Boss Pengganti Di Penginapan

Boss Pengganti Di Penginapan
44. Ditemani Ayunda


__ADS_3

Zoan bernafas lega setelah pertemuan anehnya malam ini berakhir. Bertemu bukan dengan rekan dan calon klien. Tapi klien lama dari negara Pakistan yang telah berlangganan dalam jangka panjang padanya. Menempatkan orang-orangnya di penginapan hampir lima tahun belakangan, tiap kali mereka didatangkan oleh klien Pakistan itu ke Indonesia.


Sebenarnya ini menyenangkan dan berkah melimpah untuk penginapan. Hanya pebisnis dari Pakistan ini cukup memiliki perilaku menyimpang di tiap pertemuan. Nasib baik Zoan bertemu Ayunda di lobi. Zoan sempat meminta pada asisten untuk membacakan agenda pertemuannya. Dan ini seperti lampu merah bagi Zoan untuk menyertakan Ossa bersamanya.


Bukan tanpa sebab. Tapi klien dari Pakistan itu cukup keterlaluan jika sudah berorientasi di saat pertemuan. Selalu mendatangkan beberapa penari striptease sebagai suguhan. Penari sriptis itu, selanjutnya akan mendapat kebebasan untuk menggoda.


Zoan tentu berusaha keras mengabaikan. Tapi tidak dengan sang klien dari Pakistan. Moment seperti itu memang tujuannya. Si penari akan melepasi pakaian sang klien hingga tak tersisa, yang akan disambut dengan senang dan semangat oleh klien Pakistan itu. Mereka akan merasa bebas melakukan tindak asusila apapun setelahnya. Mengabaikan mata Zoan dan Ayunda di depannya.


Sebab itulah, Zoan tak bisa membayangkan jika Ossa yang baginya terlalu polos, tetap ikut menemani di pertemuan kali ini. Yang pasti juga akan merepotkan Zoan sendiri setelahnya.


Zoan bersama Ayunda, tengah dalam perjalanan pulang bersama. Boss tampan penginapan membawa mobilnya sendiri tanpa driver yang mengawal dirinya lagi. Driver taksi yang disewa telah dikembalikan oleh Zoan ke habitat semula. Yakni sebagai driver taksi resmi di bawah bendera perusahaan.


"Yun, apa ada pertemuan yang sudah terjadwal lagi sehabis ini?" tanya Zoan sambil terus fokus mengemudi. Ayunda duduk di sampingnya.


"Banyak agenda yang masuk, mas. Tapi hanya satu yang sudah jadi. Besok malam," jawab Ayunda sambil membuka ponselnya.


"Ke depannya, coba arahkan dengan pertemuan yang wajar dan normal saja. Berikan batasan jika mereka masih ingin memakai fasilitas mesum dan bebas. Kita harus mulai belajar memakai line dan etika yang wajar. Mungkin nanti, relasi kita akan jauh berkurang pada awalnya. Tapi akan kucoba membuat model marketing baru saja, Yun," ucap Zoan tanpa memandang Ayunda di samping.


"Nah,,,betul itu, mas. Sudah lama aku menyarankan perbaikan untuk atitude meetingmu. Tapi kamu menolak. Sebab kamu enjoy it, kamu sebagai pelakunya juga, mas. Ini kenapa tiba-tiba kayak tobat gitu,,?!" seru Ayunda bertanya.


Wajah cantiknya nampak heran. Memajukan duduk dan punggung untuk bisa memandang Zoan seluruhnya. Boss tampan itu hanya tersenyum kecil di ujung bibir.


"Hanya demi orang tuaku. Aku ingin mereka tenang di alam sana." Zoan mengatakan alasannya.

__ADS_1


"Kenapa kamu tobat nggak dari dulu? Ha,,ha,,ha,,!" tawa Ayunda begitu lepas membahana. Zoan acuh saja pada tawa ejek adik Sepupu itu padanya.


Selain sebagai asisten, Ayunda adalah putri tunggal dari adik ibunya Zoan. Atau juga adik sepupu Zoan dari pihak ibu. Ayunda 26 tahun, menikah dengan pria berwarga negara Korea Selatan. Namun sedang mengalami prahara rumah tangga. Sehingga Ayunda bekerja di penginapan sebagai asisten Zoan, setahun belakangan ini.


"Terus, wanita yang mau ikut tadi itu siapa, mas? Kamu bilang sudah tobat. Tapi masih ada saja yang dipelihara di rumah pribadimu,," kata Ayunda mengingatkan.


"Dia bukan wanita, Yun." Zoan berkata sambil tersenyum.


"Eits... Bukan wanita? Lalu apa? Waria?!" tanya Ayunda tersenyum lebar-lebar. Zoan mengeraskan wajah menahan untuk tidak tertawa.


"Dia itu memang masih gadis, belum wanita,," ucap Zoan sambil berpaling ke samping. Menyimpan wajah dari jelingan Ayunda yang tertawa.


"Ha..Ha...Ha.. Sok tahu!" seru Ayunda tertawa.


"Pegawainya mas Zaki di penginapan. Nama dia Oqtissa," terang Zoan dengan pandangan terus di jalan.


"Lalu, kenapa ngekorin kamu, mas?" tanya Ayunda terdiam tanpa tawa lebarnya lagi.


"Aku yang membawanya," jawab Zoan nampak resah.


"Kenapa dibawa?" tanya Ayunda tidak puas.


Zoan nampak fokus mengemudi. Berlagak tidak mendengar pertanyaan Ayunda. Sangat paham dengan sifat Ayunda yang detail dan responsif.

__ADS_1


"Mas, kenapa kamu membawanya? Kamu kan tobat? Emang mas Zaki udah nggak perlu tenaga dia lagi nantinya?" tanya Ayunda agak mendekat di kepala Zoan.


Zoan terpaksa menolehkan kepalanya.


"Itu urusanku, Yun. Sudah, aku jadi tak fokus mengemudi," ucap Zoan tegas pada Ayunda.


"Jadi nggak ada alasan? Hanya ingin membawa dan ditemani, begitu?" tanya Ayunda yang berusaha meledek.


"Anggap saja kusuruh study banding." Zoan berkata sambil menahan senyum.


"Hah,,,?! Apaa,,?? Ha..Ha..Ha.. Sirkus deh, pake banget,,!!" cerca Ayunda tak bisa menahan tawanya.


"Kayak penginapan bintang lima saja pake study banding,,!" lanjut Ayunda merasa geli.


"Kamu ini menyepelekan? Kamu tahu sendiri, pendapatan penginapanku bahkan menyaingi bintang lima. Sampai seperti ini pengorbananku. Terpaksa menodai mata dan diriku. Sampai aku terperosok di kolam dosa hingga bertahun-tahun. Untuk apa,,, demi membesarkan penginapan, Yun," jelas Zoan dengan landai dan tenang. Tidak terpancing dengan apapun ledekan Ayunda.


"What,,??! Menodai mata dan diri? Ha..Ha..Ha.. Kayak mas Zoan korban saja. Kayak situ tidak merasa sudah terlalu banyak meracuni hati anak gadis orang,,!" Ayunda kembali tertawa. Dan lebih tertawa lagi mengingat topik utama study banding yang tadi dibilang Zoan sebagai alasan membawa Oqtissa.


Sepanjang yang dia tahu, belum ada ajang study banding di rumah penginapan sepupu-sepupunya selama ini. Entah yang di Semarang, atau juga yang milik Arzaki di wilayah kepulauan Seribu. Itu akan membuang waktu, tenaga dan biaya.


Itulah alasan Zoan memberi penolakan setiap kali ada instansi pendidikan yang datang ke penginapan. Bertujuan mengajukan proposal untuk penempatan study banding para siswa di lembaganya.


Zoan memilih abai dengan kelakuan Ayunda yang sengaja memojokkan. Zoan kembali berlagak sangat fokus di kemudi. Baginya, mencermati keadaan lajur jalan jauh lebih menarik daripada harus menanggapi ledekan Ayunda yang tak berujung terhadapnya.

__ADS_1


🕸🕸🕸🕸🕸🕸🕸🕸🕸🕸


__ADS_2