Boss Pengganti Di Penginapan

Boss Pengganti Di Penginapan
75. Tidak Ramah


__ADS_3

Setelah menghirup dan menghempas nafas beberapa kali demi mendapat ketenangan diri, Ossa melanjutkan langkah maju ke pintu. Melewatinya dengan perasaan tegang luar biasa. Sayang sekali, begitu Ossa melewati pintu dan menuju teras, suara khas yang membuat jantung kencang berdetak itu tidak lagi terdengar.


Sambil berjalan pelan, diberanikan diri memandang mereka sekilas. Seperti dipalu godam saja rasa dalam dada, lelaki dengan wajah tampan mencolok itu sedang memandang padanya. Zoan duduk di kursi yang menghadap ke arah pintu utama. Seketika seperti sedang mengawang rasa jalan kakinya.


Cangkir berisi kopi tanpa penutup sebab begitu panas berkebul, diletak Ossa di meja dekat Arzaki di atas tatakan. Semua lelaki di kursi seperti bungkam tanpa terdengar satu patah kata pun berbicara. Ossa masih segan untuk memandang para tamu itu satu persatu. Memposisi diri sebagai pekerja penginapan yang diam dan santun.


Niat Ossa untuk menggeser diri mengantar kopi pada tiap tamu diurungkan. Sebuah tangan dengan gesit tengah mengulur dan menggeser cangkir kopi di depan Arzaki. Memindahkan di sisi yang lain. Ossa tahu jika itu adalah tangan Zoan yang duduk di seberang.


Arzaki yang berada dekat dengan Ossa juga tak tinggal diam. Mengambil baki dari Ossa dan diletaknya di tengah meja. Ossa segera paham dan menurunkan satu persatu di atas tatakan. Disambut Zoan untuk kembali digesernya. Hingga cangkir dalam baki habis tergeser dalam tatakan.


Ossa menarik baki yang sudah kosong dan mundur beberapa langkah. Memandang orang-orang itu sepintas lalu kemudian sedikit membungkuk. Ossa melangkah mundur satu kali kemudian berbalik. Kembali ke dapur dengan debar dada yang kencang.


"Kenapa, kamu nampak tegang, Oss?" sambut Murni saat Ossa kembali ke dapur. Mengambil baki yang kosong itu dan mengisi dengan cangkir kopi berikutnya.


"Enggak kok, mak. Cuma terkejut saja, ternyata ada boss Zoan di depan," jelas Ossa terbuka. Ossa mengambil pengaduk kopi dari tangan Murni dan mengadukkannya.


"Iya, boss Zoan membawa orang-orang itu untuk menginap," terang Murni. Wanita itu sudah tahu akan adanya Zoan, tapi tidak bilang. Murni ikut mengaduk kopi dalam cangkir dengan pengaduk yang lain.


"Kopi ini di antar ke kamar berapa saja, mak? Sudah ada yang ngambil belum?" tanya Ossa setelah selesai mengaduk.


"Biarkan saja disitu, sebentar lagi Yana datang mengambil," terang Murni sambil mengecilkan api kompornya. Ossa pun mengangguk.


Yana adalah salah satu petugas layanan kamar di shift pagi. Mungkin sebentar lagi akan selesai bertugas. Puncak kesibukannya adalah pukul lima sore hari. Pada jam-jam itu, banyak pengunjung yang memesan kopi untuk diantarkan ke kamar. Dan setelahnya adalah mengantar pesanan untuk makan malam pengunjung.


"Bu Nikmah, ke mana, mak?" tanya Ossa pada Murni.


"Dia minta jaga malam. Katanya nggak bisa tidur kalo malam. Ya sudah, dia jaga malam sama Tika di cafe saat malam," terang Murni sambil duduk lelah di kursi.


Jika malam, bukan dapur dan Murni lagi yang bertugas di bagian layanan pangan. Tapi,, beralih di kafe dan tidak melayani ke kamar. Pengunjung harus pergi sendiri ke kafe untuk membuat pesanan dan membawanya atau dimakan di kafe.


🕸🕸


"Ossa, ke sinilah!" seru Arzaki dari meja makan. Ossa nampak sibuk di dapur.


Sengaja menyibukkan diri bersama Murni dan Yana. Menyiapkan makan malam untuk diantar pada para pengunjung di penginapan.


"Ada apa, pak?" tanya Ossa setelah berdiri di samping meja makan.


"Duduklah, Ossa. Ambil piring dan makanlah," ucap Arzaki sambil menunjuk kursi di sampingnya, tempat yang biasa Ossa duduki.

__ADS_1


"Iya, pak," sahut Ossa meski rasanya sangat bimbang. Arzaki telah mengambil makanan sendiri di piringnya.


Ada Zoan yang juga tengah duduk di meja makan. Nampak fokus dengan isi dalam piring dan tidak mempedulikan kedatangan Ossa sama sekali. Meski rasanya tidak nyaman, Ossa memaksa diri untuk makan malam menemani Arzaki.


Hanya Zoan yang makan malam bersama Arzaki di meja makan. Para lelaki yang tadi datang bersama Zoan, memilih menggunakan layanan kamar masing-masing.


Mereka dan juga Zoan, sedang mengikuti seminar promosi mix product sekaligus join healing bersama. Mereka adalah pebisnis sukses, namun masih lajang dan jomblo. Bahkan dua di antara mereka berusia banyak tahun di atas Zoan. Setara usia Arzaki.


Mereka singgah di penginapan Arzaki sebelum meneruskan perjalanan ke pulau-pulau indah kepulauan seribu esok hari.


"Apa besok kamu singgah lagi ke sini, Zoan?" tanya Arzaki pada lelaki tampan di depannya.


"Tidak, mas. Sebenarnya mereka berencana langsung ke pulau, tapi sebab aku ingin mengunjungimu dan melihat keadaanmu, teman-temanku pun juga ingin menyambangimu," terang Zoan sambil terus makan dan mengunyah.


"Kamu langsung kembali ke Semarang?" tanya Arzaki.


"Sangat kurang jika hanya sehari, mas. Tidak cukup waktunya. Mungkin besok malam menginap di salah satu pulau itu."


Zoan menerangkan pada Arzaki dengan masih sambil makan. Zoan tidak sekalipun melarikan pupil matanya pada gadis cantik yang duduk tegang di sebelah Arzaki. Berharap agar Zoan sedikit saja memandang matanya. Tapi Zoan tidak sekali pun meliriknya...


Boss pengganti itu berencana akan membawa dua penginapan Azril untuk dipromosikannya. Yang satu Azril miliknya di kota Semarang, dan yang satunya adalah Azril milik Arzaki di kepulauan seribu perbatasan ini.


🕸🕸


Meski Arzaki sudah memilik besi penyangga jalan, tapi lebih suka ditentengnya saja dan tidak dipakai. Lebih sering membawa Ossa agar menuntunnya sesekali. Atau lebih tepatnya menyertai.


Ossa kembali ke rumah utama setelah membersihkam diri dan menunaikan shalat isya. Menyusul Murni merebah di ruang televisi untuk menemani Arzaki, demi tetap menghidupkan rumah utama. Rumah itu terasa sangat lengang saat malam.


"Loh,,mak... Ngapain? Tadi kayak sudah tidur.." Ossa menegur Murni yang ada di dapur lagi.


"Boss Zoan, minta dibuatkan jahe madu hangat. Mungkin nggak bisa tidur," sahut Murni sambil duduk di kursi. Menunggu air diteko terdengar mendidih. Stok air panas di termos sedang habis. Sedang dispenser otomatisnya sedang bermasalah.


Ossa duduk diam di kursi samping Murni. Termangu memandang nyala kompor dengan pandangan yang jauh.


Zoan tidak memintanya untuk mengantar minuman itu ke kamar. Merasa heran dengan sikap Zoan yang telah jauh berubah. Sangat abai dan tidak lagi bersikap hangat padanya. Ossa sangat bingung dengan salah bagaimana yang sudah dibuatnya tak sengaja. Hingga selama makan, meliriknya pun tak sudi.


Padahal lelaki itu sempat bersikap baik saat membagi kopi di teras...


"Os, kamu dari mana dengan pak Arzaki barusan? Sampai malam begini,," tanya Murni dengan keponya. Ossa tersenyum.

__ADS_1


"Rapat, mak. Rapat sama pak Rama. Pak Rama pun juga baru saja pulang," jelas Ossa. Murni pun manggut-manggut nampak lega.


Wanita itu sudah selesai membuat jahe hangat manis madu di gelas yang besar. Diletak di baki dengan disertai tutup gelas dan tatakan. Ossa mengikuti jalan Murniati di belakangnya. Lalu berpatah langkah menuju depan televisi, tempatnya tidur dengan Murni.


"Ossa,,!!" seru Murni berbisik keras tiba-tiba. Wanita itu sedang dalam posisi berjongkok. Ossa segera mendekat dengan perasaan yang cemas.


"Ada apa, mak?" tanya Ossa dengan was-was.


"Ossa, perutku tiba-tiba melilit. Kamu tolong antar ini, ya,, aku ingin ke kamar mandi. Aduuuuuh,, duh,,duh,," rintih Murni meresahkan.


"Tapi pak boss Zoan tidak menyuruhku, mak." Ossa merasa ragu meski sambil mengambil baki dari Murni dengan cepat.


"Sudah, Os.. Antar, pak boss minta cepat tadi. Mungkin dia masuk angin. Aku ke toilet dulu, Oss!!!" Murni berseru sambil melesat menuju dapur yang tembus ke kamar mandi di belakang.


🕸


Ossa sedang menunggu Zoan membuka pintu dengan debar dada sangat laju. Pintu super size di kamar Zoan baru saja diketuknya.


Ceklerk..!


Lelaki sangat tampan yang berdiri sambil memegang gagang pintu itu nampak terkejut. Tidak menyangka jika lain orang yang disuruh, lain orang juga yang datang. Dan yang datang itu adalah Ossa, gadis yang sangat ingin dihindarinya.


"Mas Zoan,," sebut Ossa tercekat. Rasa hati tak bisa ditahannya.


"Ini,, jahe hangatmu," ucap Ossa agak terbata. Zoan justru tajam menatapnya.


Lelaki itu tidak cepat menyambut gelas jahe madu. Seperti sedang bimbang untuk menerima. Bahkan tangan yang sedikit akan mengulur, ditarik kembali tidak jadi.


"Ke mana Marni? Kenapa yang ngantar kamu?" tanya Zoan dengan ketus. Lelaki itu bersikap sangat tidak ramah kali ini.


"Buru-buru ke kamar mandi. Aku disuruh mengantar padamu," sahut Ossa dengan cepat. Kembali diulurnya gelas dengan tatakan ke arah Zoan. Lelaki itu tidak menyambut kembali.


"Kenapa kamu mau?" tanya Zoan dengan lirih. Ossa agak terkejut dengan pertanyaan ini.


"Bisa jadi kamu sedang masuk angin,,," jelas Ossa dengan suara yang juga lirih. Merasa mulai gentar dengan sikap Zoan yang terasa dingin padanya.


Zoan mengusap daan menarik rambutnya sendiri. Sepertinya sedang bimbang dan entah apa yang membuat Zoan terlihat sangat galau.


"Bawa ke dalam. Letak di meja," ucap Zoan mengambang. Namun Ossa sangat jelas mendengar. Kedua telinganya telah terbiasa dengan cara bicara Zoan yang lirih.

__ADS_1


🕸🕸


__ADS_2