Bukan Cinderella

Bukan Cinderella
nestapa


__ADS_3

piip...piiip...


Bunyi klakson dari kendaraan-kendaraan yang sedang hilir mudik seakan memecah gendang telinga seorang gadis berpakaian SMA di tengah kermaian kota. Vivian terus berjalan di bawah terik matahari, tanpa peduli dengan setiap mata yang menatap. Bagaimana tidak gadis berpakaian SMA itu tidak sadar bahwa ada sesuatu yang aneh darinya. Hingga trafic light berubah merah Vivian buru-buru menyeberang ke sisi seberang jalan.


“kak,” tegur seorang anak dengan pakaian lusuh dan kotor.


“kenapa?” tanya Vivian kembali.


“nih, kok kaka pake rok begini?” jawab polos sang anak sembari tangannya menusukkan jarinya pada bagian rok Vivian yang bocor di belakang.


“astaga, kau ini tidak sopan sekali. Kenapa kau membolongi rokku?” Vivian refleks menutupi bagian belakangnya dengan kedua tangan.


“siapa yang membolongi? Justru kaka sendiri yang pakai rok begini. Masih untung di kasih tahu.huuuft.” si anak kecil merasa kesal karena mendapat tuduhan seperti itu dan bergegas berlari lalu hilang di antara kedaraan yang tengah berhenti karena lampu merah.


“hey maaf,” teriak Vivian dengan rasa menyesal.


“ini pasti kerjaan Quen, mengapa dia suka sekali mengerjaiku?” gumam Vivian. Kali ini tak ada rasa sedih, kecewa ataupun kesal. Yah, Vivian benar-benar pasrah akan keadaannya saat ini. Setiap kali jadi bahan bully saudara sepupunya bersama teman-temannya itu.


Vivian masih terus membawa langkahnya untuk segera sampai di rumah. Sebelum itu dia melepas jaket yang dia kenakan dan mengikatnya di pinggang untuk menutup bagian roknya yang bolong.


Setibanya di rumah, Vivian sudah di sambut dengan tatapan kesal Quen. Ingin seekali Vivian memgjindar tapi tak ada jalan lain untuk masuk ke dalam rumah itu selain pintu depan tempat dimana Quen sekarang berdiri.


“kesini kau anak miskin!” Quen berteriak memanggil Vivian yang sebenarnya adala saudara sepupunya.


“ada apa Quen?” tanya Vivian yang baru saja menghampiri gadis jahat itu.


“darimana saja kau? Kau pikir ini jam berapa? Ku ingatkan padamu jangan pernah menganggap ini adalah rumahmu sampai kau berani berlaku seenaknya!” perkataan Quen ini sudah bosan di dengarkan oleh Vivian. Karena hampir setiap hari dia pulang lebih lambat dari Quen. Gadis itu akan nerkata begitu. Padahal jelas saja Quen akan lebih dulu sampai daripada Vivian karena Vivian harus berjalan kaki selama 60 menit sedangkan Quen naik mobil dengan supir pribadi yang kadang hanya makan waktu 30 menit.


“maaf Quen tadi aku, aku harus memperbaiki rokku yang bolong.” Vivian menjawab dengan gugup. Yah, gugup yang di buat-buat. Sebenarnya tak ada lagi ketakutan dalam diri Vivian tapi dia sadar harus menahan diri. Menunjukkan dirinya masih berada di bawah kendali saudarinya itu, bagaimanapun juga dia masih memerlukan biaya sekolah dan tempat tinggal.


“hahahaha...” suara Quen tertawa begitu lepas. Dia sangat menikmati keadaan Vivian yang tak berdaya. Rok itu jelas adalah ulahnya. Bahkan Vivian tidak tahu saat ini dalam tasnya semua buku-bukunya tinggalah lembaran-lembaran kertas yang telah terbagi beberapa bagian.


“kasian sekali kau ini Vivian!” Quen masih terus tertawa di atas penderitaan sepupunya itu.


“sudah sana, cepat kau masuk dan buatkan aku makan malam. Momy dan dady ku belum kembali dari luar kota. Jadi, kau bertugas untuk membuatkaku makanan juga membersihkan seluruh ruangan.

__ADS_1


“tapi kan Quen rumah ini sangat luas. Disini juga ada bi Nany, aku akan membantunya.” Protes Vivian dengan suara lirih.


“bi Nany adalah pembantu orang tuaku, sedangkan kau adalah pembantuku!” tegas Quen lalu beranjak pergi.


“ah sial.” Vivian hanya bisa mengumpat dalam hati.


Vivianpun segera masuk ke dalam rumah, mengganti baju dan bergegas mengerjakan semua perintah Quen. Bi Nany berulang kali memohon agar dapat membantu Vivian. Tapi justru Bi Nany di ancam Quen akan dipecat.


Setelah memasak makan malam, Vivian mengerjakan tugas membersihkan seluruh ruangan hingga semua pekerjaan itu selesai pukul 9 malam. Vivian segera masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


“ah, lelahnya!” gumamnya. Bulir beningpun lolos dari kedua sudut matanya. Hingga tak terasa kelelahan itu membuatnya segera jatuh terlelap ke alam bawah sadar.


Byuuuuuur...


air yang begitu dingin menyentuh kulit wajah Vivian. Sedikit membuatnya kesulitan bernapas karena air itu berusaha memasuki hidungnya.


"Quen!" lirihnya ketika matanya menagkap sosok Quen tengah berdiri dan memandangnya tanpa kasihan.


"kau ini pemalas sekali, kau pikir ini jam berapa ha?kenapa kau belum bangun?aku harus sarapan sebelum sekolah." cerca Quen padanya seraya menarik tangan Vivian dengan begitu kasar. memaksanya segera keluar dari kamarnya.


"alasan saja kau ini. Sekarang cepat kau buatkan aku sarapan. aku akan terlambat untuk latihan cheers hari ini." tegas Quen kemudian berlalu menuju kamarnya untuk bersiap-siap.


Vivian menghela nafas berat dan menghembuskannya dengan kasar. Bi Nany kemudian datang dengan sandwich di tangannya. Lalu meninta Vivian untuk segera memanggil Quen agar sarapan supaya Vivian juga cepat mempersiapkan dirinya ke sekolah.


Seusai Quen menikmati sarapannya dan berangkat. Vivianpun mempersiapkan diri lalu berangkat dengan berjalan kaki. sudah jelas dia akan terlambat dan di hukum lagi untuk kesekian kalinya.


______


Vivian sampai di sekolah ketika jam pelajaran pertama sudah dimulai. Lagi-lagi Vivian harus berlari keliling lapangan basket sebanyak 50 kali. Perutnya yang tidak terisi sejak kemarin kali ini tak hisa kompromi sebagai mana biasa. Keringatnya mengucur deras di dahi, penglihatannya kabur. Terasa sangat sakit di ulu hatinya. seketika juga dia tak sadarkan diri di lapangan tersebut.


Sekumpulan anak-anak lelaki berpakaian seragam tim basket sekolah mereka sedang berjalan memasuki lapangan. Salah satu diantara mereka segera menyadari ada seseorang yang tengah berbaring di lapangan. Di bawah teriknya matahari.


"hei, lihat itu." lelaki itu menunjukkan jarinya ke arah Vivian yang sedang tak sadarkan diri.


"kenapa dia tidur disana?" sambungnya lagi.

__ADS_1


tanpa aba-aba mereka semua berlari menuju Vivian untuk melihat keadaan seseorang yang mereka pikir sedang tidur.


"Hei, kenapa kau tidur disini?" tanya seorang anak lelaki yang juga kapten tim, Juan. dia mencoba membangunkan Vivian dengan menggerakkan lengan Vivian menggunakan kakinya.


"hei, bangunlah kami mau latihan." timpal seorang lainnya bernama Glen.


"apa jangan-jangan dia pingsan?" sambung seorang lainnya yang bernama Johan.


"ah mana mungkin, pasti dia malu membuka matanya." Sambung Johan kembali.


lalu terbesit ide nakal di kepala Juan, dia menyuruh teman-temannya untuk membopong tubuh Vivian dan mengikutinya.


"kita mau kemana Juan?" tanya Johan yang masih tak mengerti maksud Juan.


"ikut saja denganku."


setelah 5 menit meninggalkan lapangan basket, kini mereka tiba di gedung olahraga sekolahnya yang terdapat sebuah kolam renang. yah, Juan berniat menceburkan tubuh Vivian ke dalam kolam.


"Juan, apa kau gila? bagaimana kalau dia benar pingsan dan tidak bangun di dalam sana." Glen sedikit gelisah dengan ide ini.


"tenang saja, dia akan bangun sebelum kita ceburkan. dia sekrang hanya berpura-pura." Juan masih mengira Vivian hanya pura-pura tidur saja.


"ini menyenangkan." sambung Johan.


"ya sudah, eksekusi sekarang." perintah Juan. Glen dan Johan masing-masing memegang kaki dan tangan Vivian bersiap untuk melemparnya kedalam kolam. Namun sebelum itu Glen menurunkan kaki Vivian yang kebetulan dia pegang.


"Juan, jika dia pura-pura tentu sekarang dia sudah membuka mata. tidak mungkin dia mau di ceburkan begitu saja." Glen menatap kasihan kepada Vivian. Sebenarnya Glen mengenal Vivian. mereka adalah teman satu sekolah dulu. di sekolah dasar lalu bertemu lagi di sekolah menengah atas ini.


"jangan membantahku, cepat kerjakan!" perintah Juan dengan nada suaranya yang meninggi. Glen tidak punya pilihan lain. dia menuruti perintah Juan, biar bagaimanapun Juan telah banyak membantunya dan keluarganya melalui kedua orang tua Juan.


"baiklah."


pyaaar...


terdengar bunyi air yang dilempari benda besar. Tubuh Vivian sekarang sudah berada di Kolam dan membuatnya sadar seketika. kemudian tubuhnya bergerak-gerak mencari kesadaran. hingga dia mampu mengendalikan dirinya dan berenang ke tepi kolam. Terdengar gelak tawa dari Juan, Glen dan Johan. Tapi bukan. mereka saja disana juga telah ada anggota cheers yang tak lain Quen dan kawan-kawannya. Mereka tertawa dengan sangat lepas. Seolah sedang menikmati permainan siklus dari seekor lumba-lumba. Vivian kini terlihat sudah berdiri di bibir kolam. air matanya begitu saja tumpah. Dia tak mengerti mengapa sekejam ini kehidupannya sekarang. Dia menatap tajam kepada ketiga lelaki yang telah menceburkannya ke kolam, lalu beralih pada tim cheers yang juga di ketuai Quen.

__ADS_1


Quen membalas tatapan Vivian dengan sinis dan penuh ejek.


__ADS_2