Boss Pengganti Di Penginapan

Boss Pengganti Di Penginapan
86. Mudik


__ADS_3

Satu minggu kemudian..


Setelah peristiwa lamaran yang membuat Ossa merasa malu sekaligus melayang, Zoan memberi sepakat untuk tidak dulu menjumpai calon istri. Ossa bersetuju dan terus tinggal di hotel tujuh hari kemudian sesuai yang calon suaminya inginkan.


Namun, sebelum mereka tidak saling bertemu sementara, Zoan dan Ossa sempat membuat panggilan video pada orang tua Ossa. Intinya, saling bersalam kabar yang kemudian menyampaikan niat mereka. Zoan mengatakan pada orang tua Ossa akan niat baiknya untuk anak perempuan mereka.


Yang disambut cukup kaget, namun gembira oleh orang tua Oqtissa. Meski kabar dan permohonan restu ini cukup mengejutkan dan buru-buru, tapi orang tua Ossa cukup memahami dan mengerti.


Juga menyambut antusias saat Zoan menyampaikan ingin menyelenggarakan acara akad nikah bersama anak gadis mereka di depan penghulu itu dengan secepatnya. Yang di mana hari dan waktu, Zoan kembalikan dengan pasrah agar calon mertunyalah yang menentukan hari H nya.


Dan selanjutnya, Ossa lah yang bertugas berkomunikasi secara intens pada orang tua di pesisir. Membuat kesepakatan serta rencana melalui panggilan dan pesan. Diantaranya adalah rencana pesta hajatan di kampung halaman serta kapan acara itu tepat dilakukan.


🕸🕸


Kini mereka sudah kembali berjumpa bahkan sedang dalam perjalanan menuju kampung halaman Oqtissa. Zoan bersama Ossa tidak pergi berdua saja, melainkan bersama driver langganan yang biasa Zoan bawa sebelumnya. Yaitu pak Idris, pria setengah tua yang terbiasa Zoan sewa.


"Kita jadi menikah di masjid kampungmu, Os?" tanya Zoan dengan wajah lelahnya.


"Iya, ayah sudah menguruskan. Kita tiba di sana langsung nikah saja," jawab Ossa dengan cepat. Namun nampak manyun saat sadar dengan reaksi Zoan yang tersenyum penuh arti.

__ADS_1


"Jangan meledek, ya. Sudah kubilang, keadaan kampung halamanku sedang tidak baik-baik saja. Tidak nyaman lama-lama di sana. Jadi, ayah ingin cepat melakukannya. Keadaan sedang tidak kondusif,"


"Memang di wilayah ayah tidak terdampak. Tapi kan bentuk solidaritas dan belasungkawa pada warga pesisir yang kena dampak abrasi,," terang Ossa sekali lagi pada Zoan.


"Iya, aku paham. Hanya merasa suka dengan wacana nikah cepat, masak tidak boleh??" sahut Zoan tersenyum.


"Dan..." Ossa menghentikan ucapannya. Zoan menatap heran pada sang calon istri.


"Dan,,, kenapa lagi??" tanya Zoan tidak sabar.


"Di rumahku sedang ada sodara kami yang mengungsi. Rumah mereka hancur kena abrasi air laut," terang Ossa dengan wajah yang muram.


Tapi, Zoan mendesak pantang mundur selama orang tua Ossa tidak keberatan serta tidak menjadi korban abrasi lautan. Tidak menyangka jika ternyata di rumah Ossa sedang ramai dengan para saudara yang mengungsi.


"Ossa, bagaiman jika kita menikah di masjid hotel saja? Atau di aula hotel? Kita undang orang tuamu serta para saudara ke hotel. Kita sewa perias untukmu. Masak menikah tidak dandan. Masak dandan di antara para pengungsi di rumahmu? Aku nggak biasa rame-rame begitu, Os,," ucap Zoan setelah membayangkan hal itu.


"Ya itu memang lebih baik, mas. Tapi,,, pasti dananya banyak,,," sambar Ossa nampak ragu.


"Ya impas dengan anggaran. Tadi kan awalnya ayahmu ingin dibuatin pesta hajatan di kampung. Tapi tiba-tiba ada musibah. Ya dananya kita alihkan buat sewa hotel dan lain-lain. Bagaimana?" tanya Zoan dengan serius.

__ADS_1


"Ya terserah mas Zoan saja. Peranku cuma jadi pengantin perempuan. Ayahku bilang, aku nggak boleh mikir berat-berat." Ossa tersenyum dan mencibir pada Zoan. Menggoda Zoan yang nampak tegang wajahnya.


Zoanpun tersenyum lebar. Tiba-tiba diraupnya wajah Ossa dengan telapak tangannya yang besar. Tapi Ossa membiarkan, tidak menepis tangan Zoan yang menutupi wajahnya. Terus menyandar dan meletak kepalanya di sandaran kursi. Justru sangat tenang dan nampak menikmati.


Wajah cerah dan halus itu terpejam matanya. Entah pura-pura tidur atau memang tidur. Zoan membiarkannya, lelaki itu tersenyum memandang Ossa yang pasti sedang pura-pura tertidur.


Zoan pun bekerja cepat. Mencari hotel terdekat dari rumah Ossa, namun yang sesuai kriteria. Hotel yang memberi layanan sewa aula sekaligus serangkaian acaranya.


Yang itu semua dengan mudah dapat Zoan lakukan sangat cepat. Sebab, Zoan sudah hafal dengan hampir seluruh hotel dan penginapan di seluruh area Jawa Tengah. Tidak sulit untuk memilih yang paling tepat untuk disewa sekaligus melobinya dengan cepat.


Juga dicarinya sekalian akomodasi transportasi. Zoan ingin menjemput keluarga Ossa sekaligus saudara yang sedang mengungsi di rumah calon istri dengan sebuah minibus yang layak dan nyaman.


Untuk yang berkaitan dengan pihak penghulu dan Kantor Urusan Agama, ayah Ossa lah yang menyanggupi mengurusi. Tinggal mengabari pada keluarga Ossa tentang perubahan acara ini, dan itu adalah tugas Oqtissa.


Zoan telah selesai membuat segala transaksi dengan mudah dan lancar. Begitu lega pada segala urusan yang ternyata sangat dimudahkanNya. Kenyataan yang ditempuh, sungguh berbalik dari yang dipikir dan direncana. Niat menikah yang dipikir sulit dan ribet, ternyata sangat mudah dan lancar segalanya. Berharap tiada aral yang melintang dari start acara hingga di akhir acara sakral nanti.


Memandang sekali lagi pada calon istri yang ternyata memang benar-benar tertidur. Zoan tidak habis pikir bagaimana Osaa bisa memejam mata dengan cepat. Zoan tersenyum, merasa jika telapak tangannya ternyata memiliki daya hipnotis tersendiri bagi Ossa. Zoan tertawa sambil ikut merebah dan menyandar kepala di sandaran kursi seperti yang sedang dilakukan Oqtissa.


🕸🕸🕸🕸

__ADS_1


__ADS_2