
"Amnesia itu lupa ingatan, kalau insomnia dia susah tidur." Elle menjelaskan.
" Sama aja. Masih sepupunya itu. Masih sama-sama tidak bisa. Satu nggak bisa tidur, satunya lagi nggak bisa ingat" Sanggah Bob tidak mau kalah.
" Terserah kamu lah." Elle mengibaskan tangannya.
Perhatiannya kembali teralih pada Mantri Bein.
" Jadi, apa rencana Mantri Bein selanjutnya?. "
" Kami masih mendiskusikannya." Pria tua itu berkata pelan.
" Beri tahu kepala desa aja. Kami tidak mau bertanggung jawab lagi." Bob menyela.
" Tadinya, kami akan memulangkan dia kalau sudah sadar. sekarang dia tidak ingat apa-apa. Kami sulit mengembalikan dia ke habitatnya."
Elle mengangguk membenarkan pendapat Bob. Dia tidak mau terlibat terlalu banyak dengan pria asing ini.
" Ya, saya mengerti."
Saat mereka berbicara, seseorang terdengar datang.
" Maaf mengganggu." Sang tamu ternyata kepala desa.
" Pak desa... " Bob dan Elle serempak menyapa sekaligus kaget.
" Apakah mereka ketahuan menyimpan orang asing?. "
Pertanyaan itu bergelantungan di benak mereka.
" Bagaimana keadaannya sekarang?. "Pak desa bertanya pada Mantri Bein secara langsung.
" Dia sudah sembuh tapi lupa ingatan." Sahut Mantri Bein.
" Kepala desa sudah tahu?. "Bob bertanya dengan heran.
Kepala desa mengangguk.
" Mantri Bein sudah menceritakan semuanya."
" Iya." Mantri Bein membenarkan.
" Apa solusi selanjutnya?. "
" Aku akan bicara dengannya." kata Mantri Bein lagi.
" Bisakah aku masuk melihatnya juga?. "
" Kalian bisa masuk." Mantri Bein memberikan anggukan pada pria kekar agar membuka lebar pintunya.
" Hai... ini adalah kepala desa." Mantri Bein memperkenalkan Kepala Desa secara langsung.
" Dan mereka yang menemukanmu sekaligus pemilik rumah ini." Mantri Bein menunjuk Elle dan Bob bergantian.
pasien itu memicingkan mata lalu bertanya.
" Mereka mengenalku?."
" Tidak." Tukas Bob cepat.
" Bagaimana kami bisa mengenalmu? kalau kami mengenalmu, kamu tidak disini tapi di rumahmu."
" Kenapa kalian membawaku pulang?. "
" Kami menemukanmu sekarat. Kami tidak punya pilihan selain menolongmu." Kali ini, Elle yang bicara.
" Kenapa tidak?."
" Aku takut, kalau kamu ada apa-apa, kami akan terlibat sebagai tersangka karena pernah berada di TKP. Dan Elle takut kamu menjadi hantu dan mencekiknya." Tutur Bob dengan wajah penuh keluhan.
" Terima kasih." Pria itu berkata dengan tulus.
" Baik. Sama-sama." Bob dan Elle menjawab bersama.
" Karena kondisi mu seperti ini, untuk sementara kamu ikut tinggal di tempatku." Tawar Mantri Bein pada pasien.
" Tidak akan!. "pasien itu menggeleng tegas.
Mantri Bein terkejut. Dia tidak berharap dia akan mendapat penolakan terang- terangan.
" Kenapa tidak?. "
" Tidak maka tidak." Pasien itu kekeh.
__ADS_1
" Kamu saat ini belum bisa kembali ke rumahmu. "
" Jadi aku tinggal disini."
" Itu tidak bisa. " Bob maju berbicara.
" Aku mau disini." Pasien itu tidak mau mengalah.
" Soal itu, bukan kamu yang bisa memutuskan kau tinggal atau tidak. " Balas Bob.
" Aku hanya ingin tinggal disini."
Pembicaraan menemui jalan buntu. Kepala desa dan Mantri Bein berdiskusi sebentar dan sepakat membujuk Elle.
" Dia bisa tinggal disini tapi harus mengikuti aturan kami." Ekspresi Mantri Bein dan kepala desa menjadi kaku mendengar permintaan Bob yang diikuti anggukan Elle.
" Dia tidak bisa tinggal secara gratis dan harus melakukan pekerjaannya sendiri."
Meski agak ragu, Mantri Bein menyampaikan kesepakatan itu pada si pasien yang tidak bergeming.
" lakukan saja seperti itu."
Malam datang, Bob meninggalkan Elle untuk makan bersama si pasien karena Jefry menelponnya untuk pulang.
" Kamu harus mencuci mangkokmu sendiri." Elle mengingatkan.
" Aku tidak bisa melakukannya." Katanya santai.
" Jadi kamu harus belajar."
" Aku akan belajar besok." Pasien melangkah keluar.
Ekspresi Elle bengkok seketika.
Pagi-pagi sekali Bob berlari ke rumah Elle bahkan Jefry menatapnya penuh keheranan. Elle baru saja selesai mandi.
" Pagi sekali." Elle yang melihat Bob muncul, cepat menyapa. " Sudah sarapan?. "
Bob mengangguk.
" Jefry membuat bubur enak pagi ini. Semalam juga, dia membeli ikan bakar." Cerita Bob bangga.
Elle mengangkat jempol untuk Jefry dalam hati.
" Ohh... dimana dia?. " Bob menengok kiri kanan
" Itu... si siapa kamu?."
Elle tertawa. " Tidak bisakah kamu memanggilnya dengan nama lain?."
" Harusnya kita memberinya nama."
Elle mengangguk. " Selama dia mau."
" Oke. Jadi dimana dia?. "
" Aku belum melihatnya keluar kamar."
" Tadinya aku pikir dia akan bangun menyusahkanmu jadi aku pagi-pagi kemari." kata Bob.
Elle hanya menggeleng.
" Biar aku melihatnya kalau begitu." Bob menuju rumah depan.
tok... tok.. tok..
" Bro!. " Bob mengetuk pintu.
" Kamu sudah bangun belum?. "
tokk... tokk... tokkk
Tidak mendapat jawaban, Bob kembali mengetuk.
" Ada apa?. " Wajah dingin muncul.
" Kupikir kamu belum bangun. " Kata Bob tanpa rasa bersalah.
" Ayo..... sarapan."
si pasien berdiri.
" Tunggu, kayaknya kamu harus merapikan kamarmu dulu."
__ADS_1
" Aku tidak tahu."
" Apa mungkin kamu benar-benar seorang caebol?."
" Saya tidak ingat."
" Baiklah, aku mengajarimu melakukannya." Bob membimbing si pasien merapikan tempat tidur dan membersihkan kamar. Meski sebenarnya, Bob lebih banyak bekerja dari si pemilik kamar.
" Begitu lama? kalian ngapain aja?. " Sambut Elle.
" Aku membantu tuan muda ini beres-beres." Bob melapor. Elle hanya melirik.
" Kalian sarapan dulu. Aku mau ke depan sebentar."
si pasien menikmati sarapan tanpa sungkan.
" Selesai sarapan, ayo kita pergi ke suatu tempat." Ajak Bob
" Pergilah sendiri, aku tidak." Si pasien langsung menolak.
" Apa kau akan tinggal sendiri di rumah? lagian, kamu sudah berjanji mau membantu Elle sebagai kompensasi tinggal di sini." Bob mengingatkan tentang kesepakatan mereka.
" Kemana kita akan pergi?. "
" Ke ladang Elle. "
" Baik. Aku ikut."
Si pasien selesai sarapan.
" Kamu mencuci piringmu sendiri. "
" Aku tidak tahu melakukannya. "
Mata Bob mendelik. " Hanya mencuci."
Bob menarik si pasien dan mengajarinya.
Saat Elle kembali, dua cowok itu telah menunggu Elle di halaman.
" Kamu yakin mau ikut?." Elle agak sangsi melihat si pasien bersama Bob.
" Tidak apa-apa, aku akan bersamanya sepanjang waktu. "
si pasien mengambil satu langkah.
" Tidak mau. "
" Kenapa tidak?. " Bob malah mengapit tangannya. Elle tersenyum geli melihat tingkah keduanya.
Mereka sampai di ladang sayur.
Elle memasang topi lebar dan mengambil keranjang anyaman.
" Ayo, lakukan juga." Kata Bob pada si pasien.
" Tidak mau."
" Kenapa tidak?. "
" Aku tidak tahu melakukannya."
Bob berkacak pinggang. " Lalu, apa yang kamu bisa?."
" Menghasilkan uang. " Si pasien menjawab dengan percaya diri.
" Seolah aku percaya." Bob mencibir dan mendandanginya dengan cepat.
" Ambil keranjang, kita akan memetik sayur."
" Aku tidak bisa melakukannya. "
" Kalau kamu selalu mengatakan itu, kamu tidak akan bisa melakukan apapun." Ujar Bob kesal.
Elle menepuk bahu si pasien.
" Ayo pergi bersama, kita akan mengajarimu."
si pasien mengikuti langkah Elle. Bob mendengus dibelakangnya
" Oh.... tuan muda." Ucapnya sarkas.
" Bob ajari dia perlahan." Nasehat Elle. " Jangan terlalu agresif. "
__ADS_1
" Kamu belajar pelan-pelan, buat dirimu menyukai apa yang kamu lakukan. "
Meski si pasien mengerutkan dahi, dia masih mengikuti saran Elle.