
Di tempat lainnya di kampus itu, beberapa anak muda berkumpul di sebuah pameran robotic mahasiswa teknik. Ketiga pemuda yang selalu bersama terlihat terperangah dan sangat menikmati pertunjukkan. Juan, Glen dan Johan.
“hai Juan,” sapa seorang wanita mengusik perhatian Juan dan kedua sahabatnya.
“hai, kau disini juga?” Tanya Juan.
“ya, aku kuliah disini juga. Fashion Design.” Jawab wanita tadi yang ternyata adalah Quen.
“oh itu cocok untukmu yang sangat stylish.” Balas Juan sembari mengusap dagu Quen.
Senyum mengembang di wajah Quen, kedua teman Quen dan Juan segera menggoda keduanya. “oh sweet.”
“bukannya itu Vivian?” batin Quen setelah menangkap sosok wanita dengan rambut panjang tergerai berjalan keluar dari tempat fashion show. Tanpa aba-aba Quen segera berjalan mencoba untuk menghampiri.
“Quen kau mau kemana?” teriak Pricilla. Teman-teman yang lainnya juga menatap heran Quen yang terus berlalu. Pricilla menarik tangan Lusy untuk mengikuti Quen.
Ketika Quen mengejar Vivian, dia kehilangan jejak karena telalu banyak kerumunan orang di tempat itu. “sial, aku yakin itu tadi dia.” Batin Quen sambil mengepakan tangannya.
“ada apa Quen kenapa kau kemari?” tanya Pricilla yang baru sampai.
“tidak apa-apa, ayo kita kembali.”
Quen dan teman-temannya pun menikmati kembali acaranya, mereka banyak bertemu dan berkenalan dengan orang baru dari berbagai daerah dan negara. Vivian dan Angel ada di sudut lainnya tengah menyaksikan pertunjukkan puisi berbagai bahasa, Indonesia juga ada. Vivian sangat antusias mendengarkannya meskipun sebenarnya dia tidak begitu paham. Yah, karena ayahnya berdarah campuran Indonesia Belanda. Dulu dia bisa mengucapkan berbagai kata dengan bahasa Indonesia. Cinta, terimakasih, maaf dan beberapa kosa kata lainnya. Hal itu membuatnya sangat rindu kepada ayah dan ibunya yang telah tiada.
“vivian aku mau ke toilet dulu ya,” Angel seketika membuyarkan kosentrasi Vivian.
“mau kutemani?” tanya Vivian sambil menoleh pada sahabatnya itu.
“tidak usah, nikmati saja acaranya.” Angel segera berlalu.
Sekitar lima menit kemudian Vivian merasakan seseorang sudah duduk kembali di kursi Angel. “kenapa lama sekali?” tanya Vivian, dia tidak menyadari bahwa yang duduk itu bukan Angel.
“kau mengenalku?” tanya suara itu.
“kenapa suaranya jadi laki-laki.” Vivian mengernyitkan dahinya keheranan.
“kau?” ucap mereka serempak.
“kenapa kau disini paman?” Tanya Vivian kepada lelaki itu yang ternyata adalah Daan.
“heh wanita aneh, jangan memanggilku seperti itu!” tegas Daan.
“ini tempat duduk temanku, pergi sana!” Vivian memerintah.
“kau pikir kau siapa bisa bebas memerintahku?” balas Daan dengan mendekatkan wajahnya pada Vivian. Membuat gadis itu gelagapan.
“hai sayang, kenapa kau disini?” sapa Stephani yang baru saja menemukan Daan setelah lama mencari.
__ADS_1
“bukankah dia yang di acara Fashion Show tadi?” batin Vivian.
“aku menunggumu disini. Mari kita pulang!” ajak Daan sembari menepis tangan Stephani yang di letakkan di bahu Daan.
“lalu gadis ini siapa?” tanya Stephani. Dia sedikit melirik dan mengukir senyum.
“aku tidak kenal.” Jawab Daan seraya berdiri dan menoleh sepintas pada Vivian.
Stephani hanya menganggukkan kepalanya dan segera menyusul Daan yang sudah jauh berlalu.
“apa dunia sekecil itu?” Vivian kembali menikmati acara, tak lama kemudian Angel tiba dan membujuknya untuk pulang karena Angel merasa sakit perut.
Perkuliahan dimulai, masing-masing mahasiswa akan segera belajar di kelasnya. Seperti biasa Vivian dan Angel terrlihat bersama di dalam kelas, mereka duduk berdampingan. Setelah kelas terlihat penuh, akhirnya dosen tiba dan membuka perkuliahan. Vivian sesekali mencoba mengedarkan pandangan dan menatap wajah setiap orang di kelasnya, tidak terlalu banyak laki-laki. Mungkin karena ini kelas Fashion. Netranya melihat sosok wanita dengan rambut pendek tidak menutup leher berada sekitar jarak 5 baris dibelakangnya. Matanya membulat, segera dia memalingkan kembali wajahnya melihat ke arah dosen.
“astaga Quen!” gumam Vivian lalu menepuk jidatnya sendiri.
Jam pelajaran usai, Vivian dan Angel sedang duduk di kantin kampus, setelah mengambil makanan tadi mereka sekarang menikmati makan siang. Angel sedari tadi tak mendengar celotehan sahabatnya itu.
“Vi, kau kenapa?” tanya Angel yang penasaran dengan gelagat Vivian yang tak biasa.
“Angel, kau ingat Quen?” tanya Vivian.
“sepupumu yang jahat itu?” tanya Angel dengan menekankan kata jahat sembari garpunya mencabik daging dan melahapnya dengan rakus.
“ssst.. jangan berkat begitu. Tadi aku melihat Quen di kelas kita?”
“apa?” tanya Angel. Matanya juga membulat seperti Vivian saat melihat Quen tadi di kelasnya.
“Quen!” ucap Vivian dengan lirih. Ketika kepalanya di angkat mencari asal suara.
“hai Vivi, senang bertemu denganmu lagi.” Quen sangat senang bertemu Vivian, seolah dia telah lama kelaparan dan menginginkan mangsa.
“wah kebetulan sekali yaa Quen, Vivian juga kuliah disini ternyata.” Timpal Lusy yang setia menjadi dayang-dayang Quen bersama Pricilla.
Mereka bertiga pun tersenyum penuh arti.
“kau akan mendapatkan kembali waktumu yang hilang.” Bisik Quen pada Vivian sebelum pergi berlalu.
Pagi itu, langit begitu cerah. Terlihat jalanan lengang karena hari ini adalah hari libur, sehingga tak banyak orang yang berlalu lalang dengan kendaraan, hanya ada Tram atau Metro yang hilir mudik mengantarkan wisatawan menikmati kota Amsterdam ada juga beberapa pengguna sepeda. Di air, perahu-perahu motor mengantarkan orang- orang menyusuri kanal seperti Vivian dan Angel saat ini. Terlihat mereka bercanda dan tertawa di atas perahu yang terus bergerak. Hingga keduanya lelah dan memutuskan untuk turun dan mengisi perut yang menuntut di isi.
Braaak...
Tubuh Vivian tidak sengaja menabrak seseorang di depannya. Roti dengan Slai kacang miliknyapun jatuh tanpa dinikmati sedikitpun.
“maaf aku tidak sengaja.” Ucap Vivian sembari mengangkat wajahnya.
“tidak, aku yang tak melihat dengan benar.” Jawab seorang lelaki yang membungkukkan tubuhnya meraih roti Vivian yang jatuh.
__ADS_1
“Vivi kau tidak apa-apa?” Tanya Angel yang baru saja tiba dan melihat roti Vivian tergeletak di tanah.
“tidak, aku baik-baik saja.”
Lelaki tadi pun mengankat tubuh bagian atasnya kembali dan melihat kepada kedua wanita di depannya.
“kau?” tanya mereka serempak.
“kau ini selalu mengganggu.” Ucap Vivian dengan sewot.
“siapa yang menganggu, kaulah yang selalu muncul tiba-tiba.” Balas lelaki itu yang ternyata adalah Daan.
“ganti rotiku.” Tuntut Vivian.
Daan yang malas ribut akhirnya mengiyakan permintaan Vivian, akhirnya mereka pun menikmati roti bersama. Angel sedari tadi tak bisa berhenti menatap Daan dengan ketampananny. Meskipun terlihat berumur tapi raut wajah Daan begitu tampan dan penuh karisma. Badannya kekar dan atletis, belum lagi saat ini dia mengenakan kaos yang agak span dan sedikit basah oleh keringat usai berlari-lari kecil.
“Tuan, anda kenal dengan teman saya dimana?” Tanya Angel memecah keheningan.
“aku tidak mengenalnya.” Balas Daan tanpa berhenti mengunyah.
“lalu tadi, maksud perkataaan selalu mengganggu itu bagaimana?” tanya Angel lagi.
“sudah, makan saja jangan banyak tanya.” Vivian menimpali sembari menyuapkan roti kemulut Angel.
“baiklah, kita baikan saja anak kecil.” Daan mengulurkan tangannya pada Vivian.
“apa maksudnya?” batin Vivian.
“Angel.” Angel membalas uluran tangan Daan.
“Aku Daan.” Ucap Daan melempar senyum.
“iiis kau ini.” Gerutu Vivian kepada sahabatnya.
“oh ya, yang suka marah ini namanya Vivian.” Sambung Angel dengan melirik Vivian dan menepuk bahunya.
“ku kira Audrey.” Batin Daan.
“baiklah senang berkenalan dengan kalian, oh yaa Vivian tolong jangan panggil saya lagi dengan sebutan paman, dan saya juga tidak akan memanggilmu lagi dengan sebutan gadis aneh. Kita akhiri saja saling ejek itu sampai disini.”
“tenang saja, aku takkan memanggilmu lagi dengan paman, toh kita tidak sengaja bertemu. Setelah ini kita tidak akan bertemu lagi.” Ucap Vivian dengan menyunggingkan senyum di satu sudut bibirnya.
“siapa yang tahu?” ucap Daan sambil berdiri dan pamit kepada kedua wanita di hadapannya.
Setelah, punggung Daan tak terlihat Angel tiba-tiba histeris dengan begitu senang.
“tampan sekali Tuan Daan itu.” Mata Angel berbinar.
__ADS_1
“tampan darimananya orang tua begitu. Sudah, cepat habiskan dan kita pulang. Angel hanya menatap Vivian dengan wajah kesal dan bibir yang di monyongkan.
halo semuanya, mohon untuk mendukung cerita ini ya.. beri masukan berupa kritik dan saran kalian.. jika cerita ini bagus jangan lupa tinggalkan like,coment, rate dan Vote🙏 ini sudah episode 5, di episode 6 Vivian akan memulai sesi kehidupan yang baru, penuh intrik dan konflik batin.. jangan lupa untuk follow author.🤗