
Ossa membuntuti Murni menuju dapur untuk meletak baki dan gelas di wastafel. Lalu memposisikan diri di wastafel dan mencucinya dengan cepat. Meski kilat, Ossa yakin jika pecah belah itu sudah sangat bersih dan kesat.
"Ossa, kamu tahu, siapa yang menyuruhku mencari kamu di kamar pak Zoan?" tanya Murni berbisik. Suaranya sangat kecil sekali. Hanya Ossa saja yang mendengar.
"Tidak. Siapa yang menyuruhmu, mak?" tanya Ossa cepat dan penasaran.
Murni memandang Ossa dengan mata lelahnya yang nampak mengantuk. Lalu menunjuk ke arah depan di kamar tamu.
Ossa membulatkan mata jernihnya kian melebar. Arzaki keluar kamar? Biasanya, lelaki itu tidak akan keluar lagi dari kamar saat malam lengang. Apalagi mencari dirinya saat malam. Ah,, rasanya tidak mungkin jika itu adalah Arzaki. Lelaki itukah??
"Lagian, ngapain lama-lama kamu di sana? Dicaplok baru nyesel, kamu.." Murni bertanya sambil menjeling tajam pada Ossa.
"Aku pikir kamu sudah keluar dari ngantar minuman jahe tadi. Kupikir kamu lagi ngapain bentar di kamar belakang. Aku nungguin sampai ketiduran,,"ucap Murni memprotes.
Ossa belum menyahut apapun. Gadis itu telah menyimpan perkakas di almari kaca. Mengelap tangan dengan kain bersih yang terlipat rapi di meja dapur.
"Ayo mak kita tidur,," ajak Ossa dengan berjalan di depan.
"Eh, Ossa, jawab dulu,,," tegur Murni dengan ekspresi yang gerah.
Tapi Ossa tetap berjalan cepat menuju busa tebal di depan televisi tempatnya tidur dengan Murni. Nola sudah jarang sekali ikut join tidur bersama. Merasa perutnya akan kram jika tidur di lantai.
Meski Arzaki dan Zoan pernah menunjuk sebuah kamar tamu lagi agar mereka tempati, tapi Murni dan Ossa kompak menolak.
"Mak, pak Arzaki nyuruh nyarinya bilang apa?" tanya Ossa penasaran. Suaranya sangat lirih dan rendah, tapi bukan berbisik. Begitu juga dengan Murni, mereka bersahutan hati-hati.
Murni mencibir pada Ossa nampak kesal. Mereka telah memasang selimut di tubuh masing-masing. Ossa pun tersenyum pada Murni.
"Tadi pas aku keluar, sama pak Zoan suruh nunggu. Sampai habis air jahenya." Ossa memberi alasan pada Murni.
"Lama amat,, sampai aku tertidur. Air jahenya aja nggak panas. Bohong padaku, dosa kamu, Ossa," sahut Murni seperti tak percaya.
"Aku nggak bohong, mak. Memang disuruh nunggu," ucap Ossa dengan nada yang pasrah. Murni melirik Ossa dalam diam.
"Dengar, Oss. Tadi pak Arzaki bangunin aku. Dia kata, tolong kamu panggil Ossa di kamar Zoan, sudah malam, suruh cepat tidur. Itu katanya, kok dia tahu ya?" tanya Murni dengan heran.
__ADS_1
Ossa sangat terkejut. Bahkan seperti shock seketika rasanya. Tak habis pikir pada fakta bagaimana Arzaki tahu dengan begitu yakin akan dirinya di kamar Zoan..
"Benarkah seperti itu, mak?" tanya Ossa dengan nada cemasnya. Sangat khawatir jika Arzaki berprasangka buruk, meski prasangka buruk itu tidak salah.
Tidak ada sahutan dari Murni. Ternyata sang penguasa dapur telah melesat dalam tidur. Ossa paham jika Murni sangat lelah. Aktivitas di dapur untuk melayan pengunjung, memang sangat menguras tenaga, pikiran dan batin.
Ossa masih terus berfikir, bagaimana Arzaki tahu jika dirinya mendatangi kamar Zoan. Jadi tidak tenang sekali rasanya.
Namun,,, Ossa masih mampu tersenyum dengan debar kencang jika ingat kelakuan Zoan padanya. Sensasi indah yang dia rasa pertama kali dalam hidup. Dari lelaki yang membuatnya pasrah berlutut dengan sangat mudahnya. Meski ada sesal dan sadar dirinya sekadar gadis harem, tetap juga masih ada rasa suka dan rela.
Ossa mungkin sedang salah jalan dan sesat. Jika beberapa bulan lalu dirinya sangat tidak suka dengan gaya hidup Zoan yang semau gue dan bebas. Ternyata tidak dipungkiri jika dirinya pun jadi bagian dari kebebasan Zoan sekarang.
Ossa bukan korban, tapi adalah sukarelawan. Sama status dengan para kekasih Zoan yang pernah dicibir dan dighibahkannya bersama geng pembantu di kamar belakang. Ah, lalu bagaimana cara menghempas rasa puja dan rela ini.
Akhirnya,,, gadis yang sedang resah berbunga itu pun mengantuk dan tidur..
🕸🕸
Dua minggu kemudian...
Pria dewasa yang kembali nampak tegap berjalan itu baru saja bermain basket di lapangan taman belakang. Terletak di balik deretan kamar geng pembantu. Seperti biasa, ada istri sirinya yang selalu menemani. Lebih tepatnya, selalu dibawanya menemani ke mana pun.
"Trims, Ossa,,!" sahut Arzaki saat menyambut botol air yang diulur Ossa padanya. Ossa mengangguk tersenyum.
"Ossa, Insya Allah minggu depan aku akan ke Brunei Darussalam. Mengambil anakku. Aku tidak ingin dia jadi lupa padaku," ucap Arzaki. Tangannya sambil membuka botol air minum. Kemudian diteguk setengahnya.
"Bapak kan sering video call. Masak akan lupa?" tanya Ossa menanggapi. Memang itulah sebagian tugasnya, menimpali apa saja ucapan Arzaki. Agar lelaki itu tidak merasa kesepian dan hampa.
"Tapi tentu saja rasanya beda, Ossa. Baik anakku atau aku sendiri," jelas Arzaki dengan mata menerawang. Pria dewasa dengan keringat bercucur itu nampak sangat tampan dan kekar. Seperti tidak pernah tertimpa kasus fisik berat di raganya.
"Iya, pak. Mungkin saya kurang paham,," sahut Ossa.
Menyadari jika dirinya tidak ada pengalaman dengan hubungan batin antara orang tua dan anak. Tapi, mungkin saja hampir sama dengan perasaannya pada orang tua. Lebih berat mana,, rasa orang tua pada anak. Atau rasa anak pada orang tua?? Ossa bertanya-tanya..
"Kamu akan paham jika suatu saat punya anak, Ossa," pungkas Arzaki.
__ADS_1
"Eh,, iya pak,," jawab Ossa kikuk. Gadis itu berpaling, sebab Arzaki masih memandang tajam padanya.
"Ossa, apa kamu tidak pernah berfikir untuk memiliki anak?" tanya Arzaki tiba-tiba. Tentu saja itu membuat Ossa terkedu gelagapan.
"Eh, anu pak. Saya merasa tidak siap, rasanya masih terlalu muda untuk beranak. Tapi,, mungkin jika saya sudah benar-benar menikah, saya akan otomatis memikirkan,," jawab Ossa.
Sengaja berkata dengan maksud menyindir. Berharap Arzaki mengerti maksudnya. Ossa masih mengharap talak dari lelaki itu hingga kapan pun. Seperti janji Arzaki sebelum menikahi waktu itu.
"Begitukah,,?" respon Arzaki kemudian.
"Iya, pak. Saya ingin menikah dengan jodoh saya." Ossa berkata dengan memberanikan diri menatap Arzaki.
Lelaki tampan itu berpaling wajah, pandangannya kembali jauh ke depan menerawang. Hidungnya semakin jelas terlihat sangat mancung dan tajam. Ah, jadi agak mirip dengan Zoan...
"Ossa, aku akan membeli tiket untuk dua orang. Aku akan mengajakmu ke Brunei. Bagaimana jika kamu menjadi babysitter anakku?" tanya Arzaki yang kembali mengejutkan. Lelaki itu menoleh pada Ossa yang nampak sedang ternganga.
"Putraku yang bungsu, usianya belum ada dua tahun.Masih begitu mudah dikendalikan. Kurasa kamu tidak akan kerepotan mengurusnya. Bagaimana,, kamu tidak keberatan, Ossa??" tanya Arzaki dengan memandang lekat pada Ossa.
Wajah cantik yang tadi nampak ternganga, kini mengatup rapat dengan mata melebar. Nampak pucat dan gugup. Merasa begitu simalakama. Mengapa jadi serumit ini,, lalu kapan dicerai..
"Pak,,,!!!" seru lelaki dari arah belakang. Rupanya Rama yang sedang datang menjumpai. Arzaki menoleh dengan maksud menanyakan.
"Pak, ada tamu dari Jawa..!" seru Rama melapor. Arzaki nampak berkerut.
"Dari mana, Rama?" tanya Arzaki tak puas
"Dari Semarang, pak.." Rama menjelaskan pada Arzaki.
"Adikku,,?!" seru Arzaki terdengar gembira.
"Bukan, pak. Tapi wanita. Cantik sekali, pak,!" ralat Rama dengan keras. Tapi melirik Ossa sekilas kemudian, dan seperti sedang menyesali.
"Sedang menunggu anda di lobi, pak,," ucap Rama menerangkan.
"Tunggu sebentar, aku akan mandi." Arzaki berkata sambil gegas berjalan. Menoleh Ossa bermaksud agar ikut. Ossa pun mengangguk dan berjalan pergi mengikuti. Sedang Rama berjalan paling akhir membuntuti.
__ADS_1
🕸🕸