
Wajah Alyssa merona begitu merah. Dia bahkan tidak sadar jika Anabella sudah pergi. Rasanya dia benar benar malu sekarang.
"Kenapa hmm... Merah banget wajahnya" ucap Zayden dengan senyum yang menggoda. Dia mengusap bibir Alyssa yang sedikit membengkak.
"Aaaa aku malu mas" ucap Alyssa yang kembali memeluk Zayden. Dia masih berada diatas pangkuan Zayden sekarang.
Zayden terkekeh dan mengusap pundak Alyssa dengan lembut.
"Aku suka, kamu hot banget. Udah kangen berat ya" bisik Zayden
Alyssa berdecak dan memukul gemas bahu Zayden.
"Ishh... itukan karena cewe gak tahu malu itu. Kalau gak di buat begitu, dia gak akan pergi" jawab Alyssa, terdengar begitu kesal.
Zayden memeluk Alyssa dengan gemas. Bahkan sampai dia bisa merasakan perut Alyssa yang sudah sedikit menonjol.
"Gemes banget istri aku kalau cemburu. Tapi aku suka" bisik Zayden
Alyssa langsung menjauh dan memandang wajah Zayden yang tersenyum senang memandang nya. Membuat wajah Alyssa semakin memerah saja.
Alyssa ingin turun, tapi Zayden masih merangkul pinggang nya.
"Mas... nanti ada yang ngelihat" ucap Alyssa
"Sebentar lagi sayang, sekali lagi ya" pinta Zayden
"Gak mau" jawab Alyssa, namun wajahnya yang malah semakin merona.
Zayden tertawa dan langsung menarik tengkuk Alyssa dengan cepat. Bahkan dia langsung menyergap bibir Alyssa kembali.
Alyssa memberontak, namun lama kelamaan, dia malah jadi terbuai...
Rasa rindu, rasa cinta dan semua perasaan gundah bisa sedikit berkurang saat mereka saling berbagi rasa seperti ini. Aneh memang, apalagi saat mereka sudah terikat dalam sebuah ikatan pernikahan, semua terasa begitu berbeda. Tidak ada lagi batasan yang harus mereka takuti. Tidak ada lagi rasa canggung dan rasa malu, yang ada hanyalah rasa memiliki itu lagi.
"Astaga..." seruan Jimmy membuat ciuman Zayden dan Alyssa terlepas.
"Aaaa kan, dilihat kak Jimmy" rengek Alyssa yang langsung menyembunyikan wajahnya di balik leher Zayden.
Zayden terkekeh dan mengusap gemas pucuk kepala Alyssa. Sedangkan mata nya langsung memandang Jimmy yang masuk dengan beberapa jus jeruk yang dia bawa.
"Mata saya yang masih suci ini selalu ternoda ketika bersama kalian" gerutu Jimmy
"Salah sendiri kenapa tidak mengetuk pintu dulu" jawab Zayden begitu santai.
"Tahu nih, kak Jimmy kebiasaan" balas Alyssa yang langsung turun dari pangkuan Zayden. Wajahnya benar benar merah bagai tomat. Jimmy bahkan sampai menahan tawanya.
"Aku mana tahu kalau kalian lagi begitu. Maka nya lain kali pintu di tutup" ujar Jimmy.
"Berisik" sahut Zayden yang kini memandang Alyssa yang sedang membenarkan rambutnya yang berantakan.
"Tadi saya lihat didepan ada Anabella. Dari sini kah tuan?" tanya Jimmy seraya mengeluarkan jus jeruk dari dalam kantung plastik.
"Iya" jawab Zayden yang langsung menyerahkan nya pada Alyssa
"Dia seperti habis menangis. Kalian apakan?" tanya Jimmy lagi.
"Tidak ada, dia cuma melihat apa yang kamu lihat tadi" jawab Zayden
Jimmy langsung terbahak mendengar itu. Sedangkan Alyssa langsung meminum jus jeruk nya sampai setengah. Dia benar benar haus.
"Haus banget sayang" kata Zayden seraya mengusap kepala Alyssa dengan lembut.
"Sepertinya saya harus minta tambahan bonus gaji tuan. Selama kehamilan Alyssa saya sungguh dibuat repot dengan permintaan nya" ungkap Jimmy. Dan kali ini Alyssa yang tertawa malu mendengar itu.
"Bukan salah aku, minta tanggung jawab sama ayahnya. Inikan permintaan anak nya" ucap Alyssa seraya melirik Zayden yang tersenyum.
"Minta apa lagi, turuti saja. Kalau bukan kamu yang bantu aku untuk menyenangkan Alyssa dan anak aku, siapa lagi" jawab Zayden seraya tangan nya yang mengusap lembut perut Alyssa.
Jimmy yang mendengar itu hatinya langsung merasa iba. Huh... kata kata nya sederhana, tapi terdengar begitu menyakitkan.
"Maka dari itu saya mau minta bonus dengan kakek buyutnya" ucap Jimmy, terdengar kesal.
__ADS_1
Zayden dan Alyssa langsung tertawa melihat Jimmy. Yah, mereka berhutang budi pada asisten Zega ini. Jika tidak ada dia mungkin Zayden tidak akan bisa tenang membiarkan Alyssa sendirian.
"Memang nya kamu berani" tanya Zayden seraya meminum jus jeruk yang disodorkan Alyssa padanya.
"Berani lah, tapi meminta nya jika dia sedang tidur" gumam Jimmy yang langsung menghela nafas lelah.
"Udah deh kak. Nanti kalau mas Zayden bebas. Pasti kakak dikasih bonus yang banyak. ya kan mas" kata Alyssa pada Zayden
Zayden tersenyum dan mengangguk
"Kalau tidak dicoret dari kartu keluarga duluan" sindir Jimmy
"Ya paling kamu yang meneruskan perusahaan Zega. Kakek dan pak Pong sudah tua, mereka tidak akan sanggup lagi" jawab Zayden begitu santai. Dia seperti sudah tidak takut lagi untuk jatuh miskin. Hatinya sudah lelah melihat keras kepalanya tuan Juanda.
Jimmy menghela nafas dan menopang dagu mendengar itu.
"Kalau tuan pergi dari keluarga Zega, saya juga pergi. Untuk apa bertahan sendiri" ucap Jimmy
"Rela hidup susah?" tanya Alyssa seraya membuka kotak makanan yang dia bawa
"Kenapa enggak. Nanti aku numpang makan sama kamu. Siapa tahu bisnis resto kamu berhasil" jawab Jimmy
Alyssa dan Zayden langsung tertawa mendengar itu.
"Iya deh, doain aja, supaya cepat buka resto nya. Mudah mudahan bulan depan udah bisa beroperasi" ungkap Alyssa
"Udah sampai mana tahap pembangunan nya sayang?" tanya Zayden.
"Udah delapan puluh persen. Ya kan mas" tanya Alyssa pada Jimmy.
"Iya tuan. Untung bisa dibeli dengan harga miring. Jadi bisa cepat direnovasi. Tapi ya itu tadi tempat nya tidak terlalu luas" ungkap Jimmy.
"Enggak apa apa. Aku mau buat kayak cafe gitu. Nanti kalau udah jadi juga pasti luas kok. Biar kecil, nama nya pemula" sahut Alyssa
Zayden mengangguk dan tersenyum memandang Alyssa. Dia sungguh bangga pada istri kecilnya ini. Sangat bersemangat ditengah tekanan yang sedang mereka hadapi.
"Iya, semua orang sukses pasti bermula dari yang kecil dulu. Tetap semangat ya, tapi gak boleh capek juga." ujar Zayden
"Aman..." sahut Jimmy.
"Yaudah, kita makan sama sama ya. Aku bawa banyak nih" ujar Alyssa seraya mengeluarkan makanan yang dia bawa.
Ada martabak telur yang dilengkapi dengan irisan daging dan sayur.
"Nih kak" Alyssa menyerahkan sepotong pada Jimmy.
"Wow... enak nih" ucap Jimmy yang langsung menikmati martabak telur nya.
"Buka mulutnya" pinta Alyssa yang langsung menyuapkan martabak itu pada Zayden.
Zayden tersenyum dan langsung membuka mulutnya, menikmati rasa gurih dan lezat yang bercampur menjadi satu.
"Masakan kamu emang paling the best Sya" ucap Jimmy
"Aku tidak salah pilih istri kan" ucap Zayden pada Jimmy
Jimmy langsung menggeleng dengan cepat.
"Udah sempurna ini tuan. Cantik, baik, bersemangat, pintar memasak pula. Hummmh perfect lah. Daripada yang tadi, cuma bisa buat marah orang saja" jawab Jimmy
Alyssa langsung tertawa mendengar itu.
"Dia sering kesini mas?" tanya Alyssa seraya terus menyuapkan makanan nya.
Zayden menggeleng.
"Baru ini" jawab nya seraya meraih kotak makanan dari tangan Alyssa dan bergantian menyuapkan martabak itu pada Alyssa.
"Dengar dengar dia baru pulang dari new York " sahut Jimmy.
"Kakak kok tahu?" tanya Alyssa dengan mulut penuh nya
__ADS_1
"Tahulah, aku selalu cari tahu tentang dia. Cuma ya itu. Mereka kayak nya udah mulai hati hati banget sekarang. Bahkan tuan Alex juga begitu. Gak kelihatan sedikitpun celah untuk mencari kesalahan mereka" jawab Jimmy
Zayden terlihat menghela nafasnya dengan pelan.
"Mereka orang orang yang cukup licik, sebenarnya kalau mau mencari tahu tentang kesalahan mereka, lawan nya adalah perusahaan yang lebih besar dan lebih hebat" ungkap Zayden. Tangan nya masih terus menyuapi Alyssa makan.
"Benar, ada desas-desus yang terdengar jika tuan Alex pernah berbuat curang. Tapi entah pada perusahaan siapa. Antara Dewantara dan juga perusahaan Grahari" sahut Jimmy
"Dewantara bukankah perusahaan tuan Malik" ucap Zayden
Jimmy langsung mengangguk.
Mendengar nama tuan Malik disebut, Alyssa langsung memandang Zayden.
"Tapi perusahaan Dewantara adalah perusahaan tanggung jawab tuan besar. Dia yang sudah bekerja sama dengan perusahaan itu sejak dulu. Kita ini kan hanya bertugas untuk menjalin kerja sama pada perusahaan kecil saja. Bukan perusahaan besar seperti perusahaan Dewantara " ungkap Jimmy
"Kamu benar. Apalagi kita tidak terlalu dekat dengan tuan Malik. Meskipun dulu ayahku dan ayahnya bersahabat. Tapi kami tidak saling mengenal" jawab Zayden
"Bagaimana mau bisa menjalin pertemanan dengan dia. Dia itu kan anti sosial" ucap Jimmy
"Tuan Malik pemilik restauran Denue?" tanya Alyssa akhirnya
"Iya" jawab Zayden
"Aku berteman dekat dengan istrinya. Sekarang kan istrinya yang memegang restauran itu" ungkap Alyssa
"Dia sudah menikah?" tanya Zayden
Alyssa mengangguk
"Iya, aku bahkan tidak percaya. Bahkan rumor nya dia kan tidak bisa dekat dengan siapapun sejak dulu. Dan sekarang sudah memiliki istri saja. Mana seumuran dengan Alyssa pula" sahut Jimmy
"Ya kan bagus. Kenapa kamu jadi sirik begitu" ucap Zayden
Alyssa langsung tertawa mendengar itu.
"Itu karena saya yang sampai sekarang masih jomblo ngenes tuan" jawab Jimmy.
"Kakak sih terlalu banyak memilih" sahut Alyssa
"Tidak juga. Cuma belum ada yang pas saja" jawab Jimmy.
"Oh iya, besok Wira mau menjenguk anda tuan" ucap Jimmy tiba tiba. Sepertinya dia baru mengingat.
"Mas Wira.." tanya Alyssa lagi.
Jimmy langsung mengangguk
"Waaah sudah lama sekali tidak bertemu dengan dia" ucap Alyssa terdengar begitu bahagia.
"Seneng banget didatengin lelaki lain" ucap Zayden terdengar tidak suka.
Jimmy langsung terbahak melihat wajah cemburu Zayden.
"Ya kan udah lama gak ketemu. Dia itu juga pernah baik sama aku sebelum kenal sama mas" jawab Alyssa
Zayden langsung mendengus mendengar itu.
"Mau apa dia kemari?" tanya Zayden, tangan nya masih menyuapkan martabak ke mulut Alyssa
"Tidak tahu, hanya main saja. Kebetulan sedang ada yang dia cari disini" jawab Jimmy
"Aaah maass... ini kan aku bawa untuk mas. Kenapa jadi aku yang makan" gerutu Alyssa yang langsung merebut kotak makanan itu dari Zayden.
Zayden langsung tertawa melihat Alyssa. Padahal sejak tadi dia menurut saja ketika Zayden menyuapi nya makan.
"Biar kamu dan anak kita kenyang" jawab Zayden.
"Enggak, ayah nya juga harus kenyang. Ayo makan lagi" ujar Alyssa
Jimmy menghela nafasnya dengan lelah
__ADS_1
"Nasib jomblo"