Boss Pengganti Di Penginapan

Boss Pengganti Di Penginapan
08. Orang Pintar


__ADS_3

Pengambilan gambar penginapan oleh fotografer komersil profesional, mas Danang, sudah tuntas dilakukan. Zoan menerima salinan filenya dan menyalinkan kembali file pemotretan pada Ossa.


Meminta kepada calon resepsionis multifungsinya untuk turut membuat iklan atau penawaran di berbagai media online pribadinya. Atau di mana pun yang diinginkan, dan kemungkinan dijangkau oleh para calon visitor dalam pencarian secara online.


🕸🕸


Dua hari kemudian menjelang malam...


Boss Zoan baru kembali dari bepergian dengan membawa seorang perempuan berlainan. Sangat cantik dan yang pasti bukan Rani.


Tengah makan malam dengan perhatian yang fokus pada ponsel sambil menghabiskan makanan dalam piring. Dan terakhir menerima sebuah panggilan dari seseorang, nampaknya cukup penting.


Zoan segera menghabiskan dan menyudahi makan malamnya. Namun, meminta pada wanita cantiknya untuk menikmati makan malam itu dengan puas.


"Marni,,!!" seru Zoan pada mak Murni. Tidak ada sahutan. Yang dipanggil sedang mencuci panci di wastafel di luar dapur.


Kebetulan Ossa datang dan melewati ruang makan sambil membawa cangkir kosong.


"Ossa,," panggil Zoan pada gadis yang melenggang di depan matanya. Pemilik nama Ossa pun menoleh dan segera merapat ke meja.


"Ada apa, boss Zoan?" tanya Ossa dengan nada yang sopan. Melirik pada wanita di samping Zoan yang juga sedang lekat mengamatinya. Ossa mengangguk kecil pada wanita cantik itu.


"Ossa, kamu panggil Marni dan Nola ke sini. Agak cepat,,!" Zoan memberikan perintahnya. Ossa pun segera mengangguk.


"Iya, permisi," pamit Ossa yang kemudian buru-buru berlalu.


Zoan kembali menyimak isi layar di ponsel canggihnya yang terbaru. Sesekali dahinya nampak berkerut merut sedang memikirkan sesuatu.


"Luna, sehabis ini kita kembali ke kota. Jika aku besok pulang ke mari, kamu tidak perlu mengikutiku ke sini lagi." Zoan berkata sambil memandang wanita cantik di sampingnya.


"Kenapa, mas Zoan? Aku ikhlas kok bantuin persiapan pembukaan hotel kamu ini," sahut wanitanya yang berbeda dan kini dengan nama Luna.


Zoan memandang sebentar, menarik nafas dalam dan tidak ingin lagi menanggapi.

__ADS_1


Pek! Pek! Pek! Pek! Pek! Pek! Pek! Pek!


Bunyi langkah kaki berderap memasuki ruang makan. Mereka adalah Murni, Nila dan Ossa. Berdiri diam sejajar, menghadap pada Zoan.


"Apa kalian tahu, kenapa kupanggil?" tanya Zoan memicingkan matanya. Memandang lekat ketiga geng pembantu bergantian. Mereka menggeleng dengan kompak bersamaan.


"Aku akan pergi lagi. Kembali ke sini besok malam. Membawa orang pintar untuk memimpin doa bersama, sebelum penginapan benar-benar dibuka."


"Marni, kamu siapkan makanan yang pantas seperlunya. Nola, jangan lupa, kamu siapkan kamar yang rapi dan bersih sebelum rumah penginapan benar-benar menerima tamunya," Zoan berhenti berbicara sejenak. Memandang pada Ossa yang tengah berekspresi menunggu tugasnya.


"Ossa, jika ada calon pengunjung yang singgah secara online, arahkan untuk datang menginap lima hari mendatang. Berusahalah menjaring pengunjung," ucap Zoan dengan tenang dan jelas.


"Saya paham, boss Zoan. Jangan khawatir," sambut Ossa mengangguk.


Zoan tidak lagi berbicara. Namun, matanya masih melekat pada Ossa menelisik. Entah, apa saja yang sedang berada di dalam kepalanya. Dan kemudiian nampak mengambil bafas dalam dan menghembuskannya dengan kencang.


"Nola," panggil Zoan. Nola mendongak dan memandang.


"Iya, boss,,,?"


"Iya. Siap, pak boss," sahut Nola menyanggupi.


Zoan terdiam. Memandang geng pembantu dengan lekat bergantian.


"Cukup dulu yang ingin kukatakan. Istirahatlah kalian," kata Zoan. Menyuruh pergi mereka bertiga dengan gerakan dagunya.


Zoan memandang punggung ketiga pekerja wanita itu hingga tak nampak lagi bayangnya. Kini menoleh pada wanita cantik di sampingnya dengan pandangan meredup.


"Jika sudah, ayo kita berangkat," ucap Zoan dengan lembut pada Luna.


"Yuk, mas," sahut Luna. Kini telah berdiri setelah menghabiskan segelas air putih.


Luna adalah putri dari pemilik salah satu hotel besar berbintang di kota Semarang. Ayah Luna merupakan rekan bisnis di bidang perhotelan yang sama bidang dengan usaha milik Zoan. Hanya saja, Zoan telah berhasil mengembangkan penginapan kecil peninggalan orang tua, menjadi penginapan besar dan terpercaya di kota Semarang. Cerita Luna ini, sama hal dengan cerita Rani. Wanita cantik yang pertama kali dibawa boss Zoan ke penginapan adalah, putri dari pemilik salah satu hotel besar di kota Semarang.

__ADS_1


🕸🕸


Ketiga geng pembantu tidak begitu saja lekas tidur. Mereka gabung bersama di kamar Murniati sejenak. Tentu saja ada yang sedang ingin mereka bincangkan.


"Masak sih, mak? Boss Zoan melibatkan dukun untuk kegemilangan rumah penginapan,?" tanya Ossa yang memang sedang kurang meyakini. Murni mengangguk dengan ragu.


"Lha itu tadi bilang, akan membawa orang pintar. Apa lagi kalo bukan dukun yang dibawa?" Murni balik bertanya. Ossa memandang Nola yang tanpa ekspresi apapun sejak tadi.


"Ya kali, orang pintar itu cuman dukun maknanya, mak. Bisa jadi seorang kyai, dosen atau aparat negara. Tapi kemungkinan besar sih kyai itu, mak. Bukan dukun yang bakar kemenyan kayak gitu," sanggah Ossa.


Merasa konyol dengan permintaan Murni padanya. Sang ketua geng meminta untuk dibelikan keemenyan secara online yang bisa sampai dengan cepat di rumah penginapan. Bahkan kalau bisa, malam ini juga harus sampai. Biar perasaannya tenang. Mana ada kaan? Ossa menggelengkan kepala tersenyum sendiri.


"Ya siapa tahu memang dukun, Oss. Bisa jadi boss Zoan merasa aura mistis dan tidak sedap di penginapan ini, kaan?" Murni masih berusaha menguatkan analisa fiktifnya.


"Boss Zoan tuh orangnya realistis deh, nggak akan mempan hal-hal mistis bagi dia. Kita lihat saja, pasti yang dia kata orang pintar itu adalah kyai, ustadz atau malah gus yang tampan, mak," ucap Ossa dengan lelah.


"Yo wes lah, kita lihat saja nanti." Murniati akur dengan menggelosorkan badan di kasur busanya.


"Bisa jadi memang dukun, Oss. Dia kayaknya suka pergi ndukun, deh," kata Nola tiba-tiba. Nampak mengantuk berat, ternyata menyimak juga.


"Kayaknya,,,, maksud kamu, mbak?" sambut Ossa antusias.


"Dia itu sepertinya suka gonta-ganti wanita. Pasti punya ilmu pelet dari dukun. Aku saja tersepona sama dia," ucap Nola sambil tersenyum lebar-lebar. Murni dan Ossa berpandangan.


"Nol, dia itu memamg ngguanteng. Nggak usah melet aja, perempuan normal kalo ngliat dia ya langsung bilang aku padamu, Nol,," ucap Murni yang terdengar gemas dengan ucapan Nola.


"Iya, mbak, itu bener. Jujur saja aku pun herman dengan keindahan ciptaan Tuhan yang diturunkanNya pada boss Zoan. Tapi ya kita harus tahu diri kan, mbak,," ucap Ossa nampak geli pada Nola. Murniati mengangguk.


"Iya Nol. Bener kata Ossa itu. Harus sadar diri, tahu diri, daaan,,,,, hati-hati."


"Maaf ya, Nol. Kamu itu memang kurang hati-hati. Dulu kuliah hampir tamat, kamu kecantol laki-laki. Sekarang,,, kamu jalan-jalan ke pulau sebelah. Eh, tahu-tahu telat datang bulan. Aku diam-diam tuh pusing ikut mikirin kandungan kamu."


"Bagaimana kalau perutmu nanti nampak besar. Kalau sudah lima bulan, itu pasti buncit, Nol. Nasib baik, kamu nggak mabok-mabok seperti pada umumnya. Jadi kamu ini masih bisa ngumpet. Pikirkan masa itu dari sekarang lho, Nol. Apa mau, boss Zoan memiliki pekerja yang hamil tanpa suami,,?" Keluh Murniati panjang lebar. Meluahkan rasa kesal yang ternyata dia simpan selama ini pada Nola.

__ADS_1


"Hik,,,hik,,,hik,,," tangis Nola pecah tak mampu lagi ditahan.


Murni dan Ossa terkejut saling berpandangan. Keduanya melebarkan mata kebingungan. Tidak menyangka jika perasaan Nola tiba-tiba berubah menjadi sensitif. Tapi merasa lega telah meluahkan unek-unek yang menyiksanya selama ini. Agar Nola lebih siap lagi untuk menghadapi masa depan. Bagaimana kerasnya hidup perempuan dengan seorang anak yang tidak memiliki sosok dan nama seorang ayah.


__ADS_2