
Pak Rahmat, selaku ketua takmir masjid, nampak tertegun-tegun memandang Ossa dan Mita. Mereka hampir selesai berbincang mengenai masalah serius yang sedang Ossa alami.
"Sayang sekali ayahmu tidak pernah berbicara denganku. Patut, pak Alip juga tidak nampak berjamaah dan berkumpul dalam takmir belakangan ini, Ossa. Rupanya ayah kamu sedang sakit? Coba dari kemarin kamu datang, pasti uangnya sudah bisa kamu bawa ke rumah pak Karman." Pak Rahmat memandang Ossa penuh sesal.
"Jadi, harus ada beberapa tanda tangan dari aparat desa dan keluargaku, Pak?" tanya Ossa dengan wajah cerahnya. Berharap pak Karman iba hati dan menerima pelunasan meski terlambat.
"Betul. Usahakan mendapatkan pagi dan sebelum tengah hari. Agar bisa langsung kuambilkan di bank, Ossa." Pak Rahmat mamandang lekat Ossa sambil berpesan.
"Baik, pak Rahmat. Saya ucapkan terimakasih. Bapak telah bersedia membantu. Besok pagi, saya akan datang lagi, pak," sambut Ossa dengan perasaan haru sekaligus berbunga. Berat berton-ton dalam kepala, rasanya sedikit berkurang. Berharap agar pak Karman berbaik hati dan tergerak hati untuk menerima pelunasan terlambatnya.
Ossa dan Mita segera berpamit salam kepada pak Rahmat. Sang ketua takmir sempat mendoakan, agar pak Karman masih bersedia menerima pengembalian hutang ayah Ossa dan mengembalikan sertifikat. Serta tidak perlu memaksa Ossa untuk menerima Gandy menjadi suaminya.
🕸
Ossa dan Mita nampak bingung mencari Vana dan Vani. Padahal sudah di pesan untuk menunggu sebentar. Duo bocil itu sedang asyik bermain dengan teman sebaya di masjid saat Ossa dan Mita mengikuti pak Rahmat. Dan kini, tidak ada satu pun bocil yang nampak tercecer di serambi dan teras.
Seketika merasa sangat cemas. Ingatan tentang berita penculikan anak, entah itu real atau hoax sudah terlanjur membekas. Ossa takut sekali. Siapa om-om ganteng yang dimaksud mereka tadi? Ossa terlupa mengorek mereka lagi, sebab nampak kelebat pak Rahmat.
"Mbak,,! Mbak Ossa!!" suara Divanah memanggil, berasal dari arah belakang Ossa dan Mita.
Betapa Ossa merasa terkejut yang sangat saat membalik badan. Lain yang memanggil, lain juga yang dinampak. Lelaki gagah bercelana hitam dengan kemeja yang berwarna sama, sedang berdiri bersama si kembar. Ossa ternganga tak percaya. Bahkan diam kaku seperti patung saat lelaki itu berjalan mendekat ke arahnya.
"Ossa, aku ingin bicara denganmu," ucap Zoan tanpa basa basi sambil kian merapat. Memandang lekat Ossa dan melirik Mita sekilas.
"Boss Zoan??? Kamu,,, dari mana? Akan ke mana??" tanya Ossa tersendat. Seperti mimpi saja jika tiba-tiba menjumpai Zoan di masjid kampungnya.
"Os, dia bos kamu di kota?" tanya Mita berbisik. Ossa mengangguk dengan mata nanar pada Zoan. Divanah dan Davaniah berdiri di belakang kaki Zoan yang panjang.
"Ossa, ayo kita bicara," tegur Zoan mengulang. Kembali memandang sekilas pada Mita. Dan yang dilirik pun menjadi tahu diri
"Ossa, kamu ngobrol aja sama dia. Biar aku yang bawa dua bocilmu," ucap Mita dan langsung bergeser menjauh.
"Hati-hati, Mit...!" Ossa berseru. Melepas sang karib yang sedang mengambili tangan-tangan pendek itu dan dibawa turun ke parkiran.
__ADS_1
"Ehem,,!" tegur Zoan berdehem. Ossa mengalihkan pandangan. Kembali bergeser pada lelaki gagah di depannya.
Seperti mimpi memandang wajah tampan yang kini juga sedang menatapnya. Alis hitam dan tebal itu sedikit terangkat. Zoan sangat tampan. Tapi,, lelaki itu nampak pucat.
"Ayo, Ossa. Kita bicara," ucap Zoan memutus pandangan. Lelaki itu berjalan ke depan melewati Ossa dan menuruni tangga masjid dengan cepat. Ossa berbalik dan melangkah menyusul dengan perasaan yang masih merasa tak percaya.
🕸
Ossa membawa Zoan untuk berbincang di angkringan yang semalam dikunjunginya. Zoan menginginkan air jahe hangat dan madu. Sedang kehabisan lemon sebutir pun di lapak kang angkring.
"Kenapa berbohong padaku, Ossa? Kamu bilang akan menikah dengan tidak dipaksa dan sukarela. Ternyata kamu justru sangat tidak menyukai lelaki itu. Dia bekas pacarmu?" desak Zoan dengan raut yang sayu. Zoan sedang menahan demam di tubuhnya.
"Iya, boss Zoan. Aku tidak berbohong. Aku pikir, ayahku berhutang tidak pada ayahnya Gandy. Tapi pada lain orang," jawab Ossa dengan wajah menunduk.
"Jika dengan lain orang, kamu bersedia menikah?" tanya Zoan menyelidik. Ossa pun mengangkat wajah mendongak.
"Tapi orang yang kusangka itu adalah lelaki yang baik. Tidak seperti Gandy..." Ossa menggantung ucapannya. Khawatir jika Zoan merasa tersinggung. Bagaimana pun, Zoan sama perilaku juga dengan Gandy. Hanya saja..
"Kamu ini, Ossa... Kenapa tidak bilang padaku tentang masalahmu?" tanya Zoan menahan geram. Ossa menunduk kembali ke meja.
"Kenapa hutang bank ayahmu macet, lalu diambil alih keluarga bekas pacarmu?" selidik Zoan. Ossa memandang wajah tampan lelaki itu.
"Waktu itu, ayahku gagal panen berturut-turut. Sangat rugi banyak sekali. Semua isi tambak mati. Angsuran jadi terhenti. Hingga jatuh tempo pun, ayah gagal melunasi. Aku pun juga tidak memiliki tabungan. Tapi ternyata pak Karman lah yang melontar dana. Aku pun tak menyangkanya. Dan akhirnya seperti ini," sahut Ossa dengan wajah yang mendung.
Zoan menyodorkan cangkir minuman yang isinya sama dengan miliknya. Ossa menerima dan hanya memeganginya.
"Ossa, tentang pacarmu, apa kamu punya bukti saat dia akan menidurimu?" tanya Zoan agak segan. Khawatir jika Ossa merasa sedih dan trauma akan masa lalunya.
"Tidak, boss Zoan. Saat itu, yang kupikir hanya bagaimana harus selamat. Bukan untuk mendapat bukti kejahatannya," jawab Ossa. Kali ini menyeruput isi cangkir jahe hanganya.
"Tapi, aku memiliki bukti jika dia sangatlah menjijikkan," ucap Ossa. Tidak sadar jika Zoan pun merasa tertampar oleh ucapannya. Zoan hanya berusaha mengabaikan.
"Bukti yang bagaimana?" tanya Zoan. Kembali meneguk hingga habis isi cangkirnya.
__ADS_1
"Mita, sahabatku, mengambil rekaman saat Gandy dan seorang wanita tidak memakai baju sama sekali di mobil. Mereka sangat sibuk, tidak sadar jika Mita merekamnya sangat dekat dan jelas,"
"Mita mengirimkan rekaman itu padaku. Saat itu aku baru tahu siapa Gandy," terang Ossa dengan lirih. Kembali memegangi cangkir jahenya di meja.
Zoan terdiam. Mengamati wajah Ossa yang berkerudung. Semakin cantik dan terlihat sangat jujur.
"Di mana bukti itu kamu simpan, Ossa?" tanya Zoan terdengar lembut dan pelan.
"Sudah kusalin di USB. Ada di kamar rumahku," jawab Ossa. Meski tidak paham, ada urusan apa Zoan menanyakan tentang itu.
Zoan kembali nampak diam. Namun matanya terus menelisik wajah Ossa yang polos dan menyenangkan dipandang.
"Ossa, aku ingin membantumu. Tapi, kamu harus kembali ke penginapan setelah masalah hutang piutangmu ini selesai kubereskan. Bagaimana?" tanya Zoan tiba-tiba. Ossa nampak terkejut.
"Maksudmu, akan meminjamiku uang?" tanya Ossa nampak segan.
Sebenarnya sangat enggan untuk merepotkan lelaki itu. Ossa khawatir jika penginapan Zoan sampai mengalami devisit dan mengalami pailit kemudian. Ossa merasa tidak rela dan sangat iba jika hal itu sampai terjadi di penginapan.
"Anggap saja seperti itu," sahut Zoan setelah lama terdiam.
"Bagaimana, Ossa? Bukankah ini lebih mudah daripada harus mencari surat izin kepada para aparat di desamu?" tanya Zoan penuh desakan.
Mereka saling pandang sangat lama. Ossa merasa bukan hal susah untuk mengambil syarat yang Zoan berikan. Selain menjadi jauh lebih mudah untuk urusannya, tapi Ossa pun sangat menyukai bekerja di penginapan. Tapi..
" Jika bekerja lagi di penginapan, aku bekerja pada siapa, boss Zoan? Aku bekerja di penginapan mana?" tanya Ossa memberanikan diri bertanya. Baginya ini sangat penting diketahuinya dari awal.
"Hal ini masih kupikirkan, Ossa." Zoan menjawab nampak bimbang. Ossa memahaminya.
"Baiklah, boss Zoan. Bantulah saya. Tidak penting begiku bekerja pada siapa. Kalian berdua sangat baik padaku. Terimakasih, boss Zoan telah menyusul dan membantuku," ucap Ossa buru-buru. Seperti takut jika Zoan berubah pikiran mendadak dan batal membantu urusan hutang piutangnya pada pak Karman.
"Good, Ossa. Habiskanlah jahemu. Kita kembali ke rumahmu. Kamu bilang jika keluarga bekas pacarmu akan datang ke rumahmu malam in?" tanya Zoan sambil meluruskan tubuh berdiri.
Ossa mengangguk. Meneguk habis juga jahe hangat manisnya hingga tetes yang terakhir.
__ADS_1
Berdiri dan berjalan menghampiri kang angkring. Dilunasi tagihan sang tamu dan miliknya yang tak seberapa dan tentu saja Ossa merasa cukup mampu. Beda urusan jika sang tamu mengajaknya ke restoran atau rumah makan yang besar. Ossa tentu saja angkat tangan..
🕸🕸🕸🕸🕸🕸