Boss Pengganti Di Penginapan

Boss Pengganti Di Penginapan
57. Kemajuan


__ADS_3

Ossa segera berbalik dan masuk ke dalam kamar kembali. Zoan tengah menyandar dinding di samping pintu, memandang Ossa yang tergesa.


"Boss Zoan, aku dipanggil pak Arzaki. Anda akan pergi? Hati-hati di jalan. Semoga urusanmu lancar dan bisa cepat kembali ke penginapan," ucap Ossa sambil membawa baju kotor yang tadi dicampak Zoan ke lantai.


Lelaki itu hanya memandang Ossa dalam diam. Kemudian mengangguk.


"Iya, Ossa. Jagakan kakakku dengan baik," sahut Zoan kemudian. Lelaki itu berdiri tegak, tidak lagi menyandar di dinding.


"Boss Zoan, sebaiknya ikut makan siang dulu saja," bujuk Ossa sambil berjalan menggapai pintu.


"Tidak, Ossa. Sebenarnya aku sangat buru-buru," terang Zoan. Juga mendekat dan berdiri di balik pintu.


"Kenapa tidak cepat berangkat?" tanya Ossa dengan perasaan yang berat. Seperti enggan untuk berjauhan dengan Zoan.


"Hanya ingin melihatmu," ucap Zoan lirih dan berbisik.


Ossa merasa jika Zoan hanya asal bicara. Lelaki yang diam-diam sedang tertekan itu memerlukan tempat untuk pelampiasan beban hidup.


Ossa tidak masalah, merasa rela andai Zoan menjadikan dirinya sebagai objek atau pun subjek hiburannya. Asal saja Zoan tidak berlebihan dan melampaui batasan. Tapi kali ini, baik Ossa atau juga Zoan, sama-sama harus pergi.


"Saya permisi, bos Zoan," pamit Ossa buru-buru. Risau jika Murniati kembali dan mengetuk, sebab tidak sabar. Juga merasa kasian dengan Arzaki yang pasti sedang menunggu.


Tidak ada sahut suara dari Zoan. Hingga Ossa melangkah pergi pun, Zoan belum juga terdengar keluar. Ossa melangkah cepat menuju kamar tamu di seberang ruang makan.


🕸


Arzaki memang sedang menunggu. Lelaki itu duduk dengan posisi terfavorit. Menggantung kaki ke bawah di ranjang yang tinggi. Dan itu sebenarnya memang anjuran khusus dari dokter ortopedi pada Arzaki. Untuk terapi retak tulang di tumit dan betisnya. Jadi bukan saja sebab merasa nyaman saat melakukannya.


"Ossa, apa kamu merasa terganggu?" tanya Arzaki dengan segan. Sebenarnya merasa kasihan dengan gadis muda yang cantik itu. Tapi Arzaki hanya merasa tenang jika Ossa atau juga Zoan yang mengurusnya. Bukan pegawai lain, atau bahkan perawat lelaki sekalipun.


"Tidak, pak Arzaki. Ini memang tugas saya. Ini pekerjaan saya. Anda tidak perlu merasa segan," timpal Ossa dengan tersenyum pada Arzaki. Tidak ingin memadam semangat hidup lelaki malang itu sedikit pun.


Arzaki terdiam dan bungkam kembali. Telah berbicara dengan Ossa meski sedikit saja, itu sudah kemajuan yang pesat darinya.


Seperti cara Arzaki berjalan sebelumnya, menjadikan pundak kecil Ossa sebagai tumpuan. Lebih tepatnya, sekadar dijadikannya penyeimbang dirinya.


Ossa membawa Arzaki menuju meja makan dengan sangat pelan. Yang kemudian mendudukkannya di kursi makan pun dengan perlahan.

__ADS_1


Namun, tidak lagi sangat susah seperti awal-awal Arzaki mulai mencoba jalan. Bahkan boss lama di penginapan itu tidak berani jika bukan Zoan yang membantunya belajar berjalan.


🕸


Boss lama di penginapan sudah hampir dua minggu lebih kembali ke rumahnya. Kini mulai mencoba berjalan tanpa memegang tumpuan. Namun, Ossa masih diminta untuk selalu membuntuti di belakang atau terkadang di sampingnya jika berjalan di luar area kamar.


Sedang Zoan, belum juga kembali ke penginapan. Lelaki itu memberitahu pada Arzaki bahwa dirinya tidak kembali ke rumah penginapan. Namun, Zoan pulang ke Semarang sebab ada urusan mendadak sangat penting. Urusan yang tidak bisa diwakilkan kepada sepupunya, Ayunda.


Arzaki juga sudah bisa mengurusi dirinya. Bahkan untuk memanggil dokter dan juga pembayarannya, semua telah dilakukan sendiri. Adik lelakinya yang sedang pulang ke penginapan di Semarang, telah mentransfer kembali ke dalam rekeningnya dengan sejumlah uang yang lebih dari cukup.


Sedang Ossa, mungkin telah berperan sebagai babysitter Arzaki. Namun hanyalah mendampingi dan menemani. Seperti berjalan dan makan. Untuk kegiatan dalam kamar, Arzaki bisa melakukannya sendiri.


Ossa akan masuk ke dalam kamar jika Arzaki memanggil. Untuk mengantar minuman, mengemas, mengambil baju kotor dan mengembalikan baju yang sudah bersih rapi ke dalam almarinya.


Nola dan Murni sudah tidak tahu menahu lagi tentang ini. Selain sebab Arzaki menolak bantuan mereka, tapi pekerjaan Nola dan Murni sudah menumpuk untuk mengurusi pengunjung di penginapan.


Mereka telah sepakat agar tanggung jawab merawat pak Arzaki dihandle Ossa sepenuhnya. Selain belum lagi memiliki tugas di penginapan, namun juga Ossa sajalah yang diinginkan Arzaki untuk merawat dirinya.


"Ossa," panggil Arzaki tiba-tiba. Ossa baru mengambil cangkir kotor yang digunakan untuk minum obat oleh Arzaki.


"Eh, iya pak,," jawab Ossa berbalik. Mengurungkan niat untuk membuka daun pintu.


"Iya, pak Arzaki," jawab Ossa sambil mengangguk. Teripang adalah nama jalan aspal besar di depan rumah penginapan.


"Istirahatlah," ucap Arzaki tanpa memandang Ossa lagi.


"Permisi, pak," pamit Ossa. Memandang Arzaki sekilas. Lelaki itu sedang merebah dan menarik selimutnya.


Ossa segera keluar kamar dan menutup pintu dengan rapat. Mengantar gelas ke dapur dengan melewati ruang televisi yabg nampak Nola dan Murni sedang rebahan di sana.


🕸


Nola yang sedang santai bersama Murni di depan televisi, memandang Ossa yang datang dan bergabung bersama. Mereka sepakat dengan sadar diri, memilih tidur di ruang televisi. Menemani Ossa untuk bertanggung jawab mengawasi pak Arzaki.


Juga merasa iba pada Arzaki yang kini sendirian. Nola dan Murni sangat paham begaimana kondisi dan perasaan Arzaki yang pastinya sangat sakit.


Untung saja Arzaki adalah lelaki yang cukup baik agamanya. Mungkin faktor tebal iman dan taqwanya itulah yang membuat Arzaki nampak kuat dan tenang. Meski mereka juga paham, betapa hancur lebur dan remuk redam perasaan Arzaki sesungguhnya.

__ADS_1


"Sudah tidur, Os?" tanya Nola memperhatikan Ossa yang tengah mengambil posisi menyelip. Rebah di antara Nola dan Murni.


"Belum, mbak. Tadi pak Arzaki minta ditemani jalan pagi di Teripang lepas subuh," terang Ossa sambil merebah. Nola dan Murni saling berpandangan.


"Ossa, kenapa tiba-tiba pak boss ingin jalan-jalan?" tanya Murni nampak khawatir.


"Dokter yang datang mengontrol pagi tadi memang menganjurkan, mbak. Pak Arzaki disaranin untuk berjalan-jalan lebih jauh lagi," terang Ossa. Sangat paham dengan respon was-was yang nampak dari Murni.


"Ya sudah,, kamu jaga sungguh-sungguh boss kita, Ossa. Sebab, jalan depan itu cukup ramai saat pagi," saran Murni serius pada Ossa.


"Iya, mak. Aku pun paham maksudmu," sahut Ossa. Sambil menyelimuti dirinya dengan rapat.


Murni, Nola dan Ossa tidak lagi saling membahas. Mata yang mulanya nampak fokus pada layar tivi, kini telah mengatup pelan dan rapat.


Nola dan Murni, sebagai tetua di penginapan, tidak mendapat jatah jaga saat malam. Sang asisten yang mungkin bisa juga sebagai manager penginapan, memberi kebebasan pada keduanya untuk standby siang hari.


Penginapan itu berkembang sangat baik. Bahkan kamar yang semula hanya dibuka dua puluh dua kamar sewa saja, kini telah meningkat menjadi tiga puluh empat kamar.


Juga kamar khusus pembantu yang berderet di belakang itu, sudah hampir semuanya berpenghuni. Mereka lebih suka tinggal di penginapan daripada mendapat tunjangan tempat tinggal.


🕸🕸


Arzaki dan Ossa memasuki gerbang dengan pelan. Rencana untuk jalan-jalan di sepanjang jalan Teripang sudah ditunaikan dan kini sedang pulang.


Penjaga di pos satpam itu sedang tersenyum dan mengangguk hormat pada Arzaki dan Ossa. Yang dibalas dengan anggukan hangatnya pada securyti. Dan kini bejalan mendekati.


"Pak, ada banyak polisi yang datang ke penginapan," terang security. Sambil wajahnya memandang ke arah lobi penginapan nun jauh di depan sana.


"Apa yang akan dilakukan oleh para polisi itu di penginapanku?" tanya Arzaki pada security. Nampak heran dengan kedatangan polisi yang banyak itu.


"Akan memeriksa seluruh kamar di rumah penginapan ini, pak," sahut security dengan segan.


"Apa biasanya target mereka?" tanya Arzaki dengan enggan.


"Biasanya, mereka menyasar pada senjata, narkoba, pasangan tidak resmi dan dokumentasi, pak," ucap security pada pertanyaan Arzaki.


Arzaki sedang berkernyit mata dan dahi. Wajah tampan dewasa itu nampak mengeras dan tegang yang samar. Memandang Ossa sekilas dan kemudian berjalan.

__ADS_1


Tetapi, Arzaki kembali pada kenyataan. Kedua kaki tak bisa dibawa berjalan lebih cepat. Hanya satu yang membuatnya bisa berjalan lebih cepat. Bertumpu tangan di pundak Ossa yang kecil. Namun, Arzaki lebih memilih untuk tetap berjalan perlahan menuju ke lobi penginapan.


🕸🕸🕸🕸


__ADS_2