Boss Pengganti Di Penginapan

Boss Pengganti Di Penginapan
52. Paviliun


__ADS_3

Zoan telah kembali ke tempat tunggu di ruang ICU (Intensive Care Unit) tiga puluh menit kemudian. Ossa sedang duduk di bangku depan pintu sambil memainkan ponselnya. Gadis itu duduk membungkuk dan menunduk.


Begitu serius hingga tidak menyadari jika Zoan telah datang, berdiri diam di samping Ossa duduk. Hanya aroma Zoan yang tercium wangi di rongga hidung, penyebab Ossa mengangkat kepala dan menoleh. Lelaki yang berdiri menjulang itu sedang menyandar dinding dan membungkuk memandannya.


"Boss Zoan,,??!" ucap Ossa terkejut. Zoan datar saja menatapnya.


"Ossa, kamu belum makan siang? Pergilah ke kantin rumah sakit yang pagi tadi aku bilang padamu." Zoan berkata sambil mengambil dompet dari saku celana. Mengambil beberapa lembar ratusan ribu rupiah. Lalu diulurkannya pada Ossa.


"Anda pun juga belum makan,," keluh Ossa lirih menatap Zoan mendongak. Zoan pun mengangguk.


Ossa berdiri dan mengambil uang dari Zoan yang kembali disodorkan ke arahnya.


"Saya akan mencari kantin atau rumah makan di area dalam rumah sakit," pamit Ossa agak berundur.


Mengangguk pada Zoan yang tengah memandang padanya. Ossa memandang sejenak, lalu berbalik dan berniat mencari kantin di dalam area bangunan rumah sakit. Membeli makanan untuk Zoan dan dirinya.


Tadi pagi, sehabis shalat subuh, Zoan mendatangi paviliun dan membawakan makanan untuknya. Lelaki itu mengatakan posisi kantin jika saja Ossa merasa lapar sewaktu-waktu.


Zoan pun mungkin sedang kelaparan subuh tadi. Semenjak makan yang terakhir di taman Srigunting kemarin, mereka berdua belum makan berat apapun lagi. Hanya makan sedikit puding dan satu biji buah pisang yang diberikan oleh pramugari di dalam penerbangan. Makanan yang lain, sama sekali tidak minat.


Zoan melangkah pelan memasuki serambi ruang ICU. Memakai baju warna biru yang masih terlipat dan bersih, khusus untuk mendatangi pasien kritis yang dirawat di dalamnya.


Zoan baru saja berbincang dengan salah satu dokter internis atau spesialis penyakit dalam. Salah satunya meminta Zoan agar bersiap dan menjaga kondisi kesehatannya. Sebab, bisa jadi setelah operasi, Arzaki akan membutuhkan transfusi darah. Mengingat luka di tumitnya, sempat mengalami pendarahan sebelum dilakukan penyelamatan.


Zoan menyanggupi saran dokter padanya. Lebih memilih memberikan darah miliknya sendiri, daripada membeli kantong darah yang sebenarnya di RSUD Cengkareng pun menyediakan.


Kondisi Arzaki dianggap mulai membaik dengan pesat. Hanya perlu dipasang selang oksigen di hidungnya, bukan ventilator berat yang dipasang di mulut dan dihubungkan dengan tenggorokan. Kondisi pernafasan Arzaki pun dinyatakan bagus meski keadaannya sempat kritis.

__ADS_1


Jika dua hari mendatang kondisi Arzaki semakin baik dan stabil, maka dokter tidak ragu lagi untuk melakukan operasi di perutnya. Satu kali bedah saat operasi dengan dua penanganan kasus yang berbeda. Yakni operasi membenarkan posisi usus dan operasi pemeriksaan ginjal secara langsung.


🕸🕸


Beberapa hari setelahnya..


Operasi berjalan lancar dan keadaan pak Arzaki mulai kondusif. Pencernaannya telah berfungsi normal dengan posisi usus yang dikembalikan. Serta ginjal yang berfungsi dengan semestinya. Sebab, ginjal pak Arzaki bukannya rusak, hanya bergeser turun ke panggul. Dan telah dinaikkan lagi oleh tim dokter saat operasi hari itu.


Namun, Arzaki memiliki luka baru di kakinya. Dokter telah memeriksanya lebih seksama dan teliti, saat Arzaki mengeluh sakit dan nyeri di area betis. Selain itu, betis Arzaki nampak sedikit bengkak dan memar. Ternyata setelah diperiksa akurat, ada keretakan ringan di tulang betis Arzaki yabg kanan.


Dan kini, Arzaki telah dipindah rawat di paviliun yang disewa Zoan dengan aman dan nyaman.


"Zoan,," panggil Arzaki lirih.


Zoan tengah tertidur di kursi. Adik lelakinya itu nampak lemas dan pucat. Zoan nekat melakukan transfusi darah untuk Arzaki setelah sang kakak selesai operasinya. Dan masih lemah hingga kini.


"Ossa,,!" panggil Arzaki berseru lirih pada Ossa yang menunggu di pintu. Dan gadis itu mendengar, bergegas masuk ke dalam.


"Bangunkan,,, Ossa." Arzaki meminta Ossa untuk membangunkan sendiri Zoan di kursi, tidurnya sangat lelap sekali.


"Tapi, boss Zoan hampir tidak tidur semalam, pak. Dia kesusahan tidur. Bagaimana kalau kita biarkan saja sebentar lagi?" tanya Ossa dengan sopan pada boss lamanya.


"Ya.... Ossa, tolong ambilkan minum,," pinta Arzaki lirih pada Ossa.


Ossa dengan cepat menuangkan air minun dari botol kemasan ke sebuah gelas kaca. Hanya setengah dan segera diambilnya sebuah sedotan model bengkok warna putih.


Mata itu kembali mengalirkan air ke pelipis. Arzaki sudah beberapa kali nampak menangis. Itu adalah pemandangan yang sering Ossa pergoki akhir-akhir ini. Rasanya sedih sekali. Zoan sudah berterus terang saat Arzaki bertanya tentang istri dan anak-anaknya saat pertama kalinya berbicara.

__ADS_1


Zoan tidak tahan untuk lama-lama memendamnya sendiri. Baginya, Arzaki adalah kakak lelaki yang kuat, handal dan bukan pria lemah. Merasa yakin jika Arzaki akan kuat saat mendengar kenyataan pilu mengenai meninggalnya sang istri dan kedua putranya.


Memang, Arzaki tidak mengeluh, menyesali, menjerit atau juga meraung. Tapi, Arzaki sering nampak menangis tanpa suara setelahnya. Yang itu justru membuat Zoan merasa tak berdaya menghibur. Hanya membujuk pada sang kakak agar selalu ingat kepada sang pencipta. Juga padaNyalah semua akan pergi dan kembali.


"Sudah,," ucap Arzaki sambil mendorong gelas pada Ossa. Yang disambut cepat oleh gadis itu. Lalu diletaknya lagi di meja.


"Apa pak Arzaki perlu yang lain?" tanya Ossa hati-hati. Merasa takut jika salah bicara, Arzaki akan kembali meneteskan air mata.


"Aku boleh pinjam ponselmu?" tanya Arzaki memandang lekat pada Ossa. Yang disambut anggukan pelan gadis itu. Ossa segera mengambil ponsel dari saku dress yang dipakai dan memberikan pada Arzaki.


"Ossa, keluarlah sebentar," arah Arzaki pada Ossa.


Mungkin dia akan menelepon seseorang menggunakan ponsel Ossa. Tentu saja gadis itu merasa iba dan mengerti, bergegas keluar dari kamar. Menyambar sebuah bungkusan yang tadi diletaknya di meja. Lalu diletaknya lagi di meja luar kamar. Itu adalah makanan yang diminta Zoan padanya.


Ossa pergi ke kamar dan dikuncinya rapat-rapat. Ingin mandi sore sekalian shalat ashar. Kamar itu bukanlah miliknya, hanya ada dua kamar saja di dalam paviliun. Tapi Zoan menyuruh untuk menempati kamar itu. Dengan sesekali bergantian dengan Zoan yang hanya sebentar menggunakannya. Dan Ossa akan menyingkir keluar untuk melakukan kesibukan yang lain.


"Aarrghh,,!!! Arrrrgh!!! Arrggh..!!!"


Ossa baru selesai mengenakan baju dan menyisir rambut saat terdengar lenguh keras dari luar. Gadis itu bergerak cepat melihatnya. Jerit menyayat itu berasal dari kamar Arzaki. Segera dibukanya pintu kamar yang masih tertutup. Khawatir akan ada apa-apa dengan dua lelaki di dalam.


Pemandangan yang menyedihkan sekali lagi dinampak. Arzaki terlihat sedang menangis. Tapi,, kali ini terisak bersuara memilukan. Arzaki menangis keras, bukan diam-diam seperti sebelumnya. Zoan nampak berdiri di samping sambil merangkul dan memeluk .


"Aarrrggh,,,!! Aarrghh,,!!!!" Arzaki kembali menjerit keras tiba-tiba. Ossa berjalan mendekati ranjang dan berdiri di samping Zoan.


Seketika Zoan menolehnya. Namun pandangan mata Zoan nampak tajam dan dingin.


Ossa jadi serba salah dan gentar. Merasa jika Zoan sedang menahan amarah padanya. Lalu kenapa,,, kesalahan apa yang telah dilakukannya? Dada Ossa berdebar cemas dan was-was..

__ADS_1


🕸🕸🕸


Vote yaaaa....


__ADS_2