
Sebab hanya saling berdiam diri di sepanjang perjalanan, Ossa merasa diserang rasa mengantuk yang dahsyat kembali. Namun, tentu saja merasa enggan untuk menutupkan matanya. Rasanya sangat segan pada pengemudi yang tidak mengenal kata lelah di sebelah. Bahkan, menguap pun Ossa hempaskan diam-diam lewat hidung banyak kali.
"Jika mengantuk, kamu tidur saja, Ossa. Nanti kamu justru sakit jika terus menahan ngantukmu," tegur Zoan, memperhatikan wajah Ossa yang sangat lesu itu sebentar.
Kelopak matanya menggantung dan nampak agak pucat. Bahkan memandang Zoan pun tak ralat. Zoan tak bisa lagi menahan senyum gelinya. Terlebih, Ossa tidak menyahut sepatah kata pun. Tapi, gadis itu justru telah menyambut arahannya dengan gerakan langsung tidurnya.
Meskipun kelakuan Ossa masuk pada ketegori sikap anak buah yang tidak beradab, tapi Zoan tidak merasa kesal sedikit pun. Bahkan, Ossa adalah satu-satunya gadis dalam sejarah yang tidak mengganggu atau juga diganggu oleh Zoan saat dibawa dalam mobilnya di perjalanan.
Bukan sebab Ossa hanya pegawai dan tidak menarik sama sekali. Ossa bahkan sangat cantik, mempesona dan memiliki body yang meresahkan dipandang. Tapi, Zoan selalu merasa jika Ossa bukan lah gadis yang pantas untuk dilecehkan, apalagi dicabulinya.
Zoan tersenyum, merasa heran sendiri tentang perasaan enggan dan segannya pada godaan yang tak kalah besarnya kali ini.
🕸🕸
Gundukan tanah atau juga batu yang sengaja dilewati Zoan bersama roda mobil, sekali lagi adalah alarm alami yang membangunkan Ossa dari tidur lelapnya. Zoan duduk diam menunggu reaksi Ossa selanjutnya. Gadis itu kembali terkejut saat bangun.
"Sudah bangun?" tanya Zoan, membantu Ossa untuk kembali sadar sepenuhnya.
"Boss Zoan,,?! Kita di mana?!" seru Ossa. Respon kejutnya lebih kuat daripada saat terbangun di pantai. Mungkin sebab tempat parkir nampak remang dan lengang..
"Di Semarang, Ossa," jelas Zoan. Sambil bergerak melepas seat beltnya.
"Jadi, sudah sampai di penginapanmu, boss?" tanya Ossa. Nadanya terdengar lega dan senang. Zoan urung membuka pintu.
"Belum. Tapi singgah sebentar di Masjid Agung Jawa Tengah. Kamu ikut aku saja. Jika kamu tersesat, itu sangat merepotkanku, Ossa," tegas Zoan. Benar-benar telah membuka pintu di sampingnya. Dan Ossa dengan patuh mengikuti.
Ossa terkagum-kagum dengan keindahan sekaligus luasnya Masjid Agung. Masjid dengan bangunan dan area seluas sepuluh hektar itu sangat indah menakjubkan. Seperti tidak bisa dibayangkan akal biasa saja, bagaimana rumit mencipta sekaligus mendirikan bangunan megah yang luas seperti itu.
Ossa terus berjalan sambil sesekali melirik orang di sampingnya. Zoan meminta Ossa untuk tidak berjalan di belakang, tapi menyuruh berjalan bersisian. Tentu saja itu membuat rasa pening dan berat di kepalanya menghilang tanpa sisa. Zoan telah memakai peci di kepalanya. Sehingga terlihat lebih terang dan tampan berlipat-lipat dipandang.
__ADS_1
🕸🕸
Zoan kembali laju membelah jalanan malam di kota Semarang. Raut lega terpancar di wajahnya yang cerah meski raganya terasa sangat lelah.
"Apa sudah dekat dengan penginapan anda, boss?" tanya Ossa. Merasa segar setelah membasuh kenyang wajahnya dan berwudhu.
"Lima menit lagi. Kenapa? Kamu mengantuk lagi?" tanya Zoan. Pandangannya terus lurus ke depan.
"Tidak, saya sudah tidak mengantuk lagi. Terimaksih. Maaf, saya sering tertidur," ucap Ossa dengan segan. Zoan menoleh, namun tidak mengiyakan ucapannya.
"Pasti anda merasa sangat capek?" tanya Ossa merasa sangat iba. Zoan menolehnya.
"Bukan hanya merasa sangat capek. Tapi lelah yang luar biasa, Ossaa,," timpal Zoan dengan lirih.
"Maaf ya, Boss. Andai saya bisa menyopir, tentu akan kugantikan," hibur Ossa dengan sangat sadar diri.
"Tenang saja, Ossa. Habis ini akan ada pegawai khusus di penginapanku yang memijat," jelas Zoan. Merasa tidak tega dengan wajah Ossa yang mendung.
"Assalamu'alaikum,,! Mas Zoan, mana sopirnya?!" tanya security. Merasa sangat heran saat Zoan mengemudi sendiri.
"Wa'alaikumsalam! Lagi ada kerjaan lain, pak!" sahut Zoan dari pintu yang sudah diturunkan kaca jendelanya. Security setengah baya itu manggut-mamggut. Mereka nampak akrab dan saling familiar.
Bangunan penginapan yang dijaga security itu memanglah sangat indah dan terang. Meski kecil dan tidak sebesar hotel-hotel pada umumnya. Tapi sangat menarik dan megah.
Zoan membawa mobilnya berlalu ke sebuah garasi pribadi miliknya. Selain ada mobil sedang merah menyala yang baru dipakai, juga ada mobil minibus yang sedang terparkir di sana.
Ossa mengikuti Zoan memasuki ruangan sangat nyaman dan ada dua orang tengah duduk bersama . Ossa yakin jika ruangan itu adalah lobi penginapan. Juga ada dua set sofa dan meja di sana.
"Selamat datang kembali dan selamat malam, mas Zoan,,!!" sambut dua orang gadis cantik itu sambil berdiri serempak. Membungkuk sedikit dan melempar senyum pada Zoan dan Ossa sebentar. Kemudian duduk kembali dan melanjutkan menulis sesuatu.
__ADS_1
Zoan menuju salah satu pintu di lobi. Memencet beberapa angka di kotak angka yang tertempel juga di pintu. Yang kemudian berhasil dibuka lebar oleh Zoan.
Ossa terus mengikuti Zoan ke suabuah ruang yang terang benderang. Rupanya sebuah dapur. Orang-orang di sana langsung mengangguk dan menyapa Zoan dengan hormat.
"Selamat datang, mas Zoan,,!!" seru mereka serempak. Zoan melempar senyum dan membalas salam jumpa mereka dengan bersemangat. Mereka kembali meneruskan pekerjaan mereka.
"Selamat datang kembali, mas Zoan.. Ada yang bisa saya siapkan?" tanya seorang lelaki yang tiba-tiba datang menghampiri.
"Sholeh, siapkan makan malam untuk dua kamar. Antar ke kamarku dan,,, apa kamar tamu siap digunakan?" tanya Zoan dengan pelan.
"Siap sekali, mas Zoan. Monggo, bisa dipakai sekarang juga,," Sholeh berkata sambil memandang sekilas pada Ossa. Menduga jika gadis itu adalah kekasih baru Zoan yang memang sering membawa perempuan pulang serta ke penginapan.
"Antarkan dia ke kamar tamu yang paling berdekatan dengan kamarku, Sholeh," ucap Zoan mengarahkan.
"Siap, mas Zoan," sambut Sholeh mengangguk. Lalu memandang Ossa dengan maksud agar Ossa mengikutinya. Gadis itu pun mengangguk. Memandang pada Zoan penuh bimbang.
"Ossa, kamu ikuti dia. Istirahatlah di kamarmu," ucap Zoan meyakinkan. Paham dengan perasaan Ossa yang galau. Ossa pun mengangguk tersenyum.
"Iya, boss Zoan. Terimakasih," ucap Ossa sambil mengangguk. Merasa tenang dengan arahan terakhir Zoan padanya. Dan segera berjalan cepat mengikuti Sholeh untuk menunjuk kamar tamu yang akan digunakannya.
Zoan juga melangkah. Mengikuti Sholeh dan Ossa yang telah berjalan di depannya. Zoan akan menuju ke kamar pribadi yang telah lama ditinggalkannya. Kamarnya selalau ready. Sebab para pekerja terus mengemas kamarnya dua kali sehari tiap hari meski dirinya sedang pergi.
"Sholeh,,!!" panggil Zoan pada lelaki yang akan berlalu ke dapur. Sholeh menoleh dan mendekat.
"Panggilkan pak Karjo dan bu Minah untuk memijat aku dan gadis itu, Sholeh,," arah Zoan pada pelayan lelakinya yang setia.
"Minta datang ke kamar kami dengan segera," imbuh Zoan mengarahkan.
"Baik, mas Zoan," sahut Sholeh mengangguk. Lalu berjalan cepat menuju belakang ke dapur.
__ADS_1
Zoan segera masuk ke dalam kamarnya yang luas. Merasa tidak perlu mandi lagi dan hanya bertukar pakaian saja malam ini. Sambil menunggu datangnya tukang pijat yang akan menetralkan rasa lelah di raganya yang sedang merajuk.
🕸🕸🕸🕸🕸🕸