
Si kembar sudah diambil sang kakak dari pantai dan tidur lelap kembali di rumah. Mita pun juga sudah pulang beberapa saat lalu setelah puas berbincang seputar pelunasan hutang antara Gandy, ayahnya dan Zoan. Mita juga mengakui bahwa rasa salut pada boss Zoan yang tampan dan tajir itu kian menebal saja dirasanya. Yang mana pengakuan Mita membuat Ossa kian tertawa ha,,ha,,ha,,,ha.."
Zoan pun sudah mengemas barang di cottage dan menyerahkan kunci kepada pawang pantai. Berbincang sekaligus berpamit salam dengan ayahnya Ossa telah juga dilakukan. Dan terakhir, berpesan agar ibu serta ayah Ossa jangan sampai lagi menanam nama di renteiner meski semendesak apapun kebutuhan masalahnya.
Kini,, Zoan dan Ossa telah dibawa sang sopir bertolak meninggalkan kampung pesisir di Rembang. Mereka berangkat tepat setelah menunaikan shalat dzuhur. Dan kini sedang melaju menyisir wilayah Rembang menuju ke Pati. Yang tentu mereka kembali dengan menelusur di jalur pantura yang indah.
"Boss Zoan, tadi sepertinya kamu belum makan siang?" tanya Ossa. Sempat melihat jika Zoan nampak buru-buru saat mengajaknya berangkat.
"Memang iya, Ossa. Aku risau jika sampai macet. Malam ini, ada pertemuan di kota Semarang. Sangat khawatir jika waktu tempuh ini memanjang," terang Zoan. Memandang Ossa sekilas. Mereka duduk bersama di bangku penumpang, di belakangnya kang driver.
"Apa tidak mencari makan?" tanya Ossa pada Zoan yang kemudian memandangnya.
"Kamu lapar, Ossa?" tanya Zoan. Gadis itu cepat-cepat menggeleng.
"Aku sudah makan siang." Ossa menerangkannya dengan cepat.
"Aku masih kenyang. Tadi sempat menghabiskan sisa bubur ayam buatan ibumu. Enak sekali," terang Zoan. Kemudian menyandarkan punggung di kursi.
Ossa berpaling jauh ke samping. Membuang pandangannya ke jalanan. Jalanan wilayah Rembang sudah hampir habis ditinggalkan. Dan sebentar lagi akan berganti jalanan di area kabupaten Pati yang menyambut menggantikan.
Tak terasa, mereka telah menghabiskan lebih dari satu jam perjalanan..
__ADS_1
"Ossa, kamu kenapa? Kamu menangis?" tanya Zoan terheran. Kaget saat tak sengaja melihat bahu Ossa yang samar berguncang.
Ossa nampak mengelap wajah dan matanya. Sangat nampak bahwa gadis itu memang baru menangis.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Zoan terheran. Merasa jika semuanya sedang baik-baik saja, tapi Ossa justru malah menangis.
"Tidak apa-apa, boss.. Aku hanya merasa kangen dan sedih tiba-tiba, ingat pada keluargaku, terlebih pada ayahku. Aku pulang, tapi sangat sibuk sekali. Sekarang semuanya sudah beres, tapi sekarang pergi lagi," keluh Ossa dengan suara bergelombang. Gadis itu memang merasa sangat sedih.
Zoan terdiam merasa iba. Apa yang di katakan Ossa memang benar. Rasanya kasihan juga. Dua tahun pergi jauh, sekali pulang hanya sangat sebentar. Itupun sebab ada masalah yang membuatnya benar-benar jadi sibuk.
"Tidak perlu sedih, Ossa. Kamu sudah berbuat hal besar pada keluargamu. Nanti jika sudah agak luang, kamu bisa pulang lagi." Hibur Zoan dengan caranya.
"Lagipula lelaki itu masih terobsesi denganmu. Bisa jadi jika kamu masih di rumah, dia akan datang terus," terang Zoan menegaskan.
Zoan yang tertidur sebab rasa mengantuk sangat hebat dan itu adalah pengaruh obat, telah dibangunkan sang sopir. Adzan ashar terdengar mengalun sayup menerobos dalam mobil. Mereka telah sampai di area kabupaten Kudus. Perjalanan telah melewati dua jam lebih waktu tempuh.
"Antar aku ke Masjid terdekat, pak," pesan zoan kepada kang sopir. Menoleh gadis di sebelah yang juga baru terbangun.
"Kita shalat ashar sambil istirahat di Masjid Menara Kudus, Ossa," terang Zoan saat Ossa menatapnya dengan bingung. Dan gadis itu baru saja mengangguk.
"Iya," sambut Ossa dengan suara yang serak.
__ADS_1
Mereka menyinggahi Masjid Menara Kudus di kabupaten Kudus. Masjid yang nampak megah dan merupakan bangunan kebanggaan kabupaten Kudus.
Menurut catatan, masjid Menara Kudus yang dibangun oleh sunan Kudus itu memiliki nama lain yaitu masjid Aqsa. Sengaja dinamakan begitu, sebab sunan Kudus sedang sangat merindukan tanah Pelestina. Negara tempat asal muasal serta para leluhur sang Sunan.
Mereka tidak singgah sangat lama di masjid. Zoan mengajak sang sopir dan juga Ossa untuk segera bertolak kembali. Tidak ingin perjanjian untuk bertemu relasi malam ini, justru dirusaknya sendiri.
"Ossa, untuk malam ini, kamu istirahatlah," ucap Zoan tanpa menoleh. Mereka telah meluncur kembali menuju Semarang melewati daerah Demak.
"Boss Zoan akan pergi sendiri?" tanya Ossa pada lelaki di sebelah.
"Aku akan membawa asistenku. Dia baru datang dari Bandung," terang Zoan. Menolehkan kepala dan memandang Ossa yang masih menoleh kepala padanya.
"Asisten baru?" tanya Ossa heran. Zoan menggeleng.
"Bukan. Sudah lama dia bekerja padaku. Kemarin mengambil cuti cukup panjang," terang Zoan sambil meletak kepalanya di kursi.
"Perempuan?" tanya Ossa dengan segan, tapi sangatlah penasaran. Mendadak Ossa merasa resah tidak tenang.
"Iya, perempuan. Namanya Ayunda. Dia sudah hampir satu tahun bekerja padaku, Ossa," terang Zoan lebih jelas lagi.
"Oh, iya boss Zoan." Ossa menjawab menimpali. Merasa lidahnya agak kaku bersuara. Ossa tidak lagi ingin bertanya. Dan keadaan dalam mobil pun kembali pada suasana yang senyap.
__ADS_1
🕸🕸🕸🕸