Boss Pengganti Di Penginapan

Boss Pengganti Di Penginapan
62. Sedia?


__ADS_3

Meski sang tuan sedang lumpuh tak berdaya, tapi pintanya ibarat sabda bersihir yang kuat. Justru ketidak berdayaannya itulah sebagai senapan penyebab Ossa menyerah dan menekuk lutut untuknya. Arzaki ibarat bayi baru lahir yang butuh uluran tangan, namun hanya menginginkan ulur dari tangannya.


"Boss Zoan, kamu kenapa,,di mana,,kapan kembali,,hik,,hik,,?" keluh Ossa sambil berderai air mata. Merasa harapan akan mendapat dewa penolong dari lelaki itu sekali lagi, terhempaskan.


Ossa menggenggam erat ponsel yang selalu gagal menghubungi nama Zoan. Entah kenapa ponsel milik Zoan selalu menolak panggilan yang coba Ossa sambungkan banyak kali. Sambut pengalihan itu yang selalu Ossa dapat dan dengar di telinga kanannya.


Gadis itu duduk lunglai di sofa kamar Zoan. Pilu dan galau hati yang dirasa, telah membawa kakinya menuju kamar boss pengganti. Ingin rasanya menjumpai Zoan ada di dalam kamarnya. Yang tentu saja itu hanyalah khayalan. Sebab, Zoan memang belum kembali dan pasti tidak akan ada di dalam kamarnya.


Ossa terus menangis sepuas hati dan lama. Sambil sesekali menyebutkan nama boss Zoan lirih di bibir. Merasa sangat ingin bertemu dan mengadukan segala hal padanya. Lelaki bad men yang terkadang marah dan manja, namun baik dan pantas disukainya.


🕸


Ossa pergi ke dapur menjumpai Murni dan duduk di depan perapian dengan sebuah tungku melekat di atasnya. Murni duduk juga di dekatnya, namun sambil menangis dan kali ini tidak mampu lagi disembunyikan.


"Mak, lalu bagaimana ini?" tanya Ossa yang sudah kering air matanya. Semua telah ditumpahkan di dalam kamar Zoan.

__ADS_1


Murni memandang sangat bingung. Kemudian berpaling ke arah perapian di depannya dengan bungkam. Seperti berat untuk menyuarakan pendapat pada Ossa.


Gadis yang dibawanya dari pesisir dan telah mendapat berbagai coba masalah bertubi. Kini tersandung dengan masalah yang serupa kembali. Terjerat untuk menikah tanpa hati sekali lagi.


Yang tentu saja kali ini dengan masalah yang jauh sekali berbeda. Tanpa paksaan, tapi justru sangat memberati hati untuk tidak menyanggupi. Seperti akan menjadi manusia tak bernurani saja jika gadis itu menolaknya.


"Mak, bagaimana??" tanya Ossa kembali. Murni justru nampak sibuk dengan air di tungku arang yang sudah terdengar mendidih.


Wanita itu kembali duduk di depan Ossa setelah membuat kopi di nampan besar berisi banyak cangkir.


"Kita makhlum bagaimana watak tuan kita. Sampai dia nggak mau dirawat orang lain. Bahkan perawat laki-laki pun nggak mau. Tapi malah ingin nikahi kamu. Dia sudah nggak ada keluarga, Ossa. Mungkin hanya sama kita, sama kamu itu yang dianggap keluarga,"


"Wong dia bilang nggak lama, paling lama tiga bulan. anggap saja kerja seperti biasa di sini. Cuma kamu jadi perawatnya sekarang. Kerja di orang yang sama. Lagian tuan kita lumpuh, nggak bisa ngapa-ngapain. Juga, dia itu nggak akan mikir macam-macam. Dikepalanya itu hanya nama nyonya yang ada. Tuan hanya ingin nikah siri saja sama kamu, Ossa. Selama untuk merawat. Habis itu, ya sudah, tidak ada cerita lagi," ucap Murni dengan suara bergelombang.


Wanita itu cepat berdiri. Seperti menyembunyikan tangisnya dari Ossa.

__ADS_1


"Jadi, aku harus mau dinikahi siri pak Arzaki, mak,," tanya Ossa datar dan lirih. Memandang menembus jauh pada Murni.


"Aku tidak bilang harus, Ossa. Aku juga sangat kasihan denganmu. Tapi apa bisa, kamu menolak permintaannya? Sedang keadaan tuan seperti itu," keluh Murni pada Ossa.


"Pak Arzaki apa egois namanya ya, mak? Kenapa dia nggak mau dirawat perawat lelaki saja?" tanya Ossa yang juga mengeluh.


Meski sebenarnya juga paham kenapa,,,, mungkin saja diam-diam Arzaki sedang mengalami mental breakdown. Sebab guncangan hebat tiba-tiba yang menimpa hidupnya. Kehilangan orang-orang terkasih. Itu memang sangatlah mengguncang jiwa menyakitkan.


Hanya orang yang dipercayai saja yang boleh mendekati Arzaki, dan orang itu adalah Ossa sendiri. Sebab terbiasa merawat bersama Zoan sejak awal siuman dari musibah waktu itu. Ah, memang repot sekali jika sudah terlanjur seperti ini.


"Mak, lalu ibu dan ayahku bagaiamana? Kepalaku sakit sekali. Apa semudah itu menikah?" keluh Ossa lagi. Merasa bersalah dan juga berkhianat jika ingat sang ayah.


"Aku pun tak bisa berkata-kata, Ossa. Soal agama, aku cetek banget. Anggap saja ini bagian dari tuntutan kerja. Bagian dari pekerjaan," ucap Murni berniat menghibur.


Ossa kembali menatap jauh merenung. Menembusi dinding dapur yang seolah bisa melihat apa pun saja di balik dinding itu.

__ADS_1


🕸🕸🕸


__ADS_2