
Zoan menghela nafas panjang setelah benar-benar mengerti dengan detail kisah Nola yang cukup menyesakkan. Wanita cantik penjaga lobi itu ternyata telah menjalin kasih dengan Haru Masako banyak bulan lamanya. Hingga jalinan cinta mereka menghasilkan buah karya abadi di rahimnya.
Dan ternyata, Nola masih berhubungan baik dengan Haru setelah mereka tidak saling bertemu. Lelaki dari anak yang dikandung itu masih mengirimi Nola tambahan biaya hidup tiap bulan dengan rutin. Hanya, Nola tidak paham sama sekali dengan pekerjaan hitam sang kekasih.
"Jadi, meskipun Haru Masako sering mengirim uang, kamu tidak pernah berkomunikasi?" tanya Arzaki. Suaranya cukup memecah hening dalam kamar luas itu.
Nola yang tenggelam bersama kuku-kuku panjangnya dan berwarna warni cantik, memandang Arzaki yang terbaring di ranjang. Kemudian menggelengkan kepala dengan segan.
"Tidak pernah, pak. Haru tidak pernah bisa saya hubungi. Terakhir mencoba kemarin, nomor ponsel dia yang saya punya, mati. Dah expired, pak,," jelas Nola dengan mata indah berbulu mata palsu lentiknya. Lolong tangisnya telah terhenti.
"Zoan, bagaimana menurutmu?" tanya Arzaki pada Zoan. Adiknya yang tampan tengah menyandar dinding di sampingnya sedari tadi. Arzaki kini paham, semenjak datang, Zoan tidak pernah nampak duduk. Pasti sebab luka di perutnya akan sakit jika tertekuk.
"Aku akan membawa Nola serta mengajak Rama dan Aldi ke markas polisi sore ini juga. Aku khawatir jika Haru Masako keburu pindah tempat." Zoan menjawab dengan tegas dan cepat. Lelaki itu nampak bersemangat. Mungkin perasaannya pada Haru Masako, penuh dengan dendam kesumat.
"Nola, apa kekasihmu tahu jika kamu bekerja di penginapan ini?" tanya Arzaki pada pegawai cantik yang berperut buncit itu.
"Tahu, pak. Saat kami berkenalan di Pulau Kelapa Dua, saya mengatakan tempat kerjaku," sahut Nola dengan jujur.
"Jadi, waktu itu kamu mengambil cuti tahunan satu minggu, kemudian menambah cuti lagi satu minggu, total cuti kamu dua minggu, kamu habiskan dengan Haru Masako di Pulau Kelapa Dua?" tanya Arzaki lebih detail. Nola nampak menunduk, sepertinya merasa malu dengan Arzaki juga pada Zoan dan Ossa.
"Iya, pak. Sebenarnya bukan hanya di pulau penangkaran penyu itu saja. Tapi Haru juga mengajak ke beberapa pulau yang lain," imbuh Nola apa adanya.
Arzaki terdiam, tidak lagi memberi Nola pertanyaan. Kamar tamu yang luas itu terasa hening dan lengang. Tidak bisa dibayangkan bagaimana perasaan Arzaki saat malam. Lelaki dalam masa berkabung, namun sendirian dan tidak bisa kemana-mana. Hanya diam di atas ranjang tanpa kawan. Kasihan sekali Arzaki. Zoan menghela nafas panjang berkali-kali.
"Nola, selama Haru menginap tiga malam di sini, apa kamu mendatanginya jika malam?" tanya Zoan tiba-tiba.
Nola mendongak menoleh Zoan terkejut. Pertanyan memojokkan yang sama sekali tak disangka. Tapi Nola pun mengangguk juga akhirnya.
"Iya, pak Zoan. Maafkan saya," jawab Nola. Kembali menunduk merasa sangat malu.
"Setiap malam?" tanya Zoan kembali. Nola kembali mengangguk.
"Iya,," jawab Nola dengan sikap pasrahnya.
__ADS_1
"Kalian bercinta?" tanya Zoan lebih detail dan mendesak.
"Zoan,," tegur Arzaki dengan pelan.
"Tidak apa-apa mas. Polisi pun akan bertanya seperti ini pada Nola nantinya. Bahkan lebih detail lagi," ucap Zoan dengan tegas.
"Tapi ini bisa menakuti Nola, Zoan. Bagaimanapun bersalahnya sikap dan tindakan Nola, dia adalah pegawai kita yang sudah bekerja cukup lama di penginapan." Bela Arzaki untuk pegawai seniornya.
Meskipun Nola sudah berkhianat pada aturan di penginapan, tapi Nola masih jujur dan rela mengungkap segalanya. Arzaki berapresiasi tentang ini.
"Tidak, mas. Justru dengan kita tanya seperti ini, nanti Nola tidak kaget lagi di sana. Tidak ada yang akan mendampinginya saat diinterogasi secara personal," ucap Zoan menjelaskan alasannya. Arzaki pun terdiam dan menyerah pada cara sang adik.
"Nola, jawab pertanyaanku tadi," tegur Zoan pada Nola. Ternyata, Nola sudah menangis terisak kembali. Ossa nampak menepuk-nepuk punggung Nola menenangkan.
"Iya,, kami melakukan itu. Saya masih mencintainya, hik,,hik..." Nola kian menangis setelah menjawab jujur pada Zoan. Merasa sangat malu dengan aibnya yang terbaca. Sekaligus sangat sedih dengan kandas cintanya, serta kian bingung dengan nasib buah hati di perutnya.
"Nola, apa kamu masih ingin Haru Masako menjadi nama dari ayah anakmu?" tanya Zoan kemudian. Nola terdiam cukup lama.
"Maaf, pak Zoan. Apa Haru memang benar-benar pemilik sabu?" tanya Nola masih seperti tidak percaya.
"Jika ternyata seperti itu, maka tidak. Sekarang saya tidak ingin lagi. Saya tidak mau anak saya mengetahui cerita hitam ayahnya. Lebih baik anakku hanya memiliki satu nama orang tua saja. Nama saya, ibunya," sahut Nola menegaskan.
Punggung tangan putih dan mulus Nola, sibuk menepuk-nepuk kedua matanya. Mungkin tisu kemasan mini yang selalu dia bawa, sedang habis tanpa memiliki cadangan.
"Zoan, bagaimana jika kamu coba mendampingi Nola,,? Tragedi salah tembak di perutmu, akan memberi inner power tersendiri untukmu. Nola sedang hamil, biar dia tidak terlalu lama jadi saksi," ucap Arzaki pada Zoan.
"Ayah bayinya memang gila,,!" seru Zoan merutuk. Tidak peduli dengan Nola yang menangis sekali lagi.
"Zoan, sabar. Sadarlah, kamu pun juga suka bermain wanita,," tegur Arzaki. Merasa gerah dengan sikap adiknya.
"Bukan masalah apa yang sudah mereka lakukan, mas. Aku pun tidak lupa dengan kelakuanku. Tapi cara lelaki itu mencari uang dengan jalan instan. Merepotkan orang saja!" seru Zoan merutuk. Merasa sangat kesal dengan kejahatan yang sudah dilakukan Haru Masako di penginapan.
Ossa terdiam memandang Zoan yang kesal. Mungkin lelaki itu juga merasa lelah berdiri. Suasana kamar terasa lengang sejenak.
__ADS_1
"Nola, apa ada hal lain lagi yang akan kamu katakan?" tanya Arzaki. Nola nampak diam sejenak.
"Tidak, pak," sahut Nola kemudian.
"Jika tidak, bersiaplah. Zoan akan membawamu ke kantor polisi untuk bersaksi,"
"Nola, aku pesan denganmu. Setelah kejadian ini dan juga kandasnya pernikahanmu dulu, berhati-hatilah jika kenal dengan lelaki. Jaga dirimu, jangan mudah dirayu meski kamu sudah menyukai lelaki itu, Nola," pesan Arzaki sungguh-sungguh pada Nola.
"Iya, pak. Terimakasih nasihatnya," sambut Nola dengan mengangguk.
"Ossa, kamu pun begitu. Apalagi kamu masih gadis. Jika kamu suka dengan lelaki, hati-hatilah. Jaga harga dirimu, jangan sampai kamu menyesal setelahnya. Jagalah dirimu hingga lelaki itu menikahi kamu," ucap Arzaki pada Ossa tiba-tiba.
Ossa nampak terkejut dengan petuah Arzaki padanya. Tidak sengaja memandang Zoan yang juga memandang ke arahnya.
"Emm, iya pak. Terimakasih," sahut Ossa nampak bingung.
Apakah Arzaki tidak sadar jika telah mengikat Ossa dengan menikahi? Sampai kapan Arzaki menahannya dengan pernikahan ini. Ossa berharap Arzaki akan pulih setelah mendapat terapi dari perawat terapis yabg dicarikan oleh Zoan. Lalu setelahnya bagaimana..? Apa Arzaki langsung menceraikan? Dan Ossa akan menjadi janda kembang diam-diam..?
🕸🕸
Mobil penginapan yang dibawa Zoan, tidak dikemudikan oleh Aldi. Tapi oleh sopir sewa yang dibawanya dari Semarang tempo hari.
Nola duduk di depan bersama sopir. Zoan duduk di tengah bersama Rama, sang asisten di penginapan.
Zoan tidak ingin membuang waktu lagi. Ingin kasus di penginapan segera menemui titik terang. Setelah menyetor kesaksian Nola kepada polisi sore ini. Mereka pasti akan bergerak malam nanti. Polisi pun tidak ingin target buruan terlepas kedua kali.
Setelahnya, Zoan ingin segera kembali ke penginapan miliknya di Semarang.
Mempercayakan Arzaki kepada seorang perawat terapis dan pada Ossa yang telah dinikahi. Zoan telah menebalkan hati untuk menjauhi Ossa dan Arzaki.
Perkataan Arzaki di kamarnya barusan, cukup membuat dirinya tersindir. Bisa jadi sang kakak sudah mengendus kelakuannya pada Ossa di kamar. Sedang Zoan memang sadar diri, sangat susah untuk tidak mengusik Ossa sedikit pun.
Zoan sendiri juga risau jika tidak mampu mengendalikan diri untuk tidak menyentuh Oqtissa lebih jauh. Jika sampai terjadi, Arzaki akan kecewa besar dan bisa Jadi Ossa akan kehilangan kehormatan.
__ADS_1
🕸🕸