Boss Pengganti Di Penginapan

Boss Pengganti Di Penginapan
25. Tidak Berguna


__ADS_3

Ossa merasa mendapat kejutan besar saat seorang wanita agak tua tiba-tiba datang ke kamar dengan alasan akan memijat. Tentu saja Ossa senang bukan kepalang. Meski ragu pada siapa orang yang sangat tanggap mengirimkan seorang pemijat itu untuknya, namun Ossa merasa sangat teruja dan menikmati.


Saat pemijat wanita yang ternyata doyan sekali bercerita, berkata bahwa Zoan lah yang mengirimnya, Ossa baru memahami dan merasa lebih tenang menikmati pijatan. Tidak peduli saat wanita pemijat itu juga berkata bahwa Ossa sebaiknya siap-siap. Sebab, bisa jadi setelah ini Zoan akan datang dan menidurinya. Tapi Ossa sudah melayang menuju alam khayangan di mimpinya.


Gadis itu tersadar kembali saat dibangunkan oleh bu Minah, nama tukang pijat, saat malam telah larut.


"Cah ayu,, sudah selesai. Tapi kamu makan dulu. Itu makananmu wes dianter," kata bu Minah kala Ossa sudah sadar sepenuhnya.


"Eh, iya, bu. Terimakasih," sahut Ossa dengan tersenyum. Bu Minah duduk di ranjang memandangnya.


"Kamu namanya siapa, cah ayu?" tanya bu Minah penuh maksud. Ada senyum janggal di bibirnya.


"Nama saya Oqtissa. Ossa biasa dipanggil, buu,," sahut Ossa dengan sopan dan lembut. Bibir bu Minah masih tersenyum.


"Maaf ya, cah ayu. Aku sekedar ingin tahu. Apa kamu ini masih perawan?" tanya bu Minah lembut. Menyimak serius dengan terus tersenyum.


Ossa nampak salah tingkah dengan wajah piasnya. Tidak menyangka akan ditanya begini oleh bu Minah.


"Memang kenapa jika saya perawan dan tidak perawan, bu?" tanya Ossa tersenyum. Bu Minah juga tersenyum kian lebar.


"Tidak apa-apa. Aku hanya seneng mijet badanmu. Singset dan ramping di mana-mana. Besok, meski mas Zoan nggak nyuruh, kupijet lagi yo, cah ayu,,?" tanya bu Minah sungguh-sungguh. Ossa langsung saja mengangguk.


"Terimakasih, bu. Saya tunggu lho, Ini rezeki. Saya memang paling suka dipijet,," sahut Ossa jujur dengan senyum cerah berharap.


"Iya, besok ku usahakan. Pukul sembilan malam, ibu datang," kata bu Minah sambil berdiri.


"Yang kutanya tadi itu gimana, kamu masih perawan?" tanya bu Minah kembali menyelidik. Kali ini Ossa sudah tidak lagi terkejut.


"Iya, bu. Saya masih ting-ting," sahut Ossa dengan raut tersipu.


"Iya, wes tak sangka, cah ayu. Yo wes, tak keluar dulu. Kamu bisa mandi air anget, biar nggak bau minyak urut. Nanti kalo mas Zoan datang, kamu baunya wangi. Wes, tak keluar," ucap bu Minah penuh arti. Wanita setengah tua itu telah berbalik dan pergi menuju pintu.


Ossa termangu, menelaah segala ucapan bu Minah. Apa hubungan antara ting-ting, mandi wangi dan Zoan datang? Apa mereka berfikir jika Ossa adalah salah satu harem Zoan yang dibawa pulang?


Oh, Tidak,,! Zoan tidak pernah bergelagat mesum padanya. Lagipula Zoan pernah bilang, dia hanya menyukai wanita dewasa berpengalaman. Bukan gadis polos yang tak ada pengalaman ranjang sepertinya.


Ossa tersenyum-senyum dengan lega. Merasa diri pasti aman dan safety. Zoan tidak akan mengusiknya. Zoan membawanya ke sini, hanya demi urusan di penginapan.


πŸ•ΈπŸ•Έ


Terakhir Ossa bertemu, Zoan berpesan agar Ossa mengamati segala hal di penginapan. Zoan tidak mengatakan pengamatan spesifik apa saja yang diinginkan. Hingga Ossa merasa jika studi banding ini tidak terlalu bermakna atau juga bermanfaat nantinya. Tidak efisien sama sekali dan tidak memiliki tujuan apapun yang jelas.

__ADS_1


Sedang lelaki itu entah melanglang buana ke mana lagi. Sudah hampir dua hari ini mereka berdua tidak saling bertemu. Diam-diam, Ossa lebih banyak menikmati waktu dengan merebah di kamar tamunya.


Mau apa lagi, semua pegawai nampak sudah tercukupi dan tidak kekurangan tenaga. Niat untuk menyumbang tenaga di beberapa posisi, bertolak dengan kelakuan hormat mereka yang lebay pada Ossa. Yang kemudian mereka bersikap acuh pada Ossa setelahnya.


Begitu juga di dapur. Mereka bahkan menolak Ossa, dan berpesan agar tidak muncul lagi di sana. Bahkan, pak Sholeh tegas memintanya untuk kembali saja ke kamar. Katanya, segala kebutuhan Ossa telah diantarkan ke dalam kamar.


πŸ•Έ


Tidak tahan menjadi pegawai tak berguna, Ossa mencoba menghubungi Zoan di ponselnya. Telah diulang banyak kali, tapi tidak kunjung diangkatnya. Ossa merasa jengah sendiri. Yang berakhir dengan merebah lagi setelah lelah berjalan bolak-balik dan berdiri.


πŸ•Έ


Ossa terburu melipat mukena andalan yang memang selalu dibawa ke mana-mana. Sebab pintu kamarnya sedang mendapat ketukan dari seseorang di luar. Berharap itu adalah Zoan yang berhari-hari tak jumpai.


Ceklerk!


Merasa sangat senang. Orang yang diharap, telah nyata datangnya. Zoan berdiri di depan kamar dengan wajah nampak letih. Mata lelah itu memandang Ossa lekat-lekat.


"Kamu pagi tadi meneleponku banyak kali?" tanya Zoan di sela tatapan matanya.


"Iya, boss Zoan. Apa saya mengganggu? Maaf. Tapi rasanya sangat bingung," terang Ossa buru-buru.


"Saya tidak melakukan apa-apa sepanjang hari. Saya juga tidak merasa belajar apapun. Sebenarnya apa saja yang harus dipelajari?" tanya Ossa dengan rasa yang galau. Merasa diri tak berguna dan tak ubahnya seperti parasit benalu.


Zoan tidak berbicara, hanya terus menatap Ossa. Namun, Zoan terlihat sedang berfikir sesuatu.


"Saya juga berniat membantu. Tapi mereka nampak tidak perlu bantuan lagi. Pagi-pagi ingin membantu bersih-bersih dan berkemas, mereka tidak ingin membagi alatnya. Dan pergi ke dapur pun, saya tidak diterima." Wajah Ossa terlihat bingung dan sedih.


"Mereka tidak mau percaya jika saya juga pegawai penginapan. Mungkin mereka menganggap jika saya ini adalah salah satu haremmu," terang Ossa nampak suntuk dan kemudian menunduk.


"Ossa," panggil Zoan lirih. Ossa mengangkat wajahnya.


"Sorry, beberapa hari ini aku ada undangan dari beberapa rekan di Singapura. Tidak sempat memberitahumu." Zoan menjelaskan pada Ossa dengan tenang.


"Aku memang berpesan pada beberapa pegawaiku untuk memperlakukanmu dengan baik. Kamu jangan berfikir buruk pada mereka," terang Zoan. Ossa menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Saya tidak berfikir buruk pada siapa pun. Hanya merasa sedang menjadi orang yang tidak berguna." Ossa meluah perasaan pada bossnya.


"Ossa,,," panggil Zoan dengan lirih.


"Iya,," sahut Ossa menatapnya.

__ADS_1


"Ossa, kamu ingin jadi sangat berguna bagiku?" tanya Zoan terdengar mengherankan. Pandangan Ossa kebingungan tidak paham.


"Ossa, apa kamu keberatan jika menjadi haremku?" tanya Zoan tiba-tiba. Ossa terkejut, meyakinkan diri bahwa dirinya salah dengar.


"Menjadi heremmu? Apa aku salah dengar?" tanya Ossa memandang tajam pada Zoan.


"Tidak. Kamu tidak salah dengar. Boleh aku duduk?" tanya Zoan terdengar sopan. Memandang ke dalam kamar.


Ossa tidak menjawab. Namun, menepi sedikit dengan membawa daun pintu bergeser bersamanya. Zoan segera masuk melewatinya. Dan Ossa menutup pintu lalu dudur di bangku kayu berukir dengan kualitas terbaik dari Jepara.


Gadis dengan sisa riasan yang telah dibasuh saat dzuhur, memandang Zoan yang juga memandangnya.


"Begini Ossa. Mungkin kamu sudah paham. Aku adalah lelaki yang sangat kotor bagimu. Tapi terserah bagaimana kamu menganggapku."


"Jika aku bertemu dengan teman atau rekan usaha, selalu kubawa salah satu kekasihku. Dan kamu menyebutnya harem,,,?" Zoan terdiam sejenak. Memperhatikan reaksi Ossa yang nampak salah tingkah dan bingung.


"Aku selalu membawa sendiri haremku di manapun. Sebab jika nampak tidak membawa, aku akan diserang banyak wanita yang tidak kutahu asal usulnya. Jadi, bagaiman jika besok kamu saja yang kubawa untuk menemaniku,?" tanya Zoan dengan tegas.


Meski sebenarnya terasa susah membicarakan perkara seperti ini dengan Ossa. Hanya berharap jika gadis polos itu cukup cerdas dan memahami maksudnya.


"Apakah hanya dibawa untuk menemani?" tanya Ossa. Ada ragu dan takut yang terbaca di matanya.


"Iya, Ossa. Jangan khawatir. Aku berjanji denganmu, tidak ada fikiran untuk merayu dan melecehkan kamu," sahut Zoan meyakinkan.


"Bagaimana, Ossa? Kamu bisa membantuku?" tanya Zoan dengan lembut. Seperti ingin menghipnotis Ossa agar mengangguk dengan tanyanya.


"Apa hanya dengan cara seperti itu agar saya berguna untukmu saat ini, boss Zoan?" tanya Ossa dengan suara seperti menahan tangisan.


"Maaf, Ossa. Apa kamu keberatan?" tanya Zoan dengan nada masih lembut. Ossa memandang ragu, dan kemudian menggeleng. Tapi hatinya tidak bisa menipu. Ossa menangis tanpa bisa ditahan lagi.


Zoan mengeraskan hatinya. "Oke, Ossa.Besok pagi kukabari. Sekarang kamu tenanglah. Istirahat saja sesukamu. Kamu tidak perlu menangis seperti itu, Ossa." Zoan segera berdiri. Bersikap seperti tidak peduli. Lalu melangkah menuju pintu dan pergi.


Ossa memandang pintu dengan menyeka air di matanya. Merasa sangat sedih tanpa alasan. Perasaan yang tak jelas dan tak mampu dipilihnya. Entah merasa lemah, entah merasa terhina. Atau justru merasa jadi berguna seperti yang telah Zoan tawarkan padanya.


πŸ•ΈπŸ•ΈπŸ•ΈπŸ•ΈπŸ•ΈπŸ•Έ


Vote Seninmu kasih padaku yaa...


Don't forget it, please...


Terimakasih..πŸ˜˜πŸ•Έβ€

__ADS_1


__ADS_2