
Ossa terjaga dari mimpi yang terlihat menegangkan. Wajah pucatnya nampak lega saat matanya terbuka sempurna, sambil berkomat kamit merapal doa di bibir. Dan mengusap wajah kusut bangun tidur dengan kedua telapak tangannya.
Bukan sebab terjaga begitu saja. Tapi suara adzan yang tidak pernah terdengar hampir setahun belakangan di rumah penginapan, pagi ini mengalunkan adzan subuh yang khas.
Ossa bergegas bangun dan melengkapi baju yang dipakai. Keluar kamar menuju ke pagar di samping petak kamar. Pintu besi yang senantiasa tertutup dan dikunci dibukanya perlahan.
"Ossa,,!" sebuah seruan kecil pada namanya. Tanpa menoleh pun, Ossa tahu jika itu panggilan dari Murniati.
"Siapa yang adzan, Oss?" tanya Murni yang sudah dekat di belakangnya.
"Nggak tahu, mak. Itulah, aku ingin tahu," jawab Ossa. Melewati pintu besi yang sudah dibukanya sedikit saja. Jika pintu dibuka lebar, akan menimbulkan bunyi besi yang bergesekan. Pintu pagar memang sudah aus dan tua.
Disamping rumah berlantai dua itu terdapat sebuah bangunan kecil yang terbagi tiga. Yang ujung, dulunya berfungsi sebagai kafe mini untuk para tamu di penginapan. Bangunan tengah berfungsi sebagai mushola. Sedang yang ujung, paling dekat dengan pagar tempat Ossa dan Murni, berfungsi sebagai toilet sekaligus tempat wudhu.
Ossa dan Murni terus mengamati. Nampak seorang lelaki agak tua berbadan besar dan tinggi sedang keluar dari mushola dan mengambil sebuah sapu. Dibawanya masuk kembali ke dalam musholla. Ossa yakin bahwa lelaki itulah sang muadzin.
"Siapa itu, Oss?" tanya Murni di telinga Ossa.
"Aku juga nggak yakin siapa yang adzan itu, mak. Tapi kurasa dia security baru yang telah dijanjikan oleh boss baru," Ossa mengeluarkan analisanya.
"Baguslah jika begitu, Oss. Biar penginapan ini hidup kembali. Sudah kayak kuburan saja sepinya. Apalagi tanpa keluarga pak Arzaki. Hemmh, auranya beda, serem. Untung boss pengganti cepat datang. Gercep banget lagi, Oss," bisik Murni sekali lagi di telinga Ossa yang kecil, namun tebal, kaku, dan tegak.
"Nah, mak. Kemarin nyebut boss baru itu songong. Sekarang muji gercep. Sebenarnya dia itu dah kawin apa belum ya, mak. Siapa ya wanita itu?" Ossa membalas bisik Murniati tanpa menoleh.
"Eheemm,,!!"
Ossa dan Murni sangat terkejut. Sangat bagus mereka tidak histeris. Namun posisi mereka yang jongkok berdiri jadi jongkok hampir terduduk lunglai di tanah.
Bersama munculnya sosok lelaki berkoko dan bersarung tanpa peci, dari arah depan di rumah penginapan. Berjalan menuju mushola dengan cepat. Sangat mudah untuk mengenali sosok boss baru yang tegap dan gagah itu. Bunyi dehem tadi ternyata dari boss baru yang ingin menetralkan kebugaran paginya melalui luah dehemannya.
"Ossa, sepertinya dia sudah kawin. Lihat, dia sangat ngiman,," puji Murni kembali.
"Duh, mak. Itu belum tentu. Kalo sudah kawin, ngapain tidak sekamar sama wanita semalam? Lagian orang ngiman itu buanyak, tapi taqwanya yang berat, mak." Ossa kembali menganalisa pada fakta.
"Lagipula,,, kamu percaya nggak, mak. Tetangga jauhku itu sudah Haji, umroh banyak kali. Tapi,, desas desusnya, punya banyak simpanan, mak. Miris, kan?" sambung Ossa berbisik. Murniati hanya diam, memandang leher belakang Ossa yang nampak keputihan dalam remang subuh. Rumbut panjang lurus tebalnya sedang digelung tinggi-tinggi berserabut.
__ADS_1
"Sudah. Ayo kita kembali ke kamar. Bersiap-siap. Kita beraktifitas seperti biasanya, Ossa." bisik Murni. Ditariknya kecil baju Ossa dari belakang sembil bergerak berdiri. Osa pun perlahan mengikuti. Masih merasa risau jika pengintaian mereka sampai diketahui.
"Yuk, mak. Akan kubangunkan mbak Nola," bisik Ossa yang kini berjalan pelan melewati pagar dan mengunci amankan kembali.
🕸🕸🕸
Pukul tujuh pagi..
Ketiga geng pembantu tengah berkumpul di dapur. Pekerjaan yang biasa mereka lakukan telah siap dengan gemilang dikerjakan. Rumah bersih, dapur bersih dan makanan dengan berbagai variasi telah menghampar di meja makan. Dan yang paling melegakan, mereka bertiga telah meluangkan waktu untuk terlebih dulu sarapan.
Merasa tidak ada lagi yang dikerjakan, ketiganya pergi ke belakang untuk kembali bermutasi. Menyiapkan diri dengan serapi mungkin untuk dibawa lagi ke depan.
Setelah pengintaian subuh tadi, mereka tidak lagi bertemu dengan boss baru. Hanya Nola yang sempat bercerita, saat menyapu halaman di depan, ada seorang bapak-bapak di pos jaga yang ternyata adalah security baru di rumah penginapan. Security baru itu adalah seorang purnawirawan tentara.
🕸🕸
Raut cerah di wajah Murni, ungkapan dari rasa senangnya pada komentar boss baru tentang kualitas hasil olah tangannya di dapur.
"Tidak sia-sia kamu bersekolah khusus di tata boga, Marni. Bisa jadi tamu di penginapan nanti akan penasaran mencoba berbagai menu masakan kamu di penginapan." Boss baru berbicara sambil mengambil beberapa foto makanan di meja.
"Terimakasih, pak boss. Siap," ucap Murni menyanggupi.
"Nola, apa kamar-kamar di penginapan sangat kotor?" tanya boss bertukar pada Nola.
"Tidak terlau kotor, pak. Bu Arzaki meminta kami untuk selalu membersihkannya tiap minggu," jelas Nola. Boss baru mengangguk.
"Pekerja baru untuk bagian laundry serta kebersihan, akan datang satu minggu lagi. Dan kupastikan saat itu penginapan sudah ramai. Harap bantuan kalian untuk menyiapkannya dengan baik. Kalian sudah sangat berpengalaman. Sudah paham dengan apa saja yang patut kalian lakukan. Kuharap kalian benar-benar maksimal membantuku." Boss baru cukup pelan berbicara saat itu. Terdengar agak ramah dan hangat. Jauh dari nada dingin seperti sebelumnya selama ini.
"Siap, pak boss," sahut mereka bertiga dengan kompak.
"Selamat pagi,,!! Mas Zoan, aku sudah siap..!" seru suara wanita yang tiba-tiba datang ke meja makan. Wanita semalam yang terlihat sangat cantik. Begitu wangi hingga mengharumkan seluruh penjuru ruang makan dan dapur.
"Rani! Kamu sarapan dulu,,!" sambut boss baru alias mas Zoan. Wanita yang bernama Rani itu duduk cantik dengan pelan. Sambil memandang ketiga geng pembantu yang berdiri sejajar di samping meja makan.
"Nola dan Marni, kembalilah bekerja," ucap Zoan. Melirik sebentar pada Nola dan Murni. Kemudian memandang pada Ossa.
__ADS_1
"Ossa. Setelah ini, pergilah ke lobi penginapan. Tunggu di sana," ucap Zoan pada Ossa. Kemudian memandang makanan di meja.
"Apa saya akan mendapat tugas, pak boss?" tanya Ossa menyela. Zoan memandang dan mengangguk.
"Kamu perlu melihat pemotretan di penginapan. Dan bantulah membuat iklan penginapan dengan hasil pemotretan nanti," jelas Zoan pada Ossa. Kembali memandang piringnya. Lalu menoleh dan tersenyum pada Rani.
Ossa hanya mengangguk terpaku, senyum Zoan pada Rani sangatlah menawan. Sayang senyumnya sungguh mahal, tidak dilempar pada orang sembarangan. Belum pernah sekali saja boss Zoan tersenyum untuknya. Uh..
🕸🕸
Sebagai dayang bisu dan cantiklah Ossa sekarang. Mengikuti sejoli Zoan dan Rani untuk dipotret dengan bermacam gaya dan posisi di lokasi penginapan yang berbeda. Zoan telah mendatangkan khusus seorang fotografer professional untuk memotret di penginapan. Dengan Rani dan Zoan sendiri lah sebagai model dan subjek fotonya.
Ossa merasa risih sendiri. Sejoli itu terlalu mesra sekali. Terutama sikap Rani yang baginya cukup over ackting dan berlebihan sekali. Seperti wanita yang tidak memiliki harga diri.
Bukan sekali dua kali Rani merapati dan menggerayangi boss Zoan. Meski mungkin sebab alasan sesi foto, dan terlepas apakah mereka sudah menikah atau tidak. Kerapatan mereka tidak layak dipertontonkan.
Meski Zoan membiarkan dan tidak menolak. Ossa sangat risih saat Rani dengan percaya diri merapatkan wajah di leher Zoan dan seringkali duduk di pangkuannya. Ossa pura-pura menyingkir sebab merasa malu sendiri.
Acara pemotretan telah usai. Mas Danang, sang fotografer mendekati Ossa yang sedang duduk di lobi. Mereka saling melempar senyuman.
"Ossa?" sapa mas Danang dengan tetap berdiri. Ossa mengangguk membenarkan dan masih tersenyum.
"Sebelum aku pamit, kayaknya ada satu lokasi yang patut kupotret, Ossa," ucap mas Danang.
"Di mana, mas? Kupanggil boss Zoan dulu,," sahut Ossa berdiri. Bermaksud memanggil Zoan yang masih di lantai atas bersama kekasihnya.
"Ossa, tidak perlu ! Kamu saja modelnya," ucap mas Danang tanpa basa-basi.
"Eh,,, atau enggak usah pakai model pun kan juga nggak papa, mas?" tanya Ossa kebingungan. Danang telah menarik tangannya keluar lobi.
"Hanya difoto biasa Ossa. Baju kamu pun sopan dan cantik. Siapa tahu justru foto kamu nanti yang dipilih mas Zoan untuk cover promosi di web dan linknya," ujar mas Danang dengan santai. Ossa telah mengikutinya dengan jinak.
Tempat yang dimaksud Danang adalah kafe mini di samping mushola. Juga taman kecil dengan bangku-bangku keramik yang cukup menarik dan indah.
Ossa akur saja saat difoto Danang dengan berbagai gaya dan pose. Baginya tidak masalah atau juga merugi. Toh akun medsos dan halaman instagram miliknya juga sering dipajang foto selfi hasil jepretannya sendiri. Pasti akan jauh lebih bagus hasil jepretan seorang kameramen yang komersil. Ossa berniat ingin meminta salinannya pada Danang.
__ADS_1
Zoan berdiri di balkon lantai dua penginapan tanpa bersama Rani. Perempuannya sedang pergi sebentar ke dalam kamar mandi di salah satu kamar penginapan. Dan Zoan sedang mengikuti pergerakan Danang dengan Ossa di kafe bawah dengan tatapan matanya.