
Dua kelopak mata indah itu terbuka, tepat saat mobil berhenti sebab satu guncang kecil dari gundukan batu yang terlindas. Ossa merasa jika dirinya sedang berada di sebuah pantai dengan hamparan pasir putih yang sebagian pun menghampar pasir warna hitam.
"Kamu bangun?" suara lelaki dari sampingnya. Ossa terkejut, linglung tidurnya terbawa hingga bangun. Bahkan lupa jika dirinya dibawa oleh siapa di pantai.
"Eh, boss Zoan? Kita di pantai?" tanya Ossa pada Zoan kebingungan.
"Kita sampai di Tegal, Jawa Tengah. Di Pantai Alam Indah." Zoan menjelaskan sambil membuka pintu.
"Oh," respon Ossa termangu.
"Ossa! Aku akan mencari guest house. Aku ingin mandi. Kamu ikut, apa di sini? Aku tidak lama!" seru Zoan dari seberang mobil. Ossa baru saja menyusulnya keluar di pintu yang berseberangan.
Otak di kepala Ossa sedang mengolah data dari seruan Zoan sesaat.
"Saya tidak ikut, saya tunggu di sekitar sini saja, boss!" sahut Ossa yang juga berseru. Angin pantai cukup kencang sore ini.
"Jangan jauh-jauh dari sekitar mobilku, Ossa! Kamu juga bisa menunggu sunset di sekitar sini!" seru Zoan. Lelaki itu berjalan menjauh dari area parkir di pantai Alam Indah yang terlihat menakjubkan.
Pantai Alam Indah di Tegal adalah salah satu dari gugusan pantai yang sambung menyambung di sepanjang jalur pantai utara. Pantai yang hanya berjarak lima ratus meter ke dalam dari jalan utama pantura.
Meskipun sangat indah dan begitu menarik sejauh mata memandang, tapi lama kelamaan terasa jenuh dan bosan. Zoan pergi mandi tidak secepat seperti apa yang sempat diucapnya. Hingga bokong dan kaki Ossa rasa pegal sebab duduk pun, Zoan tidak nampak datang kembali dari arah perginya.
Ossa tidak menyadari jika seorang lelaki berbaju dinas dan tampan, sedang mendekati dan kini menjadi mengikuti. OSsa telah berdiri dan mendekati sebuah anjungan kayu yang panjang dan menjorok jauh ke lautan.
Dititinya anjungan dengan pelan sambil menikmati hamparan pantai yang berpadu indah dengan luasnya lautan. Banyak muda mudi, anak-anak, juga orang dewasa dan bahkan tua renta, berdiri berjajar di sepanjang anjungan.
Mereka juga sibuk dengan berselfie. Berbagai gaya dan pose mereka coba lakukan. Bahkan diantaranya banyak yang saling rangkul, memeluk dan juga bergandengan. Terlepas sebab hubungan apa mereka begitu berani bergandengan dan berpeluk di tempat umum dan ramai seperti ini.Mereka nampak sangat bergembira.
Anjungan sepanjang kurang lebih 100 meter itu telah habis disusuri. Di ujung anjungan dan hampir di tengah lautanlah kini Ossa berdiri. Sangat menantang sekali yang cukup menguji andrenalin dan nyali.
"Ossa,,,,!" suara lelaki berseru menyebut namanya.
Ossa berpaling muka dari luas lautan dan menoleh ke asal suara.
Sangat terkejut. Pemilik suara itu bukan Zoan seperti yang disangka. Namun seorang lelaki yang lebih mengejutkan dan pernah sangat dikenal.
Meski ingat, Ossa diam saja. Sangat jelas pada kenangan pahit yang pernah diberikan oleh lelaki itu padanya.
__ADS_1
"Ossa,,??!"
"Kamu benar Ossa kan?!" Lelaki itu kembali bertanya dengan seru. Angin laut terus saja kencang bertiup.
"Anggap saja aku ini, Ossa," sahut Ossa datar.
Lelaki itu bergeser lebih mendekat sedikit pada Ossa. Memandang Ossa hangat dan tersenyum.
"Kamu sudah lupa padaku, Ossa?" tanya lelaki itu. Mendekati Ossa seperti sedang menunjukkan wajahnya lebih jelas.
"Usahaku untuk melupakan kamu sudah berhasil. Jangan bertanya lagi padaku," sahut Ossa dingin. Namun Lelaki itu justru nampak suka dan tersenyum dengan jawaban dari Ossa. Menunjukkan jika Ossa sebenarnya tidak pernah lupa padanya.
"Kamu apa kabar, Ossa? Sekarang di mana?" tanya lelaki itu terdengar hangat dan sopan.
Ossa tetap memunggungi dan kembali memandang lautan lepas. Mengacuhkan lelaki dengan seragam baju dinas.
"Ossa, dengan siapa kamu ke sini? Aku tidak menyangka bisa bertemu kamu di sini," tanya lelaki itu tetap hangat tidak peduli dengan sambutan Ossa yang abai.
"Ossa,,kamu dengar perkataanku, kan?" tanyanya lagi dengan sabar.
"Kapan kaamu pulang? Aku sering menanyakanmu pada ayahmu, tapi mereka bilang tidak tahu kontak dan alamatmu," terang lelaki tetap dengan nada yang hangat.
"Tolong, aku tidak ingin mengingat apapun. Aku sudah lupa. Anggap saja kamu tidak pernah mengenalku," sahut Ossa dengan sengit.
"Tapi bagiku kamu yang terbaik, Ossa. Aku berharap hubungan kita bisa diperbaiki lagi," bujuk lelaki itu kian mendekat. Ossa mencoba mengabaikan.
"Aku tidak pernah berfikir untuk berbicara, apalagi berhubungan baik lagi denganmu," timpal Ossa dengan nada ketusnya.
"Tapi aku tidak berfikir begitu. Kamu tidak tahu dengan apa yang akan berlaku. Jangan pergi terlalu jauh Ossa. Kamu tidak kasihan pada orang tuamu?" tanya lelaki itu mengandung maksud. Ossa menoleh dan menyimak lelaki itu.
"Apa maksudmu?" tanya Ossa dengan kerut merut di keningnya. Lelaki itu tersenyum janggal.
"Mas,,! Mas Gandy,,!" seorang lelaki dengan baju dinas serupa agak berlari mendekati lelaki yang tengah berbicara dengan Ossa. Dan namanya adalah Gandy.
"Mas,,!! Penyambutan kunjungan akan dimulai. Pak bupati akkan tiba lima menit lagi. Semua diminta kembali ke posisi, mas,,!!" seru lelaki itu sambil berjalan kian dekat. Memandang Ossa yang hanya terlihat punggung cantiknya. Kini telah berdiri diam berhadapan dekat dengan Gandy.
"Sebentar,," kata Gandy dan berbalik memandang Ossa yang terus diam di tempatnya.
__ADS_1
"Ossa, aku terpaksa menyudahi pembicaraan ini. Kita pasti akan berbicara lagi lain kali," ucap Gandy dengan yakin. Lalu berbalik tegas dan melangkah pergi dengan cepat. Lelaki muda yang memanggil tadi segera mengekor di belakang dan menyusuri anjungan.
Angin terus bertiup sangat kencang di anjungan.
"Ossa,,!" suara lelaki lagi menyebut nama Ossa. Kali ini pemilik nama cepat berbalik badan. Yakin siapa orang yang memanggil namanya. Ossa merasa sangat lega.
"Boss, Zoan? Kamu sudah selasai dengan urusan di guest house?" tanya Ossa tersenyum. Berhadapan dengan lelaki yang bernama Gandy tadi, membuatnya sangat tegang. Ossa melangkah maju ke tempat Zoan menunggunya. Tidak jauh, hanya beberapa langkah saja.
Zoan pun berbalik tanpa menjawab tanya Ossa. Banyak pengunjung pantai lain yang sedang berjajar di sekitarnya berdiri. Ossa berjalan terbirit mengikuti langkah Zoan yang panjang dan cepat. Menuju latar parkir yang tidak terlalu jauh dari pantai.
Dalam hitungan menit, Zoan dan Ossa telah kembali meluncur membelah jalan raya bebas hambatan di pantura.
"Kamu sempat melihat sunset nggak, Oss? Bagus?" tanya Zoan menyelidik.
"Iya, saya lihat. Indah sekali," sahut Ossa buru-buru. Zoan samar tersenyum.
"Benarkah? Tapi aku tidak melihatnya sama sekali. Cuaca sore ini sangat mendung dan angin. Kamu tidak sadar?" tanya Zoan yang ternyata menjebak. Ossa nampak bingung dan kikuk.
"Eh,,, saya memang tidak terlalu fokus mengamati tadi, boss..." Ossa mengakui dengan tersenyum malu sendiri. Dan membuang wajah dan pandangan ke samping.
"Kulihat kamu sebenarnya sangat fokus pada lelaki dinas tadi. Siapa itu, Oss?" tanya Zoan tanpa menoleh.
Ossa menggigit bibirnya.
"Dia,,, temanku," sahut Ossa singkat.
"Aku dengar dia ingin memperbaiki hubungan. Kamu pernah berhubungan bagaiman dengan dia? Jangan bohong, Oss." Zoan sudah melempar skak matnya pada Ossa.
"Iya, sebetulnya lelaki itu mantan pacarku. Dua tahun yang lalu," jawab Ossa pasrah akhirnya.
"Satu-satunya lelaki yang pernah jadi pacar kamu selama tiga bulan itu?" desak Zoan dengan kaku.
"Eh,,, Iya, boss Zoan," sahut Ossa lirih membenarkan.
"Sebelum kamu kerja pada kakakku di rumah penginapan?" tanya Zoan memastikan kembali. Ossa mengangguk.
"Iya, boss Zoan. Sebenarnya waktu itu dia menawariku untuk masuk juga di sipil bagian pariwisata. Seperti dia. Tapi, saya tidak tertarik." Ossa menunduk setelah berbicara.
__ADS_1
"Sayang sekali itu, Ossa. Kenapa?" tanya Zoan lagi. Ossa tidak menjawab dan tetap menunduk. Saling memilintir jari jemari tangannya. Zoan juga tidak lagi bertanya. Tidak ingin memaksa Ossa untuk terus jujur bercerita.