedua adiknya yang imut dan gemuk-gemuk itu mengobrol. Lebih tepatnya, Ossalah yang mengarahkan dan banyak bertanya macam-macam. Sangat menyenangkan mendengar mereka berceloteh tanpa beban.


Puas bercengkerama dengan Divanah dan Davaniah, nama adiknya, Ossa meluncur ke kamar ayahnya. Sang ayah nampak tidur lelap dengan wajah agak pucat. Ibu kata, ayahnya sakit maag dan merambat ke jantung.


Ossa mengambil tangan sang ayah dan disalam serta diciumnya. Kemudian juga mencium pipi ayahnya yang sebelah. Rasanya sangat sedih. Dibenarkan selimut itu menjadi menutup sempurna sebatas perut. Sang ayah nampak tetap pulas, Ossa pun kembali keluar sambil menutup pintu kamar.


"Sedang apa, bu?" tanya Ossa. Mendekati ibunya di meja makan. Ibunya nampak sibuk hilir mudik.


"Ayo, Ossa. Kamu makan dulu. Ibu temani," ucap sang ibu. Menarik dua kursi dan mengulur piring sendok pada Ossa.


"Vana sama Vani, nggak mau makan, bu?" tanya Ossa sambil duduk menghenyak. Merasa masih tidak percaya jika kali ini sedang makan di rumah bersama ibunya.


"Kalo sudah ketemu oleh-oleh, susah banget adikmu makan, Oss." Ibunya menjawab sambil mengambilkan nasi cukup banyak ke piring Ossa. Kemudian mengambil sendiri untuknya.


"Bu, sebenarnya kalian menghutang pada siapa?" tanya Ossa. Tak bisa lagi ditahan untuk tidak segera membahasnya. Sang ibu memandang wajahnya dengan muram


"Pada pak Karman, Ossa. Maaf, ibu tidak mengatakannya." Sang Ibu buru-buru menunduk.


"Ah,,!" Ossa bereaksi meraup wajahnya. Hal yang sangat ditakuti akhirnya terbukti.


"Kenapa tidak ke orang lain saja, bu?" tanya Ossa dengan suara seperti menahan tangisan. Namun sambil terus menyendok makanannya.

__ADS_1


"Orang lain itu siapa, Ossa? Pak Imam tidak bisa meminjami lebih dari seratus juta. Hanya pak Karman saja waktu itu yang datang sebagai dewa penolong. Kalau tidak, tambak dan rumah kita ini sudah jadi milik bank sekarang, nduk. Ibu sama ayah minta maaf," sesal sang ibu.


"Tapi, apakah aku harus menikah dengan Gandy, bu?" tanya Ossa kembali seperti tidak percaya. Tapi sang ibu mengangguk.


"Iya, Ossa. Dia sudah tidak mau menerima uang. Batas waktunya sudah habis dua hari lalu. Dan sekarang, malam ini Ibu harus datang ke rumahnya sama kamu. Bilang menerima kemauan Gandy, kalian menikah." Sang ibu menyeka air mata yang tumpah melimpah tak tertahan.


"Misal malam ini kita tidak datang, bu?" tanya Ossa dengan lembut dan hati-hati.


"Kita harus rela meninggalkan rumah dan tambak. Semua surat kepemilikan ada sama pak Karman. Dan kita akan ke mana, Ossa? Ayahmu sangat mencintai tanah rumah dan tambaknya. Sampai ayahmu sakit seperti itu,," jelas sang ibu.


"Apa ibu tidak pernah mencicil nya?" tanya Ossa lembut.


"Sudah, Os. Selalu tiap bulan empat juta. Yang kamu kirim itu. Entah bagaimana tiba-tiba sudah jatuh tempo. Padahal ibu minta tempo tiga tahun. Ini juga masih satu tahun...." Ibu Ossa terus menangis sambil menerangkan.


"Mungkin sebab Gandy ingin mengenakanku, bu. Dia hanya ingin menggangguku. Nanti malam biar aku sendiri saja yang datang ke rumahnya, bu." Ossa nampak sangat kesal. Sang Ibu menoleh terkejut.


"Ossa, jangan. Itu berbahaya. Bagaimana jika Gandy berusaha memperkosa kamu lagi?" tanya sang ibu sangat was-was. Ossa termenung sejenak.


"Aku akan mengajak Mita, bu. Ibu di rumah saja menjaga ayah," putus Ossa dan berusaha mempercepat makannya.


"Betul kamu tidak akan apa-apa, Ossa?" tanya sang ibu nampak kian resah. Ossa mengangguk dan tersenyum pada ibunya.


"Ibu berdoa saja untuk kebaikanku ya,," ucap Ossa sambil mencabut selembar tisu.


"Ya iya lah, nduk. Doa itu ya pasti.Tapi tetap saja rasanya sangat khawatir, Ossa," jelas ibunya. Matanya masih nampak berair.


"Aku paham, bu. Bu, aku mau ke kamarku dulu. Ingin istirahat sebentar," pamit Ossa sambil berdiri menyambar tas bahu kecilnya.


Sang ibu mengangguk terdiam, dengan pandangan yang mengekor mengikuti anak gadisnya. Ossa menyambar dua piring kotor miliknya sendiri dan milik ibunya. Mencuci dengan bersih di wastafel lalu disimpan dalam almari piring. Mengelap tangan dan pergi dari dapur dengan cepat menuju ke dalam kamarnya.


Ibu Ossa yang bernama bu Endah, merasa jika Anak perempuannya telah banyak berubah. Sangat dewasa, sabar dan tenang. Juga semakin terlihat sangat bersih dan cantik. Jauh beda dari penampilannya dua tahun yang lalu sebelum pergi merantau ke Jakarta.


Ibu Endah nampak tersenyum. Dulu, Ossa berkulit agak gelap dengan penampilan ala kadarnya. Sebab, sering juga pergi ke tambak menyusul. Mengabaikan larangannya untuk diam saja di rumah agar belajar sambil mengasuh kedua adiknya. Dan, Ossa selalu mencuri waktu melihat tambak saat adik-adiknya tertidur.


Tapi, meski dulu Ossa tidak secantik sekarang, nyatanya masih saja memikat hati anak raja tambak sekaligus sang pengepul udang dan ikan. Anaknya pak Karman, Gandy. Bahkan saat itu, Ossa sempat diperebutkan oleh Gandy dan Indra. Indra adalah putra dari pak Imam. Orang yang juga cukup berpengaruh di lingkungan tambak dan warga kampung.

__ADS_1


Bu Endah kembali menangis tak tertahan..


__ADS_2