
Bu Minah telah selesai dengan pijatannya. Wanita sepuh yang diam-diam masih memiliki aliran darah biru ilegal itu baru saja keluar dari kamar. Menganjurkan pada Ossa untuk berendam air hangat barang sebentar. Agar peredaran darahnya lebih lancar dan badan terasa segar. Lebih bagus juga ditaburi cukup garam dalam air.
Untuk saran bu Minah yang terakhir, tentu saja Ossa mengabaikan. Tidak ingin repot-repot meminta garam di dapur penginapan. Yang pasti dirinya akan menjadi perhatian para pegawai di dapur. Atau bahkan bisa jadi Ossa langsung mendapat pengusiran. Apalagi boss Zoan sedang ada di penginapan. Mereka akan memperlakukan Ossa dengan lebih lagi perhatian. Seperti yang sebelumnya sudah pernah gadis itu rasakan.
Ossa berendam agak lama. Obrolan bu Minah membuatnya lebih bersemangat. Sekaligus berfikir lama tentang Zoan.
Andai saja benar, Ossa merasa iba pada pilihan Zoan untuk masa depan di hidupnya. Membayangkan jika kelak lelaki itu akan kesepian sebab tidak memiliki keturunan. Ossa merasa begitu iba yang sangat. Seperti tidak rela jika Zoan tidak akan bahagia.
Bukankah menua tanpa memiliki keturunan adalah perasaan yang cukup menyedihkan? Mungkin Zoan tidak menyadarinya sekarang. Tapi lelaki itu pasti akan menyesal dengan kebodohannya di kala menua dan renta.
Andai yang dighibah bu Minah adalah benar, Ossa sangat ingin membantu Zoan untuk mengubah prinsip dalam hidup. Pandangan remeh Zoan bahwa memiliki keluarga tidaklah penting, Ossa ingin membantu mengubahnya. Bahkan jika saja boss Zoan tertarik, Ossa bahkan rela berserah diri agar dinikahi.
Ossa telah selesai berendam air hangat yang wangi dan segar. Kini sedang menyisir rambut indahnya dengan debar semangat penuh harap. Ingin Agar Zoan melihat betapa cantik dirinya.
Berharap Zoan akan tergerak hati untuk tertarik pada seluruh penampilan yang ada di dirinya. Bahkan Ossa juga berdoa sambil merias diri kala mengingat wajah boss tampan di penginapan, ingin agar Zoan sudi meliriknya sedikit saja malam ini.
Ossa merasa berdebar. Pintu di kamar terdengar diketuk seseorang. Yakin dia adalah Zoan yang sudah siap untuk membawanya keluar menemani. Ossa merasa siap untuk menjadi harem lagi malam ini. Dan tidak merasa keberatan sama sekali kali ini.
__ADS_1
Ah, apakah seperti ini juga yang sedang dirasakan harem-harem Zoan yang lain? Bahkan harus menyerahkan tubuhnya dengan rela sekalipun? Berharap akan dipilih untuk dinikahi lelaki itu pada akhirnya?
Dan haruskah dirinya pun menjadi salah satu diantara wanita itu? Tidak,,, tidak,,, Ossa hanyalah harem palsu. Harem pajangan di tempat yang sudah ditentukan. Zoan tidak akan menyentuhnya. Itulah keamanan yang sedang Ossa dapatkan.
Ah, sampai kapan Zoan akan menjadikannya seperti itu? Lalu apa yang diinginkannya lagi? Zoan akan menyentuh dan memperlakukan dirinya seperti harem yang sebenarnya? Tidak,,,tidak,, sekali lagi Ossa merasa itu sama sekali tidak benar. Lalu apa? Zoan tertarik dan ingin menikahi? Ya,,ya seperti itulah harapannya.. Mungkinkah..? Kenapa,, semuanya itu mungkin saja!! Ossa meyakinkan dirinya.
"Eh,, pak Sholeh,," sapa Ossa berusaha tersenyum. Menyimpan kecewa di sela sapa sopannya. Orang yang mengetuk pintu adalah pak Sholeh.
"Mbak Ossa, ditunggu mas Zoan di lobi.." Pak Sholeh memberitahu dengan sopan.
"Buruan ya, mbak! Mas boss buru-buru katanya!" seru pak Sholeh dari luar pintu kamar. Ossa telah berbalik masuk lagi ke dalam kamar.
"Iya, pak. Cuma mengambil tas saja!" sahut Ossa dari dalam kamar. Gadis itu telah nampak lagi di pintu dan segera keluar lalu menutup rapatnya.
Ossa mengikuti pak Sholeh yang berjalan di depan. Menuju pintu yang diingatnya akan terhubung langsung dengan lobi. Ossa pun baru saja melewati pintu itu. Tapi pak Sholeh kembali ke dalam. Hanya sempat memberi anggukan kecil dan berbalik lagi ke dalam.
Zoan nampak berdiri gagah di lobi. Memandang Ossa yang sedang melangkah menuju padanya. Gadis polos itu terlihat jauh lebih cantik dan anggun di penampilannya kali ini. Sayang sekali, tiba-tiba Zoan tidak sepenuh hati untuk membawanya malam ini. Mengharap agar Ossa memilih untuk tidak menamaninya kali ini.
__ADS_1
Ossa merasa suka saat Zoan menatapnya tanpa kedip. Tapi sekaligus merasa tidak nyaman dengan pemandangan yang tersuguh di matanya.
Di samping Zoan, berdiri seorang wanita sangat cantik dan anggun dengan baju yang rapi berkelas. Sangat serasi sekali jika berpasangan dengan Zoan. Mereka berdiri merapat dan mesra.
"Ossa, apa kamu jadi ikut? Aku sangatlah buru-buru," ucap Zoan terkesan acuh. Kali ini dengan pandangan yang datar pada Ossa.
Tentu saja Ossa terkejut mendengar pertanyaan Zoan yang seperti itu. Zoan seperti tidak terlalu mengharap ditemanai. Apa wanita berkelas itu yang akan dibawanya?
"Ossa, kenalkan, ini Ayunda. Akan ikut menemaniku malam ini. Dia adalah asisten sekaligus sekeretaris yang sempat kubilang padamu tentangnya," ucap Zoan sambil memandang wanita bernama Ayunda dengan hangat.
Ossa merasa diabaikan seketika. Merasa tisak terlalu diperlukan. Zoan hanya ingin pergi dengan Ayunda. Wanita sempurna dan akan menjadi harem Zoan yang sesungguhnya malam ini.
"Oh,,, jika begitu, saya merasa ikut lega. Boss Zoan sudah memiliki seseorang yang akan menemani. Lebih baik saya istirahat saja di kamar. Lagipula perut saya terasa agak kembung sebab angin."
Ossa menerangkan dengan cepat. Ingin segera berbalik pergi dari lobi. Meninggalkan pasangan serasi yang mengganggu kenyamanan matanya. Dan merasa dadanya berubah sesak dengan nafasnya yang tertahan.
🕸🕸🕸🕸
__ADS_1