
Suasana kabin dalam pesawat yang akan menerbangkan mereka menuju negara Brunei Darussalam di bandara Bandar Seri Begawan Airport, jauh beda dengan kabin yang sempat Ossa masuki sesaat tadi. Ossa masih berfikir jika dirinya akan terbang menuju ke negara itu...
Dengan kursi lebih panjang dan besar serta bisa direbahkan jika saja sang penumpang ingin tidur. Juga ada bantalan yang lembut dan empuk. Ossa menduga jika ini adalah kelas khusus dan bukan kelas ekonomi seperti yang dinaikinya tadi.
Lelaki tampan yang membawanya masuk ke dalam kabin mewah ini nampak duduk menyandar punggung dan kepalanya dengan meta terpejam. Zoan tidak mengajaknya bicara sepatah katapun. Tapi, Ossa sangat paham perasaan Zoan yang ibarat luka sedang berdarah-darah dan menganga.
Hawa sedih mencekam yang sedang dirasa, justru terhibur dengan rasa seram akan guncangan pesawat ketika mulai take off atau pun lepas landas. Ossa merasa sangat tegang. Hatinya berdebar takut meski sabuk pengaman telah dipasangnya dengan cukup perjuangan.
"Ehemm,,!" bunyi dehem dari kursi disamping seberang, dan tentu saja dari Zoan.
Zoan menoleh dan memandang dengan tatapan yang hangat. Mungkin Zoan paham jika ini adalah pengalaman terbang yang pertama baginya. Mata berkilatnya teduh dan menenangkan, mengubah debar di dada dari ketakutan menjadi debar yang gugup. Ossa merasa malu menyadari jika dirinya sempat takut dan tegang hingga lupa bernafas.
"Jangan lupa berdoa, Ossa,,!" seru Zoan dari kursinya. Tapi cukup hangat dan nampak perhatian.
"Sudah,,!!" sahut Ossa menyambut.
__ADS_1
Meski lelaki itu telah berpaling dan kembali tegak dengan posisi semula. Ossa telah merasa tenang dan lepas dari bayang-bayang seramnya. Hanya berusaha menikmati guncang pesawat dengan rasa tak percaya dan haru. Tidak menyangka jika tiba-tiba naik pesawat, bahkan tujuan ke luar negara dengan kabin yang berkelas. Ossa merasa jika dirinya adalah gadis pesisir yang beruntung.
"Boss Zoan, kita akan terbang berapa jam?" tanya Ossa saat Zoan nampak menolehnya kembali.
"Tidak lama, hanya satu jam lebih sedikit saja," jawab Zoan. Masih menoleh dan memandang pada Ossa. Wajah cantik dan sedikit pucat itu nampak berkerut merut dahinya.
"Cepat sekali? Bukankan jarak kota Semarang ke ibukota negara Brunei Darussalam sangat jauh? Tidak mungkin satu jam saja, boss Zoan,,!" protes Ossa keheranan. Meski tidak pernah naik pesawat, tapi Ossa merasa memiliki wawasan yang lumayan.
Zoan terdiam. Hanya terus memandang dengan datar tanpa daya. Mungkin sebenarnya lelaki itu sedang merasa susah berbicara. Tapi pertanyaan Ossa tidak bisa membuatnya terus bungkam.
"Kita ini sedang menuju ke bandara Soekarno-Hatta,, Ossa. Bukan ke Brunei Darussalam. Lagipula, itu tidak mungkin. Mana passportmu,," Zoan berkata dengan tenang.
"Lalu, kita menuju ke mana, boss,,??" tanya Ossa dengan sisa rasa malu dan terkejut. Zoan memandang lekat padanya.
"Aku mengajukan usul agar kakakku direct rawat di Jakarta, Ossa. Tak kusangka sangat mudah dikabulkan. Kebetulan sedang ada tim dokter yang akan menuju ke Jakarta. Mas Zaki sangat beruntung, mereka sekalian mengawal," terang Zoan dengan jelasnya.
__ADS_1
Ossa menyimak saksama. Menyesal sempat lambat menyadari akan tujuan di tiketnya. Tapi Ossa berusaha mengabaikan.
"Boss Zoan, apa pengajuan istimewa rawat pasien sangat mahal,,?" tanya Ossa hati-hati. Zoan memang lebih lekat menatapnya kemudian. Tapi pertanyaan itu terlanjur terucap begitu saja.
"Ossa,,, tolong terus doakan untuk keselamatan kakakku dan satu keponakanku yang bungsu. Masalah uang, bisa kucari lagi," terang Zoan dengan pandangan sedih tiba-tiba.
"Iya, boss Zoan, maaf. Tentu saja saya tak berhenti mendoakan." Ossa menjawab sambil menyandar seperti Zoan. Rasanya kian iba pada keluarga pak Arzaki dan Reizoan.
"Boss Zoan, anak bungsu pak Arzaki bagaimana?" tanya Ossa lagi. Sebenarnya segan jika pertanyaannya akan terasa menyebalkan bagi Zoan. Tapi rasa ingin tahunya menggebu.
"Masih di sana, sementara diurus oleh keluarga kakak ipar. Jika mas Zaki sudah pulih, aku ingin mengambilnya." terang Zoan dengan pandangan sedih menerawang. Ossa merasa lega, Zoan tidak marah dengan tanyanya. Setelahnya, Ossa terdiam. Tidak berani lagi bertanya. Risau jika Zoan diam-diam justru kian sakit kepalanya.
Ossa coba memejam mata, seperti yang sudah Zoan lakukan di kursi seberangnya. Kabin nyaman ini tidak ramai. Hanya ada tiga kepala orang duduk di depan, dan dua kepala orang duduk di belakang.
Ossa masih sempat berfikir jika Zoan telah menghanguskan dua tiket yang tadi dibelinya. Berganti dengan tiket eksklusif yang harganya pasti jauh lebih mahal dari tiket-tiket yang tadi dibelinya. Lalu, bagaimana nasib tiket-tiket yang tadi dibelinya itu? Merasa sayang jika terbuang sia-sia..
__ADS_1
Ossa mengantuk sekali. Melirik Zoan yang masih memejam mata. Tidak tahu apakah lelaki itu hanya memejam raga,,, ataukah dengan jiwa yang memang sudah berkelana jauh melayang...
🕸🕸🕸🕸