Bukan Cinderella

Bukan Cinderella
Apa yang kamu bisa?


__ADS_3

"Amnesia itu lupa ingatan, kalau insomnia dia susah tidur." Elle menjelaskan.


" Sama aja. Masih sepupunya itu. Masih sama-sama tidak bisa. Satu nggak bisa tidur, satunya lagi nggak bisa ingat" Sanggah Bob tidak mau kalah.


" Terserah kamu lah." Elle mengibaskan tangannya.


Perhatiannya kembali teralih pada Mantri Bein.


" Jadi, apa rencana Mantri Bein selanjutnya?. "


" Kami masih mendiskusikannya." Pria tua itu berkata pelan.


" Beri tahu kepala desa aja. Kami tidak mau bertanggung jawab lagi." Bob menyela.


" Tadinya, kami akan memulangkan dia kalau sudah sadar. sekarang dia tidak ingat apa-apa. Kami sulit mengembalikan dia ke habitatnya."


Elle mengangguk membenarkan pendapat Bob. Dia tidak mau terlibat terlalu banyak dengan pria asing ini.


" Ya, saya mengerti."


Saat mereka berbicara, seseorang terdengar datang.


" Maaf mengganggu." Sang tamu ternyata kepala desa.


" Pak desa... " Bob dan Elle serempak menyapa sekaligus kaget.


" Apakah mereka ketahuan menyimpan orang asing?. "


Pertanyaan itu bergelantungan di benak mereka.


" Bagaimana keadaannya sekarang?. "Pak desa bertanya pada Mantri Bein secara langsung.


" Dia sudah sembuh tapi lupa ingatan." Sahut Mantri Bein.


" Kepala desa sudah tahu?. "Bob bertanya dengan heran.


Kepala desa mengangguk.


" Mantri Bein sudah menceritakan semuanya."


" Iya." Mantri Bein membenarkan.


" Apa solusi selanjutnya?. "


" Aku akan bicara dengannya." kata Mantri Bein lagi.


" Bisakah aku masuk melihatnya juga?. "


" Kalian bisa masuk." Mantri Bein memberikan anggukan pada pria kekar agar membuka lebar pintunya.


" Hai... ini adalah kepala desa." Mantri Bein memperkenalkan Kepala Desa secara langsung.


" Dan mereka yang menemukanmu sekaligus pemilik rumah ini." Mantri Bein menunjuk Elle dan Bob bergantian.


pasien itu memicingkan mata lalu bertanya.


" Mereka mengenalku?."


" Tidak." Tukas Bob cepat.


" Bagaimana kami bisa mengenalmu? kalau kami mengenalmu, kamu tidak disini tapi di rumahmu."


" Kenapa kalian membawaku pulang?. "


" Kami menemukanmu sekarat. Kami tidak punya pilihan selain menolongmu." Kali ini, Elle yang bicara.


" Kenapa tidak?."


" Aku takut, kalau kamu ada apa-apa, kami akan terlibat sebagai tersangka karena pernah berada di TKP. Dan Elle takut kamu menjadi hantu dan mencekiknya." Tutur Bob dengan wajah penuh keluhan.


" Terima kasih." Pria itu berkata dengan tulus.


" Baik. Sama-sama." Bob dan Elle menjawab bersama.


" Karena kondisi mu seperti ini, untuk sementara kamu ikut tinggal di tempatku." Tawar Mantri Bein pada pasien.


" Tidak akan!. "pasien itu menggeleng tegas.


Mantri Bein terkejut. Dia tidak berharap dia akan mendapat penolakan terang- terangan.


" Kenapa tidak?. "


" Tidak maka tidak." Pasien itu kekeh.

__ADS_1


" Kamu saat ini belum bisa kembali ke rumahmu. "


" Jadi aku tinggal disini."


" Itu tidak bisa. " Bob maju berbicara.


" Aku mau disini." Pasien itu tidak mau mengalah.


" Soal itu, bukan kamu yang bisa memutuskan kau tinggal atau tidak. " Balas Bob.


" Aku hanya ingin tinggal disini."


Pembicaraan menemui jalan buntu. Kepala desa dan Mantri Bein berdiskusi sebentar dan sepakat membujuk Elle.


" Dia bisa tinggal disini tapi harus mengikuti aturan kami." Ekspresi Mantri Bein dan kepala desa menjadi kaku mendengar permintaan Bob yang diikuti anggukan Elle.


" Dia tidak bisa tinggal secara gratis dan harus melakukan pekerjaannya sendiri."


Meski agak ragu, Mantri Bein menyampaikan kesepakatan itu pada si pasien yang tidak bergeming.


" lakukan saja seperti itu."


Malam datang, Bob meninggalkan Elle untuk makan bersama si pasien karena Jefry menelponnya untuk pulang.


" Kamu harus mencuci mangkokmu sendiri." Elle mengingatkan.


" Aku tidak bisa melakukannya." Katanya santai.


" Jadi kamu harus belajar."


" Aku akan belajar besok." Pasien melangkah keluar.


Ekspresi Elle bengkok seketika.


Pagi-pagi sekali Bob berlari ke rumah Elle bahkan Jefry menatapnya penuh keheranan. Elle baru saja selesai mandi.


" Pagi sekali." Elle yang melihat Bob muncul, cepat menyapa. " Sudah sarapan?. "


Bob mengangguk.


" Jefry membuat bubur enak pagi ini. Semalam juga, dia membeli ikan bakar." Cerita Bob bangga.


Elle mengangkat jempol untuk Jefry dalam hati.


" Ohh... dimana dia?. " Bob menengok kiri kanan


" Itu... si siapa kamu?."


Elle tertawa. " Tidak bisakah kamu memanggilnya dengan nama lain?."


" Harusnya kita memberinya nama."


Elle mengangguk. " Selama dia mau."


" Oke. Jadi dimana dia?. "


" Aku belum melihatnya keluar kamar."


" Tadinya aku pikir dia akan bangun menyusahkanmu jadi aku pagi-pagi kemari." kata Bob.


Elle hanya menggeleng.


" Biar aku melihatnya kalau begitu." Bob menuju rumah depan.


tok... tok.. tok..


" Bro!. " Bob mengetuk pintu.


" Kamu sudah bangun belum?. "


tokk... tokk... tokkk


Tidak mendapat jawaban, Bob kembali mengetuk.


" Ada apa?. " Wajah dingin muncul.


" Kupikir kamu belum bangun. " Kata Bob tanpa rasa bersalah.


" Ayo..... sarapan."


si pasien berdiri.


" Tunggu, kayaknya kamu harus merapikan kamarmu dulu."

__ADS_1


" Aku tidak tahu."


" Apa mungkin kamu benar-benar seorang caebol?."


" Saya tidak ingat."


" Baiklah, aku mengajarimu melakukannya." Bob membimbing si pasien merapikan tempat tidur dan membersihkan kamar. Meski sebenarnya, Bob lebih banyak bekerja dari si pemilik kamar.


" Begitu lama? kalian ngapain aja?. " Sambut Elle.


" Aku membantu tuan muda ini beres-beres." Bob melapor. Elle hanya melirik.


" Kalian sarapan dulu. Aku mau ke depan sebentar."


si pasien menikmati sarapan tanpa sungkan.


" Selesai sarapan, ayo kita pergi ke suatu tempat." Ajak Bob


" Pergilah sendiri, aku tidak." Si pasien langsung menolak.


" Apa kau akan tinggal sendiri di rumah? lagian, kamu sudah berjanji mau membantu Elle sebagai kompensasi tinggal di sini." Bob mengingatkan tentang kesepakatan mereka.


" Kemana kita akan pergi?. "


" Ke ladang Elle. "


" Baik. Aku ikut."


Si pasien selesai sarapan.


" Kamu mencuci piringmu sendiri. "


" Aku tidak tahu melakukannya. "


Mata Bob mendelik. " Hanya mencuci."


Bob menarik si pasien dan mengajarinya.


Saat Elle kembali, dua cowok itu telah menunggu Elle di halaman.


" Kamu yakin mau ikut?." Elle agak sangsi melihat si pasien bersama Bob.


" Tidak apa-apa, aku akan bersamanya sepanjang waktu. "


si pasien mengambil satu langkah.


" Tidak mau. "


" Kenapa tidak?. " Bob malah mengapit tangannya. Elle tersenyum geli melihat tingkah keduanya.


Mereka sampai di ladang sayur.


Elle memasang topi lebar dan mengambil keranjang anyaman.


" Ayo, lakukan juga." Kata Bob pada si pasien.


" Tidak mau."


" Kenapa tidak?. "


" Aku tidak tahu melakukannya."


Bob berkacak pinggang. " Lalu, apa yang kamu bisa?."


" Menghasilkan uang. " Si pasien menjawab dengan percaya diri.


" Seolah aku percaya." Bob mencibir dan mendandanginya dengan cepat.


" Ambil keranjang, kita akan memetik sayur."


" Aku tidak bisa melakukannya. "


" Kalau kamu selalu mengatakan itu, kamu tidak akan bisa melakukan apapun." Ujar Bob kesal.


Elle menepuk bahu si pasien.


" Ayo pergi bersama, kita akan mengajarimu."


si pasien mengikuti langkah Elle. Bob mendengus dibelakangnya


" Oh.... tuan muda." Ucapnya sarkas.


" Bob ajari dia perlahan." Nasehat Elle. " Jangan terlalu agresif. "

__ADS_1


" Kamu belajar pelan-pelan, buat dirimu menyukai apa yang kamu lakukan. "


Meski si pasien mengerutkan dahi, dia masih mengikuti saran Elle.


__ADS_2