Boss Pengganti Di Penginapan

Boss Pengganti Di Penginapan
59. Dibawa Polisi


__ADS_3

Ketegangan dalam lobi melonggar sedikit saat sebuah mobil memasuki halaman dan garasi. Seorang lelaki berkemeja rapi nampak keluar dari pintu mobil dan memandang lobi terheran. Lalu gegas berjalan melewati latar lobi, menuju ke teras dan masuk ke dalam lobi.


"Assalamual'aikum,,! Selamat pagi, pak,,!" sapa salam pria muda itu di depan pintu. Mengangguk sopan pada Arzaki dan juga pada polisi yang berdiri di samping boss penginapan.


"Wa'alaikumsalam,,!" sambut Arzaki pada pria pegawai penginapan yang tak lain adalah sang asisten, Rama.


"Pak Arzaki. Ada apa ini?" tanya Rama setelah berdiri mendekat. Melirik sekilas pada polisi di depannya.


"Rama, kita sedang mendapat masalah yang cukup serius," ucap Arzaki pada asisten yang direkrut oleh Zoan dan belum lama dikenalnya.


"Masalah serius yang bagaimana, pak?" tanya Rama terkejut.


"Polisi baru melakukan sidak di semua kamar. Dan ini adalah ulasan hasil sidak mereka, Rama." Arzaki mengulurkan notes dari polisi tadi pada Rama.


Rama menyimak dengan serius kertas bertulis di tangannya. Bahkan lelaki itu membaca ulang hingga dua kali isi tulisan penting dari polisi itu.


Rama memandang Arzaki dan menanyakan beberapa hal. Mereka sedang berbincang serius sejenak.


Ossa dan Nola berpandangan dengan saling berpegang tangan. Memandang cemas pada Arzaki dan juga Rama yang nampak berdikusi. Sepertinya mereka masih belum menemukan titik temu.


Ossa merasa sedih, mengingat Zoan yang justru sedang tidak ada di penginapan. Zoan tidak tahu menahu kejadian pagi ini. Padahal, seharusnya Zoanlah yang paling tepat untuk berada di garda depan penginapan. Tetapi lelaki itu,,, bahkan pulang ke Semarang pun tidak bicara dengannya. Ossa merasa geram dan kecewa sekaligus kasihan pada Zoan diam-diam.


"Saudara Arzaki, bagaimana? Kami tidak bisa menunggu lama. Tolong bekerja samalah dengan baik," tegur kepala sidak. Merasa tidak sabar dengan Arzaki dan Rama yang cukup lama bersepakat.


Arzaki mengambil nafas sambil menoleh pada ketua tim sidak.


"Jika memang perlu membawaku, bawa saja. Akan aku berikan segala keterangan yang kalian butuhkan," jawab Arzaki dengan wajah nampak kesal.


"Pak, sudah saya bilang. Bapak masih sakit, saya saja yang ikut mereka ke markas," ucap Rama menyela dengan cepat. Lelaki itu melangkah bergeser di depan Arzaki mendahului.


"Sudah. Biar aku saja. Tolong kamu urusi penginapan ini sementara. Di sana nanti, aku hanya perlu duduk dan berbicara. Jika aku di penginapan, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Berjalan pun susah. Pahamlah, Rama..!" seru Arzaki menegaskan pada Rama dengan setengah berbisik. Lalu berpaling pada Ossa dan Nola.


"Ossa, jika ada apa-apa teleponlah,"


"Nola, kamu sudah bekerja cukup baik. Kalian bantulah Rama dengan sungguh-sungguh."


"Pak,,,!" pekik Ossa tiba-tiba. Mendekati Arzaki dengan cepat. Gadis itu sesenggukan menangis. Ossa menunduk tersedu sambil memegang lengan tangan Arzaki dengan kuat. Merasa sangat sedih. Merasa gagal menjaga baik-baik sang tuan.


"Ossa. Kamu tidak perlu menangis. Kurasa Zoan sebentar lagi akan datang. Tanyakan pada adikku tentang segala surat mulai dari surat kecelakaan, surat kematian dan surat perawatan." Arzaki berbicara sambil melepas tangan kecil itu perlahan. Ossa masih terus menunduk. Menangis tanpa bersuara.


"Pak, bagaimana jika saya temani selama bapak dibawa polisi sebagai saksi?" tanya Ossa tersendat dengan masih menunduk.

__ADS_1


"Tidak perlu, Ossa. Kamu bantulah Nola atau siapa saja yang memerlukan tenagamu. Aku tidak apa-apa." Arzaki berkata tegas dan meyakinkan.


Boss penginapan itu berbalik badan setelah selesai berkata-kata pada Ossa. Mendahului berjalan ketua polisi sidak yang tengah menunggu dengan tidak sabar. Arzaki melewati dengan cara berjalannya yang perlahan dan sedikit tertatih.


Polisi membawa Arzaki masuk ke dalam salah satu mobil dinas polisi. Mereka datang ke penginapan dengan menggunakan dua mobil dinas sebagai sarana berpatroli.


"Mbak,,, bagaimana iniii... Apa yang harus kita lakukan?? Aku gagal menjaga pak Arzaki. Kasihan sekali tuan kita,, hik,,hik.." Ossa berbicara dan kembali menangis. Rasanya begitu berat cobaan bertubi yang menimpa keluarga Arzaki.


"Hik..hik...hik...!" Nola justru ikut menangis histeris. Wanita cantik bermake up serasi dengan seragam di badannya itu, merangkul Ossa dan terus menangis tanpa henti. Nola pun sangat iba dengan kemalangan yang menimpa keluarga Arzaki dan penginapan.


"Ossa, bagaimana kalau kamu kabari boss Zoan?" tanya Nola tersendat. Mengangkat wajah dan memandang Ossa dengan harap yang tak jelas.


"Sudah mbak. Banyak kali. Tapi nggak aktif," sahut Ossa di sela sengguknya. Ujung hidung mungilnya nampak kemerahan dan basah. Sama rupa dengan kedua matanya.


"Ossa,,!! Lihatlah...! Lihat, Ossaaa,,!!" tiba-tiba Nola berseru histeris dengan telunjuk menuding ke arah gerbang. Nola berdiri menghadap arah depan penginapan. Sedang Ossa berdiri menghadap meja lobi.


Ossa berbalik cepat seperti yang Nola harapkan. Matanya mendapati nun jauh di gerbang, sebuah mobil merah menyala sedang beradu tanduk dengan mobil patroli polisi.


Ossa menoleh pada Nola yang juga berbarengan menoleh padanya. Kedua wajah cantik itu saling berpandangan tanpa kata. Namun keduanya mendadak sama-sama menangis pilu berbarengan. Antara terkejut, terharu, atau bahkan seperti tidak percaya jika orang dalam mobil merah itu adalah yang sedang mereka sangkakan.


🕸🕸


Memang benar, orang yang datang dengan mobil merah itu adalah lelaki yang telah mereka duga. Zoan yang gagah sangat mudah dikenali meski dengan jarak cukup jauh dari lobi. Nampak terlibat dalam perbincangan seru dengan ketua sidak polisi di gerbang.


"Mbak, apa menurutmu aku perlu ke sana?" tanya Ossa ragu pada Nola. Penjaga lobi itu menatapnya dan kemudian mengangguk.


"Coba lihatlah ke sana, Ossa. Cari tahu apa yang sedaang mereka bicarakan," bujuk Nola sambil menepuk punggung Ossa.


"Iya, mbak," jawab Ossa. Lalu melangkah pergi keluar dari lobi. Melewati teras lobi dengan hati berdebar penuh rasa. Antara sebab terkejut dengan datangnya Zoan, juga berdebar sebab masalah penginapan yang berakibat dibawanya Arzaki oleh polisi.


Saat Ossa turun dari teras lobi ke pelataran, dilihatnya Zoan tengah berjalan menuju penginapan. Meninggalkan Arzaki bersama polisi, juga mobil merah menyalanya di sana. Zoan datang sendiri tanpa menyewa seorang sopir lagi.


Lelaki itu juga terlihat sedang memandang ke arah Ossa sambil terus berjalan sangat cepat. Ossa justru berjalan kian pelan seolah ragu-ragu melangkah. Debar degup di dadanya membuat langkah kaki terasa berat dan seperti tanpa arah.


"Ossa,,!!" seru Zoan sambil terus berjalan. Lelaki itu sambil melambai tangan pada Ossa dengan langkah kaki menuju teras rumah.


Ossa membelok arah seketika saat Zoan melambai tangan pertanda jika lelaki itu mengundangnya. Jantung Ossa lebih berdegub kencang sekarang.


Tidak ingin bimbang dan ragu, Ossa berusaha melangkah dengan lebih cepat agar tidak terlalu jauh tertinggal. Dikejarnya Zoan dengan berjalan cepat setengah melesat.


Zoan menuju ruang dalam, berjalan menghampiri kamarnya dan berhenti di depan pintu. Menoleh pada Ossa yang sudah berhenti tepat di belakangnya.

__ADS_1


"Masuklah, Ossa," ucap Zoan dengan tergesa pada Ossa.


Ossa segera mengikuti Zoan masuk ke dalam kamar dengan debar yang kencang. Sangat penasaran dan samar menduga pada apa yang akan Zoan lakukan di dalam kamar padanya. Tapi keadaan ini sangat genting, banyak masalah yang sedang berserabut di kepala Zoan.


Dan,,,pak Arzaki sedang di posisi yang sangat tidak aman, Zoan tidak mungkin bertingkah aneh-aneh padanya.


"Ossa,," tegur Zoan pada Ossa yang nampak merenung padanya.


"Eh, iya..." sahut Ossa menanggapi.


Zoan memandang Ossa sebentar. Berjalan cepat menghampiri almari dan membukanya. Zoan mengeluarkan sebuah map file dan menutup kembali pintu almari. Dibawanya file itu ke tempat Ossa berdiri menunggu dan mengawasi. Berdiri di depan Ossa sangat dekat.


Zoan memandang lekat wajah Ossa tanpa kedip. Seperti ada yang akan diluahkannya pada gadis polos itu. Dan kamar Zoan selalu mode remang.


"Ossa,,," panggil Zoan.


"Dengar baik-baik, kali ini kuminta padamu dengan sangat. Jagalah kakakku dengan baik-baik. Tadi, kenapa justru kamu biarkan dia dibawa polisi,,??" tanya Zoan bernada memojokkan.


Ossa sangat terkejut dan merasa tertekan mendengar ucapan Zoan. Tidak menyangka jika Zoan kembali menempatkan dirinya sebagai seorang pesalah. Ossa merasa seperti sedang disudutkan lagi oleh Zoan.


Tapi melihat Ossa yang diam memandangnya dengan tatapan takut, Zoan merasa menyesal dengan ucapannnya. Sadar siapa Ossa, yang tentu tidak berdaya dengan kemauan keras Arzaki dan para pelaku sidak.


"Ah, Ossa.. Maafkan aku," rengek Zoan pada Ossa yang sudah berada di pelukannya. Zoan baru saja menarik bahu Ossa untuk dibawa rapat ke dada lapangnya. Zoan tengah memeluk erat tubuh mungil Ossa ke dalam dekapannya.


"Kuharap kamu paham padaku. Aku sangat menyesal dan merasa bersalah. Aku lalai tidak mendaftarkan ulang izin usaha penginapan. Rasanya benar-benar letih, Ossa."


"Ini adalah berkas riwayat sakit dan musibah milik mas Arzaki. Dengan ini, polisi tidak akan membawanya. Tapi aku akan menggantikan sebagai wakil saksi dari penginapan. Selama aku tidak ada. Jagalah kakakku, Ossa. Paham?" tanya Zoan sambil melonggarkan pelukan. Ingin melihat jawaban Ossa melalui bibir manisnya.


"Hik,,hik.." Ternyata Ossa justru menahan Zoan dan memeluk erat punggung lebar lelaki itu. Sambil menangis terisak-isak memilukan di dadanya. Ossa tak sanggup lagi bicara.


"Jangan menangis. Aku ingin merasa tenang, tapi kamu malah menangis. Diamlah, Ossa," pinta Zoan sambil membalas pelukan itu dengan erat kembali. Ossa berusaha meredam tangisnya mati-matian. Takut jika Zoan menjadi tambah lelah.


"Dengar, Ossa. Aku hanya sebagai saksi. Jangan cemas, percayalah bahwa aku adalah pria yang pintar. Aku tidak sudi lama-lama sebagai saksi. Doakan aku, serta doakan agar pelakunya segera ditangkap," bujuk Zoan.


"Dan,, jangan lupa jagakan kakakku. Lakukan yang terbaik untuknya. Bayangkan jika dirimu adalah aku, Ossa," Zoan menepuk beberapa kali punggung Ossa dengan lembut. Rasanya hangat sekali.


"Iya, boss Zoan," sahut Ossa berjanji. Zoan merasa jauh lebih lega dengan kesanggupan Ossa padanya.


"Bagus, Ossa. Terimakasih. Jika begitu, ayolah keluar. Temani aku ke depan sana. Sekaligus menjemput boss kamu dari mobil patroli. Bawalah dia kembali ke dalam penginapan dengan rasa aman untuknya."


Zoan melepas pelukan perlahan. Memandang Ossa sekilas dengan ekspresi yang mendung. Lalu berbalik dan berjalan cepat membuka pintu kamar.

__ADS_1


Lelaki gagah itu berjalan cepat tanpa menoleh Ossa yang juga berjalan tergesa membuntutinya di belakang. Zoan seperti ketakutan jika Arzaki akan dibawa polisi pergi tanpa berhasil dicegahnya.


🕸🕸🕸🕸


__ADS_2